23.5.13

bagi-bagi yang (agak) basi.

Update-an cerita di dunia kecil punya sheilla dari sejak terakhir posting itu cuma dua:
1. Sheilla sekarang udah kerja beneran.
2. Sheilla sekarang (masih) single.

Kerja beneran.
Sejak diterima sebagai pegawai tetap di sebuah instansi pemerintah dua tahun yang lalu, sheilla terus-terusan galau karena meski status sudah sebagai pegawai tetap, si sheilla belum mendapatkan tempat kerja yang tetap. Pindah-pindah, bantu sana bantu sini, jalan sana jalan sini, kabur sana kabur sini, dikasih harapan disana dikasih harapan disini. Begitu seterusnya. Sebenernya gak pantes sih buat galau-galau dengan alasan ini. Karena kalo diliat dari kacamata orang lain galaunya sheilla itu gak jelas. Udah kerja loh paling enggak, masih banyak di luar sana yang lebih gak jelas ya kerjanya ya idupnya ya segala-galanya. Katanya sih... Tapi ya pada saat itu, si sheilla cuma ngeliat sekitar yang radiusnya bener-bener paling minim yang bisa dia liat, kehidupan bersama teman-teman kantor dan kehidupan bersama teman-teman kuliah satu jurusan. Udah, itu aja. Persis katak dalam tempurung.
Jadi ya gitu, sejak Bulan Februari lalu saya akhirnya dapet definitif kerja di kantor pusat yang mana posisinya ada di Jakarta. It's not realy surprising actually, udah prediksi dari awal masuk kerja sih. Soalnya dulu mikirnya bakal jadi sama orang itu, yang kerjanya juga kan di Jakarta, jadi kan pasti end up working here juga mau gak mau. Sayangnya rencana sepertinya hanya tinggal rencana. Haha. Dan udah keburu dapet definitif disini, mau gimana lagi coba. Pait-paitnya dijalanin aja deh yah, ntar dicari pelan-pelan manis-manis sepetnya :)
Terus gimana nih rasanya almost 4 months kerja di tempat baru?
Time flies soooooooo FAST. Secepat awan kinton tapi mengobrak abrik isi hati. Haha. Standar kehidupan bekerja kantoran mungkin, ya... Prosesnya, inisiasi-recognisi-dan adaptasi, ntar ujung-ujungnya mungkin bakalan basi. Iyoooo, basi. Setelah masuk, banyak banget pelajaran-pelajaran baru yang harus dicerna. Banyak, dan kebanyakan pelajaran yang harus bener-bener khusyuk dipelajari adalah pelajaran terkait interaksi sesama manusianya, bukan teknis pekerjaannya.  Ini bakalan basi banget kalo udah tau ilmunya cuma gitu-gitu aja. Sebenernya jauh dari sebelum kerja Ibu sudah sering banyak berpesan ini dan itu terkait dunia kerja. Banyak. Dan kurang lebih dalam waktu 4 bulan ini saya banyak banget harus ngeluarin ekstra energy itu justru untuk proses adaptasinya. Mungkin juga dampak dari proses adaptasi itu, bagi beberapa pihak saya jadi orang yang nyebelin, I knew I did, kemarin ini jadi sedikit picky dengan segala acara kumpul-kumpul bareng temen-temen selain temen kantor. Sebenernya bukan karena gak mau, saya mau banget, bukan mau banget aja malah, sebenernya saya 'butuh' itu. Saya butuh temen-temen, butuh orang-orang yang tau banget sama saya... Tapi terkadang entah timing-nya yang nggak pas karena bentrok dengan urusan lain yang saya juga sebenernya enggak pengen-pengenin banget buat saya urusin, atau ya terkadang untuk memiliki interaksi itu saya jadi harus memberikan effort berlebih yang kalo dikalkulasikan malah bisa-bisa bikin hidup saya jadi tidak seimbang. Iya, efisiensi waktu, efisiensi energi, dan efisiensi finansial itu harus bener-bener harus dijaga. Dan jujur aja, saya juga udah mulai ngerasa kelelahan sendirian ngejaga semuanya untuk bisa berjalan seimbang. Kenapa udah beberapa bulan berjalan kok ya belum-belum juga mencapai zona nyaman, belum nemu ritmenya. Duh, emen...


A single-broken hearted girl.
Seperti yang udah saya ceritakan sebelumnya, idup saya emang lagi kayak kejer-kejeran. Semua serba terburu-buru. Enggak, saya enggak jadi yang lupa tanggal, cuma kadang saya suka lupa bulan. Haha. Kadang suka skip ini tanggal 10 bulan apa ya, since time flies so fast. Tapi yang lucu, semua ke-hectic-an dan riuh gaduh kehidupan beberapa waktu ke belakang ini, bisa berhenti dan bikin saya mengheningkan cipta sejenak itu tiap kali dapat kabar temen atau sahabat dekat yang akan menikah, atau sudah menikah mau punya anak, atau juga sudah menikah sudah punya anak terus mau tambah anak lagi. Hmmm. It could pause my life for a while. Abis mengganjilkan usia yang ke 25 kemarin dan kemudian harus merangkum semua yang terjadi beberapa waktu ke belakang, lemes. Udah disini nih sekarang, udah tercapai nih short term plan, tapi stuck pas mau lanjut ke long-term plan. Pas mau naik level-nya lagi itu enggak mencukupi kualifikasinya, mau sekolah lagi masih belum bisa, mau nikah belum ada calonnya, apalagi mau punya anak coba. Haha.
Sebenernya udah terlalu banyak nasehat dan saran yang masuk ke saya urusan jodoh ini. "jangan picky", "ayo move on", "ayo coba lagi", "ayo buka diri". dan sebagainya dan sebagainya. Enggak taulah gimana keliatannya dari luar ya, tapi kalo ditanya dari hati ke hati saya sebenernya enggak ngerasa picky juga sih ya. Saya enggak yang picky-picky banget kok, hehe. Dan juga bukan karena enggak bisa move on, gak bisa coba lagi, dan gak bisa buka diri. Bukan... Cuma belum mau aja. Masih capek. Capek banget. Capek dikejer-kejer, dibikin jatuh, dan dibiarin atau ditinggalin begitu aja pas udah bener-bener jatuh. Hhhh...
Baru-baru ini saya dikasih kesempatan untuk kenal sama orang yang usianya seumuran sama si adek di rumah. Jadi kita bertukar cerita gitulah yah, dan kejadian yang dia alami kurang lebih hampir sama dengan saya. Saya pikir itu hanya akan menjadi sebuah adegan dimana kita saling bercerita satu sama lain, taunya saya malah dapet banyak nasehat dari anak itu.
"Udah kak, kakak harus ikhlas. Aku juga sekarang berusaha nguatin diri aku. Aku coba ikhlas, karena sekarang aku sadar kalo dia lebih happy, dan waktu jalanin sama aku dia itu gak happy kak. Karena ini dia yang bilang sama aku, dia yang minta, dia yang bilang kalo waktu dia sama aku itu dia gak jadi dirinya sendiri. Dan aku sayang kak sama dia, aku pengen dia bahagia jadi aku gak mau maksain. Sekarang tiap aku solat, aku selalu berdoa sama Allah, semoga dia bahagia, semoga nantinya dia mendapatkan orang yang jauh lebih-lebih-lebiiiihhhh baik dari aku dan lebih bisa membahagiakan dia" Waktu bilang 'lebih' sebanyak tiga kali itu sangking khusyuknya dia  sampai merem melek, seriously. Haha.
"hmm.. gitu ya? tapi kenapa ya diketemuin dan dibikin ngerasa sampe segitunya kalo gak bisa end up together?"
"Ih kak, aku malah bersyukur banget udah diketemuin sama dia. Aku ketemu sama dia itu indah banget caranya kak, miracle. Dan aku berterimakasih sekali sama Allah udah dikasih kesempatan untuk kenal orang seperti dia. Karena waktu sama dia itu aku bener-bener ngerasain jadi orang yang special, ngerasain 'ih, gue segitunya ya sampe ada orang yang bisa gitu banget sama gue’ cause he treats me like a queen.. Dia baiiiiiiiik banget soalnya kak. Tapi ya namanya hubungan itu kan bisa jalan kalo dua-duanya mau kak. Dan sekarang aku lihat dia udah lebih happy tanpa aku" 
I admit, she's mature enough to be my older sister. But again, she could say this because she's still on her early 20's, masih panjang waktunya, the situation isn't mutual with me.
Paling jesspleng itu pas lagi di sebuah perjalanan menuju Bandung, seorang teman tiba-tiba mematikan musik yang sedang diputar dan kemudian memainkan lagu dari iphone-nya. "Ini lagu buat dek shey.." Dan mengalunlah lagu berjudul Try dari Pink. "Makasih loh abang. Tapi neng udah capek 'trying' abang. Capeeekkkkk, huhuu"

“Ever wonder about what he's doing
How it all turned to lies
Sometimes I think that it's better to never ask why

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned
But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try, and try, and try
Gotta get up and try, and try, and try
You gotta get up and try, and try, and try”

Try - Pink

See.. Terlalu banyak masukan, justifikasi. Terlalu banyak masalah-masalah tanpa solusi, terlalu banyak hal yang terjadi tidak sesuai ekspektasi. Terlalu banyak hal terjadi, muncul lagi dari sana dan sini, dijalani lagi, menaruh harapan lagi, dan end up kecewa lagi, lalu harus menguat-nguatkan diri menghindar dari badai informasi, menjaga diri agar tidak terjadi perang di dalam kepala sendiri dengan pikiran "lebih baik aku" atau "I have done and give my best, why is it still not good enough for you?" yang akhirnya justru hanya ngebimbing saya ke pertanyaan-pertanyaan lanjutan lainnya. A why will always lead to another why, and remain unanswered.

Terlalu banyak. Terlalu banyak hal yang bikin saya jadi kepenuhan, satu-satunya yang saya ingin hanya kembali pulang, dan saya jauh dari tempat pulang. Pernah satu pagi setelah dua malam sebelumnya terjaga dengan terlalu banyak hal diproses dalam kepala, saya duduk di meja kantor dengan mata menatap monitor tapi tidak melakukan apa-apa selama berjam-jam lamanya, tiba-tiba seolah ada ikatan batin, Ibu menelpon dan saya tumpah begitu saja tanpa bisa ditahan-tahan lagi, tidak peduli begitu banyak mata di dalam ruangan yang melirik dan menatap dengan penuh tanda tanya. Tumpah sudah begitu saja. Dua hari sesudahnya saya pun pulang, akhir minggu itu dihabiskan bersama Ibu berdua saja, bercerita yang bisa diceritakan, sesekali tangan Ibu mengusap kepala, menepuk-nepuk tangan saya yang ia genggam,  sampai kemudian kami tertidur saling memeluk. Dini harinya terjaga melihat Ibu di atas sajadah masih dengan mukenanya, saya pun berkata...
“Bu, batin pengen masuk perut ibu lagi aja bu. Batin capek”
Ibu tertawa dan mendekat. Sambil mengusap-usap kepala saya Beliau berbisik, “Kok anak ibu sekarang jadi rapuh banget ya... Lebih banyak lagi masalah hidup di depan nantinya, nak”
“Batin segitunya sulit ya Bu, sampe semua orang selalu give up easily?”
“Sabar, nak..." Ibu tersenyum.
Ah, Ibu... Bahkan pada saat sekarang ketika saya tau saya salah dan sudah berkali-kali membuat Ibu patah hati, Ibu tidak pernah pergi dan menyalahkan saya sama sekali. Tidak pernah sama sekali meski saya tau Beliau patah sekali hatinya kali ini.
Yah sudahlah, mau gimana lagi... Hehe. Kata temen saya yang namanya Pandu, “kalo lo udah gak bisa ngapa-ngapain lagi, hal paling enak dan gratis yang lo bisa lakuin itu cuma narik napas dalam-dalam dan hembuskan”
Yuk ah, mari kita tarik napas dalam-dalam dan hembuskan... Fyuhhhhh.
So It's just some kind of closure, I guess? Is it? *belum ikhlas. Karena sepertinya memang mending ditinggal mati daripada ditinggal karena orang lain ya. Hahaha~