23.1.12

R3AL ST33L!








Benar-benar baja... hatinya? Auuuuuuuuuuuuu...

22.1.12

kawanku yang besar.

Tiba waktunya nanti, kau akan menikah dengan seseorang yang baik. Ntah siapa, ntah bagaimana, ntah dimana, kau seseorang yang baik pasti akan menikah dengan seseorang yang baik pula.


Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan kau sebagai temanku, bukan satu kali kita saling bertukar cerita tentang cita-cita dan imajinasi akan seperti apa kita beberapa tahun lagi. Imajinasi akan seperti apa anak-anak kita nanti, sebesar apa lingkaran perut kita sepuluh tahun lagi, sepenting apa nama kita mempengaruhi hidup-hidup orang lain, serta sejauh mana kaki-kaki ini bisa menjelajahi bumi.

Kau, temanku yang baik, yang pernah mewujudkanku sebuah janji untuk pulang kembali dan mengabdi, yang pernah kuintip sedang tidur melantai menemani aku yang terbaring sakit, yang pernah memintaku untuk bertahan dan berjuang untuk lulus bersama dari pintu sabuga… Ah, teman yang baik bukan istilah yang biasa kita gunakan bukan, kawan? Ya, kau kawanku yang baik, suatu hari nanti mimpi-mimpimu akan terwujud. suatu hari nanti kau akan menikah dengan orang yang baik entah yang kupingnya besar sementara kepalanya kecil berpipi tembem seperti kecengan bertahun-tahun menyedihkanmu yang tak kuhitung bukan karena tak pandai berhitung tapi karena aku pun enggan menghitungnya, atau mungkin bisa pula berwujud seperti seseorang yang berjilbab berkulit putih dan juga berpipi tembem anak teknik lingkungan yang sering kau sapa sambil tersipu-sipu sebelum akhirnya tersebar berita dia sudah dipinang orang, atau mungkin justru di luar dugaan yang wujud fisiknya entah seperti apa tapi sudah pasti sukunya berasal dari tanah kita pilihan orang lain setelah akhirnya kau melambaikan sapu tangan tanda menyerah? Haha. Ya, suatu saat nanti ketika aku rindu ingin pulang ke tanah itu dan kita bertemu, mungkin kau akan menyambutku dengan sudah didampingi seseorang yang kau sebut sebagai bini serta pasukan yang kau sebut sebagai junior-juniormu bernama belakang yang sama denganmu pula, melambaikan tangan dari jauh dengan jumawa menyapaku sambil mengelus-elus perutmu yang mungkin akan dua kali lebih besar dari sekarang.

Maka pada hari bahagia itu nanti ketika kau akan menemukan orang yang baik untuk menemanimu sepanjang sisa waktumu, doakan aku bisa hadir. Hadir untuk melihatmu senyum lebar-lebar di atas sana. Hadir untuk ikut bersyukur dan mengamini semua doa yang dipimpin pemimpin doa yang entah apa isinya tapi pasti baik-baik dan kuharap Tuhan mengabulkannya. Hadir untuk menyumbangkan suaraku yang sumbang dan jenisnya suara 5, suara yang mungkin membuatmu muak sudah di enam tahun sekian-sekian perkenalan kita. Hadir untuk bercampur dengan hadirin dan hadirat disana, bersikap manis kinyis-kinyis menunggu giliran naik ke pelaminanmu dan menjabat erat tanganmu serta menepuk-nepuk lengan besarmu itu sambil senyum mengikhlaskan kau akan resmi bertransformasi menjadi seseorang yang tidak bisa dibagi-dibagi lagi. Ah, kawan terbaikku ini, yang dulu sering mengingatkan janji-janji dan tugas-tugas yang berpotensi untuk aku lewati, yang paling murahan tentang ajakan untuk makan, yang ternyata tanpa diduga-duga bisa benar-benar lulus dari pintu sabuga bersama-sama, dan berulangkali berbisik menakut-nakuti rasanya terbakar tiap kali aku mulai menyulut dan kemudian main-main api, nantinya sudah tidak bisa dibagi-bagi lagi.

Tapi apapun kawan, dengan segenap usaha aku akan hadir disana, menggunakan gaun terbaikku, make up natural dan mungkin sepasang bulu mata palsu, kemudian mendoakanmu disiksa sampai mati oleh kebahagiaan membangun bahteramu bersama siapapun itu!

Karena Tuhan sudah pilihkan kita jalan kita masing-masing yang tidak lagi beriring, mari kita berjalan dan berjuang sendiri-sendiri, menemukan yang paling tepat, jodoh-jodoh yang membahagiakan, dan selalu pastikan kita akan bertukar kabar, kawan.. :)


Selamat ulangtahun, Ernis Lukman, S.T.
Semoga segera menjadi bos besar yang sebenar-benarnya besar!


14.1.12

rejeki, definisi lain.

Perjalanan pulang dari kantor...
saya: "Bapak kenapa sih suka sekali lembur?"
si bapak workaholic: "kan lumayan cah ayu, dapet uang lembur"
saya: "itu uang makan satu hari kali pak, bukan uang lembur"
si bapak workaholic: "Ya kan tetep lumayan, hari libur dibayarin makan sama kantor"
saya: (menggerutu dalam hati)

So begitulah sabtu sore tadi berlangsung. Setelah kemarin sedikit tegang karena perdebatan akan lembur atau tidak dan akhirnya sebagian jadi harus ikut lembur karena 'pengaruh' si bapak satu itu. Dan setelah misuh-misuh sepanjang hari akhirnya pulangnya justru terjebak dalam satu kendaraan hanya berdua saja dengan si bapak satu itu karena yang lain punya tujuan pulang yang berbeda-beda. Dan sepanjang perjalanan pulang, si bapak yang punya kebiasaan aneh suka ketawa berlebihan bahkan untuk lelucon yang tidak terlalu lucu, serta punya kebiasaan annoying suka menyambut panggilan/pertanyaan kita dengan kata-kata tambahan tidak penting seperti 'ya, cah ayu?' 'ya, sayang?' dsb, syukurnya tidak berulah terlalu banyak yang mungkin membuat saya meledak-ledak.

Waktu berangkat ke Tangerang dengan 9 orang anggota tim lainnya, Ibu cuma pesen satu, "Jangan ribut-ribut ya sama temennya". And you know what? I think I've been going so well. Banyak hal yang harus dikompromikan and I've been trying so hard to act nice instead of.. what can I say? instead of being the casual me, tell and show them in their face how unhappy I am. There are times, when everything went so hard. Ketika hati sedang patah-patahnya, emosi sedang labil-labilnya, ada yang datang dengan 'menye-menyenya' yang annoying itu, ada juga yang dengan ke-lebay-annya yang pada situasi normal akan saya anggap sebagai hiburan namun pada kondisi saya yang rapuh justru membuat saya semakin merasa bahwa kenapa dunia begitu tidak adil pada saya. Ada juga, si bapak satu itu, yang saya panggil bapak meski usianya hanya terpaut satu tahun di atas saya karena gayanya yang bapak-bapak banget, yang super-duper-workaholic, lebay, dan belakangan selalu mengait-ngaitkan segala pembahasan dengan romansanya, acara pernikahannya, dan calon bininya. Meennn.. Everyone knows that you are going to get married soon, tapi menjaga perasaan orang-orang seperti saya yang sedang tidak ingin diingat-ingatkan tentang hubungan indah yang berakhir di pelaminan, boleh kan ya? Zzzz...

Ketika mobil yang saya supiri kemudian berbelok di daerah Karawaci, si bapak satu itu yang sepanjang perjalanan hanya duduk di sebelah saya sambil terus menatap layar androidnya tanpa berkata sepatah kata pun tiba-tiba berkata, "Kalo mau kemana-mana dulu, ayo tak temenin..."
Dalam hati saya kembali misuh-misuh, yeah right jalan sama situ ke mall dan situ asik sendiri dengan gadget di tangan tanpa memperdulikan anyone or anything, hell no, sim sim telimakasim. Mending saya tidur di kosan pingsan bangun-bangun udah hari senin pagi. Maka saya pun menjawab, "nggak usah deh mas, langsung pulang aja ya kita, paling mampir beli cemilan dulu di hypermart depan".


Setelah saya membeli sedikit cemilan dan dia justru membeli cemilan yang lebih banyak dari saya yang katanya buat nemenin maen dota malam ini, akhirnya kami pun pulang. Sepanjang perjalanan pulang dari hypermart menuju kosan, si bapak jadi lebih manusiawi. Gak ngeliat gadgetnya terus menerus melainkan menyenandungkan lagu-lagu jawa dengan suaranya yang fals. Biasanya kalo di dalam mobil itu ada teman-teman yang lain, they will scream and tell him to shut his mouth. But I sort of enjoy it this afternoon. It's saturday night, I have no one to hang out with, nowhere to go, no kelebihan money buat dihambur-hamburkan ngilangin stres, dan justru stuck sama sosok mahkluk aneh yang sulit dibaca isi kepalanya itu. And I remember this person also is the person who ever forwarded me an email about marriage. Dulu sekali awal-awal ketika saya pernah terjebak dalam satu task dengan Beliau ini, di sela-sela pembahasan mengenai acara pernikahannya yg sebentar lagi itu, dia pernah melontarkan pertanyaan, "kamu kenapa toh gak cepet-cepet aja nikah? Masa' gak ada yang mau sama kamu? Perempuan itu gak bagus lama-lama nikahnya, bagusnya cepet-cepet" Setelah repetan panjang sanggahan dan penjelasan saya, tiba-tiba sebuah email masuk ke BB saya. It's from him, a story, yang isi ceritanya adalah tentang seseorang yg terlambat menyadari betapa dia mencintai suaminya karena terlalu lama berpikir bagaimana mencari kebahagiaannya. I never open it again eversince. Yeah, scary. And yeah too, faktanya memang harusnya saya sedikit bersyukur Sabtu ini si bapak ini ngajakin lembur, karena kalo nggak, bakal garing banget saya di kosan bengong mikirin yang enggak-enggak dan bikin asam lambung naik karena stres. Dan harusnya saya juga bersyukur si bapak workaholic ini sabtu ini enggak nginep di kantor buat ngelanjut kerja jadinya saya gak sendirian di perjalanan pulang dengan kondisi jalan yang sedikit padat merayap. Dan barusan saya benar-benar mensyukuri ketika si bapak ini tadi ngetok kamar saya buat ngajakin cari makan malam, yang rencananya mau ngebungkus aja makan di kamar masing-masing, malah end up nongkrong di angkringan ditemani nasi kucing dan susu jahe dengan sesekali dia menyelipkan cerita tentang ketidaksabarannya menikah dan menghabiskan malam minggu dengan sang istri. Puih, geli banget dah.


"Kamu boleh alone, tapi ndak boleh ngerasa lonely, wis yo, aku tak main dota dulu" katanya tiba-tiba ketika beranjak dari kursi angkringan menepuk punggung saya yang lagi ngelamun sambil ngelus-ngelus gelas susu jahe. I smiled. Ah, rasanya seperti punya keluarga baru disini... Senyebel-nyebelinnya keluarga, they'll try to be there when you're down. I suddenly remember what my mr borneo ever said to me when I complain about my income yg gak equal sama beban kerjanya, dia bilang "dengan kamu dikasih penempatan tugas yang deket gini kan kamu jadi banyak rejeki... Rejeki ketemu ayah, ibu, dan salah satunya rejeki bisa ketemu sama kakak yang ganteng ini, rejeki itu kan bukan cuma duit aja" dia meyunggingkan senyumnya. Yes, Dear God... Thank you untuk rejekinya, rejeki untuk tidak suram-suram banget melalui hari ini ditemani orang yang meski freak tapi sudah seperti keluarga sendiri :)