8.4.12

perempuan yang tidak bijak membangun pertemanan.

"Tolong tanyain ke sheilla kenapa dia unfollow gue ya dan kenapa gue jadi gak follow dia"
Sebuah pesan dari temannya seseorang yang saya kenal tapi tidak terlalu kenal. Penting kah?

Dalam perjalanan sekian tahun belajar menjadi mahkluk sosial, bukan sekali dua kali saya melakukan khilaf dan salah langkah serta tidak bijak dalam membangun pertemanan. Dengan yang sejenis maupun lawan jenis. Banyak nama yang dulu saya ingat sebagai orang jahat. Banyak nama yang saya tidak ingin lebih dekat. Banyak. Tapi kita selalu menuai apa yang kita tanam, bukan? Mungkin dalam perjalanannya pernah juga saya menyakiti orang lain tanpa disadari, mungkin saya juga pernah menjadi orang jahat bagi orang lain, mungkin juga bagi seseorang saya termasuk dalam daftar panjang orang yang sebaiknya dihindari.
Mungkin, kan?

Setiap harinya, terutama dalam kehidupan sosial di dunia maya, sering saya temukan tingkah dan macam-macam polah dari kerabat dekat maupun kerabat sekedar kerabat yang unik dan cenderung mengganggu. Yang setiap saat berganti status. Yang setiap saat mengganti foto tampilannya. Yang setiap saat melakukan test contact. Satu per satu diakomodir dengan cara-cara tersendiri. Me-nonaktif-kan recent updates salah satunya.

Ada juga yang memenuhi timeline dengan panjang-panjang percakapannya dengan entah-siapa. Ada juga yang rajin berkomentar semuaaaaa tentang teman-temannya, semua, entah karena saking ramah atau yah, entahlah... Ada juga yang hanya berkeluh kesah, mencitrakan hidupnya yang hanya berwarna kelam. Ada yang menjadikan timeline milik berdua dengan pujaan hati. Ada juga yang paling mengganggu yaitu orang-orang yang sering mengeluhkan dan menjelek-jelekkan teman-teman dunia mayanya lewat status dengan bahasa yang tidak sedap "pagi ini udah lima kali ganti display picture, sorry dude i removed you!" mungkin dia pikir dia pasang status begitu dia terlihat keren. Entahlah.. Dan ada banyak ragam polah lainnya yang kalo dipikir-pikir harusnya orang-orang seperti itu di-unfollow aja biar gak banyak-banyak nambah dosa.

Tapi hidup kan mengalir dan bergulir, there's ups and also down, mungkin mereka berbagi apa yang mereka bagi itu dengan harapan teman-temannya akan merasa lebih dekat dengan mereka. Mungkin... Mungkin karena tidak ada lagi tempat berbagi makanya mereka berbagi kepada tempat paling memungkinkan untuk berbagi. Mungkin sekedar membangun pencitraan diri. Mungkin karena keterbatasan kemampuan mengekspresikan emosi secara langsung dan takut membuat orang lain tersinggung? Entah juga yah.

There It goes, since I still wanna be friend with them, I choose not to unfollow them but I muted them.

Lalu kenapa bisa terjadi follow-unfollow yang terlalu ekstrim seperti kemarin itu antara kita ya?
Bukan, bukan karena cemburu. Bukan, bukan juga karena saya menilai mbak bukan teman yang baik. Bukan, bukan juga karena saya merasa mbaknya munafik. Bukan.
Saya hanya ingin kita yang tidak pernah officially kenalan dan tidak pernah berada dalam satu ruangan yang sama lebih dari 1 menit ini bisa berinteraksi dengan lebih normal, dan bukannya justru tiba-tiba jadi ada yang merasa disakiti dengan bahasa masing-masing. Merasa disakiti dengan yang dibahasakan. Merasa disakiti mengetahui subjek objek yang saling berbahasa. Dan terutama, saya hanya ingin mbak membiasakan untuk tau, bahwa saya tau, dan lebih-lebih tidak suka mbak terlalu ingin tau, dan banyak cari tau tentang hidup saya :)

Bagaimana saya dan nama-nama itu pernah menyentuh hidup satu sama lain adalah takdir Tuhan, but now as simple as we click the button, we are gonna get used to of not knowing each other business anymore. Do you mind?

0 comments: