23.3.11

gurunya si lugu.

Teman saya yang dulunya manja, sakit-sakitan, betisnya besar, sekarang sudah jadi bibit unggul yang berjakun, tampan kayak tao ming se, buaya, dan menyangkal udah ngatain saya culun. Dasar combro.
Moral cerita, sepertinya karma does exist hanya berlaku pada beberapa contoh kasus saja, dan biarlah tetap begitu, ikhlas saya ikhlas (˘̩⌣˘̩ƪ)...


22.3.11

"halo, jodoh..."

Waktu itu hari yang normal dan biasa saja, tiba-tiba terpikir sebuah ide mengenai doa-mendoakan seorang adik tingkat yang menyebalkan. Oke, jadi ada sebuah kebiasaan jelek saya ketika kesal yaitu sering memaki orang-orang yang menyebalkan tersebut, daaaaannnn biasanya, sangking kesalnya makian ini suka ditambah doa yang jelek-jelek yang diucapkan hanya dalam hati sebelum beberapa detik selanjutnya saya koreksi lagi doanya menimbang-nimbang kalo terjadi hal buruk sama dia ntar gimana sama keluarganya dsb dsb. Misal, ada pengendara kebut-kebutan salip kanan kiri hampir nyerempet mobil saya, “Anjrit! Buaji*gan, sumpah ya enak banget kayaknya kalo ngeliat dia kepeleset di depan ngesot guling-guling trus kegiles fuso!”, trus beberapa detik diam sebelum kemudian mengoreksi doanya, “mudah-mudahan dia selamat sampai tujuan, mungkin lagi buru-buru ada yang dikejer”. Sok malaikat.

Nah, di hari yang normal dan biasa aja itu setelah sebelumnya agak sedikit dongkol dengan ulah seorang adik tingkat, saya tiba-tiba mencetuskan sebuah doa jahat yang kemudian saya ungkapkan kepada seorang kawan,
“doa apa yang jahat banget buat seorang mahasiswa yang belum lulus?”
“maksudnya?”
“iya, menurut lo doa gimana yang pas buat mahasiswa yang nyebelin? Yang kalo kita lagi kesel gitu loh sama orang yang masih mahasiswa...”
“apa ya...” mikir serius.
“Gua sumpahin lo lulusnya lama! Jahat gak?”
“HAHAHA, kejam... Tapi bisa..Bisa..”
“Atau gak atau gak gini, gua sumpahin lo lulusnya cepet tapi susah dapet kerja!”
“BUAHAHAHA”

Itu jahat banget. JAHAAAAAATTTTT banget. Orang yang udah lulus tapi terus statusnya masih ngegantung itu rasanya... Gak enak. Like shit. I’ve been there, done that. Entah kenapa kayaknya kalo baru lulus itu kemana-mana pergi tiba-tiba jadinya orang basa-basinya selalu nanyain “gimana, udah lulus?”, “oh udah? Kerja dimana sekarang?”, “loh belum kerja?”, atau berlanjut komentarnya “santailah, gampang nyari kerjanya lulusan kampus lo” atau yang sedikit bikin menghela nafas yaitu yang hanya berkomentar “Ooo..” dan langsung pergi dengan raut wajah yang menunjukkan rasa iba.

Tapi alhamdulillah selama masa-masa pencarian kerja itu sedikit saja saya punya masa dimana saya sempat merasa pesimis meski dari sekitar saya sempat menunjukkan kurang support dengan niat saya bekerja di instansi pemerintah, kurang yakin dengan IP segitu saya bisa dapet kerja, dan ada juga Ayah yang selalu ngulang-ngulang kepengen kalo saya bisa lanjut sekolah lagi. Ibu bilang, “dinikmatin prosesnya nak...” dan ketika hasilnya satu per satu mulai negatif menjatuhkan mental, suara Ibu dari seberang ponsel, “ayo anak Ibu pasti bisa” yang kemudian selalu mampu membuat saya percaya kalo dari sekian banyak usaha yang dilakukan pasti ada satu nantinya yang membuahkan hasil. Satu saja cukup, karena jika muncul banyak peluang yang dibuka nanti saya pasti bingung, atau lebih parah karena semakin banyak peluang dibuka untuk saya mungkin itu akan menutup peluang buat yang lain, minta ampun minta jauh. Ada sebuah doa mujarab yang seseorang ajarkan untuk menguatkan hati saya tiap kali akan menjalani sebuah proses menemukan jodoh perkerjaan, “Ya Allah, jika yang akan aku jalani ini memang sudah jadi jodohku, mudahkanlah jalannya dan berikan kelancaran dalam prosesnya, jika tidak cukupkan sampai di sini saja Ya Allah”, Biar gak sakit-sakit banget jadinya kalo ternyata nanti hasilnya jelek. Haha. Gak mau susah banget yak...

Yang menarik, setelah sudah resmi diterima di sebuah instansi pemerintah dan saya iseng berkunjung ke sebuah akun sosial jadul di dunia maya yang saya punya, there it is, ada sebuah pertanyaan yang diajukan jauh sebelum saya layak berpikir tentang kelulusan...

Dan saya bahkan sempat lupa kalo dulu saya pernah kepengan banget kerja di situ...

Anyway, doa jelek-jahat-dan kejam itu jadinya gak saya ucapkan kok, jadinya saya ngedoain kamu hey adik tingkat yang menyebalkan, semoga kamu diberikan kesabaran menjalani kehidupan perkuliahan kamu sekarang (termasuk semoga kamu dapet dosen pembimbing yang bisa kasih kamu pengalaman lebih, wkwk, biar lulusnya lama dong? buahahaa), dan semoga keluarga kamu di rumah diberikan ketabahan menunggu kamu lulus dan dipertemukan dengan jodoh kerjaannya... Amien.

19.3.11

-1

18.25
Melangkah ke dalam rumah, taunya disambut muka datar Ibu yang mungkin sedang lelah karena baru pulang dari luar kota, atau mungkin sedang kesal dengan salah satu penghuni rumah, entahlah.
Menciumnya mesra di pipi kanan kiri, di jidat, lalu bertanya gimana tadi perjalan pulang ke rumah. Lalu Beliau meracau panjang kesal. Oh bener, lagi kesel.
Mendengarkan sebentar curahan hatinya sambil mengambil air minum lalu masuk ke kamar.

Sampai kamar kacaan sebentar, enggak pucet, cokelat malah kulitnya. Dih, udah cokelat, kucel, jerawatan.. Menyedihkan banget sih kamu sheilla...
Lalu terkulai lemas keabisan energi, laper. Mengambil gelas air, baru dua teguk mengerenyit menahan sakit.
Berbaring di tempat tidur. Ini itu ini itu ini itu.

19.35
Ibu masuk kamar, minta tolong dianter keluar rumah jam 9 nanti. Malas, tapi mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut.

20.00
Ayah masuk kamar, numpang baca E-mail, tidak lama kemudian Ibu menyusul masuk. Keduanya berbincang-bincang di sisi-sisi tempat tidur. Tiba-tiba kerasa keringet di punggung mengalir deras, padahal enggak abis olah raga.
Meringis. Duh, kacau nih si body. Sepanjang percakapan nggak fokus jadi gak ikutan menyimak. Ah.

20.55
Masih sambil tidur-tiduran, sadar, tau-tau kamar udah kosong, Ayah Ibu ntah kemana.
Tidak lama Ibu masuk kamar lagi, "gadis lagi tidur?"
Mendongak dan menggeleng lemas lalu bertanya, "Sekarang, Bu?"
"Nanti, nunggu telpon" Lalu Ibu keluar lagi.

Sayup-sayup mendengar Ibu memanggil Ayah dan bertanya, "Gadisnya sakit itu?"
Masih lemas, dalam hati menjawab mengiyakan. Tapi sakitnya remeh banget kalo sampe harus ngeluh.
Akhirnya Ibu jadi dianter Ayah.
Ah, peluk sebentar aja boleh gak sih?

17.3.11

something I prefer not to deal with.

Drrrtt..drrrtt... LED ponselnya menyala kedap dan kedip. OH. Ada telpon masuk. Dalam hati, "jangan diangkat, bahaya, nanti kecelakaan, nanti kita gak jadi makan sate padang...". Lalu dia menekan tombol mute di music player mobilnya, sunyi tiba-tiba, menatap layar ponselnya sesaat sebelum kemudian menjawab panggilan telpon masuk tersebut.

“Halo?”

Damn. Kenapa teknologi yang dipilih harus mute? Bukankah biasanya cukup dengan mengecilkan volume suaranya saja? Atau dengan menekan tombol att, saya melirik ke music player-nya mencari-cari tulisan
att di bagian mana saja, oh gak ada. Damn, again. Lalu mencoba berpikir tentang sate padang. Sebentar lagi kita makan sate padang, sheilla...

Percakapannya terdengar jelas, terlalu jelas malah, langsung nyesel dalam hati kenapa gak bawa headset. Tapi kalo bawa headset juga bakalan heboh banget pake acara ngeluarin headset dari tas lalu memasangnya dan tiba-tiba akan terlihat asik sendiri mendengarkan musik lewat si smartphone. Autis dan berlebihan. Lalu akhirnya terpaksa harus ikhlas mati gaya bolak balik liat layar ponsel sendiri, buka-buka aplikasi untuk memecah konsentrasi dari percakapan orang itu yang entah sama siapa itu. Kemudian kembali berpikir tentang sate padang. Hah. Frustasi. Frustasi ngedenger percakapan yang diselingi tawa renyahnya dan bahasa-bahasa hangat khas-nya. Damn, again oh again. Dalam hati, "udah pikiran sate padang aja sheilla!"


Dan percakapan yang enggak berlangsung lama itu pun kayak seabad rasanya...
Dan sweet talks, sweet gestures, sweet laughs itu pun akhirnya berakhir juga... Thank God. Eh, kita jadi mau makan apa tadi?

11.3.11

sebelum april.

Kemarin banget, si kawan sms,
"eh gmn? brangkat kita kamis?"
Berangkat kamis ini adalah sebuah rencana indah untuk datang ke acara wisuda kampus di bulan April 2011.
Rencana indah yang sangking istimewanya sama si kawan ini dirancang dari jauh-jauh hari.
Jadi kayak klimaks dari sebuah penantian. Penantian selama sebulan seorang CPNS yang baru memulai kerja di kampung halaman.
Kentara banget dia ini udah bosen di sini padahal baru berapa minggu, mungkin, mungkin sebenarnya si kawan ini butuh sedikit diingatkan kalau selama sisa hidupnya akan dihabiskan disana. HAHA.
Iya, kentara banget dia bosen. Karena gak lama dari pertanyaan mengenai berangkat kamis itu, dia kembali menulis pesan,
"Gak sabar urang cuy ke bdg"
"buset nis, masih sebulan lagi woy"
"sebulan itu cepet cuy, kita 5 tahun kuliah aja gak kerasa"
DANG!!!

Beberapa hari yang lalu juga ada kawan yang ulang tahun. Ulang tahunnya si kawan ini memang bukan semacam agenda special pula jadinya buat saya ngerasa hari itu luar biasa atau apa.
Tapi hari itu membuat saya berpikir saya telah kehilangan beberapa bulan ke belakang tanpa saya sadari.
Hari itu, satu tahun yang lalu, saya juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada si kawan ini. Ucapannya kurang lebih sama, ada sisipan 'semoga cepat lulus kuliah' karena si kawan ini masih kuliah.
Hari itu, satu tahun yang lalu, ucapan dikirimkan melalui pesan singkat. Dan seperti halnya satu tahun yang lalu, hari itu ucapan selamat kembali saya kirimkan melalui pesan singkat.
Ternyata, hari itu sudah terlewat menjadi satu tahun yang lalu, tapi kenapa rasanya baru terjadi beberapa hari kemarin ya?

Seriously, kemana hilangnya hari-hari selama satu tahun yang lalu itu?

Kok semuanya jadi berlangsung begitu cepat ya?
Tau-tau sekarang udah 2011, tiba-tiba begitu banyak berita bahagia beriringan datang, berita-berita bahwa satu persatu kawan-kawan dekat sudah mantap dan diterima bekerja dimana-mana, kemudian ada beberapa yang tau-tau akan menikah. HAH! Apa-apaan udah pada nikah aja... Beberapa lainnya malah gak tau kapan nikahnya tau-tau kasi kabar udah punya anak.
Berita-berita kayak gini nih yang bikin makin-makin bertanya-tanya kemana ya hilangnya setahun milik saya kemarin?
Oke, ada masa-masa ngerjain Tugas Akhir yang kayak masa inkubasi dan isolasi, ada masa kelulusan yang pernah ditulis pula ‘agar tidak lupa’, lalu ada masa-masa galau mencari jodoh dengan dunia kerja, lalu ada masa-masa super galau disuruh ngabisin liburan sebelum pembagian SK tapi gak tau mau liburan kemana dan gimana, lalu apa? Masa’ setahun cuma berlalu yang gitu-gitu aja...
Men, orang-orang udah pada nikah udah berkembang biak udah mikir visioner ke depan, kemane aje aye…

Semenjak liburan yang kepanjangan ini, hari-hari merasa otak semakin tumpul. Mulai-mulai ngerasa pas bangun pagi bukannya langsung solat subuh tapi sempet-sempetnya duduk di pinggir tempat tidur dan malas bergerak karena nyadar hari itu gak ada aktivitas berarti. Gak ada yang dikejer. Gak ada yang dicari. Paling parah, gak ada yang dikerjain selain nyapu ngepel nyuci-gosok baju makan pagi leha-leha nonton ftv lalu mandi dan makan lagi, begitu terus beriterasi. Yes, kayaknya menyedihkan banget jadi manusia di usia produktif yang secara teratur bangun pagi but knowing that has nothing to look forward to…

Ah. Would you please not going too fast dear universe?

“If I had a million dollars or ten
I’d give It to ya world and then
You’d go away and let me spend my life
In su su su, su su su, su su su su su su su sugar town”
She And Him, Sugar Town

9.3.11

25 tahun ibu dan empunya tulang rusuk ibu.

Enggak kayak kebanyakan anak perempuan yang berpikir nyokapnya adalah sahabat atau blablabla lainnya, saya berpikir simple bahwa Ibu saya adalah seorang wonder woman. Setiap pagi Ibu selalu bangun tidur dini hari, solat Tahajjud, mondar-mandir membereskan rumah, solat subuh, bangunin seisi rumah, senam-senam sendiri tanpa irama, sibuk di dapur, nyiramin kembang, makan pagi, bersiap ke kantor, lalu berangkat. Setiap hari kerja selalu begitu. Di akhir minggu, alih-alih jalan-jalan dan shopping atau arisan di sana sini Ibu justru lebih memilih istirahat di rumah baca segala sesuatu yang bisa dibaca dan ngeberesin rumah. Ibu punya peran nano nano, antagonis dengan kelebihan yang dikaruniakan Tuhan yaitu berkomunikasi satu arah seperti tembakan senjata yang bikin kita yang dengerin pengen kibar-kibar bendera putih, sekaligus peran malaikat karena selalu bisa dibujuk, selalu tau apa yang paling baik buat anak-anaknya, selalu punya jurus mujarab ngobatin anaknya lebih dulu sebelum dokter bertindak hanya dengan mengusap-usap badan kita pake minyak angin atau balsem tiger meskipun tetep sambil ngomel-ngomel. Dan walaupun Ibu adalah PNS dengan gaji yang tak seberapa, Ibu merupakan sosok PNS yang seumur hidup saya kenal dan tau persis selalu berangkat pagi-pagi banget dan pulang sore banget di hari kerja, yang membuat sosok PNS yang bisa berangkat siang dan pulang cepet lalu bisa cabut-cabutan di tengah harinya bahkan bisa meliburkan diri sesuka hati hanya saya dapat dari cerita fiksi kanan dan kiri. Meski sibuk kayak apa, rumah selalu keurus dan gak berantakan. Seisi rumah berikut orang-orangnya selalu keurus dan gak pernah kurang kasih sayang apalagi perhatian. Ibu emang wonder woman. Dan emang banyak juga yang udah sering bilang kalo dulu itu Ayah yang beruntung dapetin Ibu. Tapi walaupun Ibu juga sering banget ngeluhin Ayah yang enggak romantis, Ayah yang cuek, Ayah yang kalo abis mandi gak pernah jemur anduk sendiri, Ayah yang kalo abis tidur gak pernah ngerapihin tempat tidurnya lagi dengan alasan ntar juga tempat tidurnya bakal berantakan kalo ditidurin lagi hahahaha, iya meski sering ngeluh-ngeluh di belakang tapi tetep aja setiap pagi Ibu selalu nyiapin teh tawar anget buat Ayah, nyiapin tempat makan dan kobokannya, nyiapin baju dan kebutuhan Ayah kalo Ayah mau berangkat pergi keluar rumah, dan segala rutinitas-rutinitas lain yang biasa aja tapi kalo diinget-inget males banget buat dilakuin sangking gak pentingnya. Haha. Iya, wonder woman. Makin dipikir makin makes me wonder.

Yang lucu, waktu awal-awal pulang ke rumah Lampung dan menemukan sikat gigi di kamar mandi Ibu bentuknya udah rumbai-rumbai gak jelas karena bulu-bulunya udah mencuat kesana kemari, niat saya untuk membelikan sikat gigi pengganti justru dilarang Ibu dengan alasan “biasanya yang rajin ngegantiin sikat gigi Ibu itu Ayah…”. Ibu bilang ini sambil tersenyum simpul manis penuh makna sedikit manja dan langsung bikin pengen saya tinggal pergi. Geli. Yes, somehow, semua hal memang bisa Ibu lakukan sendiri, tapi sebenarnya ada juga hal-hal kecil yang justru akan memberikan kebahagiaan tersendiri buat Ibu bila dilakukan oleh Ayah. Iya, Ayah yang kalo kata Ibu itu kayak anak gak gede-gede sangking susahnya ngerubah kebiasaan-kebiasaan jelek. Ayah yang kata Ibu sekarang udah kayak atlet pimpong manula sangking seringnya ngabisin waktu main pimpong bareng temen-temennya, hahahaha, ada nada cemburu ketika Ibu mengatakan ini. Dan Ayah, yang meski Ibu keluhkan sebagai apa yang mungkin sudah dijatahkan oleh Allah SWT untuk menjadi cobaan hidupnya, tapi tidak jarang juga disyukuri Ibu sebagai si empunya tulang rusuk Ibu.

Subhanallah, hari ini Ibu sama Ayah ulangtahun pernikahan ke-25. Perak. Mudah-mudahan terus harmonis, mudah-mudahan terus barokah, mudah-mudahan anak-anaknya bisa mencontoh baik-baiknya yang mereka bangun selama ini. Amien :)