3.11.13

Oktober, campur-campur.

She’s leaving on a jetplane.

Teman baik terbang ke negeri seberang, menjemput mimpi. Jangan cepat-cepat pulang. Selamat melihat dunia dan semoga bertemu jodohnya disana, kawan.  I’m gonna miss you.



Lil brother got sick.
Meskipun kita sering tidur bareng, sharing bantal dan selimut, sharing makanan minuman, sharing semua-mua yang bisa di-sharing, sebenernya kita itu enggak juga yang mesra-mesra banget. Kita sering berantem, sering adu mulut, adu urat, dan udah banyak banget energi yang saya buang untuk kesel sama dia dan mendoakan dia (kadang) yang jelek-jelek. Maapin saya Ya Allah. Karena ternyata ngeliat dia sedih sakit dan terbaring lemah itu menyakitkan. Dan ngeliat Ibu yang sedih karena ngeliat dia sedih sakit dan terbaring lemah, ternyata jauh lebih lebih lebih menyakitkan. Ah, semoga seterusnya ke depannya Allah selalu kasih dia kekuatan dan kesehatan, dijauhkan dari segala kesulitan, didekatkan dengan segala kemudahan dan kelancaran, Amien. I love you, brother. Jangan sakit-sakit lagi ya jagoan :)

Sesaat ketika keluar dari ruangan operasi, si adek yang masih lemes-lemes di bawah efek bius dipaksa berpose, hehehe.

Bestfriends are getting married!
It’s not a new thing, actually. Cause this whole year, almost each month, satu per satu sahabat-sahabat menikah dan memulai hidup yang baru. And I’m happy for them. I really am.

Putu & Monik
Windy & Iam

Bali – Lombok trip. Catched up with strangers.
Minggu ketiga bulan Oktober curi-curi ambil cuti dan terbang ke Bali – Lombok sama temen-temen. Liburan itu menyehatkan. Oleh-oleh dari Bali adalah satu tambahan tindikan di kuping sebelah kiri. Ceritanya hampir tengah malem berdua sama temen-yang-senasib-sama-sama-single yang namanya ipy jalan ke daerah legian dan random cari tempat body piercing, tadinya mau langsung dua lobang, tapi satu tindikan harganya 250rb jadinya gajadi, hahahaha. Pas lagi di-piercing, abang tukang piercing-nya yang bertato dan punya tindikan di kuping kanan-kirinya yang lobangnya kira-kira bisa dimasukkin jempol kaki kemudian memberikan ide untuk memutarkan lagu, biar rileks ceunah. Terus lagu yang diputernya ‘someone like you’. Tai banget, alih-alih bikin rileks malah jadi bikin pengen mewek.
“Gimana, sakit enggak?” tanya si abang-tukang-piercing.
“Dilobanginnya nggak sakit, dilobangin sambil denger lagunya yang bikin sakit”
Ah, liburan.. Harus sering-sering :)

Setelah Bali, lalu Lombok.
Dulu pernah ada yang bilang sambil emosi ke saya, “Kalo lo ikhlas ngelepasin dia pergi, nanti ada orang yang baru yang datang. Kayak lo sedekah, lo ngasih sedikit tapi ikhlas, nanti bakal dikasih lebih banyak sama Allah. Jadi lo harus ikhlasin kepergian orang-orang yang mungkin bukan rejeki lo, ikhlas aja ikhlas, nanti pasti dapet yang lebih”. Tapi waktu dia ngomong ini dulu saya masih bego. Bego karena terlalu cinta, hahahha.
Beberapa hari sebelum terbang buat kabur liburan, ada kejadian kecil yang bikin saya berasa kejedot pohon, berasa ditimpuk pake sepatu, berasa digeplak pake gulungan koran dan bikin saya pengen sendirian nagis di pojokan. Akhirnya bulat memutuskan sendirian sesuatu yang bagi sebagian orang terdekat memang sudah seharusnya dilakukan sejak lama. Setidaknya saya sudah ikhtiar semampu saya, berdiri dengan tulang belakang yang ditegak-tegakkan meski rasanya ingin meringkuk dan menangis pilu tiap saya mengingat kejadian menyakitkan yang dilakukan sama orang-orang yang pikirannya sempit kayak celana dalem itu. Hhh...
Yah terus akhirnya yaudahlahya. Terus saya pergi liburan. Setelah Bali lalu Lombok.

Ada beberapa kejadian selama liburan kemarin yang tidak menyenangkan dan mengganjal kayak busa di BH yang bikin engap bikin enggak nyaman buat diceritakan jadi sebaiknya di-skip aja yah. Tapi ada juga kejadian super duper emejing dan memejamkan mata mengingatnya barang sebentar saja bisa bikin saya mengulum senyum. Ceritanya katanya waktu itu pas saya main ke gili trawangan itu pas lagi perfect timing, karena malemnya itu fullmoon. Terus malem itu saya makan malam di pasar. Menu makanannya seafood. Sambil cerita-cerita random, mata saya dimanjakan dengan pemandangan bule-bule lucu gak pake baju yang berseliweran, hahahaha. Selesai makan terus ikutan nonton layar tancep di pinggir pantai sambil angin-anginan di bawah sinar rembulan. Filmnya abis, orang-orang keluar buat party, saya balik ke penginapan dan bobok. Besoknya pagi-pagi abis subuhan masih gelep masih gulita saya pergi ngejer sunrise sendirian. Sepedaan dan di jalanan ngeliat orang-orang tepar abis party, haha. Then I found a great spot, lalu duduk di atas batang kayu berukuran cukup besar. I looked around, di sebelah kanan ada couple lagi tiduran berdampingan di atas pasir. Liat ke kiri ada dua cewek bule duduk bersandar di batang kayu juga. Gak jauh dari mereka ada dua cowok bule, yang satu pirang tidur meringkuk di atas pasir sementara yang satu lagi duduk di sebelahnya menyelonjorkan kaki menatap arah matahari yang sudah mulai mau muncul malu-malu. I grabbed my phone and started to take pictures. Terus tiba-tiba ada sosok mendekat dari sebelah kiri dan bertanya, “can I sit here?” saya menoleh dan mengangguk ragu-ragu. Ternyata ini si cowok bule yang tadi duduk di sisi sebelah kiri. Cowok bule yang bentuknya sebelas dua belas dengan Matt Bomer yang main jadi nick di serial white collar dan senyumnya pagi-pagi ini seketika bikin grogi. Setelah mengajak berkenalan, he started to ask questions, “where are you from?” “are you alone?” “how long have you been here?” and stuffs like that. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil tetap asik mengambil foto dengan kamera handphone sampai tiba-tiba dia bertanya, “is it better up there?”, saya bingung dan bengong “eh, sorry?”. Lalu dia tersenyum dan menepuk serta membersihkan pasir di sisi kanannya, he asked me to sit next to him. That’s cute. Saya berhenti mengambil foto dan turun mendekat lalu duduk di sebelahnya, kita ngobrol ngalur ngidul sambil menunggu mataharinya terbit.
“we should go scuba diving or snorkeling” he said.
“I don’t  think so. I don’t like it”
“why?” he asked again.
“I don’t like getting tanned, I am tanned enough, and most of Indonesian people don’t like me because of it”
“What? Why? There’s nothing wrong with it. It’s perfect. You’re beautiful”
“Haha, thanks”
Pernyataan yang bikin enggak fokus dan pikiran kemana-mana. Mudah banget kan si sheilla ini, mudahhhh. Ghghghghhh.
Sunrise at Gili Trawangan
“I want time to stop just like this. Seeing this beautiful view, the sun, the hills, the sea, everything, and I’m seeing it with beautiful girl. So perfect” He said, dengan mata masih menatap ke arah matahri terbit dan menoleh sebentar ke arah saya dan kita bertemu pandangan. Awkward.
Lalu mataharinya udah bener-bener naik, tandanya udah waktunya kita bubar. Syedih deh. Hahaha.
“Okay, I think I have to go back” I said to him.
“Yeah, me too”
“Err, sorry, what was your name again?” Efek grogi bikin enggak fokus waktu tadi kenalan di awal.
“It’s matt, sheilla” ah, he remembers my name, flattering.
“Okay, bye matt”
“Bye, have a good time”
Matt stays as a stranger, mungkin gak akan pernah ketemu lagi. Mungkin dia gak akan pernah tau kalo kata-katanya yang terucap tanpa sengaja itu selalu menimbulkan perasaan lega tiap kali saya mengingatnya. Ternyata mengetahui dibilang punya kulit item is an okay setelah selama satu tahun berusaha memungut kepercayaan diri yang berceceran akibat pernyataan beberapa pihak yang melecehkan saya sebagai ciptaan Tuhan itu rasanya... Lega. Hehe.
Jadi ya udah. Ikhlas ya Sheilla?

Mengalami adegan. Adegan huhujanan.
Adegan ini jadi penting bukan cuma karena moment-nya dilalui dengan orang yang penting, tapi juga entah kenapa saya jadi diingatkan kalo sudah satu tahun berlalu setelah adegan huhujanan episode satu, dan hidup masih kieu kieu hungkul. Yang setahun lalu bilang 'time will heal everything' sambil tepuk-tepuk pundak ke saya mana suaranyaaaaaa? Haha, seems like it's not working that way. It will be healed if I want to. Ah..It has been a year... It has been a year already, how are you sheilla? :)

Jadi itu soundtrack huhujanan-nya judulnya Hujan Gerimis ya? Yuk ah, senandung-senandung dikit...


Eh ujan gerimis aje
Ikan lele ada kumisnye
Eh jangan menangis aje
Kalo boleh cari gantinye

Mengapa ujan gerimis aje
Pergi berlayar ke tanjung cina
Mengapa adek menangis aje

Kalo memang jodo ngga kemana, hei hei

29.9.13

mimpi yang bikin basah pipi juga bisa dibilang mimpi basah kan?

Melepas tangan di genggamannya, mengarahkan telunjuk ke alis-nya.
"Ini punya aku"
Menggeser telunjuk ke matanya,
"Ini punya aku"
Lalu hidungnya,
"Ini punya aku"
Kemudian bibirnya
"Ini juga punya aku"

Mengulang gestur yang sama, mengarahkan telunjuk ke alisnya,
"Ini punya siapa ka?"
"Punya batin"
"Ini?" menunjuk matanya
"punya batin"
lalu hidungnya, "ini?"
"punya batin"
"ini, ka?" menunjuk pipi dan bibirnya.
"punya batin semuanya" jawabnya.
"Ini cuma mimpi ya ka?"
"Kalo mimpi, jangan pernah berakhir"
There it goes, mission impossible is starting over again.



"Maafin aku dan kondisi aku ya..." lalu basah. Dan alarm berbunyi memecahkan keheningan. Oh, sudah jam setengah lima pagi. Hhhh...

17.8.13

karena tidak semudah membalikkan halaman di buku.

Yang saya inget, hari itu semacam pertemuan terakhir saya dengan si Alex. Dengan mata masih menatap lembar-lembar materi di depan mata sambil tangan kiri mengurut-urut betis kebanyakan jalan, tiba-tiba Alex bertanya, “so, any question before we move on?”
Mendongak dan terlintas jawaban di dalam pikiran sendiri, “There are so many questions! THERE ARE!!!”
“Okay, are we ready to move on?” He asked again, matanya berkeliling kelas mencari jawaban.
“Should we?” Masih, menjawab, hanya, dalam, hati.
“Okay then, let’s just move to another page...”
“Apaahhhhh, lembaran baru??? NOOOOooooo I’m so not readyyyyyy” I screamed, inside my head.

Kenapa yah yang ngomong kayak gini mesti si Alex, bukan si orang itu, yang setelah malam dimana dia mengakhiri pembicaraan tengah malam itu dengan alasan, “udah yah, nafas saya sesak, nanti kita ketemu, take care...” taunya besok-besoknya hilang entah kemana, muncul-muncul di recent updates bbm ngeganti statusnya dengan inisial nama-entah-siapa. Sangking gak sanggupnya menghadapi hari-hari akhirnya waktu itu sampe harus minta tolong ke orang lain buat ngapusin kontak dia. Dan hari-hari sesudahnya terasa begitu kelabu, karena dunia kita yang begitu sempit yang memungkinkan informasi sampai dengan begitu mudah. “Shei, gue kayaknya kenal sama orang itu deh. Si itunya si itu”, kata seorang teman, random, sesaat sebelum saya naik ke atas motornya. “Haha”, dan ketika motornya melaju, angin kencang menerpa wajah, air mata menetes satu-satu. Tengah malem si temen nelpon ngerasa bersalah, “Shei sorry ya gue gak nyangka lo segitunya, karena yang gue liat lo baik-baik aja, sorry banget banget”. Besoknya mata udah bengep. “Iya, gue juga sebenernya enggak tau ambang batas kerapuhan gue gimana, haha” ketawa palsu. Iya, saya emang gak tau takaran toleransi saya sampai gimana, kadang-kadang It’s fine if someone brought any blast from the past, tapi kadang-kadang saya bisa lemes hanya karena ngeliat namanya muncul di timeline social media entah siapa, dan jari jemari langsung gatel pengen remove si teman yang sebenernya gak salah apa-apa sih ya, haha.
Dan, kenapa juga yang nanya kejelasan apakah masih ada pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab itu bukan juga berasal dari si orang itu. Orang yang dateng, ngasih harapan, terus semacam angkat tangan setelah menggulirkan kata-kata yang menjanjikan. Dan setelah angkat tangan, tiba-tiba jadi banyak berita datang dari sana sini tentang dia yang dekat sana dekat sini sama orang-orang disana dan disini. Lebih banyak, dan lebih irritating. Bahkan ketika saya memutuskan untuk acuh saja dan memilih mengingat masa-masa bahagianya, kadang-kadang ulu hati bisa tiba-tiba nyeri kalo ngebayangin orang ini sama orang lain, menyampaikan line-line yang sama atau mirip-mirip kayak waktu dia pertama mulai bikin move sama saya. Masih nggak rela...
Because It seems like there are still so many question not yet answered but I’m still so not ready either to have it answered, thank you.

Lucunya, malah orang paling nyebelin dan saya yakin massa otaknya udah berkurang beberapa miligram akibat konsumsi obat aneh-anehnya (mungkin gak sih ini?), yang dulu saya benci pake banget sampai ke ubun-ubun, yang denger namanya aja bisa bikin saya mual dan males, yang paling sering melakukan hal-hal di luar normal untuk seorang sheilla, dan yang jelas-jelas dan terang-terangan akhirnya mengungkapkan banyak fakta versinya sendiri, minta maaf, kemudian berkata kalau dia tidak akan kemana-mana. Dan dia tidak kemana-mana.
“Harusnya aku gak pernah kenal kamu. Kalo aku gak kenal kamu mingkin aku udah nikah sekarang”
“Karena gua ya shey? Sorry ya shey”
“...”
“Belum waktunya aja shey, sabar aja. Ini takdir, kita ketemu itu takdir, sekarang yang kamu jalanin ini takdir...”
Mau ketawa ngakak tapi ditahan waktu denger ini keluar dari mulutnya. Yeah, takdir my ass. You should try to walk in my shoes first. Situ enak-enakan pacaran sama you dulu punya adek-adekan, me? Bzzzzzz. Tapi ya itu yah, lucu, soalnya orang ini malah orang yang paling di luar akal bakal treat me better after ‘the incident’. Karena bahkan ketika kita saling kenal pun saya lebih banyak merasa kalo dia enggak memperlakukan saya dengan layak. Tapi entahlah... Karena dalamnya lautan bisa di bathymetry, dalamnya hati siapa yang tau? :)

Anyway, selesai kelas malam itu saya langsung nyiapin ini itu dan tau-tau besoknya udah ada di bandara duduk dengan tidak manis di atas trolley sambil ngurut-ngurut gantian lengan kiri dan lengan kanan gara-gara semaleman harus nyuci tumpukan cucian. Sebelum take off ibu sempet nelpon, “Seneng-seneng ya nak, jangan susah-susah lagi... Nanti pulang udah gak boleh sedih-sedih lagi” Menjawab dengan anggukan kepala padahal Ibu yang jauh disana juga enggak ngeliat ya, haha. Juga mengingat telpon-telponan sebentar di hari sebelumnya dengan salah satu perempuan kesayangan, “batin, selamat refreshing ya! Pokoknya kamu harus have fun!”
Dan akhirnya ‘kabur sebentar’ itu pun berlalu.
Dan kabur sebentar yang menginspirasi itu ternyata cuma ada di dalam film. Dan berharap bisa jadi julia roberts sampai akhirnya bertemu jodoh di tempat baru (kayak di film eat-pray-love) adalah sebuah imajinasi yang TOO MUCH. Haha. Karena ternyata disana justru banyak mengingat, terutama karena cuaca dingin dan suasana so sweet yang bikin terlalu sering khayal pengen dipeluk dari belakang. Hahahha.
Bahkan sempet dikasih mimpi waktu lagi disana, dikasih mimpi ketemu dan jalan kaki yang jauhhhhh banget, terus dia tiba-tiba bilang, “Aku gak bisa sama kamu... Aku gak bisa kalo sama kamu... Aku bener-bener gak bisa kalo sama kamu...” Direpetisi berkali-kali. Dan paginya masih kebayang dengan jelas. Dan langsung sadar, itu bukan mimpi, itu lebih seperti memutar kembali ingatan ketika orang itu bilang hal yang sama beberapa waktu yang lalu. Iya iya, now I get the message that you just don’t want to be with me, you take care of yourself outhere.
Dan kabur sebentar itu pun jadi gak kerasa-kerasa banget. Bahkan sampe di kantor  pagi-pagi setelah menjelang dini harinya baru sampe kosan, gak sengaja malah kejebak obrolan dengan orang yang kebetulan lagi deket sama sahabatnya si orang yang pernah deket itu, dan terpaksa harus dapet info ini itu tentang orang itu, dan mesti banget yah dapet embel-embel “yaudahlahya, move on azaaa, dia yang rugi gak dapet kamu, eh tapi katanya pacarnya yang sekarang lebih cantik ya? Hahahaha. Blablabla” Kata-kata selanjutnya udah enggak terdengar lagi. Yeah right, lebih segala-galanya.
Aduh, rasanya pengen kabur selama-lamanya dan start a new life di tempat baru yang gak kenal siapa-siapa. Tapi kaburnya mau bawa Ibu, bisa gak sih? :P

23.7.13

ja.kar.ta.mu

Aku menatap Jakartamu, dari jendela kopajaku. Kopajaku yang baru saja menaikkan tarifnya jadi tiga ribu.

Aku menatap Jakartamu, yang kamu bilang akan kamu taklukkan, tempat dimana kamu janjikan aku sebuah rumah yang paling nyaman, bukan yang paling besar bertingkat dan harganya milyaran, tapi yang sederhana dengan taman-tidak sulit dibersihkan-melindungi dari panas dan hujan-dengan kamu di dalamnya melengkapi dan menghangatkan.

Aku menatap lagi Jakartamu, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Jakartamu yang selalu membuatku merasa sendirian. Jakartamu yang selalu menang dan mengambilmu jauh.

Aku menatap Jakartamu, dengan perut kombinasi kram dan nyeri luar biasa, mata berkaca-kaca, dan rasa ingin mati saja. Seharian mengambinghitamkan PMS mengisi hari dengan banyak menahan emosi akibat barisan-barisan kata yang menyakitkan. Dan di perjalanan itu, sambil aku menatap Jakartamu, kopajaku melaju membawaku ke tempat yang aku tuju. Tempat yang dituju yang bukan tempat berpulang.

Ibu, batin mau peluk Ibu. Karena kalo batin gak ada, paling yang sedih cuma Ibu...

Ibuuu...

5.7.13

Malam dimana sheilla jatuh di pelukan kondektur busway.

Dimulai dari saat-saat Alex yang saya tidak tau nama belakangnya itu berkata, “okay that’s it for today, see u next week, enjoy your weekend”, I packed up my stuffs then put my long coat on.
Oknum bertanya, “sheilla pulangnya naik apa?”
“kopaja”
“SERIUS?”
“emang kenapa?”

Yang bertanya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kami pun berjalan beriringan menuju lift. Di dalam lift sebelahan lagi sama oknum lain yang kemudian bertanya,
“eh, balik kemana?”
“gatsu, jamsostek”
“oh, naik apa?”
“kopaja”
“HAH, KOPAJA?”
“iya. Kenapa sih dengan kopaja?!”
“kan udah malem, serem...”
“kalo macet pake taksi mah perampokan”

Oknum pemberi pertanyaan hanya mengangguk-angguk. Bagus,  karena kalo doi menyanggah lagi mungkin bakal berakhir drama dan doi kena gibeng. Gak ngerti apa orang lagi laper gabisa mikir yang berat-berat. Coba bayangin kalo harus naik taksi, betapa banyak energi yang nantinya harus saya keluarkan untuk mengkhawatirkan argo taksi yang jalan terus sementara mobilnya bergerak hanya seiprit demi seiprit. Bayangin coba. Males kan bayanginnya. Nah iya, emang gak penting makanya gak usah dibayangin.
Keluar dari gedung mendapati jalanan rasuna said di hari Jumat malam Sabtu yang masih padat merayap seiprit-seiprit cenderung stuck, perut bunyi-bunyi ngasih kode minta diisi. Kepala celingak celinguk kanan kiri, liat jam di tangan, dengan sisa-sisa energi yang ada berusaha berpikir dengan sangat keras menganalisa efisiensi waktu. Solusi paling efisien cuma naek ojek atau naik busway. Naik ojek, mamang ojeknya bakal dengan jumawa semena-mena ngasih harga mengingat jasanya yang krusial banget di saat-saat macet. Dan bener aja dong, pas ditanya dia minta 50 rb buat ke kosan saya yang sekiranya dalam waktu normal bisa ditempuh hanya dalam waktu 10 menit dengan biaya taksi sekitar 15rb. Sungguh tega kamu mamang ojek. Pas lagi nego-nego mesra dengan mang ojek, lewatlah oknum lain yang dengan sok akrabnya menawarkan godaan busway, “busway aja yuk, bareng...”. Hmpft. 
Tawaran naik bis transjak itu memang sangat tempting sekali, tapi trus inget jarak transit jembatannya yang jauh banget jadi ragu lagi, bikin khayal lagi “Ya Allah ini kalo dulu segala sesuatunya dimudahkan ini saya tinggal nyebrang jalan dikit udah nyampe ya Ya Allah” trus galau lagi menatap ke arah setiabudi one, dan dengan dramanya memalingkan muka sambil mengucapkan istighfar dan mengurut-urut pelipis dengan tangan kanan. Dan terbuang sudah 10 menit cuma buat menimbang-nimbang mau pulang naik apa diselipin galau sedikit-sedikit. Hahahaa. Akhirnya membulatkan tekad melangkah menaiki tangga menuju shelter busway, ketemu sama oknum yang tadi ngajakin buat bareng, ngobrol-ngobrol-ngobrol, bus-nya dateng, semua calon penumpang merapat ke arah pintu, saya ikut terbawa arus. Pintu bus kebuka, keluar beberapa orang dari dalam, dan yang menunggu untuk masuk langsung menyerbu masuk ke dalam bus yang memang sudah penuh sesak, lagi-lagi saya ikut arus dan setelah satu halte terlewati saya baru menyadari bahwa saya sedang berada di antara banyak jakun, OH NO bisa kena pelecehan seksual nih! (berasa iye, padahal dilirik juga enggak), kemudian dengan diam-diam berusaha mencari celah untuk menuju bagian depan bis yang merupakan area khusus wanita. Perjuangannya ngalah-ngalahin perjuangan mencari jodoh, susah bener dan rapet-rapet bikin jarak pandang terbatas, yang saya tau saya berusaha nyelip-nyelip sekuat tenaga. Nyelip-nyelip-nyelip-nyelip dan tau-tau saya udah di depan pintu bis yang tiba-tiba terbuka, kondektur bis berkata menyebutkan nama halte yang bukan tempat saya harus transit, tapi saya malah jadi kedorong-dorong sama penumpang yang mau keluar dan jadi ikutan keluar dari bis juga padahal belum timing-nya saya keluar! Panik-panik dan teriak-teriak sendiri sambil nyari pegangan berusaha buat masuk ke dalam bis kembali dan tiba-tiba sebuah tangan menangkap lengan saya, menarik saya kembali ke dalam bis dan karena kesandung, PLUK, saya pun jatuh ke pelukan si pemilik lengan yang tadi menarik saya, lalu pintu bis tertutup, bis kembali melaju dan rasanya dunia ini gelap. Pelukannya dilepas, si-pemilik-lengan-yang-tadi-menarik-saya (mari kita sebut sebagai SPLYTMS) memberikan ruang untuk saya bergerak leluasa. Karena laper otak udah gabisa mikir, bukannya bilang terimakasih saya malah berdiri pasrah seolah tidak terjadi apa-apa sambil masih berhadap-hadapan dengan SPLYTMS. Bis kembali melambat mendekati halte pemberhentian sementara lainnya, si SPLYTMS tiba-tiba bersuara dengan jakunnya, “persiapan, halte xxx, persiapan halte xxx, transit blablablablaa”. Mata saya yang masih menatap ke bawah merasa bersalah-malu-tidak rela kemudian mencuri-curi melihat wajah sumber suara yang pas banget berada di hadapan saya dan bikin saya enggak bisa gerak untuk ngeliat wajahnya karena kalo mau liat wajahnya saya harus mendongak and it would be too obvious. And I failed, I failed to see how he looks like. Pintu bis terbuka dan saya pun bergegas meninggalkan TKP tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Tanpa sedikitpun, menoleh.ke.belakang.
Ternyata jatuh ke pelukan orang yang tidak kita kenal dan tau sama sekali muka-nama-kehidupan-keluarga-sejarah-dan masalalunya, meskipun salah, ternyata rasanya jauh lebih mudah yah? What do we call this, one-night-stand?

23.5.13

bagi-bagi yang (agak) basi.

Update-an cerita di dunia kecil punya sheilla dari sejak terakhir posting itu cuma dua:
1. Sheilla sekarang udah kerja beneran.
2. Sheilla sekarang (masih) single.

Kerja beneran.
Sejak diterima sebagai pegawai tetap di sebuah instansi pemerintah dua tahun yang lalu, sheilla terus-terusan galau karena meski status sudah sebagai pegawai tetap, si sheilla belum mendapatkan tempat kerja yang tetap. Pindah-pindah, bantu sana bantu sini, jalan sana jalan sini, kabur sana kabur sini, dikasih harapan disana dikasih harapan disini. Begitu seterusnya. Sebenernya gak pantes sih buat galau-galau dengan alasan ini. Karena kalo diliat dari kacamata orang lain galaunya sheilla itu gak jelas. Udah kerja loh paling enggak, masih banyak di luar sana yang lebih gak jelas ya kerjanya ya idupnya ya segala-galanya. Katanya sih... Tapi ya pada saat itu, si sheilla cuma ngeliat sekitar yang radiusnya bener-bener paling minim yang bisa dia liat, kehidupan bersama teman-teman kantor dan kehidupan bersama teman-teman kuliah satu jurusan. Udah, itu aja. Persis katak dalam tempurung.
Jadi ya gitu, sejak Bulan Februari lalu saya akhirnya dapet definitif kerja di kantor pusat yang mana posisinya ada di Jakarta. It's not realy surprising actually, udah prediksi dari awal masuk kerja sih. Soalnya dulu mikirnya bakal jadi sama orang itu, yang kerjanya juga kan di Jakarta, jadi kan pasti end up working here juga mau gak mau. Sayangnya rencana sepertinya hanya tinggal rencana. Haha. Dan udah keburu dapet definitif disini, mau gimana lagi coba. Pait-paitnya dijalanin aja deh yah, ntar dicari pelan-pelan manis-manis sepetnya :)
Terus gimana nih rasanya almost 4 months kerja di tempat baru?
Time flies soooooooo FAST. Secepat awan kinton tapi mengobrak abrik isi hati. Haha. Standar kehidupan bekerja kantoran mungkin, ya... Prosesnya, inisiasi-recognisi-dan adaptasi, ntar ujung-ujungnya mungkin bakalan basi. Iyoooo, basi. Setelah masuk, banyak banget pelajaran-pelajaran baru yang harus dicerna. Banyak, dan kebanyakan pelajaran yang harus bener-bener khusyuk dipelajari adalah pelajaran terkait interaksi sesama manusianya, bukan teknis pekerjaannya.  Ini bakalan basi banget kalo udah tau ilmunya cuma gitu-gitu aja. Sebenernya jauh dari sebelum kerja Ibu sudah sering banyak berpesan ini dan itu terkait dunia kerja. Banyak. Dan kurang lebih dalam waktu 4 bulan ini saya banyak banget harus ngeluarin ekstra energy itu justru untuk proses adaptasinya. Mungkin juga dampak dari proses adaptasi itu, bagi beberapa pihak saya jadi orang yang nyebelin, I knew I did, kemarin ini jadi sedikit picky dengan segala acara kumpul-kumpul bareng temen-temen selain temen kantor. Sebenernya bukan karena gak mau, saya mau banget, bukan mau banget aja malah, sebenernya saya 'butuh' itu. Saya butuh temen-temen, butuh orang-orang yang tau banget sama saya... Tapi terkadang entah timing-nya yang nggak pas karena bentrok dengan urusan lain yang saya juga sebenernya enggak pengen-pengenin banget buat saya urusin, atau ya terkadang untuk memiliki interaksi itu saya jadi harus memberikan effort berlebih yang kalo dikalkulasikan malah bisa-bisa bikin hidup saya jadi tidak seimbang. Iya, efisiensi waktu, efisiensi energi, dan efisiensi finansial itu harus bener-bener harus dijaga. Dan jujur aja, saya juga udah mulai ngerasa kelelahan sendirian ngejaga semuanya untuk bisa berjalan seimbang. Kenapa udah beberapa bulan berjalan kok ya belum-belum juga mencapai zona nyaman, belum nemu ritmenya. Duh, emen...


A single-broken hearted girl.
Seperti yang udah saya ceritakan sebelumnya, idup saya emang lagi kayak kejer-kejeran. Semua serba terburu-buru. Enggak, saya enggak jadi yang lupa tanggal, cuma kadang saya suka lupa bulan. Haha. Kadang suka skip ini tanggal 10 bulan apa ya, since time flies so fast. Tapi yang lucu, semua ke-hectic-an dan riuh gaduh kehidupan beberapa waktu ke belakang ini, bisa berhenti dan bikin saya mengheningkan cipta sejenak itu tiap kali dapat kabar temen atau sahabat dekat yang akan menikah, atau sudah menikah mau punya anak, atau juga sudah menikah sudah punya anak terus mau tambah anak lagi. Hmmm. It could pause my life for a while. Abis mengganjilkan usia yang ke 25 kemarin dan kemudian harus merangkum semua yang terjadi beberapa waktu ke belakang, lemes. Udah disini nih sekarang, udah tercapai nih short term plan, tapi stuck pas mau lanjut ke long-term plan. Pas mau naik level-nya lagi itu enggak mencukupi kualifikasinya, mau sekolah lagi masih belum bisa, mau nikah belum ada calonnya, apalagi mau punya anak coba. Haha.
Sebenernya udah terlalu banyak nasehat dan saran yang masuk ke saya urusan jodoh ini. "jangan picky", "ayo move on", "ayo coba lagi", "ayo buka diri". dan sebagainya dan sebagainya. Enggak taulah gimana keliatannya dari luar ya, tapi kalo ditanya dari hati ke hati saya sebenernya enggak ngerasa picky juga sih ya. Saya enggak yang picky-picky banget kok, hehe. Dan juga bukan karena enggak bisa move on, gak bisa coba lagi, dan gak bisa buka diri. Bukan... Cuma belum mau aja. Masih capek. Capek banget. Capek dikejer-kejer, dibikin jatuh, dan dibiarin atau ditinggalin begitu aja pas udah bener-bener jatuh. Hhhh...
Baru-baru ini saya dikasih kesempatan untuk kenal sama orang yang usianya seumuran sama si adek di rumah. Jadi kita bertukar cerita gitulah yah, dan kejadian yang dia alami kurang lebih hampir sama dengan saya. Saya pikir itu hanya akan menjadi sebuah adegan dimana kita saling bercerita satu sama lain, taunya saya malah dapet banyak nasehat dari anak itu.
"Udah kak, kakak harus ikhlas. Aku juga sekarang berusaha nguatin diri aku. Aku coba ikhlas, karena sekarang aku sadar kalo dia lebih happy, dan waktu jalanin sama aku dia itu gak happy kak. Karena ini dia yang bilang sama aku, dia yang minta, dia yang bilang kalo waktu dia sama aku itu dia gak jadi dirinya sendiri. Dan aku sayang kak sama dia, aku pengen dia bahagia jadi aku gak mau maksain. Sekarang tiap aku solat, aku selalu berdoa sama Allah, semoga dia bahagia, semoga nantinya dia mendapatkan orang yang jauh lebih-lebih-lebiiiihhhh baik dari aku dan lebih bisa membahagiakan dia" Waktu bilang 'lebih' sebanyak tiga kali itu sangking khusyuknya dia  sampai merem melek, seriously. Haha.
"hmm.. gitu ya? tapi kenapa ya diketemuin dan dibikin ngerasa sampe segitunya kalo gak bisa end up together?"
"Ih kak, aku malah bersyukur banget udah diketemuin sama dia. Aku ketemu sama dia itu indah banget caranya kak, miracle. Dan aku berterimakasih sekali sama Allah udah dikasih kesempatan untuk kenal orang seperti dia. Karena waktu sama dia itu aku bener-bener ngerasain jadi orang yang special, ngerasain 'ih, gue segitunya ya sampe ada orang yang bisa gitu banget sama gue’ cause he treats me like a queen.. Dia baiiiiiiiik banget soalnya kak. Tapi ya namanya hubungan itu kan bisa jalan kalo dua-duanya mau kak. Dan sekarang aku lihat dia udah lebih happy tanpa aku" 
I admit, she's mature enough to be my older sister. But again, she could say this because she's still on her early 20's, masih panjang waktunya, the situation isn't mutual with me.
Paling jesspleng itu pas lagi di sebuah perjalanan menuju Bandung, seorang teman tiba-tiba mematikan musik yang sedang diputar dan kemudian memainkan lagu dari iphone-nya. "Ini lagu buat dek shey.." Dan mengalunlah lagu berjudul Try dari Pink. "Makasih loh abang. Tapi neng udah capek 'trying' abang. Capeeekkkkk, huhuu"

“Ever wonder about what he's doing
How it all turned to lies
Sometimes I think that it's better to never ask why

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned
But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try, and try, and try
Gotta get up and try, and try, and try
You gotta get up and try, and try, and try”

Try - Pink

See.. Terlalu banyak masukan, justifikasi. Terlalu banyak masalah-masalah tanpa solusi, terlalu banyak hal yang terjadi tidak sesuai ekspektasi. Terlalu banyak hal terjadi, muncul lagi dari sana dan sini, dijalani lagi, menaruh harapan lagi, dan end up kecewa lagi, lalu harus menguat-nguatkan diri menghindar dari badai informasi, menjaga diri agar tidak terjadi perang di dalam kepala sendiri dengan pikiran "lebih baik aku" atau "I have done and give my best, why is it still not good enough for you?" yang akhirnya justru hanya ngebimbing saya ke pertanyaan-pertanyaan lanjutan lainnya. A why will always lead to another why, and remain unanswered.

Terlalu banyak. Terlalu banyak hal yang bikin saya jadi kepenuhan, satu-satunya yang saya ingin hanya kembali pulang, dan saya jauh dari tempat pulang. Pernah satu pagi setelah dua malam sebelumnya terjaga dengan terlalu banyak hal diproses dalam kepala, saya duduk di meja kantor dengan mata menatap monitor tapi tidak melakukan apa-apa selama berjam-jam lamanya, tiba-tiba seolah ada ikatan batin, Ibu menelpon dan saya tumpah begitu saja tanpa bisa ditahan-tahan lagi, tidak peduli begitu banyak mata di dalam ruangan yang melirik dan menatap dengan penuh tanda tanya. Tumpah sudah begitu saja. Dua hari sesudahnya saya pun pulang, akhir minggu itu dihabiskan bersama Ibu berdua saja, bercerita yang bisa diceritakan, sesekali tangan Ibu mengusap kepala, menepuk-nepuk tangan saya yang ia genggam,  sampai kemudian kami tertidur saling memeluk. Dini harinya terjaga melihat Ibu di atas sajadah masih dengan mukenanya, saya pun berkata...
“Bu, batin pengen masuk perut ibu lagi aja bu. Batin capek”
Ibu tertawa dan mendekat. Sambil mengusap-usap kepala saya Beliau berbisik, “Kok anak ibu sekarang jadi rapuh banget ya... Lebih banyak lagi masalah hidup di depan nantinya, nak”
“Batin segitunya sulit ya Bu, sampe semua orang selalu give up easily?”
“Sabar, nak..." Ibu tersenyum.
Ah, Ibu... Bahkan pada saat sekarang ketika saya tau saya salah dan sudah berkali-kali membuat Ibu patah hati, Ibu tidak pernah pergi dan menyalahkan saya sama sekali. Tidak pernah sama sekali meski saya tau Beliau patah sekali hatinya kali ini.
Yah sudahlah, mau gimana lagi... Hehe. Kata temen saya yang namanya Pandu, “kalo lo udah gak bisa ngapa-ngapain lagi, hal paling enak dan gratis yang lo bisa lakuin itu cuma narik napas dalam-dalam dan hembuskan”
Yuk ah, mari kita tarik napas dalam-dalam dan hembuskan... Fyuhhhhh.
So It's just some kind of closure, I guess? Is it? *belum ikhlas. Karena sepertinya memang mending ditinggal mati daripada ditinggal karena orang lain ya. Hahaha~

17.2.13

ogoy made my face!


Nyobain aplikasi di smartphone, IMadeFace. Mainstream banget sih sebenernya, orang-orang lagi pada suka upload ini juga dimana-mana bahkan beberapa ngejadiin profile picture. Saya malah baru ngeh waktu si ogoy partner kerja saya kemarin asik sendiri mainin smartphone saya sambil cengar-cengir sendiri. Ternyata lagi mainin aplikasi ini.

I made ogoy's face!
"Coba goy, bikinin punya aku, nanti aku bikinin punya kamu."
Dan inilah hasilnya... Jengjengjeng...
Ogoy made my face!

He made mine, I made his face ini jadi semacam kado perpisahan buat kita masing-masing, soalnya setelah perkenalan awal kita waktu ketemu di kelas prajabatan, kemudian setahun kebersamaan yang penuh warna dari mulai kerja bareng di project kkp muterin lampung, sampe akhirnya sama-sama dapet penempatan pusat, sekarang kita kepisah unit kerja yang lokasinya beda dan bikin gak memungkinkan untuk kita bakal sering-sering berinteraksi lagi. Meennn.. Bakal melewatkan keajaiban-keajaiban si ogoy yang salah satu cemilan favoritnya adalah pisang diskon alias pisang sale ini. Sedih juga dikit-dikit ya ternyata.


Dear my alien partner... Semoga sukses menyebarkan virusnya. Salam pisang diskon!

16.2.13

yang bukan banci atau sekedar panci, any?


Jadi kemaren itu ceritanya seorang temen dateng curhat ke saya tentang mantan pacarnya yang katanya sih pengen dia ajakin balikan karena dia ngerasa mantan pacarnya itu yang terbaik dan tai kucing-tai kucing lainnya itulah yah. Dia salah curhat sebenernya, karena kondisi kesehatan mental saya sedang sangat diragukan untuk bisa menjadi teman curhat yang baik yang bisa memberikan masukan-masukan realistis dan solutif menyerempet ke nyinyir ala-ala sheilla yang biasanya. Haha. Emang kalo kepepet susah juga sih ya pilih-pilih temen curhat. Harusnya yang galau urusan hati ya curhatnya jangan sama yang udah enggak pernah pacaran bertahun-tahun, atau yang kasus desperate-nya lebih kronis. Harusnya juga yang galau urusan kerjaan ya jangan sama yang kerjanya kayak kutu loncat suka pindah-pindah curhatnya, atau ke yang kurang bersyukur udah dapet yang enak masih mau cari yang lebih karena ngeliat rumput tetangga lebih hijau. Tapi ya itu tadi sih ya, kadang kalo situasinya lagi kacau itu jadi suka enggak bisa berpikir jernih untuk menyeleksi teman curhat yang baik dan yang layak. Termasuk temen saya kemarin ini juga yang mungkin lupa kalo saya lagi sama ‘sakit’nya sama dia, worse maybe. Hahaha.

"Gue pengen sama dia aja shey, gue ngerasa dia yang paling ngertiin gue, gue gak perlu yang lebih-lebih lagi, dia aja udah cukup" kata si temen saya itu. "Men, lo udah pernah bilang itu ke gue beberapa tahun yang lalu, waktu lo putus, terus lo nyambung, terus lo main-main lagi, terus lo putus lagi, terus lo bilang gitu lagi, terus lo nyambung lagi, gituuuu mulu... Mau sampe kapan?" Kita berdua ini emang udah kenal dari jaman-jaman saya masih pacaran ala anak sma sama si berondong, dan melewati banyak episode-episode drama setelahnya bersama-sama. "Udah sih shey, lo ini kayak iyanya aja. Laki-laki itu semua sama, gak usah jauh-jauh, lo liat temen lo ini” pernyataan yang menguatkan hati saya waktu sempet ngerasa insecure pas tau si mantan pacar sudah berpaling ke lain hati. “Kayaknya karena gue punya temen kayak lo inilah makanya gue gini, karma ini pasti. Lo gak punya sodara perempuan, jadinya karmanya ke gueeeee! Udah lagi sih makanya main sana sini lo ini!” Saya pernah ngamuk ke dia karena kesel ngeliat kontak bbm-nya yang ada satu folder dengan kategori ‘no women no cry’ isinya cewek-cewek gak jelas kenalan dari sana sini, dan isinya buanyaakkkkk benerrrrr. “Tapi bener shey, kali ini gue serius, gue udah gak mau cari yang lain lagi”

PRET.

"Sama kamu itu beda. Aku udah gak mau cari yang lain-lain lagi, kamu aja cukup"
Pret. Pret. Pret. Camkan ini wahai perempuan.. Unless you are dian sastro, you dont have the rights to believe that. You don't have the rights to believe that with you, things will be different. They will remain the same, actually. Because men are all the same, just like Kim Jong Kook's song.
“I’ve heard it so many times. Udah berkali-kali dari orang-orang yang berbeda pernyataan yang isinya begitu itu gue denger. ‘Sama kamu itu beda, blablabla… Aku udah gak mau cari yang lain lagi blablabla..’ Pret banget. Tipuuuuuuu muslihat semua. Sudah lagiiiii, gue temenan sama lo ini bukan baru setahun dua tahun ya. Laki-laki itu gak ada yang bisa dipercaya, apalagi lo! From now on, you prove it, don’t just say it” I said to him.

Gak ada yang bisa dipercaya emang laki-laki itu. Kecuali ayah.
Cuma ayah yang sekarang kalo nelpon nanya basa-basi lagi ngapain-udah makan belum-makan pake apa, saya gak curiga dan mikir macem-macem kalo orang ini pasti ada maksudnya terus jadi pengen cepet-cepet mengakhiri pembicaraan.
Cuma ayah yang masih suka ngabarin “ayah pergi kesini ya” “ayah pergi kesitu ya” dan saya gak ngerasa keganggu sama sekali karenanya. 
Cuma ayah yang sekarang saya datangi dari jauh ketika saya butuh rumah, menyambut saya selarut apapun saya pulang, menyempatkan membahas satu dua topik sambil menyulut beberapa batang rokok sampai kita sama-sama tertidur di depan televisi, dan kemudian akan mengantarkan saya keesokan paginya bikin saya berasa jadi anak sekolah lagi.
Iya, emang saya gak punya pacar si, tapi saya masih punya ayah yang seketika bisa muncul di fatmawati dari gunung sahari cuma buat nganterin satu siung bawang putih untuk ngobatin si bisul yang tiba-tiba muncul. How sweet, pak kumis… how sweet. Emang cuma ayah yang selalu punya banyak cara untuk saya bikin jatuh cinta gak bangun-bangun lagi, yang lainnya kalo gak tukang bohong ya gay atau banci. Pfffttt.

Anyway, ini foto panci serbaguna yang saya beli di plaza deket kosan, harganya terjangkau dan tahan banting. Biasa dipake buat ngerebus air untuk seduh-seduh susu/teh/coklat, biasa dipake buat ngegoreng-goreng yang bisa digoreng, biasa juga dipake buat ngerebus mi instan kalo kepepet, dan bisa juga buat ganjel pintu. Serbaguna, men.


So, I've got my own multifunction can, now I just need my own multifunction guy. Ditunggu kedatangannya, laki-laki tahan banting dan bisa multitasking serta multifungsi untuk saya dampingi, dan yang enggak banci plis. Hahaha.


men are all like that
I wouldn't be any different
I vauled you at first but then I flew away
mena are all like that
I wouldn't be any special
i had all of your heart but then I flew away
-Men Are All Like That, Kim Jong Kook-


12.2.13

life is indeed, flat...


"Lagi ngapain lo?"
"Tiduran, abis nyuci"
"Wuih, perasaan kemaren abis nyuci?"
"Iya, kan kemaren gue bilang cucian gue numpuk. Ada sekitar 20 potong baju yang harus dicuci, disini ga ada jemuran, jadi harus jemur di jendela kamar sendiri pake gantungan baju yang kapasitasnya maks cuma 8 potong skali jemur, jadi dicicil nyucinya, gitu"
"Haha, ribet banget idup lo"
"Emang"

"Jadi gimana, apa cerita hari ini?"
"Gak ada cuy, gini-gini aja cuy"
"Datar banget yak idup maneh"

Idup emang lagi datar banget. Gak ada gejolak-gejolak sama sekali. Lagi enggak ada passion sama sekali, inspirasi apalagi. Bukan cuma karena still in the middle of the healing process sih, cuma kemarin udah sempet distract ke sesuatu yang lain yang bukan urusan hati, mulai meletakkan harapan lagi pada sesuatu itu, udah ikhtiar juga, tapi lagi-lagi enggak bisa melanjutkan proses selanjutnya. Bener-bener diuji kesabarannya sama beberapa orang. Udah mah status digantungin dua tahun, pas mau mengembangkan diri sendiri dilarang juga. Andai sabar juga ada tunjangannya ya... Ghhaaaaahhhhhhh!

Sabar, sheilla...Sabar. Inget kata tante nikita willy, "ku akan menanti... meski harus penantian panjang.. "

Seorang teman bercerita pada saya baru-baru ini tentang mamanya yang berusaha membesarkan hatinya, "Kata emak gue shei, manusia itu hidup karena berharap. Trus gue bilang, mah tapi capek gitu digantungin statusnya gak jelas... Ngantor tapi gak jelas di kantornya. Trus emak gue bilang lagi, ya justru itu, karena kamu berharap hari ini kamu bakal penempatan makanya kamu rajin ke kantor, mau ngerjain apa yang bukan kerjaan kamu, karena setiap harinya kamu punya harapan biar dapet yang terbaik... Iya kan?"

Iya tante, manusia itu hidup karena berharap. Tapi hidup dengan harapan yang desperate atau yang membahagiakan, siapa yang tau?

So I've been spending times drowning my self back again into K-fever lately. Basi banget emang, nonton running man pagi siang sore, disela-selanya nontonin K-drama, di sela-selanya juga streaming v-clip artis-artis Korea, udah kayak orang gila ketawa-ketawa sendiri sampe perut kembung masuk angin kayaknya karena kebanyakan mangap sambil ketawa gak bersuara. sebenernya katanya gak boleh ya terlalu banyak ketawa, karena terlalu banyak tawa mematikan hati. But It doesn't matter if it's dead already, right? Wiw, mancing-mancing ini statement-nya, mancing-mancing mau masuk episode galau. Hahaha. Udahan ah sampe sini aja dulu yak, belum banyak juga yang bisa saya ceritain, idup masih datar sedatar cover depan saya, eh? :D



So, I'll see you around? Ciao.

31.1.13

Despite all the sadness.

eyang bilang...
"jangan dipikir-pikir, nanti kamu sakit.."

ibu bilang...
"jalanin aja ya nak"

my woman bilang...
"pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa... lo itu punya segalanya, lo pasti bisa!"

seorang kawan bilang on his birthday...
"Jangan ngehubungin ya cuy, demi urang, anggep aja kado buat urang"
"sweet banget maneh cuy urang terharu..."
"ya daripada maneh nangis lagi"


You know, dear universe... I will never get angry because you've been going too fast lately...
I'm just a lil bit sad, seeing my self got tricked by my own stupidity and wrong choices.
But I know I will survive, I just know I will, though I still don't know where to begin... Just wish me some luck, okay? ;)

I used to think that rejection by the person we care about so much is a real pain in the ass. But now I learn that an 'ignorance' is worse. It's worse baby...

"Lo pikir lo cinta sama dia? Naif banget kalo lo berpikir yang lo jalanin sama dia itu adalah cinta. Lo ketemu dia, ketemu laki-laki pertama yang sesuai dan pas dengan ide-ide dan imajinasi di kepala lo. Gak ganteng biar gak gampang selingkuh, gak punya apa-apa tapi punya kemauan untuk bangun hidup sama-sama, gak nakal tapi gak juga yang polos-polos amat, gak pinter banget tapi well educated, dia sayang nyokapnya, humble dan bisa bawa diri, ngerti agama, he treats you well, dia selalu ada buat lo, orangnya suka ngelucu, tapi ya udah. Udah loh sheiii.. Naif banget kalo lo mikir itu cinta. You turned into someone I admit, nicer..sweeter..better.. Tapi itu bukan lo. You were stronger. Waktu sama dia lo itu lemah. Dan sekarang dia pergi itu buat nguatin lo. Come on, wake up, ucil..."
"Gue bahkan sempet mikir, mendingan ditinggal mati daripada ditinggal kayak begini"
Karena kalo bukan cinta terus apa? Pelarian? Tapi kok bisa segitu pleasing-nya... "Gue ngebuka diri, dia bikin gue percaya, dia bikin gue yakin"
"Nah kan nah kan mulai... naif"
"Gue udah ngebuka diri, meennnn.. Hampir 100%, almost all in, almost"
"Ya, untungnya belum 100% kan... Belum buka telanjang bulet depan ranjang pengantin dan lo baru ngalamin tiba-tiba dia walk out ninggalin lo sendiri, ignore lo... Bersyukur shei, bersyukur"
 

Yang lebih bikin ngenes adalah karena ini terjadi justru di saat mendekati my quarter life crisis. Bilang ini karma dari Tuhan, bilang ini ujian kenaikan level, bilang ini untuk nyuci dosa-dosa di masa lalu... But It's kinda harder because It happened when I'm about going to 25 (why now? it would hav been easier if it happens 5 or 6 years earlier. So, WHY NOW???), I even gave up the person-I-have-always-been-hoping-to-be-the-future-dad-of-my-brinada-and-aidan, and I have been in the situation where my job is a total absurd. I remember back then, dulu itu lagi berusaha mendefinisikan apa yang saya mau, apa yang saya bener-bener mau, and when I knew exactly what I want I realized It was all too late, but suddenly out of nowhere this guy popped in and made me believe that the thing between us could work, for a while, but then he left like there's nothing happen. Jadi iya, kejadian itu emang lumayan 'DOR' banget. Dan lumayan bikin saya susah untuk bisa ketawa-ketawa, lumayan susah buat pretend to act normal, lumayan susah buat nutupin kalo kita gak lagi baik-baik aja karena orang-orang nyadar kalo badan saya tambah kurus, mata bengkak dan muka kucel berhari-hari... And It happened for quite a long time.

Yes for real, saya pernah ada di tahap itu. Dan akibat ditanya melulu dan dapet berita dari sana sini melulu, akhirnya jadi cerita terus terus lagi dan lagi sampe kecapekan sendiri. Dan episodenya emang gak berlanjut, yang dibahas masih seputar itu-itu aja. Sempet mikir kalo terus-terusan cerita sampe kecapekan sendiri kayak kemarin saya mungkin bakal nemu titik jenuhnya dan bakal berhenti dengan sendirinya. Berhenti mikir betapa remehnya, betapa gak pentingnya, betapa tiba-tibanya, dan betapa-betapa yang lain yang terus menggantung di atas kepala, termasuk betapa mudahnya... dan tanpa merasa bersalah? Ya, salah satu part paling ganggu adalah diabaikan yang bikin kita jadi malah ngerasa bersalah banget-banget-banget level 10. No goodbye no gratitude no apology, just a sudden gone, bikin hari-hari setelahnya jadi serba sensitif dan emosional. Ditambah lagi ngerasa gedeg karena I can't even hate the person because he is too nice, he has been too nice the whole time we were together, so I just hate my self, I blame my self for being soooooo imperfect. Jahat banget kan saya sama Allah yang udah ngasih hidup sesempurna yang saya jalanin, dan saya malah benci sama diri saya sendiri karenanya.

Nah itu, saya lama banget ada di posisi gak bersyukur itu, untuk waktu yang lama saya bertahan pada posisi cuma bolak balik nyalahin diri sendiri, dan menceritakan ketidakbersyukuran saya itu terus-menerus, diulang-ulang diungkit-ungkit, lagi dan lagi dan lagi d a n l a g i...

Coba bayangin. Ada anak kecil, lucu, menggemaskan, dateng ke kita dan cerita berulang-ulang tentang episode barney and friends yang baru dia tonton. Dia cerita berulang-ulang sambil kepalanya goyang-goyang, senang, kita yang dengerinnya aja bisa bosen kan. Nah boleh dibayangin, kali ini pelaku ceritanya saya, yang gak lucu sama sekali, cerita berulang-ulang, dengan muka setengah-setengah mau nangis, terus tiba-tiba jadi nangis seru, terus tiba-tiba jadi diem lama dengan air mata ngalir dari ujung mata. Drama. kalo kamu yang jadi pendengarnya mungkin kamu bukan cuma bakalan bosen, tapi juga males, eneg, jijik? "Kayak bukan shei yang gue kenal" kalo kata temen saya waktu itu.

Nah kurang lebih karena alasan kasian sama beberapa temen yang frequently saya datangi ketika semua krisis ini melanda, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menuliskannya disini. It might be temporary, kalo ntar suatu saat saya ngebaca tulisan ini lagi dan ngerasa jijik sendiri, mungkin postingan ini bakal saya enyahkan. Udah niat ini mah yah. Hal paling bikin beban dari punya blog yang isinya kebanyakan curhatan kayak gini adalah ngebayangin gimana kalo ntar sekian tahun lagi anak saya baca terus tau terus malu punya Ibu macam saya. Sedih kan. Jadi biarlah nanti anak saya tau langsung dari saya sendiri kalo ibunya yang kayak Marsha Timothy ini juga pernah mengalami jatuh bangun karena cinta. Hahaha.

Yah udahlah gitu aja kali ya curhatannya kali ini.


"Honey, I always thought the worst thing ever would be seeing you go. But the worst is seeing you unhappy..."
-Mr Dracula, Hotel of Transylvania-

So, just do whatever that makes you happy then. I don't think I can handle anything worse right now, or even the worst one. You, just do whatever that makes you happy.

I know exactly what I need right now. Saya cuma perlu menemukan kembali rasionalitas untuk melanjutkan hidup yang normal lagi, memulai hari yang baru dan mulai mengejar tujuan-tujuan hidup yang mungkin hanya perlu ditata sedikit, dan gak menjadikan hal-hal yang telah berlalu sebagai faktor-faktor penghambat. Karena langit masih biru, bunga pun tak layu, dunia tak berhenti berputar, dan monas masih berdiri kokoh meski Jakarta banjir tiap tahun juga. Jadi, patah hati dan banjir karena air mata sendiri can't be an excuse, sheilla... It aint worth it. 



As a closing, let me present a super-tragic-broken-hearted-song to make it sounds more depressing... 'Someone you used to know' by Zee Avi. Enjoy... HAHAHA, ketawa rasa brotowali. Pahit, mennnnn.

29.1.13

1 minute.

halo?
iya?
blablablabla
blablabla
blabla
oo gitu ya?
iya. eh bentar-bentar. udah dulu ya yu, ada pasien..
iya.

...

you know what, mr I-don't-even-know-you... you can't play on broken strings. just so you know.

24.1.13

hai nona manis, biarkanlah bumi berputar... :)

sebenernya udah lama banget percakapan ini terjadi... but right now i'm in the mood to share it in here, so here it goes...

pelaku percakapannya Ibu, adik, dan saya yang lagi ngebahas-bahas tentang topik paling bikin merem melek, nikah. Hoam, sooooooooooo boring.
Adik: Bu, Dimas pernah diramal nikahnya bakal lama... Dimas bakal fokus ke karir banget gitu katanya
Ibu: Hih sudah lagi.. Liat batinnya itu, dulu pernah diramal.. Kepikiran terus sama ramalannya sampe sekarang. Mana, bener juga enggak itu ramalannya. Nanti ndim malah kepikiran..
Adik: Aih dimas mah mana kepikiran kalo yang kayak gitu. Kalo diramal jadi orang miskin baru dimas khawatir
Saya: Buset... Parah
Adik: Ya iyalah. Gak usah munafik. Gimana bisa bahagia kalo miskin coba.. Mau ngapa2in susah, beli apa2 gak bisa...
Saya: kan kayak keluarga cemara dim.. "harta yang paling berharga adalah keluarga"

Iya. Dulu saya pernah diramal, terus saya sempet kepikiran. Eh bukan sempet ding, masih kepikiran, kadang-kadang. Dulu itu diramalnya soal jodoh, dikasih ciri-ciri spesifik jodoh saya bakal gimana... And It has been realy exhausting to not mixing those things up with stuffs in reality sinceafter. Saya kalo ketemu, kenal, dan atau sekedar tau lawan jenis setelah kejadian diramal itu jadinya suka nebak-nebak dia kah orangnya, apakah dia, gimana kalo dia, dsb dsb... Suka curious, orang ini kerja dimana, dulunya kuliah apa, mungkin gak dia kerja di tempat yang dulu orang ramalkan merupakan tempat kerja si jodoh saya itu. Kalo fakta-fakta yang memperkuat kemungkinan pertamanya runtuh trus saya akan mulai-mulai masuk ke hal personal yang merupakan ramalan ciri-ciri yang kedua, anak keberapakah orang ini. Kacau kan? Bener kata Ibu, ramal2an begitu cuma ngerusak kalo yang dikasih tau itu cuma seiprit, nanggung, gak spesifik. Udah mah jadinya bikin jadi orang syirik kayak gak percaya Allah, trus ntah bener ntah enggak jadinya malah ngeganggu pikiran, fak bangetlah.

Tapi yang menarik dari pembicaraan kala itu adalah point yang si adik bilang soal ketakutannya yang lebih besar untuk diramal jadi orang miskin daripada yang lain-lain. Menarik. Karena apa? Karena selama ini faktor materi selalu saya nomor ke-sekian-kan dalam kategori panjang sosok laki-laki idaman. Bukannya gak takut miskin, but I just want to be simply happy. Simply happy yang berawal dari sama-sama gak punya apa-apa, cuma saling memiliki satu sama lainnya, so if there's anything bad happen and in the end we only have each other, It would still be fine.

Hidup ini pasti akan lebih mudah kalo segala sesuatunya sudah ada manual book-nya ya, meski jadinya tidak akan lebih menarik, tapi setidaknya hal remeh temeh tidak perlu terjadi menambah daftar panjang kebodohan yang kemudian berimplikasi panjang-panjang merusak kehidupan orang-orang yang disayang.

If only oh if only...

2.1.13

why so serious? *yawn

Jadi buat yang masih mempertanyakan kenapa bagaimana kok bisa, sementara padahal kok kayaknya sayang banget dan sebagainya dan sebagainya itu...
Terus buat beberapa juga yang geleng-geleng kepala, cari pegangan, bersandar, ngelus-ngelus dagu karena sangking tidak percaya ketika saya kasih penjelasan sebenarnya kenapa... Susah banget sih buat orang-orang nerima jawaban 'belum jodoh' yah?
I think I've found another brilliant answer for those so 'lame' questions...

He's a gay. That's why. Acceptable gak itu jawabannya? Kalo enggak ya udah. Hahaha. Udah yah jangan ditanya-tanya lagi, capek jawabnya. Capek nerima ekspresi curiga kalo ada orang ketiga. Capek.

 

well I cant explain why It's not enough
cause I gave It all to you
and if you leave me now
oh just leave me now
it's the better thing to do
it's time to surrender
it's been too long pretending
there's no use in trying
when the pieces don't fit anymore

the pieces don't fit here anymore

you pulled me under so I had to give in
such a beautiful mess that's breaking my skin
well I'll hide all the bruises, I'll hide all the damage that's done
but I show how I'm feeling until the feeling has gone

-The Pieces Don't Fit Anymore,
James Morrison-

1.1.13

grey-ish.

Sekarang di kantor dapet free lunch.
Sebenernya selain gaji saya dapet jatah uang makan yang diitung per hari kalo masuk kerja dapet sekitar Rp. 25.000,- dipotong pajak 15 %. Nah free lunch ini uangnya agak abu-abu datangnya darimana. Jadi ada beberapa orang teman kantor yang mengatasnamakan prinsip kemudian memilih untuk tidak makan siang jatah free lunch ini. "Kan udah dapet uang makan, harusnya kita makan siang dari uang makan yang kita dapet itu". Menganggap kalo ikut makan free lunch itu artinya ambil andil dalam bentuk kecil korupsi.
Uang makan yang dijatahkan sendiri ini sebenernya lebih mirip uang undian, soalnya dibaginya itu gak jelas, bisa dirapel beberapa bulan kemudian, jadinya pas keluar kita surprise berasa dapet undian. Haha. Gak jelas. Udah masuk ke sistem hampir dua tahun, makin sering mengeluh daripada bersyukur. Kenapa semua serba tidak jelas, kenapa semua serba begini dan begitu. Alih-alih bersyukur saya malah jadi sering nyari pihak untuk disalahkan atas kondisi yang dijalani saat ini.
"Apa yang terjadi dengan kamu sekarang itu atas apa keputusan-keputusan yang kamu buat di masa lalu, sheilla... Take it, earn it. And try to be grateful"

Lalu ada cerita tentang teman-teman kantor yang tinggal dalam satu kontrakan yang sama, laki-laki semua. Saya selalu takjub dengan para bujangan ini mengelola kehidupan mereka sebagai penghuni rumah yang sama. Mereka ngumpulin benda-benda yang dibutuhkan untuk mengisi rumah dan bisa digunakan bersama-sama. Beli benda-benda elektronik buat dipake bareng-bareng kayak setrikaan dispenser dan rice cooker, dan yang masih dalam rencana jangka pendek itu mesin cuci sama kulkas. Dua orang mendatangkan motor dari rumah masing-masing di Karawang dan Madiun untuk kemudian jadi kendaraan mereka berempat saling bonceng-boncengan sehari-hari beraktivitas di Jakarta. Jadi secara rutin mereka berempat selalu datang dan pergi ke kantor sebagai satu paket, yang biasa dikenal sebagai Geng Mampang karena kebetulan kontrakan mereka yang berada di daerah Mampang. Setiap harinya secara rutin juga sejak mendapat jatah free lunch di kantor, salah satu dari mereka bergantian mendapat tugas membawa kotak makan kosong dari rumah, yang pulangnya dari kantor akan terisi dengan lauk pauk sisa free lunch siang itu dan kemudian mereka jadikan sebagai bekal buat makan malam, jadi nanti mereka tinggal masak nasi di kontrakan. Iya mereka emang niatnya hemat, niat hemat bukan karena pelit, lebih karena daripada mubazir juga kan sisa lauk pauknya. Dan uang yang bisa dihemat juga jadi bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder lainnya. Gitulah pokoknya.. Menurut saya seru aja gitu cara mereka mengelola kesinambungan hidup bersama dalam satu atap itu. Nah, lucunya... salah satu temen saya yang enggak pernah ikut makan free lunch bareng kita ini juga adalah salah satu penghuni geng mampang ini. Tapi walaupun dia enggak makan free lunch di kantor, malamnya dia ikut makan bekal lauk pauk yang dibawa sama anggota geng mampang yang laen dan dibawa pulang. Prinsipnya jadi abu-abu kan ya, setengah-setengah gitu. Susah juga sih sebenernya ya mau maksain berprinsip di dunia yang abu-abu. Gak bisa kayak kalo sehari-hari gitu, "nakal minum dan lain-lainnya itu gue oke, tapi kalo nakal cewek gue pantang! Prinsip!". Atau lainnya yang paling simple, "Sekarang mah pantang minta duit ke orangtua!" Prinsip, kan. Prinsipnya bisa jalan no matter what happens asal kitanya kuat iman, dan kuat hati mengelola hidup secara mandiri lepas dari rumah gak numpang ke orangtua lagi. Itu baru namanya ngejalanin prinsip. Soalnya ada beberapa orang yang saya kenal yang dengan mantap berkata "gue mah pantang minta duit ke bokap nyokap", tapi faktanya kalo dikasi bokap nyokapnya dia gak nolak. Trus tinggalnya juga masih numpang sama orang tua yang mana artinya sandang pangan papan masih di-support, mobilisasinya juga masih pake kendaraan orang tua dengan bensin yang juga kadang-kadang masih diisiin sama orangtua. Kalo kayak gitu mah nggak masuk itu prinsipnya, bos!

Yah pokoknya gitu deh ya.
Soal kerjaan sampai dengan sekarang masih banyak banget hal yang bikin saya harus meraba-raba. Kalo lagi kumpul-kumpul dengan teman-teman yang masuk kerjanya seangkatan, kita persis kayak orang-orang buta yang berusaha mendefinisikan bentuk fisik sesuatu. Ada yang megang dari hanya sebelah sisi, mengatakan bahwa ini bentuknya X. Ada juga yang megang dari sisi yang lain, mengatakan bahwa bentuknya sudah pasti Y. Kemudian saya yang berada di sisi yang berlainan dengan teman-teman yang lain, mengatakan bahwa bentuknya 'mungkin Z', begitu seterusnya, berbeda-beda, tidak ada kesepakatan bulat bentukan pastinya apa. Tapi satu hal yang kita semua sepakat, disini ini semuanya serba gak jelasssssss. Hahahaha.

"makin geje ya"
"iyaaa. be-pe-en itu ya begini"
"haha. iya ya. yu ah, resign aja apa?"
"kalo saya enggak deh sheill, emang kedengerannya muluk-muluk sih, cuma ya kalo bukan kita siapa lagi? Jadi saya mah disini aja deh. Hihihi"
"Hahahaha. Yakin bukan karena 'kalo gak disini dimana lagi?"
"Nah itu pasti jadi alasan utama sheill"
Pfffttttt.

Sampai suatu waktu si ogoy yang keliatan paling cuek dan gak peka bertitah, "aku kalo punya anak gak akan aku suruh kerja di be-pe-en. gak akan!"