10.4.12

seragam.

Hari ini dinas hari kesekian di Provinsi Lampung dan hari pertama di Kabupaten Lampung Selatan.

Tapi yang paling lain dari biasanya, hari ini saya dinas dengan pertama kalinya menggunakan seragam kedinasan instansi tempat saya bekerja.
Setelah selama berbulan-bulan saya menggunakan seragam yang sama, atasan putih dan bawahan hitam, hari ini lain dari biasanya, pakaiannya sudah berwarna. Warnanya apa jangan tanya, karena saya juga tidak yakin menyebut warnanya apa.
I remember, dulu pertama kali masuk kerja pernah ada seorang pejabat eselon sekian yang berpetuah. "Seragam CPNS itu masih hitam putih ada makna tersiratnya, yaitu masih bisa membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, insyaAllah. Nanti kalau sudah jadi pegawai, pakai seragam warnanya abu-abu, sudah masuk ke dunia yang abu-abu, gak jelas. Iya gak jelas, karena abu-abunya pegawai kita ini juga gak jelas, abu-abu muda apa tua, abu-abu kehijauan apa kebiruan. Serba gak jelas!"
Nada pesimis yang Beliau suarakan.

Jadi hari ini pagi-pagi saya dan seorang partner tim sudah menunggu di kantor yang ada di Kota Bandar Lampung untuk dijemput oleh pihak Kantor di Lampung Selatan.
Saat menunggu di depan kantor, seorang Ibu paruh baya tiba-tiba duduk di antara saya dan partner kerja saya. Setelah menatap saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, Beliau bertanya,
"pegawai sini mbak? pak R ada?"
"bukan bu, saya dari pusat, lagi nunggu dijemput mau ke Lampung Selatan"
Setelah percakapan pembuka, mulailah Beliau bercerita. Curhat. Mulai dari keluarganya, suami dan anak-anaknya, rumahnya, dan bermuara pada problema yang sedang dihadapi sampai ia harus menghampiri Kantor saya 'cabang' Bandar Lampung sepagi buta itu.
Ya, pagi buta, karena sepagi itu loket pelayanan belum buka, pegawai kantor pun belum ada yang datang selain petugas bersih-bersih dan satpam.

Beliau datang untuk mengurus persoalan tanahnya yang tidak kompleks-kompleks sekali tapi dipersulit oleh petugas dengan alasan yang tidak bisa ditolerir akal sehat, "berkasnya nyangkut di pegawai bernama Y dan si Y sudah pensiun"
Pembayaran sudah tuntas, proses berlangsung sudah bertahun-tahun, tapi hasilnya masih nol. Hati miris mendengarnya. Beliau terus mengeluh dan bercerita sampai meneteskan air mata membuat iba.
"Sudah berkali-kali mau ketemu sama Bapak R tapi tidak ada terus orangnya katanya"

Kurang lebih satu jam saya duduk mendengarkan Ibu itu curhat sampai berderai air mata. Partner kerja melirik saya dan mengerutkan jidat penuh tanya. Setelah jemputan datang saya berpamitan dengan si Ibu dan Si Ibu berkata, "Baik-baik ya dek, kerja yang bener, saya cerita tadi biar orang pusat tau ini yang di daerah kerjanya gak bener begini, gak profesional"
Saya hanya tersenyum tak bisa berkata apa-apa. Nah loh nah loh sheilla ada beban untuk membuat perubahan di pundakmu. Ah malu sama seragam yang sedang dipakai ini, masih belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Merasa kerdil sekerdil-kerdilnya. Balik lagi aja gitu pake seragam hitam putih?



"sepertinya masih harus rutin menatap jemuran yang macam begini tiap akhir minggu?"

0 comments: