22.1.12

kawanku yang besar.

Tiba waktunya nanti, kau akan menikah dengan seseorang yang baik. Ntah siapa, ntah bagaimana, ntah dimana, kau seseorang yang baik pasti akan menikah dengan seseorang yang baik pula.


Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan kau sebagai temanku, bukan satu kali kita saling bertukar cerita tentang cita-cita dan imajinasi akan seperti apa kita beberapa tahun lagi. Imajinasi akan seperti apa anak-anak kita nanti, sebesar apa lingkaran perut kita sepuluh tahun lagi, sepenting apa nama kita mempengaruhi hidup-hidup orang lain, serta sejauh mana kaki-kaki ini bisa menjelajahi bumi.

Kau, temanku yang baik, yang pernah mewujudkanku sebuah janji untuk pulang kembali dan mengabdi, yang pernah kuintip sedang tidur melantai menemani aku yang terbaring sakit, yang pernah memintaku untuk bertahan dan berjuang untuk lulus bersama dari pintu sabuga… Ah, teman yang baik bukan istilah yang biasa kita gunakan bukan, kawan? Ya, kau kawanku yang baik, suatu hari nanti mimpi-mimpimu akan terwujud. suatu hari nanti kau akan menikah dengan orang yang baik entah yang kupingnya besar sementara kepalanya kecil berpipi tembem seperti kecengan bertahun-tahun menyedihkanmu yang tak kuhitung bukan karena tak pandai berhitung tapi karena aku pun enggan menghitungnya, atau mungkin bisa pula berwujud seperti seseorang yang berjilbab berkulit putih dan juga berpipi tembem anak teknik lingkungan yang sering kau sapa sambil tersipu-sipu sebelum akhirnya tersebar berita dia sudah dipinang orang, atau mungkin justru di luar dugaan yang wujud fisiknya entah seperti apa tapi sudah pasti sukunya berasal dari tanah kita pilihan orang lain setelah akhirnya kau melambaikan sapu tangan tanda menyerah? Haha. Ya, suatu saat nanti ketika aku rindu ingin pulang ke tanah itu dan kita bertemu, mungkin kau akan menyambutku dengan sudah didampingi seseorang yang kau sebut sebagai bini serta pasukan yang kau sebut sebagai junior-juniormu bernama belakang yang sama denganmu pula, melambaikan tangan dari jauh dengan jumawa menyapaku sambil mengelus-elus perutmu yang mungkin akan dua kali lebih besar dari sekarang.

Maka pada hari bahagia itu nanti ketika kau akan menemukan orang yang baik untuk menemanimu sepanjang sisa waktumu, doakan aku bisa hadir. Hadir untuk melihatmu senyum lebar-lebar di atas sana. Hadir untuk ikut bersyukur dan mengamini semua doa yang dipimpin pemimpin doa yang entah apa isinya tapi pasti baik-baik dan kuharap Tuhan mengabulkannya. Hadir untuk menyumbangkan suaraku yang sumbang dan jenisnya suara 5, suara yang mungkin membuatmu muak sudah di enam tahun sekian-sekian perkenalan kita. Hadir untuk bercampur dengan hadirin dan hadirat disana, bersikap manis kinyis-kinyis menunggu giliran naik ke pelaminanmu dan menjabat erat tanganmu serta menepuk-nepuk lengan besarmu itu sambil senyum mengikhlaskan kau akan resmi bertransformasi menjadi seseorang yang tidak bisa dibagi-dibagi lagi. Ah, kawan terbaikku ini, yang dulu sering mengingatkan janji-janji dan tugas-tugas yang berpotensi untuk aku lewati, yang paling murahan tentang ajakan untuk makan, yang ternyata tanpa diduga-duga bisa benar-benar lulus dari pintu sabuga bersama-sama, dan berulangkali berbisik menakut-nakuti rasanya terbakar tiap kali aku mulai menyulut dan kemudian main-main api, nantinya sudah tidak bisa dibagi-bagi lagi.

Tapi apapun kawan, dengan segenap usaha aku akan hadir disana, menggunakan gaun terbaikku, make up natural dan mungkin sepasang bulu mata palsu, kemudian mendoakanmu disiksa sampai mati oleh kebahagiaan membangun bahteramu bersama siapapun itu!

Karena Tuhan sudah pilihkan kita jalan kita masing-masing yang tidak lagi beriring, mari kita berjalan dan berjuang sendiri-sendiri, menemukan yang paling tepat, jodoh-jodoh yang membahagiakan, dan selalu pastikan kita akan bertukar kabar, kawan.. :)


Selamat ulangtahun, Ernis Lukman, S.T.
Semoga segera menjadi bos besar yang sebenar-benarnya besar!


0 comments: