30.10.12

how are you? fine thank you.

Waktu-waktu yang berlalu dalam dunia saya belakangan, yang bukan lagi dalam satuan terkecil menit atau detik, tapi bulan… Adalah satu-satunya yang ketika berlalu bisa menjadi pemecah sejuta misteri.
Sudah berapa bulan ya sejak saya terakhir menulis?
Banyak yang sudah berlalu dan… Berubah.
People come and go. Beberapa datang dengan cara yang salah dan berusaha masuk ke kehidupan saya dengan begitu sulit, but then went off easily… Namun ada juga yang datang dengan sangat mudah, dengan cara yang misterius dan indah, tapi kemudian harus pergi dengan berat hati dan sulit untuk diikhlaskan. Menyisakan tangis berhari-hari.
Kenapa lama tidak menulis? Jawabannya simple, karena sibuk.
Sibuk kerja? Lucunya, bukan. Setelah sebuah anomali terjadi dimana instansi tempat bekerja merumahkan beberapa staf sampai batas waktu yang belum ditentukan, dimana salah satunya adalah saya, jadilah sehari-harinya selama beberapa bulan kemarin saya digaji hanya untuk menikmati kesibukan saya menjalankan beberapa peran.
Yes, I was busy playing role as somebody’s daughter, somebody’s sister, somebody’s bestfriend, and somebody’s girlfriend. Yang terakhir, somebody’s girlfriend, somehow yang paling banyak menyita waktu. And I’m sort of happy doing all of that. I learned a lot and I gained a lot also.
Mencoba flash back ke setahun yang  lalu dimana seseorang yang selalu jadi orang yang too good to be true-nya versi saya mengucapkan pisah yang kemudian menjungkir balikkan dunia saya diam-diam... Kenapa diam-diam? Karena banyak yang tidak melihat perubahannya, banyak yang mengatakan bahwa saya akan baik-baik saja, dan banyak yang memprediksi bahwa saya tidak akan sulit mendapatkan penggantinya. They were right by some points, but they were also wrong. Memang tidak banyak yang berubah karena saya tidak pernah membiasakan untuk menggantungkan hidup saya kepada pasangan, tapi diam-diam setiap apa yang diperbuat dan dilalui setiap harinya setelah hari dimana kata pisah itu diucapkan tentu saja terasa berat, karena bagaimana mungkin kebersamaan bertahun-tahun yang telah dilalui yang membuat segala sesuatunya pasti berkorelasi dengan orang tersebut bisa di-label-kan sebagai ‘tidak-ada-yang-berubah’? Maka point kedua, bahwa saya akan baik-baik saja setelah masa-masa itu ternyata juga kembali berseberangan dengan prediksi mereka... Somehow, there were some things that missing and It was uneasy to cover it up, how come that I could be just okay with it? Point ketiga, pengganti. This too-good-to-be-true-guy-i-used-to-date-with ever told me, “kamu gak akan pernah bisa dapet yang lebih baik dari aku”, and yes he was so damn right. Orang kayak dia emang cuma akan ada satu di dunia, and there will be no substitution for him. And yes he was so damn right again, people I’ve been seeing lately are not as good as him, but hey, I’m not trying to find ‘you’ again anyway :)
So, there it goes… Setelah melewati hari-hari dan situasi aneh sebagai seseorang yang single dan buta arah setelah selama nyaris 5 tahun hanya berencana ini itu dengan orang yang sama, I gave myself chances to know a lot of people, got closer to some of them, till I finally met this person I was finally brave enough to admit as my boyfriend.
Entah sejak kapan, label ‘pacar’ enggak pernah saya gunakan lagi sejak bertahun-tahun yang lalu. I don’t do public display affection in socmed(s). I don’t label the guy I’m dating and hanging out with as ‘my boyfriend’. Dan itu semua berubah karena pria-kecina-cinaan-bernama-muhammad ini.
Perkenalan sampai akhirnya pertemuan yang serba tiba-tiba membuat saya sering tersenyum simpul mengagumi cara Tuhan bekerja mengatur jodoh dan pertemuan manusia. Kita gak pernah tau satu sama lain meski selalu tinggal di kota yang sama, setelah di-set up sana sini sama beberapa orang yang punya niat dan harapan baik sama kita berdua tapi tidak dilanjutkan for good dan sempat saling menjalani hidup sendiri-sendiri sebelum benar-benar saling mengenal, malah akhirnya kita ketemu dengan sendirinya tanpa banyak direncanakan ini itu. I still remember gimana orang ini lari-lari tengah malem dari tempat dia nginep ke tempat saya nginep saat dinas waktu itu cuma buat nanya apa saya mau menjalani hubungan yang serius dengan dia, I was so speechless and told him that I wasn’t ready to have any commitment with anyone at that time, so he just went home after I gave him selembar tisu buat ngelap banjir keringet abis lari-larinya (yang ternyata masih di keep di dompetnya sampai sekarang). Selain karena secara fisik dia punya mata sipit yang menjadi nilai plus-nya tersendiri since I used to dream of dating korean guys… I don’t see any attractive things in him. We don’t have a lot of things in common, dia adalah lulusan institusi yang semi-militer dan berseragam, and I used to hate those kind of guys, dan ada beberapa cobaan serta masalah yang berondongan nongol bikin hati sempat gundah gulana di awal-awal perkenalan, termasuk soal dia yang punya seorang mantan pacar paling naudzubillah antagonisnya udah kayak di film-film…  Tapi kemudian semuanya seolah selalu dimudahkan dan dilancarkan sampai akhirnya kita bener-bener sepakat buat nyoba commit sama sebuah hubungan yang ber-label itu. Alhamdulillah, walaupun saya sempat bertanya-tanya sama Allah kenapa saya justru dikasih pacar dan bukannya suami seperti yang saya selalu minta, saya seolah sudah mendapatkan jawabannya bahwa karena Allah always gives us what we need, never what we want… Yes, may be at that time, what I need backthen was a boyfriend, not a husband. Begitulah kemudian ceritanya berlanjut, this guy brought a very positive energy to me. Bukan karena dia selalu bukain pintu mobil like gentle man always does in movies, bukan karena wangi bvlgari aqva campur keringetnya yang makes him so yums, bukan juga karena dia selalu berusaha memberi even in his lack of capacity, bukan juga karena dia selalu belajar memperbaiki kesalahan yang dibuat dengan mencatat hal-hal yang saya suka dan tidak suka di ponselnya, bukan juga karena dia diam-diam selalu nice dan pay attention to my whole family and friends, bukan karena dia selalu sopan dan treat me right, bukan juga cuma karena dia ngasih banyak bimbingan agama ke saya dan bahkan melantunkan dengan indah bacaan solat ketika jadi imam… Bukan cuma karena hal-hal itu. Tapi segala sesuatu yang kita lakuin pada dasarnya punya niat baik, that’s why each of us trying to give our best dan semua usaha untuk benar-benar memulai sebuah hubungan sehat yang melibatkan keluarga dan teman-teman, dan komunikasi yang baik itulah yang akhirnya banyak membawa energi positif ke diri saya, I turned into someone new, a better one I could say. Dan walaupun faktanya Ibu gave him only 30 points of 100 points, I was still so happy backthen cause I happened to realy enjoy the days we’ve spent together. I enjoyed for finally being able to play a role as somebody’s girlfriend, finally, once in my life. I don't worry too much either. Dan iya, emang gak semuanya berjalan selalu baik, there was also ups and down, tapi entah kenapa sama orang ini selalu nyenengin, dan adiktif kronis. My lil brother ever warned me, “orang yang gampang bikin kita ketawa pasti lebih gampang bikin kita nangis”. And yes my brother was right. Selain orang ini punya bakat ngelucu dan sering banget sukses bikin saya ketawa sampe ngeluarin air mata, ketergantungan sama dia juga bikin hari-hari yang dilaluin bikin ngeluarin air mata kalo kita lagi ada masalah dan bikin saya harus ngebayangin kalo kita gak lagi bisa sama-sama.
Dan lagi-lagi Tuhan kembali membuat saya tersentak dengan cara-Nya bekerja mengatur jodoh dan pertemuan manusia, karena setelah cukup banyak (lagi-lagi) menaruh harapan kemudian saya hanya bisa kembali tersenyum karena sepertinya jodoh saya dengan pria kecina-cinaan tersebut mungkin memang tidak bisa beriringan sepanjang yang kami sama-sama harapkan.
Di awal-awal perkenalan kita, kita pernah sama-sama sepakat kalo sebenernya yang dibutuhkan dalam menjalin sebuah hubungan adalah partner yang tepat yang willing to do everything to make things work. Setelah niat yang baik, maka hanya diperlukan komitmen dan usaha untuk sama-sama ngebangun hubungan itu maka semuanya pasti akan berjalan baik. Tapi ternyata kita salah yah? Ternyata ada faktor X yang sama-sama enggak pernah kita duga-duga sebelumnya… Atau mungkin sebenarnya masih ada faktor T, U, V, W, Y and Z yang masih invisible karena kita terlalu dibutakan oleh cinta? Well, we’re just a human being anyway… We have given our best but our best seems not good enough still. I never know how things are gonna work, I can only predict and hope, and make a try. And yes, those things are worth the efforts, M...
“So thank you so much mister muhammad, what an experience we shared backthen… Thanks for the great love, great effort, and great sense of humor”

with love (still),
-bukan lagi padukinya paduka-

I love this place
but It’s haunted without you
my tired heart
is beating so slow
our hearts sing less than
we wanted, we wanted
our hearts sing cause
we don’t know, we don’t know
-Little House, Amanda Seyfried-

0 comments: