1.1.13

grey-ish.

Sekarang di kantor dapet free lunch.
Sebenernya selain gaji saya dapet jatah uang makan yang diitung per hari kalo masuk kerja dapet sekitar Rp. 25.000,- dipotong pajak 15 %. Nah free lunch ini uangnya agak abu-abu datangnya darimana. Jadi ada beberapa orang teman kantor yang mengatasnamakan prinsip kemudian memilih untuk tidak makan siang jatah free lunch ini. "Kan udah dapet uang makan, harusnya kita makan siang dari uang makan yang kita dapet itu". Menganggap kalo ikut makan free lunch itu artinya ambil andil dalam bentuk kecil korupsi.
Uang makan yang dijatahkan sendiri ini sebenernya lebih mirip uang undian, soalnya dibaginya itu gak jelas, bisa dirapel beberapa bulan kemudian, jadinya pas keluar kita surprise berasa dapet undian. Haha. Gak jelas. Udah masuk ke sistem hampir dua tahun, makin sering mengeluh daripada bersyukur. Kenapa semua serba tidak jelas, kenapa semua serba begini dan begitu. Alih-alih bersyukur saya malah jadi sering nyari pihak untuk disalahkan atas kondisi yang dijalani saat ini.
"Apa yang terjadi dengan kamu sekarang itu atas apa keputusan-keputusan yang kamu buat di masa lalu, sheilla... Take it, earn it. And try to be grateful"

Lalu ada cerita tentang teman-teman kantor yang tinggal dalam satu kontrakan yang sama, laki-laki semua. Saya selalu takjub dengan para bujangan ini mengelola kehidupan mereka sebagai penghuni rumah yang sama. Mereka ngumpulin benda-benda yang dibutuhkan untuk mengisi rumah dan bisa digunakan bersama-sama. Beli benda-benda elektronik buat dipake bareng-bareng kayak setrikaan dispenser dan rice cooker, dan yang masih dalam rencana jangka pendek itu mesin cuci sama kulkas. Dua orang mendatangkan motor dari rumah masing-masing di Karawang dan Madiun untuk kemudian jadi kendaraan mereka berempat saling bonceng-boncengan sehari-hari beraktivitas di Jakarta. Jadi secara rutin mereka berempat selalu datang dan pergi ke kantor sebagai satu paket, yang biasa dikenal sebagai Geng Mampang karena kebetulan kontrakan mereka yang berada di daerah Mampang. Setiap harinya secara rutin juga sejak mendapat jatah free lunch di kantor, salah satu dari mereka bergantian mendapat tugas membawa kotak makan kosong dari rumah, yang pulangnya dari kantor akan terisi dengan lauk pauk sisa free lunch siang itu dan kemudian mereka jadikan sebagai bekal buat makan malam, jadi nanti mereka tinggal masak nasi di kontrakan. Iya mereka emang niatnya hemat, niat hemat bukan karena pelit, lebih karena daripada mubazir juga kan sisa lauk pauknya. Dan uang yang bisa dihemat juga jadi bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder lainnya. Gitulah pokoknya.. Menurut saya seru aja gitu cara mereka mengelola kesinambungan hidup bersama dalam satu atap itu. Nah, lucunya... salah satu temen saya yang enggak pernah ikut makan free lunch bareng kita ini juga adalah salah satu penghuni geng mampang ini. Tapi walaupun dia enggak makan free lunch di kantor, malamnya dia ikut makan bekal lauk pauk yang dibawa sama anggota geng mampang yang laen dan dibawa pulang. Prinsipnya jadi abu-abu kan ya, setengah-setengah gitu. Susah juga sih sebenernya ya mau maksain berprinsip di dunia yang abu-abu. Gak bisa kayak kalo sehari-hari gitu, "nakal minum dan lain-lainnya itu gue oke, tapi kalo nakal cewek gue pantang! Prinsip!". Atau lainnya yang paling simple, "Sekarang mah pantang minta duit ke orangtua!" Prinsip, kan. Prinsipnya bisa jalan no matter what happens asal kitanya kuat iman, dan kuat hati mengelola hidup secara mandiri lepas dari rumah gak numpang ke orangtua lagi. Itu baru namanya ngejalanin prinsip. Soalnya ada beberapa orang yang saya kenal yang dengan mantap berkata "gue mah pantang minta duit ke bokap nyokap", tapi faktanya kalo dikasi bokap nyokapnya dia gak nolak. Trus tinggalnya juga masih numpang sama orang tua yang mana artinya sandang pangan papan masih di-support, mobilisasinya juga masih pake kendaraan orang tua dengan bensin yang juga kadang-kadang masih diisiin sama orangtua. Kalo kayak gitu mah nggak masuk itu prinsipnya, bos!

Yah pokoknya gitu deh ya.
Soal kerjaan sampai dengan sekarang masih banyak banget hal yang bikin saya harus meraba-raba. Kalo lagi kumpul-kumpul dengan teman-teman yang masuk kerjanya seangkatan, kita persis kayak orang-orang buta yang berusaha mendefinisikan bentuk fisik sesuatu. Ada yang megang dari hanya sebelah sisi, mengatakan bahwa ini bentuknya X. Ada juga yang megang dari sisi yang lain, mengatakan bahwa bentuknya sudah pasti Y. Kemudian saya yang berada di sisi yang berlainan dengan teman-teman yang lain, mengatakan bahwa bentuknya 'mungkin Z', begitu seterusnya, berbeda-beda, tidak ada kesepakatan bulat bentukan pastinya apa. Tapi satu hal yang kita semua sepakat, disini ini semuanya serba gak jelasssssss. Hahahaha.

"makin geje ya"
"iyaaa. be-pe-en itu ya begini"
"haha. iya ya. yu ah, resign aja apa?"
"kalo saya enggak deh sheill, emang kedengerannya muluk-muluk sih, cuma ya kalo bukan kita siapa lagi? Jadi saya mah disini aja deh. Hihihi"
"Hahahaha. Yakin bukan karena 'kalo gak disini dimana lagi?"
"Nah itu pasti jadi alasan utama sheill"
Pfffttttt.

Sampai suatu waktu si ogoy yang keliatan paling cuek dan gak peka bertitah, "aku kalo punya anak gak akan aku suruh kerja di be-pe-en. gak akan!"

0 comments: