17.3.11

something I prefer not to deal with.

Drrrtt..drrrtt... LED ponselnya menyala kedap dan kedip. OH. Ada telpon masuk. Dalam hati, "jangan diangkat, bahaya, nanti kecelakaan, nanti kita gak jadi makan sate padang...". Lalu dia menekan tombol mute di music player mobilnya, sunyi tiba-tiba, menatap layar ponselnya sesaat sebelum kemudian menjawab panggilan telpon masuk tersebut.

“Halo?”

Damn. Kenapa teknologi yang dipilih harus mute? Bukankah biasanya cukup dengan mengecilkan volume suaranya saja? Atau dengan menekan tombol att, saya melirik ke music player-nya mencari-cari tulisan
att di bagian mana saja, oh gak ada. Damn, again. Lalu mencoba berpikir tentang sate padang. Sebentar lagi kita makan sate padang, sheilla...

Percakapannya terdengar jelas, terlalu jelas malah, langsung nyesel dalam hati kenapa gak bawa headset. Tapi kalo bawa headset juga bakalan heboh banget pake acara ngeluarin headset dari tas lalu memasangnya dan tiba-tiba akan terlihat asik sendiri mendengarkan musik lewat si smartphone. Autis dan berlebihan. Lalu akhirnya terpaksa harus ikhlas mati gaya bolak balik liat layar ponsel sendiri, buka-buka aplikasi untuk memecah konsentrasi dari percakapan orang itu yang entah sama siapa itu. Kemudian kembali berpikir tentang sate padang. Hah. Frustasi. Frustasi ngedenger percakapan yang diselingi tawa renyahnya dan bahasa-bahasa hangat khas-nya. Damn, again oh again. Dalam hati, "udah pikiran sate padang aja sheilla!"


Dan percakapan yang enggak berlangsung lama itu pun kayak seabad rasanya...
Dan sweet talks, sweet gestures, sweet laughs itu pun akhirnya berakhir juga... Thank God. Eh, kita jadi mau makan apa tadi?

0 comments: