13.4.12

#gakpenting

Saat ini, salah satu pemandangan bikin sakit mata itu adalah sebuah pemandangan langsung orang yang pernah dekat dengan kita bersanding dengan orang lain.
Sebenernya tergantung orangnya sih. Tapi dalam situasi serba sensitif kayak saya sekarang, even ngeliat orang yang bukan siapa-siapa juga kalo lagi mesra-mesraan sama pasangannya bakal keliatan ganggu banget buat saya.
Apalagi kalo ngeliat yang pernah deket, ouch. Apalagi kalo ngeliat yang pernah menjadi bagian hidup. Apalagi yang kalo jadi bagian hidupnya sekian sekian tahun, ouoooh. Denger kabarnya gosipnya rumornya aja bisa bikin jatoh dari tempat tidur :'(
Nah, kejadian salah satunya adalah kemarin di acara pernikahan salah seorang sepupu.
Jadi orang yang ditemui ini adalah pacar pertama jaman sekolah dulu. Sebenernya orang ini biasa aja, we didnt get emotionally involved that much in the past. Tapi dia datang karena orang yang dia bilang sebagai 'calon'nya sekarang yang memang salah satu teman saya juga itu adalah sodaranya si sodara sepupu saya yang nikah ini.
"Yeay, jadi sodara ntar kita kalo lo jadi nikah sama dia ya?" saya berkata padanya.
"Iya insyaAllah tahun depan deh yu" jawabnya dengan mata berbinar.
Lalu seperti jutaan orang sok tau lainnya mulailah dia berpetuah, mulai dari nyuruh cepet-cepet nikah, mengaitkan dengan usia yang semakin kritis untuk seorang wanita, saran untuk tidak terlalu memilih, dan sebagainya dan sebagainya.
Terimakasih, nasihat-nasihat itu sudah bak doktrinasi sangking seringnya direpetisi orang-orang.

Jadi, kira-kira yang seperti apa ya?
Yang tidak gendut. Perutnya tidak buncit.
Yang tidak pelit. Mau keluar uang hanya sedikit-sedikit.
Yang cerdas dan pemikirannya luas seluas semesta. Yang melengkapi dan menggenapkan segala keganjilan yang selama ini bertengger dalam jiwa.
Yang mengerti, saya tidak suka dihakimi, saya tidak suka dikasihani, saya tidak suka sendiri, saya tidak suka menyuarakan hati apalagi yang mungkin menyakiti orang yang saya kasihi.
Yang tetap cinta. Pada saya yang tidak suka jakarta, yang tidak mau tinggal dengan mertua, sering tidur dengan mulut yang menganga, dan tidak mudah dibuat tertawa.
Yang tidak berubah segalanya... pendiriannya, mimpinya, bijaksananya menyikapi hidup. Tidak berubah segalanya meski sudah mendapatkan segalanya.
Yang cintanya besar kepada saya, tapi lebih besar kepada-Nya Yang Maha Esa.
Ya yang begitulah kira-kira.
Yah tapi kayak kata seorang temen dekat saya bernama Putu, seiring berjalannya waktu mau tidak mau ekspektasi ini akan tergerus dengan kondisi.
Dari yang enggak mau kalo gak ada yang sesuai dengan kriteria, sampai kemudian menerima saja yang ada di depan mata. HAH HAH HAH HAHH, mit amit jelek amat doanya.

Dan kamu, ya kamu, mungkin dalam perjalanan ketika kita bepergian ini masing-masing dari kita akan menemukan pencarian. Atau saling menemukan, mudah-mudahan!

0 comments: