11.10.11

Lima bulan dan sol sepatu yang menipis.

"Jadi, sudah berapa unit kerja yang kalian jalani?"
"Dengan direktorat ini, sudah sebelas pak" Beragam bentuk cara menjawab yang intinya adalah jawaban tersebut.
Sebelas unit kerja. Setiap unit kerja dua minggu, ada dua unit kerja yang satu minggu saja waktu orientasinya. Lima bulan lebih sudah. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan, tarik napas dalam-dalam, hembuskan, tarik napas da-lam-da-lam... Bengek. Gila.. Bisa bertahan juga saya di kota kejam ini.

Jadi, sejak dinyatakan lulus sebagai calon abdi negara, terlebih dahulu saya harus menjalani orientasi selama satu tahun di kantor-kantor pusat di Jakarta. Kenapa kantor-kantor dan bukannya kantor saja? Karena kantornya tersebar di tiga lokasi di Jakarta. Yes baby, tersebar di tiga lokasi, blok m-sarinah-dan kuningan, jalan-jalan terus kitaaa. Haha, ngarep. Kegiatan orientasi ini sendiri sebenarnya bermaksud agar para calon abdi negara yang nantinya akan disebar ke daerah-daerah ini mampu memahami tugas pokok dan fungsi dari tiap-tiap unit kerja yang ada di satu-satunya lembaga pemerintahan vertikal yang mengurusi persoalan pertanahan ini. Jadi nantinya langsung siap terjun ke lapangan pas udah disebar ke daerah-daerah. Idealnya.. Ah, banyak sekali konsep ideal yang terbentuk di kepala saya pada minggu pertama pra orientasi ketika awal Mei lalu untuk pertama kalinya kami semua yang berjumlah 404 orang itu dikumpulkan di ruang PRONA Lantai 7 Kantor Pusat. Termasuk konsep ideal mengenai menjalani kehidupan di Jakarta yang sudah digaung-gaungkan banyak orang 'sangat berat', dan lebih-lebih terbayang akan jauhh lebih berat lagi dengan kondisi tiang yang menyangga pasaknya nyaris mencekik leher.

Salah satu kondisi ideal yang terbayang dalam kepala saat itu adalah, oke, saya akan mulai menulis. Menulis ini dan itu, yang mungkin nantinya bisa dipublikasikan, atau dicicil-cicil buat apply-apply sesuatu, atau apalah yang intinya menulis. Jadi ada maksud ideal dimana selama satu tahun itu nantinya saya tidak hanya akan berangkat ke unit kerja, orientasi, mengalami pengarahan, lalu pulang dan tidak melakukan apa-apa. Oke, fix, saya akan mulai melakukan ini dan itu, merealisasikan ini dan itu, setelah proses adaptasi dengan lingkungan yang baru ini. Oke, fixed, maka mulailah saya beradaptasi. Namun sungguh terlalu, waktu adaptasi yang awalnya diperkirakan hanya sekitar beberapa minggu saja nyatanya justru menyita waktu cukup panjang sampai dengan... Hari ini, dan sepertinya masih akan terus berlanjut... Hhhh.

Ketika mulai proses orientasi, banyak orang yang ada di sekitar saya jadi ketularan excited. Yang paling saya rasa jelas ayah dan ibu saya. Ayah, lagi-lagi seperti halnya ketika baru mau kuliah dulu, langsung inisiatif nyari kosan. Kosan yang taunya cuma sebulan aja saya tempati karena tarifnya yang merupakan 3/4 dari pemasukan saya. Haha. Kalo Ibu.. Ah.. Ibu jelas banget kerasa excitednya. Bolak-balik Ibu nyelipin ucapan rasa syukur karena dua anaknya udah sedikit ngelonggarin tali BH-nya dengan gak bisanya cuma netek aja sama Ibu katanya. Bhahaha. Anyways, awal-awal kerja saya dapet hadiah sepatu kerja dari Ibu. Kala itu, sambil menatap sepatu berwarna hitam tanpa hak itu saya pun berbisik mengingatkan diri sendiri, "sheilla, this shoe is gonna be your very last expensive shoe you are gonna get from your parents, because from now on you have to get it on your own, cheers :)"

Minggu-minggu selanjutnya taunya lebih berat dari segala-gala cobaan masa-masa yang lalu-lalu pernah dilewati. Subhanallah sekali ya ujian kenaikan kelas dari-Nya kali ini.

Kemarin sore saya pulang kantor dan seperti biasa saya naik metro mini, turun di dekat halte bis, dan berjalan kaki menuju kosan. Kosan yang awalnya butuh ekstra energy untuk proses adaptasi, baik adaptasi kamarnya-lingkungannya-dan lebih-lebih jaraknya dengan akses jalan utama yang kalo kata kakak saya bisa bikin orang hamil keguguran. Awal-awal proses adaptasi saya banyak mencoba rute menuju kantor-kantor yang terus berpindah, banyak juga mencoba metode, banyak pula mencoba jam-jam kalo saya keluar jam segini maka saya akan tiba pukul sekian, semuanya dicoba sebagai bagian dari proses adaptasi yang sampai dengan saat ini masih berlanjut. Sampai di kosan, setelah melakukan ritual bersih-bersih, saya menatap si sepatu hitam hadiah dari ibu. Kucel berdebu dipakai nyaris tiap hari. Akhirnya jadi insiatif menyikat dan nyemir si sepatu. Berkesempatan melihatnya dari dekat, tampak alas kaki bagian dalam sepatu ada yang sudah terlepas, dan sol belakangnya bagian paling luar kanan kiri sudah mulai menipis. Padahal sepatu ini baru lima bulan... Iya, baru lima bulan loh.

Lima bulan sudah saya menjelma bak busur panah yang sedang ditarik ke belakang kemudian ditahan. Berarti setengah tahun lagi harus dijalani sebelum busur ini dilepaskan dan akan melesat mencapai target masing-masing.
Ada banyak hal yang telah terlewati lima bulan ini yang untuk mengistirahatkannya hanya bisa memejamkan mata sejenak. Karena kalo berkeluh kebanyakan bisa bikin yang ada di rumah kepikiran. Well, I used to have this habit, dimana kalo saya punya sedikit keluhan dikiiiiit aja, biasanya itu langsung aja meluncur dari mulut saya. Kenapa? karena ini kebiasaan yang Ibu saya sering lakukan. Ibu bilang, Ibu bawel crewet itu karena Ibu gak mau stres nahan-nahan emosi, jadi kalo kesel ya langsung keluar. "Ibu punya anak tiga dan suami yang kayak anak gak gede-gede, jadi Ibu gak boleh sakit apalagi stres, ntar yang ngurus semuanya siapa?" kata Ibu waktu itu. Tapi sekarang saya udah enggak ngelakuin hal yang sama lagi, nggak sanggup rasanya mau cerita gimana hari-hari yang dilaluin di sini ke orang di rumah terutama Ibu, paling ya jadinya saya cuma bolak-balik bawaan pengen pulang aja dan sedikit nangis bombay sendirian di kamar kosan. Hahaha.

Hmm.. Apakah ini mungkin pertanda kalau saya memang harus mencari 'rumah' yang baru, mungkin? Mungkin.. :)

And by the way, dear sepatu, sabar-sabar ya, setengah tahun lagi saja please.. XOXO.

0 comments: