25.10.11

"sehat selalu, ayah..."

Banyak yang menganggap bio yang saya isinya 'a realist, not a dreamer' itu mengisyaratkan kalau saya tidak punya mimpi.

Actually, I can also dream, and I am also a dreamer. But in this reality, I'm an awful dreamer.

Waktu masih kecil saya punya banyak mimpi. Mimpi mau punya pinggang kecil berpinggul besar seperti barbie, mimpi mau sekolah di luar negeri yang temen-temen kuliahnya pirang-pirang, mimpi mau punya rumah di tengah hutan yang di belakang rumahnya ada danau dan ada pohon besar dengan rumah pohon buat saya sekedar tidur siang, mimpi yang kebanyakan dipengaruhi sama fiksi baik tulisan yang saya baca, cerita yang saya dengar, maupun gambar bergerak di televisi yang saya lihat.

Beranjak dewasa saya mulai menggambar mimpi-mimpi saya dalam imajinasi dengan lebih dekat karena banyak dipengaruhi orang terdekat, terutama ibu. Cita-cita jadi dokter gigi dulu muncul karena ibu yang dulu emang pengen jadi dokter tapi kandas gara-gara masalah kesempatan. Sosok pria ideal dalam bayangan pun semakin jelas di kepala karena melihat Ibu yang kemudian memutuskan menikah dengan ayah yang banyak orang bilang nakal-badung-petakilan tapi di sisi lain banyak juga yang bilang ayah pintar-cerdas-visioner. Bermimpi, berimajinasi, menggambar dalam kepala, ibu lebih banyak punya andil. Tapi realitanya, segala pengambilan keputusan-keputusan yang pengaruhnya jangka panjang dan penting seperti urusan pendidikan hingga karir, percakapan dengan ayahlah yang lebih membentuk peta-peta perencanaan saya dengan lebih realistis dan dibarengi action. Because plans without actions are shits.

Ada sebuah potongan percakapan di film an education yang selalu saya ingat,
"I want to talk to people who knows a lot about a lots"
Quote itu selalu mengingatkan saya akan ayah yang selalu tau banyak tentang banyak hal.

Ketika saya masih SMP, dalam sebuah perjalanan di mobil dengan saya dan kakak saya di kursi penumpang, ayah berkata,
"nanti ayah nanggung kalian cuma sampai umur 25 ya, setelah umur 25 ya keluar dari rumah"
Waktu itu saya langsung lompat dari tempat duduk dan menempel ke kursi supir tenpat ayah duduk karena terkejut. "Yah, kok gitu yah??"
Entah apa yang ada dalam pikiran kakak saya, tapi saat itu saya sedih sekali. Bukan sedih karena membayangkan nantinya harus menafkahi diri sendiri dan membayangkan sulitnya hidup, rasanya usia ketika SMP itu belum cukup pengalaman ya untuk memikirkan betapa beratnya hidup ini. Haha. Iya, saya sedih bukan karena mikirin soal materi, saya sedih karena hal yang simple, membayangkan harus hidup jauh dari orang tua, Ibu dan Ayah. Itu saja. Dan sekarang, setelah semakin mendekati usia yang dimaksud ayah dulu itu, saya sedikit demi sedikit mulai mengerti maksud pesan ayah saat itu. Sedikit demi sedikit.

Satu kejadian paling bikin banjir bandang adalah waktu saya nemuin surat pernyataan yang ayah tulis yang isinya adalah Beliau rela dan ikhlas mendonorkan organ-organ tubuhnya yang masih berfungsi baik jika Beliau wafat nanti. Waktu nemuin surat itu saya langsung lari ke ayah dan bertanya maksudnya apa sambil mata berkaca-kaca. Ayah yang saat itu lagi baca koran hanya mendongak sesaat dan sambil melipat korannya Beliau bilang "hidup itu harus berbagi sama orang lain, biar lebh bermakna, semua orang kan pasti mati, ya gak pa pa dong ayah nulis gitu, mata mata ayah, jantung jantung ayah, daripada dikuburin jadi tanah lagi gak ada artinya mending dikasih sama yang lebih butuh" terus ayah bangun dari duduknya dan jalan dengan santai meninggalkan saya yang masih nelangsa.
HUAAAAAAaaaaaa... "Ngebayanginnya ayu enggak sanggup, ayah.."

Sering. Terlalu sering ayah melontarkan banyak harapan atas anak-anaknya. Harapannya selalu realistis karena dibarengin dengan input bayangan ayah mengenai kompetensi anak-anaknya. Hehe. Tapi yang lucu, dari sekian banyak percakapan yang saya punya dengan ayah, tidak pernah ada satu pun yang membahas tentang pasangan hidup. Sering saya dengar ayah menyinggung pasangan hidup dalam percakapannya dengan kakak dan adik laki-laki saya. Sering. Tapi tidak dengan saya, entah kenapa. Ah, padahal kalau ayah punya andil, mungkin segala sesuatunya akan terasa lebih mudah buat saya..


Anyway, ayah yang hebat hari ini berulang tahun.
"Selamat ulang tahun ya ayah. Ayu cuma pengen ayah sehat selalu. Makanya ayu cuma minta satu, ayah berhenti ngerokoknya ya :)"


ayah dan om bruce yang mirip ayah. *smooch!

0 comments: