18.12.11

nothing but a major weeper. i am. for now.

as I'm writing this, I keep saying to my eyes, "hello eyes, are you okay upthere?"
Because It keeps weeping. Cant handle it still.


Sekiranya dalam satu atau dua bisikan kepada hati beberapa tahun belakangan ini saya sudah berjanji, tidak akan berbagi cerita tentang kita kepada dunia. Maka saya terus biar-biarkan mereka menerka-nerka, biar-biarkan mereka banyak bertanya, dan saya biar-biarkan mereka menginterpretasi makna kuluman senyum di bibir saya yang mungkin sebenarnya bahkan tidak bermakna apa-apa.

Saya kira banyaknya kesamaan yang keterlaluan dalam kepribadian kita mungkin adalah pengawet alami yang paling mujarab hingga kita bisa bertahan cukup, cukup melebihi yang pernah kta sama-sama lalui sebelumnya. Kita pernah bicara, bahwa jika mungkin toh akhirnya kata sakti itu terucap dan akhirnya kita benar-benar bersama, dunia mungkin tidak akan mengeluarkan ekpresi yang luar biasa karena sudah tidak ada lagi hal baru yang tidak biasa yang terjadi sehingga sebuah happy ending mungkin akan terdengar bagai oase di padang gurun namun hanya menghilangkan dahaga sejenak karena perjalanan selanjutnya menempuh padang gurun akan berlanjut.

I've told you before, do you remember?
"Aku gak ngerti konsep happy ending. Kenapa nikah dibilang happy ending? Pasti dalam perjalanannya kan bakalan banyak kerikil juga? Ya berantemlah apalah"
"Nikah kan sebuah babak baru, fase baru dalam perjalanan hidup. A new beginning. Happy endingnya buat fase yang sebelumnya, pacarannya"

Tapi matahari kini tidak selalu bisa menghangatkan lagi. Kamu disana terus berotasi dan berevolusi, terus berproses membiarkan matahari membakar dirinya sendiri. Bahkan ketika matahari ini redup meski masih menyala sedikit-sedikit, kamu disana masih terus berekpansi asyik sendiri dengan duniamu, menjadikanmu begitu cemerlang menyilaukan menciptakan jarak jutaan cahaya jauhnya dari apapun. Dan seperti saat sekarang setelah matahari menabung energi sendiri, tak ada yang bisa menjelaskan mengapa panasnya matahari kemudian membakar semua benda yang mendekati, asing atau bukan, teman atau bukan, lawan atau kawan. Matahari sudah tak lagi bisa mengendalikan energinya sendiri. Matahari tak lagi bisa membahasakan hatinya dengan baik-baik.

Dan mungkin kamu yang sudah berjarak jutaan cahaya jauhnya, yang kemudian memutuskan untuk terus melihat dari jauh saja sampai akhirnya sekarang beranjak pergi, tidak akan pernah bisa mengerti bahwa yang terjadi adalah, matahari hanya berusaha menyala lebih banyak dari biasanya, itu saja.

Saat ini, pecahan-pecahan yang tersisa masih berserak. Saya biarkan semuanya berada di tempat sedia kala dimana ia biasa berada. Belum ada yang berubah, belum ada yang diganggu.

Kamu bilang kamu pasrahkan semuanya kepadaNya sampai kemudian nyatanya kamulah yang mengambil keputusan. Mungkin itu jawaban yang dibisikkan Tuhan kepadamu...






Kini matahari sudah siap-siap membakar dirinya sendiri.
Bakar lalu tiup-tiup biar mati sendiri toh sudah tak ada yang peduli lagi.

Denial-anger-bargainning-depression-acceptance. They said those are the phases. I've been saying to my self that those wont happen to me. Still thinking that you're just leaving to learn how to fly better, but suddenly you are flying away and all I can do is weeping and yet dont know how to start over...

2 comments:

dini fitria sulistyowati said...

Kak sheilla, saya izin copas tulisan ini ke tumblr saya ya. saya suka tulisannya. silakan kalo mau mampir http://dinidonat.tumblr.com

s h e i y said...

thank you dini.. lagi sehati ya? huks :'(