29.12.11

menutup akhir tahun di tangcity.







sepatu kesayangan yang robek lagi dan lagi | kantor (sementara) sebelum 'make over' | jamuan selamat datang ala tangcity: GARANG ASEM (yums!) | Suasana pelayanan kantor siang hari | the 'ouch' PKL girl yang selalu mencolok mata pada apel pagi dengan warna sepatu orennya | "anda butuh teman? hubungin nomor-nomor berikut" kata tv di salah satu hotel persinggahan pada awal kedatangan | suasana buka pintu kamar di kamar hotel persinggahan kedua | duet senior-junior itb stres kalo kata anggota tim yg lain | Buku tanah kembar, serupa tapi tak sama, nyusahin! | Pak Ketua Tim Tangcity, 'Nurul Huda, ST' pagi ngantor di kantor pertanahan, sorenya buka praktek dokter | si lucu yang baru dipoles sudah lecet lagi | Sarapan pagi liat tumpukan surat ukur | Lab komputer alias warnet room #1 | Ini namanya pojok batin ayu :) | one of the worksheets (before -after)

-monolog-
"Aku mau cerita, tapi tidak tau kemana.
Karena Ibu sudah tak bisa lagi jadi tempat cerita. Bahkan sekedar bertanya apa kabarnya batin disana pun tak lagi bisa.
Tangerang menyenangkan. Belum seperti bandung yang menghanyutkan, atau bandar lampung yang menghangatkan, tapi yang pasti lebih ramah dibandingkan tetangganya si Ibu kota jakarta yang.. Ah, mengerikan! Dan satu dua bulan lagi disini rasanya pun tak apa...
Tapi Tuhan, jangan perpanjang situasi yang seperti sekarang ini hingga satu dua bulan ke depan Tuhan.. Bukakan jalannya ya Tuhan.. :)
Dan kamu. Ah. Aku makan dengan baik disini. Aku jaga kesehatan. Flu satu dua hari tidak menghambat aktivitasku. Terjaga hingga larut tidak lebih berat daripada silaturahim-silaturahim semasa kuliah bersama teman-teman himpunan, yang berat hanya ketika aku terjaga di pagi hari. Berat sekali rasanya harus mengawali sebuah hari mengingat apa yang telah dilalui beberapa waktu belakangan ini...
Ibuku sayang, aku rindu. Rindu kita yang dulu.
Ibu, anting sebelah kanan batin lepas dan hilang lagi. Ibu, kemarin batin tidur dengan kaki diangkat ke tembok lagi. Ibu, waktu itu batin pulang sampai kosan manjat pager karena sudah dikunci. Ibu..."

Ceritanya ini adalah sebuah monolog, monolog tentang akhir tahun, tahun yang diakhiri di tangcity, tangcity dan aku yang tanpa kamu. Hhhhhhhh...

18.12.11

nothing but a major weeper. i am. for now.

as I'm writing this, I keep saying to my eyes, "hello eyes, are you okay upthere?"
Because It keeps weeping. Cant handle it still.


Sekiranya dalam satu atau dua bisikan kepada hati beberapa tahun belakangan ini saya sudah berjanji, tidak akan berbagi cerita tentang kita kepada dunia. Maka saya terus biar-biarkan mereka menerka-nerka, biar-biarkan mereka banyak bertanya, dan saya biar-biarkan mereka menginterpretasi makna kuluman senyum di bibir saya yang mungkin sebenarnya bahkan tidak bermakna apa-apa.

Saya kira banyaknya kesamaan yang keterlaluan dalam kepribadian kita mungkin adalah pengawet alami yang paling mujarab hingga kita bisa bertahan cukup, cukup melebihi yang pernah kta sama-sama lalui sebelumnya. Kita pernah bicara, bahwa jika mungkin toh akhirnya kata sakti itu terucap dan akhirnya kita benar-benar bersama, dunia mungkin tidak akan mengeluarkan ekpresi yang luar biasa karena sudah tidak ada lagi hal baru yang tidak biasa yang terjadi sehingga sebuah happy ending mungkin akan terdengar bagai oase di padang gurun namun hanya menghilangkan dahaga sejenak karena perjalanan selanjutnya menempuh padang gurun akan berlanjut.

I've told you before, do you remember?
"Aku gak ngerti konsep happy ending. Kenapa nikah dibilang happy ending? Pasti dalam perjalanannya kan bakalan banyak kerikil juga? Ya berantemlah apalah"
"Nikah kan sebuah babak baru, fase baru dalam perjalanan hidup. A new beginning. Happy endingnya buat fase yang sebelumnya, pacarannya"

Tapi matahari kini tidak selalu bisa menghangatkan lagi. Kamu disana terus berotasi dan berevolusi, terus berproses membiarkan matahari membakar dirinya sendiri. Bahkan ketika matahari ini redup meski masih menyala sedikit-sedikit, kamu disana masih terus berekpansi asyik sendiri dengan duniamu, menjadikanmu begitu cemerlang menyilaukan menciptakan jarak jutaan cahaya jauhnya dari apapun. Dan seperti saat sekarang setelah matahari menabung energi sendiri, tak ada yang bisa menjelaskan mengapa panasnya matahari kemudian membakar semua benda yang mendekati, asing atau bukan, teman atau bukan, lawan atau kawan. Matahari sudah tak lagi bisa mengendalikan energinya sendiri. Matahari tak lagi bisa membahasakan hatinya dengan baik-baik.

Dan mungkin kamu yang sudah berjarak jutaan cahaya jauhnya, yang kemudian memutuskan untuk terus melihat dari jauh saja sampai akhirnya sekarang beranjak pergi, tidak akan pernah bisa mengerti bahwa yang terjadi adalah, matahari hanya berusaha menyala lebih banyak dari biasanya, itu saja.

Saat ini, pecahan-pecahan yang tersisa masih berserak. Saya biarkan semuanya berada di tempat sedia kala dimana ia biasa berada. Belum ada yang berubah, belum ada yang diganggu.

Kamu bilang kamu pasrahkan semuanya kepadaNya sampai kemudian nyatanya kamulah yang mengambil keputusan. Mungkin itu jawaban yang dibisikkan Tuhan kepadamu...






Kini matahari sudah siap-siap membakar dirinya sendiri.
Bakar lalu tiup-tiup biar mati sendiri toh sudah tak ada yang peduli lagi.

Denial-anger-bargainning-depression-acceptance. They said those are the phases. I've been saying to my self that those wont happen to me. Still thinking that you're just leaving to learn how to fly better, but suddenly you are flying away and all I can do is weeping and yet dont know how to start over...