24.3.12

naam/nom/name.

Lalu saya bertanya kenapa ayah tak suka, yang dijawab dengan jeda, lalu helaan nafas, lalu meluncurlah.. Karena ini dan itu.
Karena namanya di masa lalu yang tidak harum, busuk, juga sumbang, tak ada nada yang tidak sumbang ketika menyuarakannya.
Namanya menyakitkan telinga. Menaikkan tensi ibu. Membuat hati pilu jika mendengarnya di sela-sela sembarang cerita.

Ah..Nama.
Harusnya nama itu penghargaan bukan.
Nama itu doa, maka tiap kali diucapkan orang kepada kita, mereka mendoakan.
Nama itu kata kunci memory, disebut sedikit akan mengantarkan kita pada folder-folder ingatan pangkat sekian.
Nama itu ciri khas, tidak ada yang salah ketika seseorang dipanggil pitak jika dia punya pitak sebesar telapak di kepalanya.
Nama itu silsilah, meski namanya bukan abang semua teman-teman dan teman-teman adik juga teman-teman kerabatnya memanggilnya abang karena dia anak paling tua.
Nama itu suka-suka, adik saya bernama lengkap muhammad maulana, lalu ibu dan ayah panggil dia dimas. Tapi saya panggil dia memet. Sesuka hati.

Maka jika saya punya anak nanti, pasti akan saya beri nama yang indah untuknya. Yang bisa menjadi doa ketika ia dipanggil teman dan gurunya, yang menjadi kebanggaan jika disebutkan di depan orang banyak, dan yang pasti haruslah tidak akan mengingatkan saya pada hal-hal yang buruk yang saya ingin lupa.
Ya, suka-suka jika saya beri namanya Marshanda kalau ia perempuan. Atau Ryan Gosling jika ia laki-laki.
Atau Emilia atau Febi Febiola atau Renata bisa juga. Tapi tidak akan namanya Novi, Ria, Nia, Eya atau Icha, Cha.. Siapalah.
Atau Aldi atau Hadi atau Rendy bisa juga. Tapi tidak si ex, another ex, dan nama-nama lain yang tidak baik untuk kesehatan jika harus diingat setiap saat.

Ah, nama...
Jadi sheilla, baik-baik pikirnya kalo kamu punya anak nanti mau dikasi nama apa ya. Baik-baik juga dididik kamu punya anak kalo sudah punya nama bagus jangan biarkan ia terjerumus. Baik-baik kamu bangun kualitas hidupnya biar ia teruskan nama baikmu dan nama baiknya kepada semua keturunannya. Kamu juga sheilla, jaga namamu baik-baik, namamu yang gabungan nama ayah dan ibumu itu terlalu mahal harganya kalau harus ditebus dengan kesedihan keduanya. Semoga Tuhan menunjukkan jalannya... Amien.

1.3.12

me and my (ex) future shoe tragedy.

Setelah berbulan-bulan sejak tidak lagi menemukan pengganti sepatu kesayangan, yang seringnya dikarenakan tidak sesuai bahannya, modelnya yang tidak pas, ukurannya yang tak tersedia, dan tentunya (ehem) harganya yang bikin napas jadi berat satu-satu, sepatu terakhir yang akhirnya bikin jatuh hati setengah mati justru menyiksa karena bikin saya harus menabung ekstra ketat karena harganya yang nyaris satu bulan gaji. Namun akhirnya setelah satu dua kali dicoba di kaki dan fits perfectly, lalu seterusnya hanya bisa dipandang dari etalase, dipegang-pegang sesekali, dan dijenguk sewaktu-waktu, kedatangan kembali dengan ekspektasi yang luar biasa ke toko yang bersangkutan setelah tabungan dirasa cukup kemarin ini membuat hati berdesir-desir tidak sabaran. Ah, "I'll take my baby home soon.." dalam hati.

"Mbak ada nomor 35/36? Yang paling kecil deh"
"Yang ini tinggal ini aja mbak"
"Eh? Gak dicek dulu mbak?"
"Udah kok, tadi baru ada yang nanyain.."
"Di tempat lain mbak?"
"DI PI ada mbak, lagi sale malah"
"36?"
"Iya, tapi warnanya cuma hitam"
Menarik nafas dalam-dalam.
Pelan-pelan meletakkan sepatu tersebut kembali di tempatnya :(
Kemudian pulang dengan kecewa. Memutuskan pulang tanpa keliling melantai demi lantai seperti biasanya. Pulang saja, sudah bulat tekad. Kejadian seperti ini, menunda beli sesuatu untuk dipikir-pikir ditimbang-timbang dahulu sambil menabung-nabung dahulu namun berakhir naas karena ketika merasa timing dan kantongnya pas justru barangnya sudah tidak available lagi, memang sudah sering terjadi. Ya, sudah cukup sering terjadi. Tapi terjadi dan harus diterima dalam kondisi sedang tidak siap-tidak siapnya seperti sekarang ini sungguh bagai menyiram air garam di atas luka, pedih! Ah!

Pernah ada literature random yang menulis, finding a perfect pair of shoe is like finding a soul mate. Banyak kriteria yang harus dipenuhi dan kualitasnya juga harus bagus, jadi bisa awet dan tahan lama. No matter how long it takes to get it. But it doesn’t work vice versa, right? Finding a perfect partner isn't gonna be the same with finding a perfect shoe, is it? Misal kita niat beli sepatu, tapi uangnya belum cukup jadi perlu nabung dulu, menabunglah kita, tapi setelah nabung ternyata sepatunya udah gak ada lagi. Bukan jodoh katanya sih. Hmm.. Untuk urusan hati, perihal bukan jodohnya gak akan bisa dengan case yang serupa kan ya? Yang gak perlu terlalu banyak jika dan hanya jika? Yang gak perlu ada kondisi andaikan, misalkan, dan apabila? Cukup kita menentukan, this one is the one, usaha dan doa ini itu, pick this one when everything is set and ready, dan kalo udah gak available lagi ya udah, bukan jodoh. But no, we can’t have this in our real life, can we? We have family, we have ego, we have targets, we have a lot of things to be considered. We will insist, then fight and try harder in case things turn into shits. Yes, harder, should I? s h o u l d i ?

"Sheilla sayang, sepatu itu benda mati. So, unless you think it would be fine to have one dead man to be your soul mate, you can’t just pick one guy that fits you perfectly and marry him. No you can't sheilla... Let's compromise!"