31.1.13

Despite all the sadness.

eyang bilang...
"jangan dipikir-pikir, nanti kamu sakit.."

ibu bilang...
"jalanin aja ya nak"

my woman bilang...
"pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa... lo itu punya segalanya, lo pasti bisa!"

seorang kawan bilang on his birthday...
"Jangan ngehubungin ya cuy, demi urang, anggep aja kado buat urang"
"sweet banget maneh cuy urang terharu..."
"ya daripada maneh nangis lagi"


You know, dear universe... I will never get angry because you've been going too fast lately...
I'm just a lil bit sad, seeing my self got tricked by my own stupidity and wrong choices.
But I know I will survive, I just know I will, though I still don't know where to begin... Just wish me some luck, okay? ;)

I used to think that rejection by the person we care about so much is a real pain in the ass. But now I learn that an 'ignorance' is worse. It's worse baby...

"Lo pikir lo cinta sama dia? Naif banget kalo lo berpikir yang lo jalanin sama dia itu adalah cinta. Lo ketemu dia, ketemu laki-laki pertama yang sesuai dan pas dengan ide-ide dan imajinasi di kepala lo. Gak ganteng biar gak gampang selingkuh, gak punya apa-apa tapi punya kemauan untuk bangun hidup sama-sama, gak nakal tapi gak juga yang polos-polos amat, gak pinter banget tapi well educated, dia sayang nyokapnya, humble dan bisa bawa diri, ngerti agama, he treats you well, dia selalu ada buat lo, orangnya suka ngelucu, tapi ya udah. Udah loh sheiii.. Naif banget kalo lo mikir itu cinta. You turned into someone I admit, nicer..sweeter..better.. Tapi itu bukan lo. You were stronger. Waktu sama dia lo itu lemah. Dan sekarang dia pergi itu buat nguatin lo. Come on, wake up, ucil..."
"Gue bahkan sempet mikir, mendingan ditinggal mati daripada ditinggal kayak begini"
Karena kalo bukan cinta terus apa? Pelarian? Tapi kok bisa segitu pleasing-nya... "Gue ngebuka diri, dia bikin gue percaya, dia bikin gue yakin"
"Nah kan nah kan mulai... naif"
"Gue udah ngebuka diri, meennnn.. Hampir 100%, almost all in, almost"
"Ya, untungnya belum 100% kan... Belum buka telanjang bulet depan ranjang pengantin dan lo baru ngalamin tiba-tiba dia walk out ninggalin lo sendiri, ignore lo... Bersyukur shei, bersyukur"
 

Yang lebih bikin ngenes adalah karena ini terjadi justru di saat mendekati my quarter life crisis. Bilang ini karma dari Tuhan, bilang ini ujian kenaikan level, bilang ini untuk nyuci dosa-dosa di masa lalu... But It's kinda harder because It happened when I'm about going to 25 (why now? it would hav been easier if it happens 5 or 6 years earlier. So, WHY NOW???), I even gave up the person-I-have-always-been-hoping-to-be-the-future-dad-of-my-brinada-and-aidan, and I have been in the situation where my job is a total absurd. I remember back then, dulu itu lagi berusaha mendefinisikan apa yang saya mau, apa yang saya bener-bener mau, and when I knew exactly what I want I realized It was all too late, but suddenly out of nowhere this guy popped in and made me believe that the thing between us could work, for a while, but then he left like there's nothing happen. Jadi iya, kejadian itu emang lumayan 'DOR' banget. Dan lumayan bikin saya susah untuk bisa ketawa-ketawa, lumayan susah buat pretend to act normal, lumayan susah buat nutupin kalo kita gak lagi baik-baik aja karena orang-orang nyadar kalo badan saya tambah kurus, mata bengkak dan muka kucel berhari-hari... And It happened for quite a long time.

Yes for real, saya pernah ada di tahap itu. Dan akibat ditanya melulu dan dapet berita dari sana sini melulu, akhirnya jadi cerita terus terus lagi dan lagi sampe kecapekan sendiri. Dan episodenya emang gak berlanjut, yang dibahas masih seputar itu-itu aja. Sempet mikir kalo terus-terusan cerita sampe kecapekan sendiri kayak kemarin saya mungkin bakal nemu titik jenuhnya dan bakal berhenti dengan sendirinya. Berhenti mikir betapa remehnya, betapa gak pentingnya, betapa tiba-tibanya, dan betapa-betapa yang lain yang terus menggantung di atas kepala, termasuk betapa mudahnya... dan tanpa merasa bersalah? Ya, salah satu part paling ganggu adalah diabaikan yang bikin kita jadi malah ngerasa bersalah banget-banget-banget level 10. No goodbye no gratitude no apology, just a sudden gone, bikin hari-hari setelahnya jadi serba sensitif dan emosional. Ditambah lagi ngerasa gedeg karena I can't even hate the person because he is too nice, he has been too nice the whole time we were together, so I just hate my self, I blame my self for being soooooo imperfect. Jahat banget kan saya sama Allah yang udah ngasih hidup sesempurna yang saya jalanin, dan saya malah benci sama diri saya sendiri karenanya.

Nah itu, saya lama banget ada di posisi gak bersyukur itu, untuk waktu yang lama saya bertahan pada posisi cuma bolak balik nyalahin diri sendiri, dan menceritakan ketidakbersyukuran saya itu terus-menerus, diulang-ulang diungkit-ungkit, lagi dan lagi dan lagi d a n l a g i...

Coba bayangin. Ada anak kecil, lucu, menggemaskan, dateng ke kita dan cerita berulang-ulang tentang episode barney and friends yang baru dia tonton. Dia cerita berulang-ulang sambil kepalanya goyang-goyang, senang, kita yang dengerinnya aja bisa bosen kan. Nah boleh dibayangin, kali ini pelaku ceritanya saya, yang gak lucu sama sekali, cerita berulang-ulang, dengan muka setengah-setengah mau nangis, terus tiba-tiba jadi nangis seru, terus tiba-tiba jadi diem lama dengan air mata ngalir dari ujung mata. Drama. kalo kamu yang jadi pendengarnya mungkin kamu bukan cuma bakalan bosen, tapi juga males, eneg, jijik? "Kayak bukan shei yang gue kenal" kalo kata temen saya waktu itu.

Nah kurang lebih karena alasan kasian sama beberapa temen yang frequently saya datangi ketika semua krisis ini melanda, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menuliskannya disini. It might be temporary, kalo ntar suatu saat saya ngebaca tulisan ini lagi dan ngerasa jijik sendiri, mungkin postingan ini bakal saya enyahkan. Udah niat ini mah yah. Hal paling bikin beban dari punya blog yang isinya kebanyakan curhatan kayak gini adalah ngebayangin gimana kalo ntar sekian tahun lagi anak saya baca terus tau terus malu punya Ibu macam saya. Sedih kan. Jadi biarlah nanti anak saya tau langsung dari saya sendiri kalo ibunya yang kayak Marsha Timothy ini juga pernah mengalami jatuh bangun karena cinta. Hahaha.

Yah udahlah gitu aja kali ya curhatannya kali ini.


"Honey, I always thought the worst thing ever would be seeing you go. But the worst is seeing you unhappy..."
-Mr Dracula, Hotel of Transylvania-

So, just do whatever that makes you happy then. I don't think I can handle anything worse right now, or even the worst one. You, just do whatever that makes you happy.

I know exactly what I need right now. Saya cuma perlu menemukan kembali rasionalitas untuk melanjutkan hidup yang normal lagi, memulai hari yang baru dan mulai mengejar tujuan-tujuan hidup yang mungkin hanya perlu ditata sedikit, dan gak menjadikan hal-hal yang telah berlalu sebagai faktor-faktor penghambat. Karena langit masih biru, bunga pun tak layu, dunia tak berhenti berputar, dan monas masih berdiri kokoh meski Jakarta banjir tiap tahun juga. Jadi, patah hati dan banjir karena air mata sendiri can't be an excuse, sheilla... It aint worth it. 



As a closing, let me present a super-tragic-broken-hearted-song to make it sounds more depressing... 'Someone you used to know' by Zee Avi. Enjoy... HAHAHA, ketawa rasa brotowali. Pahit, mennnnn.

2 comments:

landutz said...

hey, kamu kan jagoan! jagoan neon warna ungu, pasti jagoan!

s h e i y said...

jagoan naon teh, lain neoooonn :*