29.4.12

Kalianda, Lampung Selatan, dari sisi lain.


Seumur-umur menjadi bagian dari kata 'Lampung', menjadikan Lampung identitas diri, mengatakan Lampung sebagai kampung halaman, dan menganggap Lampung satu-satunya tempat yang benar-benar 'pulang', saya hanya mengenal Kalianda sebagai ibukota salah satu kabupatennya, Lampung Selatan.
 
Dan sampai saya mengawali usia baru saya kemarin, saya hanya tau Kalianda sebatas nama daerah yang pasti saya akan lewati jika saya bepergian melalui jalan darat dari Jakarta menuju Bandar Lampung. Lalu ada apa lagi di Kalianda yang saya tau sampai dengan kemarin? Di Kalianda ada pantai tempat saya melangsungkan perpisahan kelas semasa SMP dan SMA, Kalianda Resort. Itu saja. That’s it. That's all I know. Saya hanya tau Kalianda sebatas itu.

Ternyata, Kalianda lebih dari sekedar itu...
Kalianda lebih dari sekedar jalur lintas. Kalianda lebih dari sekedar Kalianda resort yang bahkan karena peralihan pengelolaan namanya sudah bukan lagi Kalianda Resort. Dan, Kalianda lebih dari sekedar masjid tempat bersinggah ketika menempuh jalur darat menuju Kota Bandar Lampung dari Jakarta.

Karena banyak hal lain yang Kalianda punya yang sebelumnya saya tidak pernah tau. Kalianda sekarang punya Patung baru yang ketika peresmiannya katanya bikin heboh dan ribut-ribut sampai pegawai di kantor-kantor dekat patung itu berada berlarian menyelamatkan diri. Hehe, my bad, dari cerita yang didapat ada bayangan dramatisir disana.
 
Dan, Kalianda, punya rumah makan paling happening namanya Ciberi. Ada juga rekomendasi tempat makan enak seperti Warung Tenda Bu Gendut, Rumah Makan Ragil yang sotonya enyaaaakk, nasi bakar di kedai bekhubah yang yummy, Sate dan sop kambing M. Saleh yang juga maknyus, serta masih ada juga beberapa tempat makan berkesan lainnya seperti rumah makan ‘ambil sendiri’ dan Ayam Bakar Sartika yang bakal ngangenin. Ah...

Kalianda juga punya banyak pantai. Yang lumayan bagus dan terurus namanya Alau-alau, tapi datang kesana harus menyewa cottage. Kalau tidak menyewa cottage diperbolehkan hanya 15’ saja untuk melihat-lihat pantai disana. Tapi 15’ saja tidak jadi masalah, tergantung 15’ itu dihabiskan dengan siapa, haha. Kalianda punya trek lurus dari ujung ke ujung yang merupakan pusat pemerintahan, keramaian, dan konsentrasi aktivitas yang tertata dengan baik dan cukup bersih.Kalianda punya tempat pelelangan ikan dengan mini dermaga yang cukup memberikan pemandangan cantik di sore hari dengan susunan kapal warna warninya berpadu warna jingga matahari terbenam.

Kalianda punya spot paling happening yaitu lapangan kantor bupati yang entah namanya apa. Kalo malam kayak pasar malam dan kalo lagi beruntung, weekend sering ada acara-acara musik sebagai salah satu alternatif hiburan di Kalianda. Tapi yang pasti kudu dan harus dicoba adalah naik kereta mininya. Kereta mini dengan rute yang sudah lumayan bisa mengelilingi Kalianda plus ditemani lagu-lagu paling hits, you should try it... Efek dari minimnya sarana hiburan di kota ini, even a car that could sing will cheer you up :D
 
Tapi dari sekian banyak yang Kalianda punya, terutama, Kalianda memberikan kenalan dan teman-teman baru buat saya. Ada Pak Ma’mur (Mr Wealthy), Pak Hasyim, Pak Indra, Pak Ali, Pak Budi yang gila almamater gadj4h madanya, Bang Taufik Kasela, Mas Wahyu, Mas Syamsul Bruno Mars, Riska-Kokom-Mbak Novi, Pak Marno, Pak Nadi, seorang cherlanda yang tak diduga-duga, serta mengenal lebih dekat lagi seorang partner kerja yang diduga otaknya geser beberapa centi, Yogo. I could say, dari sekian tempat tugas dinas beberapa bulan ini, this one is the most exciting! Bahkan kerja ga berasa kerja karena sore harinya selalu dijanjikan singgah kesana dan kesini, setiap harinya selalu berasa berlangsung cepat :D
 
Satu hal yang juga mungkin cukup berkesan adalah mendapat nama barunya saya dan Yogo selama bekerja di sana. Karena bahkan setelah secara gamblang dalam presentasi pertama di awal kedatangan kami saling mengenalkan sebagai ‘sheilla’ dan ‘yogo’, kelanjutan ceritanya selama nyaris 3 minggu disana nama kami tak lain dan bukan berubah menjadi ‘mbak sherly’ dan ‘mas yoga’. Yeay! “Mbak sherly dan mas yoga jangan kapok kesini ya, kalo lagi ke bandar lampung main ke Kalianda aja, nanti kita jalan-jalan lagi...” AAAAaaaaa.. I’d love to :’>
 
Kata partner kerja saya bernama Yogo, Kalianda ini seperti kotanya twilight. Kemana-mana deket, suasananya sepi, geser dikit nemu pantai. Kalianda is the city of twilight versinya Yogo.
 
Here are some pictures I could share...




i'll be back!
bersama pejuang geoKKP Kantah Lampung Selatan
Yogo nulis nama pacar di pasir,so highschool
with BANG GANDA, nicky astria-lover
mobil LARASITA Kantah Lampung Selatan
Yogo, pose!

Air Terjun Sarmun
lunch, farewell party @Banding Beach
patung yang kontroversial

Ah, sedihnya... As an exciting hello should be followed by a sad goodbye :(

25.4.12

my (current) roommate says he loves me and that's all i need.

conv #1 - kejadian HP rusak yang untuk kesekian kalinya
me: dimas.. hp batin error lagiiii :(
him: cian. ya, besok kita beli ya.

conv #2 - di mobil, jalan mau pulang
him: besok dimas mau nonton raisha.
me: kapan? dimana? ikuttttt, batin ikuutttt
him: ish gak boleh, ini untuk anak muda aja!
me: ya batinnya mau ikutttt
him: dimas sama temen dimas, kamu di rumah aja, itu acaranya malem jam 11!
me: ini yg adek siapa yang kakak siapa sih sebenernya? (¬_¬)
him: ya kamu. hehehe :D :D

conv #3 - tempat tidur, almost midnight, I am next to him, he's next to me
me: dim, kok orang itu jahat amat ya sama batin
him: yaudah sih gak usah dipikirin, makin kamu pikirin makin kamu perang sama pikiran-pikiran kamu sendiri
me: sedih, dim. she should try to walk on my shoes first, baru boleh ngejudge macem-macem kan.
him: namanya juga orang galau.
me: iya yaudahlah yah, kata ibu kan orang jahat harus dibaekin. Kalo dengan ngebenci batin dia ngerasa lebih bahagia, that would be fine :)

occasion - my birthday
"happy birthday sister, brother loves you!"



nothing's gonna change my love for you
you ought to know by now how much I love you
one thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
(Nothing's Gonna Change My Love For You - George Benson)

24.4.12

flowchart pertemanan dengan harapan lebih dari teman.



Ini bukan pengalaman pribadi, sungguh.
Hanya sebuah kesimpulan yang diambil setelah percakapan panjang dan terputus-putus dari sebuah kumpul-kumpul tidak penting yang rutin dilakukan oleh sekelompok orang. Kumpul-kumpul tidak penting yang jika dilakukan tidak akan mengubah dunia, tidak akan membuat harga BBM turun, tidak akan membuat kemacetan di Jakarta berkurang, tidak juga memberikan income tambahan pada salah satu pelaku diskusinya. This flowchart is just one of that weird discussions we've ever had. Inspired by a friend of us, the big one I can say, fufufu. AAAhhh I miss those moments so much much muchooosss :*

Anyway, dudes, what do you think you are gonna be?

13.4.12

#gakpenting

Saat ini, salah satu pemandangan bikin sakit mata itu adalah sebuah pemandangan langsung orang yang pernah dekat dengan kita bersanding dengan orang lain.
Sebenernya tergantung orangnya sih. Tapi dalam situasi serba sensitif kayak saya sekarang, even ngeliat orang yang bukan siapa-siapa juga kalo lagi mesra-mesraan sama pasangannya bakal keliatan ganggu banget buat saya.
Apalagi kalo ngeliat yang pernah deket, ouch. Apalagi kalo ngeliat yang pernah menjadi bagian hidup. Apalagi yang kalo jadi bagian hidupnya sekian sekian tahun, ouoooh. Denger kabarnya gosipnya rumornya aja bisa bikin jatoh dari tempat tidur :'(
Nah, kejadian salah satunya adalah kemarin di acara pernikahan salah seorang sepupu.
Jadi orang yang ditemui ini adalah pacar pertama jaman sekolah dulu. Sebenernya orang ini biasa aja, we didnt get emotionally involved that much in the past. Tapi dia datang karena orang yang dia bilang sebagai 'calon'nya sekarang yang memang salah satu teman saya juga itu adalah sodaranya si sodara sepupu saya yang nikah ini.
"Yeay, jadi sodara ntar kita kalo lo jadi nikah sama dia ya?" saya berkata padanya.
"Iya insyaAllah tahun depan deh yu" jawabnya dengan mata berbinar.
Lalu seperti jutaan orang sok tau lainnya mulailah dia berpetuah, mulai dari nyuruh cepet-cepet nikah, mengaitkan dengan usia yang semakin kritis untuk seorang wanita, saran untuk tidak terlalu memilih, dan sebagainya dan sebagainya.
Terimakasih, nasihat-nasihat itu sudah bak doktrinasi sangking seringnya direpetisi orang-orang.

Jadi, kira-kira yang seperti apa ya?
Yang tidak gendut. Perutnya tidak buncit.
Yang tidak pelit. Mau keluar uang hanya sedikit-sedikit.
Yang cerdas dan pemikirannya luas seluas semesta. Yang melengkapi dan menggenapkan segala keganjilan yang selama ini bertengger dalam jiwa.
Yang mengerti, saya tidak suka dihakimi, saya tidak suka dikasihani, saya tidak suka sendiri, saya tidak suka menyuarakan hati apalagi yang mungkin menyakiti orang yang saya kasihi.
Yang tetap cinta. Pada saya yang tidak suka jakarta, yang tidak mau tinggal dengan mertua, sering tidur dengan mulut yang menganga, dan tidak mudah dibuat tertawa.
Yang tidak berubah segalanya... pendiriannya, mimpinya, bijaksananya menyikapi hidup. Tidak berubah segalanya meski sudah mendapatkan segalanya.
Yang cintanya besar kepada saya, tapi lebih besar kepada-Nya Yang Maha Esa.
Ya yang begitulah kira-kira.
Yah tapi kayak kata seorang temen dekat saya bernama Putu, seiring berjalannya waktu mau tidak mau ekspektasi ini akan tergerus dengan kondisi.
Dari yang enggak mau kalo gak ada yang sesuai dengan kriteria, sampai kemudian menerima saja yang ada di depan mata. HAH HAH HAH HAHH, mit amit jelek amat doanya.

Dan kamu, ya kamu, mungkin dalam perjalanan ketika kita bepergian ini masing-masing dari kita akan menemukan pencarian. Atau saling menemukan, mudah-mudahan!

10.4.12

seragam.

Hari ini dinas hari kesekian di Provinsi Lampung dan hari pertama di Kabupaten Lampung Selatan.

Tapi yang paling lain dari biasanya, hari ini saya dinas dengan pertama kalinya menggunakan seragam kedinasan instansi tempat saya bekerja.
Setelah selama berbulan-bulan saya menggunakan seragam yang sama, atasan putih dan bawahan hitam, hari ini lain dari biasanya, pakaiannya sudah berwarna. Warnanya apa jangan tanya, karena saya juga tidak yakin menyebut warnanya apa.
I remember, dulu pertama kali masuk kerja pernah ada seorang pejabat eselon sekian yang berpetuah. "Seragam CPNS itu masih hitam putih ada makna tersiratnya, yaitu masih bisa membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, insyaAllah. Nanti kalau sudah jadi pegawai, pakai seragam warnanya abu-abu, sudah masuk ke dunia yang abu-abu, gak jelas. Iya gak jelas, karena abu-abunya pegawai kita ini juga gak jelas, abu-abu muda apa tua, abu-abu kehijauan apa kebiruan. Serba gak jelas!"
Nada pesimis yang Beliau suarakan.

Jadi hari ini pagi-pagi saya dan seorang partner tim sudah menunggu di kantor yang ada di Kota Bandar Lampung untuk dijemput oleh pihak Kantor di Lampung Selatan.
Saat menunggu di depan kantor, seorang Ibu paruh baya tiba-tiba duduk di antara saya dan partner kerja saya. Setelah menatap saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, Beliau bertanya,
"pegawai sini mbak? pak R ada?"
"bukan bu, saya dari pusat, lagi nunggu dijemput mau ke Lampung Selatan"
Setelah percakapan pembuka, mulailah Beliau bercerita. Curhat. Mulai dari keluarganya, suami dan anak-anaknya, rumahnya, dan bermuara pada problema yang sedang dihadapi sampai ia harus menghampiri Kantor saya 'cabang' Bandar Lampung sepagi buta itu.
Ya, pagi buta, karena sepagi itu loket pelayanan belum buka, pegawai kantor pun belum ada yang datang selain petugas bersih-bersih dan satpam.

Beliau datang untuk mengurus persoalan tanahnya yang tidak kompleks-kompleks sekali tapi dipersulit oleh petugas dengan alasan yang tidak bisa ditolerir akal sehat, "berkasnya nyangkut di pegawai bernama Y dan si Y sudah pensiun"
Pembayaran sudah tuntas, proses berlangsung sudah bertahun-tahun, tapi hasilnya masih nol. Hati miris mendengarnya. Beliau terus mengeluh dan bercerita sampai meneteskan air mata membuat iba.
"Sudah berkali-kali mau ketemu sama Bapak R tapi tidak ada terus orangnya katanya"

Kurang lebih satu jam saya duduk mendengarkan Ibu itu curhat sampai berderai air mata. Partner kerja melirik saya dan mengerutkan jidat penuh tanya. Setelah jemputan datang saya berpamitan dengan si Ibu dan Si Ibu berkata, "Baik-baik ya dek, kerja yang bener, saya cerita tadi biar orang pusat tau ini yang di daerah kerjanya gak bener begini, gak profesional"
Saya hanya tersenyum tak bisa berkata apa-apa. Nah loh nah loh sheilla ada beban untuk membuat perubahan di pundakmu. Ah malu sama seragam yang sedang dipakai ini, masih belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Merasa kerdil sekerdil-kerdilnya. Balik lagi aja gitu pake seragam hitam putih?



"sepertinya masih harus rutin menatap jemuran yang macam begini tiap akhir minggu?"

8.4.12

perempuan yang tidak bijak membangun pertemanan.

"Tolong tanyain ke sheilla kenapa dia unfollow gue ya dan kenapa gue jadi gak follow dia"
Sebuah pesan dari temannya seseorang yang saya kenal tapi tidak terlalu kenal. Penting kah?

Dalam perjalanan sekian tahun belajar menjadi mahkluk sosial, bukan sekali dua kali saya melakukan khilaf dan salah langkah serta tidak bijak dalam membangun pertemanan. Dengan yang sejenis maupun lawan jenis. Banyak nama yang dulu saya ingat sebagai orang jahat. Banyak nama yang saya tidak ingin lebih dekat. Banyak. Tapi kita selalu menuai apa yang kita tanam, bukan? Mungkin dalam perjalanannya pernah juga saya menyakiti orang lain tanpa disadari, mungkin saya juga pernah menjadi orang jahat bagi orang lain, mungkin juga bagi seseorang saya termasuk dalam daftar panjang orang yang sebaiknya dihindari.
Mungkin, kan?

Setiap harinya, terutama dalam kehidupan sosial di dunia maya, sering saya temukan tingkah dan macam-macam polah dari kerabat dekat maupun kerabat sekedar kerabat yang unik dan cenderung mengganggu. Yang setiap saat berganti status. Yang setiap saat mengganti foto tampilannya. Yang setiap saat melakukan test contact. Satu per satu diakomodir dengan cara-cara tersendiri. Me-nonaktif-kan recent updates salah satunya.

Ada juga yang memenuhi timeline dengan panjang-panjang percakapannya dengan entah-siapa. Ada juga yang rajin berkomentar semuaaaaa tentang teman-temannya, semua, entah karena saking ramah atau yah, entahlah... Ada juga yang hanya berkeluh kesah, mencitrakan hidupnya yang hanya berwarna kelam. Ada yang menjadikan timeline milik berdua dengan pujaan hati. Ada juga yang paling mengganggu yaitu orang-orang yang sering mengeluhkan dan menjelek-jelekkan teman-teman dunia mayanya lewat status dengan bahasa yang tidak sedap "pagi ini udah lima kali ganti display picture, sorry dude i removed you!" mungkin dia pikir dia pasang status begitu dia terlihat keren. Entahlah.. Dan ada banyak ragam polah lainnya yang kalo dipikir-pikir harusnya orang-orang seperti itu di-unfollow aja biar gak banyak-banyak nambah dosa.

Tapi hidup kan mengalir dan bergulir, there's ups and also down, mungkin mereka berbagi apa yang mereka bagi itu dengan harapan teman-temannya akan merasa lebih dekat dengan mereka. Mungkin... Mungkin karena tidak ada lagi tempat berbagi makanya mereka berbagi kepada tempat paling memungkinkan untuk berbagi. Mungkin sekedar membangun pencitraan diri. Mungkin karena keterbatasan kemampuan mengekspresikan emosi secara langsung dan takut membuat orang lain tersinggung? Entah juga yah.

There It goes, since I still wanna be friend with them, I choose not to unfollow them but I muted them.

Lalu kenapa bisa terjadi follow-unfollow yang terlalu ekstrim seperti kemarin itu antara kita ya?
Bukan, bukan karena cemburu. Bukan, bukan juga karena saya menilai mbak bukan teman yang baik. Bukan, bukan juga karena saya merasa mbaknya munafik. Bukan.
Saya hanya ingin kita yang tidak pernah officially kenalan dan tidak pernah berada dalam satu ruangan yang sama lebih dari 1 menit ini bisa berinteraksi dengan lebih normal, dan bukannya justru tiba-tiba jadi ada yang merasa disakiti dengan bahasa masing-masing. Merasa disakiti dengan yang dibahasakan. Merasa disakiti mengetahui subjek objek yang saling berbahasa. Dan terutama, saya hanya ingin mbak membiasakan untuk tau, bahwa saya tau, dan lebih-lebih tidak suka mbak terlalu ingin tau, dan banyak cari tau tentang hidup saya :)

Bagaimana saya dan nama-nama itu pernah menyentuh hidup satu sama lain adalah takdir Tuhan, but now as simple as we click the button, we are gonna get used to of not knowing each other business anymore. Do you mind?

7.4.12

orang-orang pada umumnya...

orang-orang pada umumnya: kuliah jurusan apa?
saya: geodesi
orang-orang pada umumnya: oohh.. tentang apa ya itu?
saya: hmm...

orang-orang pada umumnya: kerja dimana?
saya: bpn
orang-orang pada umumnya: oohh.. enak dong banyak bonusnya.
saya: eh?
orang-orang pada umumnya: bpn itu bank apa?
saya: err...

Sudah takdir jadi kaum minoritas dan gak populer. What's next?