23.7.13

ja.kar.ta.mu

Aku menatap Jakartamu, dari jendela kopajaku. Kopajaku yang baru saja menaikkan tarifnya jadi tiga ribu.

Aku menatap Jakartamu, yang kamu bilang akan kamu taklukkan, tempat dimana kamu janjikan aku sebuah rumah yang paling nyaman, bukan yang paling besar bertingkat dan harganya milyaran, tapi yang sederhana dengan taman-tidak sulit dibersihkan-melindungi dari panas dan hujan-dengan kamu di dalamnya melengkapi dan menghangatkan.

Aku menatap lagi Jakartamu, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Jakartamu yang selalu membuatku merasa sendirian. Jakartamu yang selalu menang dan mengambilmu jauh.

Aku menatap Jakartamu, dengan perut kombinasi kram dan nyeri luar biasa, mata berkaca-kaca, dan rasa ingin mati saja. Seharian mengambinghitamkan PMS mengisi hari dengan banyak menahan emosi akibat barisan-barisan kata yang menyakitkan. Dan di perjalanan itu, sambil aku menatap Jakartamu, kopajaku melaju membawaku ke tempat yang aku tuju. Tempat yang dituju yang bukan tempat berpulang.

Ibu, batin mau peluk Ibu. Karena kalo batin gak ada, paling yang sedih cuma Ibu...

Ibuuu...

2 comments:

landutz said...

aku juga sedih kalo sheilla ga ada :(

s h e i y said...

@teh wulan: ibunya kiaaaaa {}