17.8.13

karena tidak semudah membalikkan halaman di buku.

Yang saya inget, hari itu semacam pertemuan terakhir saya dengan si Alex. Dengan mata masih menatap lembar-lembar materi di depan mata sambil tangan kiri mengurut-urut betis kebanyakan jalan, tiba-tiba Alex bertanya, “so, any question before we move on?”
Mendongak dan terlintas jawaban di dalam pikiran sendiri, “There are so many questions! THERE ARE!!!”
“Okay, are we ready to move on?” He asked again, matanya berkeliling kelas mencari jawaban.
“Should we?” Masih, menjawab, hanya, dalam, hati.
“Okay then, let’s just move to another page...”
“Apaahhhhh, lembaran baru??? NOOOOooooo I’m so not readyyyyyy” I screamed, inside my head.

Kenapa yah yang ngomong kayak gini mesti si Alex, bukan si orang itu, yang setelah malam dimana dia mengakhiri pembicaraan tengah malam itu dengan alasan, “udah yah, nafas saya sesak, nanti kita ketemu, take care...” taunya besok-besoknya hilang entah kemana, muncul-muncul di recent updates bbm ngeganti statusnya dengan inisial nama-entah-siapa. Sangking gak sanggupnya menghadapi hari-hari akhirnya waktu itu sampe harus minta tolong ke orang lain buat ngapusin kontak dia. Dan hari-hari sesudahnya terasa begitu kelabu, karena dunia kita yang begitu sempit yang memungkinkan informasi sampai dengan begitu mudah. “Shei, gue kayaknya kenal sama orang itu deh. Si itunya si itu”, kata seorang teman, random, sesaat sebelum saya naik ke atas motornya. “Haha”, dan ketika motornya melaju, angin kencang menerpa wajah, air mata menetes satu-satu. Tengah malem si temen nelpon ngerasa bersalah, “Shei sorry ya gue gak nyangka lo segitunya, karena yang gue liat lo baik-baik aja, sorry banget banget”. Besoknya mata udah bengep. “Iya, gue juga sebenernya enggak tau ambang batas kerapuhan gue gimana, haha” ketawa palsu. Iya, saya emang gak tau takaran toleransi saya sampai gimana, kadang-kadang It’s fine if someone brought any blast from the past, tapi kadang-kadang saya bisa lemes hanya karena ngeliat namanya muncul di timeline social media entah siapa, dan jari jemari langsung gatel pengen remove si teman yang sebenernya gak salah apa-apa sih ya, haha.
Dan, kenapa juga yang nanya kejelasan apakah masih ada pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab itu bukan juga berasal dari si orang itu. Orang yang dateng, ngasih harapan, terus semacam angkat tangan setelah menggulirkan kata-kata yang menjanjikan. Dan setelah angkat tangan, tiba-tiba jadi banyak berita datang dari sana sini tentang dia yang dekat sana dekat sini sama orang-orang disana dan disini. Lebih banyak, dan lebih irritating. Bahkan ketika saya memutuskan untuk acuh saja dan memilih mengingat masa-masa bahagianya, kadang-kadang ulu hati bisa tiba-tiba nyeri kalo ngebayangin orang ini sama orang lain, menyampaikan line-line yang sama atau mirip-mirip kayak waktu dia pertama mulai bikin move sama saya. Masih nggak rela...
Because It seems like there are still so many question not yet answered but I’m still so not ready either to have it answered, thank you.

Lucunya, malah orang paling nyebelin dan saya yakin massa otaknya udah berkurang beberapa miligram akibat konsumsi obat aneh-anehnya (mungkin gak sih ini?), yang dulu saya benci pake banget sampai ke ubun-ubun, yang denger namanya aja bisa bikin saya mual dan males, yang paling sering melakukan hal-hal di luar normal untuk seorang sheilla, dan yang jelas-jelas dan terang-terangan akhirnya mengungkapkan banyak fakta versinya sendiri, minta maaf, kemudian berkata kalau dia tidak akan kemana-mana. Dan dia tidak kemana-mana.
“Harusnya aku gak pernah kenal kamu. Kalo aku gak kenal kamu mingkin aku udah nikah sekarang”
“Karena gua ya shey? Sorry ya shey”
“...”
“Belum waktunya aja shey, sabar aja. Ini takdir, kita ketemu itu takdir, sekarang yang kamu jalanin ini takdir...”
Mau ketawa ngakak tapi ditahan waktu denger ini keluar dari mulutnya. Yeah, takdir my ass. You should try to walk in my shoes first. Situ enak-enakan pacaran sama you dulu punya adek-adekan, me? Bzzzzzz. Tapi ya itu yah, lucu, soalnya orang ini malah orang yang paling di luar akal bakal treat me better after ‘the incident’. Karena bahkan ketika kita saling kenal pun saya lebih banyak merasa kalo dia enggak memperlakukan saya dengan layak. Tapi entahlah... Karena dalamnya lautan bisa di bathymetry, dalamnya hati siapa yang tau? :)

Anyway, selesai kelas malam itu saya langsung nyiapin ini itu dan tau-tau besoknya udah ada di bandara duduk dengan tidak manis di atas trolley sambil ngurut-ngurut gantian lengan kiri dan lengan kanan gara-gara semaleman harus nyuci tumpukan cucian. Sebelum take off ibu sempet nelpon, “Seneng-seneng ya nak, jangan susah-susah lagi... Nanti pulang udah gak boleh sedih-sedih lagi” Menjawab dengan anggukan kepala padahal Ibu yang jauh disana juga enggak ngeliat ya, haha. Juga mengingat telpon-telponan sebentar di hari sebelumnya dengan salah satu perempuan kesayangan, “batin, selamat refreshing ya! Pokoknya kamu harus have fun!”
Dan akhirnya ‘kabur sebentar’ itu pun berlalu.
Dan kabur sebentar yang menginspirasi itu ternyata cuma ada di dalam film. Dan berharap bisa jadi julia roberts sampai akhirnya bertemu jodoh di tempat baru (kayak di film eat-pray-love) adalah sebuah imajinasi yang TOO MUCH. Haha. Karena ternyata disana justru banyak mengingat, terutama karena cuaca dingin dan suasana so sweet yang bikin terlalu sering khayal pengen dipeluk dari belakang. Hahahha.
Bahkan sempet dikasih mimpi waktu lagi disana, dikasih mimpi ketemu dan jalan kaki yang jauhhhhh banget, terus dia tiba-tiba bilang, “Aku gak bisa sama kamu... Aku gak bisa kalo sama kamu... Aku bener-bener gak bisa kalo sama kamu...” Direpetisi berkali-kali. Dan paginya masih kebayang dengan jelas. Dan langsung sadar, itu bukan mimpi, itu lebih seperti memutar kembali ingatan ketika orang itu bilang hal yang sama beberapa waktu yang lalu. Iya iya, now I get the message that you just don’t want to be with me, you take care of yourself outhere.
Dan kabur sebentar itu pun jadi gak kerasa-kerasa banget. Bahkan sampe di kantor  pagi-pagi setelah menjelang dini harinya baru sampe kosan, gak sengaja malah kejebak obrolan dengan orang yang kebetulan lagi deket sama sahabatnya si orang yang pernah deket itu, dan terpaksa harus dapet info ini itu tentang orang itu, dan mesti banget yah dapet embel-embel “yaudahlahya, move on azaaa, dia yang rugi gak dapet kamu, eh tapi katanya pacarnya yang sekarang lebih cantik ya? Hahahaha. Blablabla” Kata-kata selanjutnya udah enggak terdengar lagi. Yeah right, lebih segala-galanya.
Aduh, rasanya pengen kabur selama-lamanya dan start a new life di tempat baru yang gak kenal siapa-siapa. Tapi kaburnya mau bawa Ibu, bisa gak sih? :P

0 comments: