29.12.11

menutup akhir tahun di tangcity.







sepatu kesayangan yang robek lagi dan lagi | kantor (sementara) sebelum 'make over' | jamuan selamat datang ala tangcity: GARANG ASEM (yums!) | Suasana pelayanan kantor siang hari | the 'ouch' PKL girl yang selalu mencolok mata pada apel pagi dengan warna sepatu orennya | "anda butuh teman? hubungin nomor-nomor berikut" kata tv di salah satu hotel persinggahan pada awal kedatangan | suasana buka pintu kamar di kamar hotel persinggahan kedua | duet senior-junior itb stres kalo kata anggota tim yg lain | Buku tanah kembar, serupa tapi tak sama, nyusahin! | Pak Ketua Tim Tangcity, 'Nurul Huda, ST' pagi ngantor di kantor pertanahan, sorenya buka praktek dokter | si lucu yang baru dipoles sudah lecet lagi | Sarapan pagi liat tumpukan surat ukur | Lab komputer alias warnet room #1 | Ini namanya pojok batin ayu :) | one of the worksheets (before -after)

-monolog-
"Aku mau cerita, tapi tidak tau kemana.
Karena Ibu sudah tak bisa lagi jadi tempat cerita. Bahkan sekedar bertanya apa kabarnya batin disana pun tak lagi bisa.
Tangerang menyenangkan. Belum seperti bandung yang menghanyutkan, atau bandar lampung yang menghangatkan, tapi yang pasti lebih ramah dibandingkan tetangganya si Ibu kota jakarta yang.. Ah, mengerikan! Dan satu dua bulan lagi disini rasanya pun tak apa...
Tapi Tuhan, jangan perpanjang situasi yang seperti sekarang ini hingga satu dua bulan ke depan Tuhan.. Bukakan jalannya ya Tuhan.. :)
Dan kamu. Ah. Aku makan dengan baik disini. Aku jaga kesehatan. Flu satu dua hari tidak menghambat aktivitasku. Terjaga hingga larut tidak lebih berat daripada silaturahim-silaturahim semasa kuliah bersama teman-teman himpunan, yang berat hanya ketika aku terjaga di pagi hari. Berat sekali rasanya harus mengawali sebuah hari mengingat apa yang telah dilalui beberapa waktu belakangan ini...
Ibuku sayang, aku rindu. Rindu kita yang dulu.
Ibu, anting sebelah kanan batin lepas dan hilang lagi. Ibu, kemarin batin tidur dengan kaki diangkat ke tembok lagi. Ibu, waktu itu batin pulang sampai kosan manjat pager karena sudah dikunci. Ibu..."

Ceritanya ini adalah sebuah monolog, monolog tentang akhir tahun, tahun yang diakhiri di tangcity, tangcity dan aku yang tanpa kamu. Hhhhhhhh...

18.12.11

nothing but a major weeper. i am. for now.

as I'm writing this, I keep saying to my eyes, "hello eyes, are you okay upthere?"
Because It keeps weeping. Cant handle it still.


Sekiranya dalam satu atau dua bisikan kepada hati beberapa tahun belakangan ini saya sudah berjanji, tidak akan berbagi cerita tentang kita kepada dunia. Maka saya terus biar-biarkan mereka menerka-nerka, biar-biarkan mereka banyak bertanya, dan saya biar-biarkan mereka menginterpretasi makna kuluman senyum di bibir saya yang mungkin sebenarnya bahkan tidak bermakna apa-apa.

Saya kira banyaknya kesamaan yang keterlaluan dalam kepribadian kita mungkin adalah pengawet alami yang paling mujarab hingga kita bisa bertahan cukup, cukup melebihi yang pernah kta sama-sama lalui sebelumnya. Kita pernah bicara, bahwa jika mungkin toh akhirnya kata sakti itu terucap dan akhirnya kita benar-benar bersama, dunia mungkin tidak akan mengeluarkan ekpresi yang luar biasa karena sudah tidak ada lagi hal baru yang tidak biasa yang terjadi sehingga sebuah happy ending mungkin akan terdengar bagai oase di padang gurun namun hanya menghilangkan dahaga sejenak karena perjalanan selanjutnya menempuh padang gurun akan berlanjut.

I've told you before, do you remember?
"Aku gak ngerti konsep happy ending. Kenapa nikah dibilang happy ending? Pasti dalam perjalanannya kan bakalan banyak kerikil juga? Ya berantemlah apalah"
"Nikah kan sebuah babak baru, fase baru dalam perjalanan hidup. A new beginning. Happy endingnya buat fase yang sebelumnya, pacarannya"

Tapi matahari kini tidak selalu bisa menghangatkan lagi. Kamu disana terus berotasi dan berevolusi, terus berproses membiarkan matahari membakar dirinya sendiri. Bahkan ketika matahari ini redup meski masih menyala sedikit-sedikit, kamu disana masih terus berekpansi asyik sendiri dengan duniamu, menjadikanmu begitu cemerlang menyilaukan menciptakan jarak jutaan cahaya jauhnya dari apapun. Dan seperti saat sekarang setelah matahari menabung energi sendiri, tak ada yang bisa menjelaskan mengapa panasnya matahari kemudian membakar semua benda yang mendekati, asing atau bukan, teman atau bukan, lawan atau kawan. Matahari sudah tak lagi bisa mengendalikan energinya sendiri. Matahari tak lagi bisa membahasakan hatinya dengan baik-baik.

Dan mungkin kamu yang sudah berjarak jutaan cahaya jauhnya, yang kemudian memutuskan untuk terus melihat dari jauh saja sampai akhirnya sekarang beranjak pergi, tidak akan pernah bisa mengerti bahwa yang terjadi adalah, matahari hanya berusaha menyala lebih banyak dari biasanya, itu saja.

Saat ini, pecahan-pecahan yang tersisa masih berserak. Saya biarkan semuanya berada di tempat sedia kala dimana ia biasa berada. Belum ada yang berubah, belum ada yang diganggu.

Kamu bilang kamu pasrahkan semuanya kepadaNya sampai kemudian nyatanya kamulah yang mengambil keputusan. Mungkin itu jawaban yang dibisikkan Tuhan kepadamu...






Kini matahari sudah siap-siap membakar dirinya sendiri.
Bakar lalu tiup-tiup biar mati sendiri toh sudah tak ada yang peduli lagi.

Denial-anger-bargainning-depression-acceptance. They said those are the phases. I've been saying to my self that those wont happen to me. Still thinking that you're just leaving to learn how to fly better, but suddenly you are flying away and all I can do is weeping and yet dont know how to start over...

25.10.11

"sehat selalu, ayah..."

Banyak yang menganggap bio yang saya isinya 'a realist, not a dreamer' itu mengisyaratkan kalau saya tidak punya mimpi.

Actually, I can also dream, and I am also a dreamer. But in this reality, I'm an awful dreamer.

Waktu masih kecil saya punya banyak mimpi. Mimpi mau punya pinggang kecil berpinggul besar seperti barbie, mimpi mau sekolah di luar negeri yang temen-temen kuliahnya pirang-pirang, mimpi mau punya rumah di tengah hutan yang di belakang rumahnya ada danau dan ada pohon besar dengan rumah pohon buat saya sekedar tidur siang, mimpi yang kebanyakan dipengaruhi sama fiksi baik tulisan yang saya baca, cerita yang saya dengar, maupun gambar bergerak di televisi yang saya lihat.

Beranjak dewasa saya mulai menggambar mimpi-mimpi saya dalam imajinasi dengan lebih dekat karena banyak dipengaruhi orang terdekat, terutama ibu. Cita-cita jadi dokter gigi dulu muncul karena ibu yang dulu emang pengen jadi dokter tapi kandas gara-gara masalah kesempatan. Sosok pria ideal dalam bayangan pun semakin jelas di kepala karena melihat Ibu yang kemudian memutuskan menikah dengan ayah yang banyak orang bilang nakal-badung-petakilan tapi di sisi lain banyak juga yang bilang ayah pintar-cerdas-visioner. Bermimpi, berimajinasi, menggambar dalam kepala, ibu lebih banyak punya andil. Tapi realitanya, segala pengambilan keputusan-keputusan yang pengaruhnya jangka panjang dan penting seperti urusan pendidikan hingga karir, percakapan dengan ayahlah yang lebih membentuk peta-peta perencanaan saya dengan lebih realistis dan dibarengi action. Because plans without actions are shits.

Ada sebuah potongan percakapan di film an education yang selalu saya ingat,
"I want to talk to people who knows a lot about a lots"
Quote itu selalu mengingatkan saya akan ayah yang selalu tau banyak tentang banyak hal.

Ketika saya masih SMP, dalam sebuah perjalanan di mobil dengan saya dan kakak saya di kursi penumpang, ayah berkata,
"nanti ayah nanggung kalian cuma sampai umur 25 ya, setelah umur 25 ya keluar dari rumah"
Waktu itu saya langsung lompat dari tempat duduk dan menempel ke kursi supir tenpat ayah duduk karena terkejut. "Yah, kok gitu yah??"
Entah apa yang ada dalam pikiran kakak saya, tapi saat itu saya sedih sekali. Bukan sedih karena membayangkan nantinya harus menafkahi diri sendiri dan membayangkan sulitnya hidup, rasanya usia ketika SMP itu belum cukup pengalaman ya untuk memikirkan betapa beratnya hidup ini. Haha. Iya, saya sedih bukan karena mikirin soal materi, saya sedih karena hal yang simple, membayangkan harus hidup jauh dari orang tua, Ibu dan Ayah. Itu saja. Dan sekarang, setelah semakin mendekati usia yang dimaksud ayah dulu itu, saya sedikit demi sedikit mulai mengerti maksud pesan ayah saat itu. Sedikit demi sedikit.

Satu kejadian paling bikin banjir bandang adalah waktu saya nemuin surat pernyataan yang ayah tulis yang isinya adalah Beliau rela dan ikhlas mendonorkan organ-organ tubuhnya yang masih berfungsi baik jika Beliau wafat nanti. Waktu nemuin surat itu saya langsung lari ke ayah dan bertanya maksudnya apa sambil mata berkaca-kaca. Ayah yang saat itu lagi baca koran hanya mendongak sesaat dan sambil melipat korannya Beliau bilang "hidup itu harus berbagi sama orang lain, biar lebh bermakna, semua orang kan pasti mati, ya gak pa pa dong ayah nulis gitu, mata mata ayah, jantung jantung ayah, daripada dikuburin jadi tanah lagi gak ada artinya mending dikasih sama yang lebih butuh" terus ayah bangun dari duduknya dan jalan dengan santai meninggalkan saya yang masih nelangsa.
HUAAAAAAaaaaaa... "Ngebayanginnya ayu enggak sanggup, ayah.."

Sering. Terlalu sering ayah melontarkan banyak harapan atas anak-anaknya. Harapannya selalu realistis karena dibarengin dengan input bayangan ayah mengenai kompetensi anak-anaknya. Hehe. Tapi yang lucu, dari sekian banyak percakapan yang saya punya dengan ayah, tidak pernah ada satu pun yang membahas tentang pasangan hidup. Sering saya dengar ayah menyinggung pasangan hidup dalam percakapannya dengan kakak dan adik laki-laki saya. Sering. Tapi tidak dengan saya, entah kenapa. Ah, padahal kalau ayah punya andil, mungkin segala sesuatunya akan terasa lebih mudah buat saya..


Anyway, ayah yang hebat hari ini berulang tahun.
"Selamat ulang tahun ya ayah. Ayu cuma pengen ayah sehat selalu. Makanya ayu cuma minta satu, ayah berhenti ngerokoknya ya :)"


ayah dan om bruce yang mirip ayah. *smooch!

20.10.11

"celumudh eaa kk"

Nah ini baru namanya teman.. Yang dateng ke kita gak cuma pas susah atau butuh aja, tapi juga ketika punya kabar bahagia untuk dibagi. Ah seneng banget ya denger kata-kata "lo orang pertama yang gue ceritain soal ini...", berasa ada semut-semut kecil jalan di tengkuk, merindings gimanah gituh...

Berdasarkan pengalaman, actually I'm not a good person when it comes to my friends being couple. I said friends, karena YES those 2 people are my friends that suddenly turn into a couple. Satu paket. Si anu gak bisa dipisahin dari si itu, begitu juga sebaliknya.

I'm happy as they are happy. Tapi setelah beberapa waktu, biasanya kita yang dulunya berteman baik dengan keduanya akan mulai merasakaan kehilangan sosok mereka sebagai individu mereka masing-masing. Bakal kangen cerita-cerita ngalor ngidul dengan si anu, juga kangen cerita-cerita dan berbagi banyak hal dengan si itu, yang dulu bisa dilakukan dengan frekuensi tinggi tanpa perlu melihat situasi lebih dulu tepat atau enggak. Bakal kangen, karena akan sulit ngelakuinnya lagi. Those laughs, those smiles, those talks, are no longer fun and sweet. Karena entah bagaimana semua percakapan yang dilakukan dengan salah satu dari mereka akan seperti sedang dilakukan dengan keduanya sebagai paket. And It's weird. Si anu bisa tiba-tiba menjelma menjadi si itu. Dan si Itu bisa menjelma menjadi si Anu. It seems like you are no longer be able to tell a secret to only one of them, karena mau gak mau bakal ada minimal dua kepala yang tau cerita yang akan dibagi. Aneh rasanya. Hehe. Bukan, bukan sirik sama mesra-mesraannya mereka, cuma dulu itu sering males aja kalo harus toleransi sama situasi yang baru di antara pertemanan kayak gitu...

Tapi sepertinya kejadian kesekian kalinya about friends of mine being couple ini gak akan ganggu-ganggu bangetlah ya. Jarak yang jauh dan mengecilkan intensitas pertemuan kita gak akan bikin kualitas pertemuan kita nantinya terganggu hanya karena masalah kamu, hey temanku, sibuk mesra-mesraan sama temanku yang satu lagi itu kan, ya? Enggak kan ya? Please bilang enggak, pleaseee... *kedip kedip*

But anyway, selamat teman... :)

18.10.11

(terputus)

Pengaturan dan penataan pertanahan di Indonesia mencapai masa dimana bom-bom waktu masalah pertanahan yang dahulu terpendam kini bermunculan dan meledak. Sama halnya salah satu teori di bidang transportasi, yaitu Teori Black Hole (*Stefan Hopkins) “setiap perkembangan yang ada di bidang transportasi, pasti menimbulkan masalah yang baru lagi”, menurut saya... (terputus)

..oOo..

Tulisan di atas adalah penggalan tulisan belum jadinya seseorang yang idenya selalu luar biasa. Mendengar dia bercerita selalu bikin saya ngerasa lagi pake kacamata 3D dengan dia muter proyektornya sambil bernarasi. I can feel what you felt, I can see what you saw, and I want to stay there just to hear the whole story. I always remember the details. How do you think we are gonna get along in the future, mister?

17.10.11

B!

Situasi 1.
Sayang, kira-kira aku cantik gak kalo pake baju ini?
Hmm.. Iyah, selalu.

Fakta: As you can see dear all.
BOHONG.

Situasi 2.
-telpon berdering-
Si bapak menyuruh anaknya yang sedang menonton TV untuk menjawab telpon tersebut.
"sana angkat telponnya, kalo ada yang cari papah bilang papah enggak ada ya"
NGAJARIN BOHONG.

Situasi 3.
Dimana lo?
Ini udah keluar jalan mau masuk jalan besarnya.
Fakta: Baru keluar pintu rumah mau masuk mobil.
BOHONG JUGA.

Situasi 4.
Tadi aku bbm* si anu blablabla.
Loh, bukannya tadi kamu bilang BIS** kamu masih mati?
Eh? Err.. Anu, blablblablahh BLAH!
KETAHUAN BOHONG.

Situasi 5.
Ini neng, langsung berangkat neng..
-naek angkotnya, taunya ngetem setengah jam-
Nah nah, emang babang-babang yang bantuin supir-supir angkot ngumpulin penumpang itu sama kayak playboy buaya darat yang jahat, TUKANG BOHONG.


What goes around comes around, people said that.

*bbm: blackberry messenger
**BIS: Blackberry Internet Service

12.10.11

burger hitam manis kinyis-kinyis.

chat via bbm sama Ibu:
"bu, liat..liat.. batin tadi ngangetin burger dimas pake teflon trus batin tinggal ke kamar mandi, jadinya gini.. GHAHAHAHHA"
"Hehe dimarahin gak sama ndim?"
"nggak, ini lagi dimakan berdua"

Ternyata si burger yang jadinya berpantat hitam manis kinyis-kinyis dan bunyi heboh 'klontang-klontang' waktu saya pindahkan ke piring ini, bisa juga jadi jurus mujarab mesra-mesraan bareng adek saya yang paling hobby komentar sejegad raya... Heuu. Last weekend was awesome, brother. No matter the fact that you've been blocking me to follow your twitter account these whole time. Sungguh babiks kamuuuuuuu.


kiri (tampak atas), kanan (tampak pantat), MAU?

11.10.11

Lima bulan dan sol sepatu yang menipis.

"Jadi, sudah berapa unit kerja yang kalian jalani?"
"Dengan direktorat ini, sudah sebelas pak" Beragam bentuk cara menjawab yang intinya adalah jawaban tersebut.
Sebelas unit kerja. Setiap unit kerja dua minggu, ada dua unit kerja yang satu minggu saja waktu orientasinya. Lima bulan lebih sudah. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan, tarik napas dalam-dalam, hembuskan, tarik napas da-lam-da-lam... Bengek. Gila.. Bisa bertahan juga saya di kota kejam ini.

Jadi, sejak dinyatakan lulus sebagai calon abdi negara, terlebih dahulu saya harus menjalani orientasi selama satu tahun di kantor-kantor pusat di Jakarta. Kenapa kantor-kantor dan bukannya kantor saja? Karena kantornya tersebar di tiga lokasi di Jakarta. Yes baby, tersebar di tiga lokasi, blok m-sarinah-dan kuningan, jalan-jalan terus kitaaa. Haha, ngarep. Kegiatan orientasi ini sendiri sebenarnya bermaksud agar para calon abdi negara yang nantinya akan disebar ke daerah-daerah ini mampu memahami tugas pokok dan fungsi dari tiap-tiap unit kerja yang ada di satu-satunya lembaga pemerintahan vertikal yang mengurusi persoalan pertanahan ini. Jadi nantinya langsung siap terjun ke lapangan pas udah disebar ke daerah-daerah. Idealnya.. Ah, banyak sekali konsep ideal yang terbentuk di kepala saya pada minggu pertama pra orientasi ketika awal Mei lalu untuk pertama kalinya kami semua yang berjumlah 404 orang itu dikumpulkan di ruang PRONA Lantai 7 Kantor Pusat. Termasuk konsep ideal mengenai menjalani kehidupan di Jakarta yang sudah digaung-gaungkan banyak orang 'sangat berat', dan lebih-lebih terbayang akan jauhh lebih berat lagi dengan kondisi tiang yang menyangga pasaknya nyaris mencekik leher.

Salah satu kondisi ideal yang terbayang dalam kepala saat itu adalah, oke, saya akan mulai menulis. Menulis ini dan itu, yang mungkin nantinya bisa dipublikasikan, atau dicicil-cicil buat apply-apply sesuatu, atau apalah yang intinya menulis. Jadi ada maksud ideal dimana selama satu tahun itu nantinya saya tidak hanya akan berangkat ke unit kerja, orientasi, mengalami pengarahan, lalu pulang dan tidak melakukan apa-apa. Oke, fix, saya akan mulai melakukan ini dan itu, merealisasikan ini dan itu, setelah proses adaptasi dengan lingkungan yang baru ini. Oke, fixed, maka mulailah saya beradaptasi. Namun sungguh terlalu, waktu adaptasi yang awalnya diperkirakan hanya sekitar beberapa minggu saja nyatanya justru menyita waktu cukup panjang sampai dengan... Hari ini, dan sepertinya masih akan terus berlanjut... Hhhh.

Ketika mulai proses orientasi, banyak orang yang ada di sekitar saya jadi ketularan excited. Yang paling saya rasa jelas ayah dan ibu saya. Ayah, lagi-lagi seperti halnya ketika baru mau kuliah dulu, langsung inisiatif nyari kosan. Kosan yang taunya cuma sebulan aja saya tempati karena tarifnya yang merupakan 3/4 dari pemasukan saya. Haha. Kalo Ibu.. Ah.. Ibu jelas banget kerasa excitednya. Bolak-balik Ibu nyelipin ucapan rasa syukur karena dua anaknya udah sedikit ngelonggarin tali BH-nya dengan gak bisanya cuma netek aja sama Ibu katanya. Bhahaha. Anyways, awal-awal kerja saya dapet hadiah sepatu kerja dari Ibu. Kala itu, sambil menatap sepatu berwarna hitam tanpa hak itu saya pun berbisik mengingatkan diri sendiri, "sheilla, this shoe is gonna be your very last expensive shoe you are gonna get from your parents, because from now on you have to get it on your own, cheers :)"

Minggu-minggu selanjutnya taunya lebih berat dari segala-gala cobaan masa-masa yang lalu-lalu pernah dilewati. Subhanallah sekali ya ujian kenaikan kelas dari-Nya kali ini.

Kemarin sore saya pulang kantor dan seperti biasa saya naik metro mini, turun di dekat halte bis, dan berjalan kaki menuju kosan. Kosan yang awalnya butuh ekstra energy untuk proses adaptasi, baik adaptasi kamarnya-lingkungannya-dan lebih-lebih jaraknya dengan akses jalan utama yang kalo kata kakak saya bisa bikin orang hamil keguguran. Awal-awal proses adaptasi saya banyak mencoba rute menuju kantor-kantor yang terus berpindah, banyak juga mencoba metode, banyak pula mencoba jam-jam kalo saya keluar jam segini maka saya akan tiba pukul sekian, semuanya dicoba sebagai bagian dari proses adaptasi yang sampai dengan saat ini masih berlanjut. Sampai di kosan, setelah melakukan ritual bersih-bersih, saya menatap si sepatu hitam hadiah dari ibu. Kucel berdebu dipakai nyaris tiap hari. Akhirnya jadi insiatif menyikat dan nyemir si sepatu. Berkesempatan melihatnya dari dekat, tampak alas kaki bagian dalam sepatu ada yang sudah terlepas, dan sol belakangnya bagian paling luar kanan kiri sudah mulai menipis. Padahal sepatu ini baru lima bulan... Iya, baru lima bulan loh.

Lima bulan sudah saya menjelma bak busur panah yang sedang ditarik ke belakang kemudian ditahan. Berarti setengah tahun lagi harus dijalani sebelum busur ini dilepaskan dan akan melesat mencapai target masing-masing.
Ada banyak hal yang telah terlewati lima bulan ini yang untuk mengistirahatkannya hanya bisa memejamkan mata sejenak. Karena kalo berkeluh kebanyakan bisa bikin yang ada di rumah kepikiran. Well, I used to have this habit, dimana kalo saya punya sedikit keluhan dikiiiiit aja, biasanya itu langsung aja meluncur dari mulut saya. Kenapa? karena ini kebiasaan yang Ibu saya sering lakukan. Ibu bilang, Ibu bawel crewet itu karena Ibu gak mau stres nahan-nahan emosi, jadi kalo kesel ya langsung keluar. "Ibu punya anak tiga dan suami yang kayak anak gak gede-gede, jadi Ibu gak boleh sakit apalagi stres, ntar yang ngurus semuanya siapa?" kata Ibu waktu itu. Tapi sekarang saya udah enggak ngelakuin hal yang sama lagi, nggak sanggup rasanya mau cerita gimana hari-hari yang dilaluin di sini ke orang di rumah terutama Ibu, paling ya jadinya saya cuma bolak-balik bawaan pengen pulang aja dan sedikit nangis bombay sendirian di kamar kosan. Hahaha.

Hmm.. Apakah ini mungkin pertanda kalau saya memang harus mencari 'rumah' yang baru, mungkin? Mungkin.. :)

And by the way, dear sepatu, sabar-sabar ya, setengah tahun lagi saja please.. XOXO.

9.10.11

least favorite.

Saat ini bukan saat-saat favorit saya.
Mungkin, satu dua waktu terlampaui dari hari ini, saya akan mengingat saat-saat ini dan pasti akan ada banyak senyuman manis serta tangis mengingat betapa banyak kenangan yang dimiliki, baik yang menyenangkan maupun yang perihhh namun sudah memberikan banyak pelajaran.

Sudah, biar kita ingat bahagianya saja ya?

Sungguh, saat-saat ini bukan saat-saat favorit saya.
Tapi kita pasti bisa melaluinya.
Kita pasti kuat.
Karena Tuhan pasti selalu punya rencana mengapa ada pertemuan.

Be good to your life. Tuhan kasih kita anugerah kehidupan, fisik yang sempurna, cinta yang besar dan banyak dan hangat dari keluarga yang harmonis, materi yang berkecukupan, akal yang tidak disfungsi, serta banyak cinta lainnya dari keluarga di luar keluarga sedarah itu bukan untuk kita terus-terusan bertahan enggan keluar dari zona nyaman. Lebih-lebih lagi juga bukan justru untuk membuat kita terlena, mencari-cari cara untuk tidak mensyukurinya dengan kemudian merusaknya. Hidup di dunia cuma satu kali, waktunya sampai kapan pun tak ada yang tau. Kalau tidak disyukuri dan dijalani dengan sepenuh hati, jangan menyesal di kemudian hari. Yang paling penting, jangan kamu merasa sendiri.. Karena seburuk apapun situasi yang dihadapi, pasti selalu ada yang peduli.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Cuma nama. Mau nama seperti apa yang dikenang orang, It depends on ourself :)

Ah sungguh saat ini bukan saat-saat favorit saya...


Pergilah kasih kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu
(Pergilah Kasih - Chrisye)

7.10.11

yang ditunggu tiap akhir minggu.


yunju.

8.9.11

let's roll, kops!

Kira-kira Bulan Januari 2011 lalu, saya mengalami sebuah kejadian yang di luar dari kebiasaan yang ternyata mengubah hidup saya kurang lebih 3 bulan ke belakang, dan mungkin berbulan-bulan ke depan.

Hari itu, saya ingat betul saya menggunakan sepatu dengan hak 3 cm, rok berwarna hitam, kemeja putih, dan ransel hitam kesayangan. Hari itu penting bukan hanya karena saya memenuhi suatu panggilan yang ternyata sukses mengikat saya setidaknya 34 tahun ke depan jikalau umur panjang, tapi hari itu juga penting karena saya mengalami pertemuan dan perkenalan yang pertama kalinya dengan sesuatu yang seorang kerabat pernah katakan sebagai 'simbol kehidupan kota jakarta'. "Jakarta hidup karena kopaja" katanya ketika itu.

Yeah well. Hidup banget banget bangettt.
Perkenalan awal saya dengan kopaja berbumbu drama kumbara dan mistis. Kenapa? Karena hal pertama yang disuguhi ketika pantat saya menempel di kursi penumpang belakang supir adalah sebuah atraksi yang double yu-OW-double yu alias WOW! Dua orang pemuda masuk ke dalam bis, berdiri menyebar, satu orang yang berdiri persis di samping saya kemudian membuka prakata dengan suara macam pedagang di pasar karena intonasi tinggi-mengancam dan kecepatan dewa sangking sulitnya ditangkap kata-katanya itu apa. Yang sepertinya intinya mah mereka datang kesitu untuk mencoba melakukan sesuatu, daripada mereka mencopet membunuh atau melakukan kejahatan dan tindakan kriminal lainnya dsb dsb. yang lucu, prakata ini diucapkan oleh mereka sambil bersahut-sahutan, bener-bener kayak di pasar dadakan yang semua pedagang mendadak menjual barang obralan. Tapi atraksi selanjutnya udah gak lucu lagi. Si mas-mas di sebelah saya tadi tiba-tiba mengeluarkan kertas tipis yang taunya isinya silet, mengiris-iriskan silet tersebut ke tangan-leher-dan wajahnya, membagi silet tersebut jadi dua, dan memasukkannya ke dalam mulut kemudian mengunyahnya. Saya menatap objek di samping kiri saya tersebut dengan takjub. Meski tidak ada kejadian berdarah-darah, tapi saya beneran enggak siap, ekspektasi awal saya, mereka-mereka ini datang untuk bernyanyi kecrek-kecrek atau gonjreng-gonjreng dan bukannya debus mengiris-iris bagian tubuh atau ngemilin silet. Dan lebih takjub lagi ketika saya melihat ke sekitar, penumpang lain tampak biasa-biasa saja dengan tatapan super datar tidak menggubris polah sang pemuda. "HALO SHEILLA, SALAM KENAL, SELAMAT DATANG DI KOPAJA" berasa disambut gitu saya... Ah, jekardah, is it that hard to get along with you?

Setelah perkenalan awal itu, saya sempet kapok naik kopaja dan memilih armada lainnya yaitu si daun muda ibukota, transjakarta. Tapi karena banyak kendala seperti armada transjakarta yang terlalu sedikit dan bikin pengguna jasanya jadi harus lama-ama ngantri dan naik turun jembatan transit yang bisa bikin keguguran, belum lagi ruang tunggunya yang gak nyaman sama sekali.. Akhirnya... Jadi selama kurang lebih 4 bulan ini saya pun lebih memilih mengakrabkan diri dengan kopaja. And how are we today? Sekarang saya sudah punya spot duduk favorit jalur berangkat dan spot duduk favorit jalur pulang biar gak kena teriknya panas matahari..Saya sudah punya trik-trik seperti selalu siapkan uang pas sebelum menaiki kopaja sehingga tidak harus buka-buka dompet ketika berada di dalam bis, selalu letakkan tas di depan sambil dipeluk, jangan menggunakan perhiasan mencolok dan berpakaian yang berlebihan, dan... Naik kaki kanan, turun kaki kiri, selalu :)

Ah, susah banget kayaknya saya mau jatuh cinta sama kamu, jakarta... Segala-galanya serba sulit terakomodasi.

Setiap harinya selalu ada kejadian menarik dan memberikan sensasi yang baru tiap naik kopaja. Entah musik padang yang menemani sepanjang perjalanan, balap-balapan antar kopaja, cobaan-cobaan seperti enggak dapet tempat duduk atau bahkan temen duduk sebelahnya makan tempat secara maksimal atau lebih parah udah makan tempat terus enggak wangi (OMG!), kadang-kadang keajaiban-keajaiban juga datang dari keneknya yang bisa berwujud pria muda kecoklatan - pria muda batak - pria tua perlente - wanita muda batak galak - sampai anak kecil yang kayaknya kalo nyebrang jalan aja masih perlu didampingin, sering juga ada hiburan-hiburan menggelitik dari tukang ngamen yang macem-macem polahnya, atau yah bisa juga kayak pagi ini yang Alhamdulillah banget harus disyukurin.. Berangkat seperti biasa, naik ojek abang tukang ojeknya gaya dan gaul pake behel wangi lagi trus motor mionya dimodif jadi enakeun jok sama penyangga kakinya, trus pas naik kopaja langsung dapet tempat duduk deket pintu, temen duduknya enggak makan tempat dan wangi juga, udah gitu kopajanya baru di cat gitu jadi kinclong dan keneknya gaya banget juga pake jaket warna kuning gonjreng dengan rambut kayak Vino G Bastian. Ohh... Alhamdulillah banget yahh...


Gatau sampai kapan ini semua akan berlangsung. Banyak yang bilang cinta akan tumbuh dengan kebersamaan. Ditambah dengan adanya kata-kata di kopaja "jauh dekat Rp 2000" rasanya cinta ini akan bersemi jauh lebih subur. Auuuuuuuuuuu...


Ah. Rasanya masih jauh sekali untuk bisa bilang kembali ke Jakarta itu kembali 'pulang'... Why are you so cruel to me jekardah? WHHYYyyyyy Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ)

24.8.11

a kecil.



"a, dunia ini sempit banget ya?
Tapi kadang dunia ini begitu luasnya.
Di kuliah aku udah belajar, bumi ini gak bulat seperti bola pimpong yang baru dibeli di toko olahraga.
Bumi ini bentuknya enggak beraturan, geoid disebutnya.
Tapi a, bentuk geoid ini masih sama istimewanya dengan bentuk bulat sempurna bola pimpong. Ah, kenapa bola pimpong ya? Mungkin karena bola pimpong ringan, bisa digenggam, dan warnanya kuning genteng. Anyway, a... Ya, geoid itu sama istimewanya dengan bentuk bulat dan bundarnya bola, sama-sama akan mempertemukan dua subjek yang bergerak saling menjauh di satu sisi lainnya.

Jadi a, kamu tidak perlu khawatir. Dunia kita ini sudah diciptakan begitu indah dan sempurna oleh Allah. Meski manusia mencoba segala upaya untuk membentuk dunia yang baru, hasilnya gak akan bisa mengalahkan ciptaan Allah.
Ah kamu udah tau kan, kamu banyak belajar, lebih banyak dari aku. Sementara aku cenderung hanya ingin tau hal-hal yang aku ingin tau, kamu mau belajar tentang hal apapun yang kamu bisa tau. Aku gak suka orang sok tau, makanya aku gak suka ada yang ngeguruin aku apalagi ngedikte aku harus begini dan begitu. Ah malah kemana-mana lagi ini ceritanya. Tadi sebenernya aku pengen bilang apa ya sama kamu? Oh iya.. Itu, dunia kita ini mendukung sekali, a.. Untuk kita saling bertemu di salah satu titiknya. Entah saling bertemu untuk sekedar saling pandang, saling genggam tangan, saling menghangatkan, atau bahkan bertemu hanya untuk saling berpapasan tanpa kita sadari nanti. Mungkin sekali, a.. Hal-hal seperti itu sangat mungkin terjadi di dunia kita yang medianya berlangsung di atas bumi kita yang bentuknya geoid ini.

Ah, a... Aku mau rumah, a... Aku mau rumah dan menyelonjorkan kaki, a."


-s kecil-

28.6.11

sis-tims.



So here I am, inside the box...
Mari kita menari, sis-tims!

27.4.11

mari mandi dan berolahraga.

Hari ini day-1.

Lain dari biasanya, pagi ini setelah semua orang rumah berangkat beraktivitas, sempat-sempatnya berkaca. Memiring-miringkan kepala sambil berusaha tersenyum sedikit-sedikit, lalu menghela nafas, menyesali muka jerawat minyakan kelopek-kelopek kecokelatan yang ada di pantulan kaca. HHhh.
Sheilla... Kotor. Bodoh. Dan yang beberapa bulan belakangan jadi sering bertindak tidak logis karena lebih mengutamakan perasaan.
What an insecure mess I want to hide.

Empat bulan belakangan yang sebelumnya diprediksi dan diramalkan akan menjadi bulan-bulan normalisasi, ternyata justru menumbuhkan beragam emosi yang mengantarkan saya pada pintu pandora. Pintu yang dibuka tanpa diketuk sebelumnya, dan ternyata membuat ingin terjebak lebih lama di dalamnya.
Ada emosi yang lebih dinamis. Lebih manusiawi. Lebih diekspresikan dengan cara yang wajar. Tapi kemudian membuat lelah berkepanjangan dan membuat lama menimbang-nimbang, layak tidaknya hal ini diperjuangkan. But you cant fight alone, sheilla.. You can not to.

Akhirnya beranjak pergi ke dapur. Memecahkan satu butir telur dan memutuskan untuk maskeran putih telur. Setelah maskeran, sambil membilas di kamar mandi malah tiba-tiba jadi pengen mandi. Sabunan pake scrub yang harumnya bikin enak pengen tidur dan berimajinasi macem-macem. Haha. Saya baru sadar ternyata mandi itu juga teknologi mutakhir di jaman sekarang yang cukup manjur mengubah suasana hati. Mandi pake air anget, bikin perasaan rileks. Mandi pake air dingin bikin kita lebih seger. Maka setelah cukup ngerasa rileks mandi pake air anget kemudian kerannya saya putar ke air dingin aja. Dingin sih, tapi segerrr. Bikin lebih fokus sama rasa dinginnya dan lupa dengan rasa-rasa lainnya (ouch!). Mandinya juga kebetulan pake sesuatu yang harumnya enak dan ada butiran scrub-nya bikin kulit halus dan perasaan lebih...what should I name it? Err.. HAPPY! yes I feel happier! Selesai mandi lalu merasa lebih percaya diri. Re-born? Sepertinya belum. Tapi teknologi mandi hari ini ternyata adalah langkah awal yang baik untuk memulai melanjutkan hari yang sejak tadi pagi bangun sudah diprediksi akan berjalan lebih berat dari biasanya.
OKAY. What’s next for today?
OLAHRAGA! Siapa tau bisa cuci mata. Cuci mata yang sehat dan gak bikin kantong bolong kayak cuci mata ke tempat perbelanjaan. Yes, OLAHRAGA!

Hidup ini pilihan. Banyak yg udah bilang ini. Dan setiap pilihan yang udah diambil, kalo hasilnya tidak sesuai yang diaharapkan bukan berarti pilihan yang kita ambil itu salah. Karena gimana juga selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap pilihan yang diambil. Gak peduli orang berkata apa” –seorang ibu muda beranak satu yang memutuskan untuk berkarir jauh dari suami dan meninggalkan anak demi membantu suami mengkredit rumah impian-


I am a lover, not a fighter. What if I try to be those two at once?

19.4.11

Hello there.

Khilafmu cuma satu.
Kamu lupa. Kamu lupa?


Kuputar-putar, bolak-balik, lock-unlock, refresh, ALT+LGLG, cabut batere-pasang batere... HHhhh.


Sepertinya memang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

1.4.11

'malam galau bersama' ala zaskia dan shireen.

Dua perempuan kesepian (nama disamarkan) memutuskan bertemu.

Sudah cantik dan harum dan rapih kayak ibu-ibu mau pergi ambil raport anak-anaknya..
Masuk ke D, gas diinjak,

Zaskia: Jadi, kemana kita?
Shireen: Gua tuh ya, (menghela nafas) (suara bergetar) bingung...
Zaskia: Iya sama, kemana ya?
Shireen: Gua bingung, kenapa sih dia kayak gitu sama gua Terus-terusan baek, terus-terusan berusaha ada, padahal kan...
Zaskia: Hmm. Ohh.. Si tahu (nama disamarkan).
Shireen: Harusnya gua tuh udah gak gini lagi kan. Padahal gua kemaren-kemaren ngerasa udah bisa, udah kuat..
Zaskia: Yah, kadang prakteknya gak sesuai dengan teorinya sih.
Shireen: Karma kali ya. Tapi kenapa sihhh karmanya gini banget.
Zaskia: Percaya gak percaya deh gue sama karma, lo liat gue, gue karma dapet darimana coba selama ini?
Shireen: Elo sebenernya cuma kurang bersyukur aja.
Zaskia: Mungkin. Udah makanya, dikulkasin aja dulu hatinya. Tarok di freezer.
Shireen: Iya, minta dijodohin aja apa ya gua sama mamah papah?
Zaskia: Iya, minta dijodohin aja. Tapi trus bikin list-nya dulu pengen kriterianya kayak apa.. Haha.
Shireen: Mm..yang bisa jadi imam yang baik, low profile, sabar, sayang sama keluarga, ngerti banget apa yang gua butuhin, sweet, gak mesti ganteng tapi gak malu-maluin buat diajak ke pesta, mmmm trus..
Zaskia: Eh, kok jadi mirip sama karakternya si tahu?
Shireen: Eh? Iya ya? Tuh kan tuuhhhh kannnnnn.. Susah gua susaaahhhh.
Zaskia: Hmmm.. Jadinya ini kita mau kemana ini ya?
Shireen: Kemana ya? Ke bulan aja yuk
Zaskia: Akh, udah sih gak usah nyebut-nyebut bulan.
Shireen: (Tertawa terbahak-bahak) Lagi bulan sabit itu, bukan fullmoon, yakin gak mau? (Mengulum-ulum senyum)
Zaskia: (Menghela nafas, gak konsen nyupir, pikiran mengawang-awang)
Malam itu, setelah keduanya tiba-tiba jadi galau karena orang yang bukan pacar dan bukan lagi pacar, mereka secara random tiba-tiba memutuskan untuk pergi makan duren.

...

Klise sih, tapi mungkin Tuhan ingin kita bertemu beberapa orang yang salah sebelum nantinya bertemu orang yang tepat?
Mungkin Tuhan ingin kita belajar dari rasa gak enaknya, untuk kita bisa mensyukuri nikmatnya manis yang pas.
Traumatis dan terus-terusan jadi dramaqueen menyikapi hal-hal pada proses healingnya itu sih persoalan individu masing-masing.
Dan mungkin, mungkin Tuhan ingin kita sebentar aja ngeliat sekitar dan fokus barang sebentar saja ke hal yang lain meski hanya sekedar peralihan, biar ngeh kalo problematika hidup itu bukan cuma cinta. BUKAN CUMA CINTAK.

Ah, kalo dibolehin request sendiri, list punya saya isinya kira-kira gimana enaknya ya? Err, yang kayak orang itu aja, dan tambahan satu lagi, yangbisa sekedar makan bareng dan gak cuma bisanya ngingetin atau nanyain udah makan belum. Ada?
HAHAHA. "Terjal sekali tanjakannya, kapten!!!"

23.3.11

gurunya si lugu.

Teman saya yang dulunya manja, sakit-sakitan, betisnya besar, sekarang sudah jadi bibit unggul yang berjakun, tampan kayak tao ming se, buaya, dan menyangkal udah ngatain saya culun. Dasar combro.
Moral cerita, sepertinya karma does exist hanya berlaku pada beberapa contoh kasus saja, dan biarlah tetap begitu, ikhlas saya ikhlas (˘̩⌣˘̩ƪ)...


22.3.11

"halo, jodoh..."

Waktu itu hari yang normal dan biasa saja, tiba-tiba terpikir sebuah ide mengenai doa-mendoakan seorang adik tingkat yang menyebalkan. Oke, jadi ada sebuah kebiasaan jelek saya ketika kesal yaitu sering memaki orang-orang yang menyebalkan tersebut, daaaaannnn biasanya, sangking kesalnya makian ini suka ditambah doa yang jelek-jelek yang diucapkan hanya dalam hati sebelum beberapa detik selanjutnya saya koreksi lagi doanya menimbang-nimbang kalo terjadi hal buruk sama dia ntar gimana sama keluarganya dsb dsb. Misal, ada pengendara kebut-kebutan salip kanan kiri hampir nyerempet mobil saya, “Anjrit! Buaji*gan, sumpah ya enak banget kayaknya kalo ngeliat dia kepeleset di depan ngesot guling-guling trus kegiles fuso!”, trus beberapa detik diam sebelum kemudian mengoreksi doanya, “mudah-mudahan dia selamat sampai tujuan, mungkin lagi buru-buru ada yang dikejer”. Sok malaikat.

Nah, di hari yang normal dan biasa aja itu setelah sebelumnya agak sedikit dongkol dengan ulah seorang adik tingkat, saya tiba-tiba mencetuskan sebuah doa jahat yang kemudian saya ungkapkan kepada seorang kawan,
“doa apa yang jahat banget buat seorang mahasiswa yang belum lulus?”
“maksudnya?”
“iya, menurut lo doa gimana yang pas buat mahasiswa yang nyebelin? Yang kalo kita lagi kesel gitu loh sama orang yang masih mahasiswa...”
“apa ya...” mikir serius.
“Gua sumpahin lo lulusnya lama! Jahat gak?”
“HAHAHA, kejam... Tapi bisa..Bisa..”
“Atau gak atau gak gini, gua sumpahin lo lulusnya cepet tapi susah dapet kerja!”
“BUAHAHAHA”

Itu jahat banget. JAHAAAAAATTTTT banget. Orang yang udah lulus tapi terus statusnya masih ngegantung itu rasanya... Gak enak. Like shit. I’ve been there, done that. Entah kenapa kayaknya kalo baru lulus itu kemana-mana pergi tiba-tiba jadinya orang basa-basinya selalu nanyain “gimana, udah lulus?”, “oh udah? Kerja dimana sekarang?”, “loh belum kerja?”, atau berlanjut komentarnya “santailah, gampang nyari kerjanya lulusan kampus lo” atau yang sedikit bikin menghela nafas yaitu yang hanya berkomentar “Ooo..” dan langsung pergi dengan raut wajah yang menunjukkan rasa iba.

Tapi alhamdulillah selama masa-masa pencarian kerja itu sedikit saja saya punya masa dimana saya sempat merasa pesimis meski dari sekitar saya sempat menunjukkan kurang support dengan niat saya bekerja di instansi pemerintah, kurang yakin dengan IP segitu saya bisa dapet kerja, dan ada juga Ayah yang selalu ngulang-ngulang kepengen kalo saya bisa lanjut sekolah lagi. Ibu bilang, “dinikmatin prosesnya nak...” dan ketika hasilnya satu per satu mulai negatif menjatuhkan mental, suara Ibu dari seberang ponsel, “ayo anak Ibu pasti bisa” yang kemudian selalu mampu membuat saya percaya kalo dari sekian banyak usaha yang dilakukan pasti ada satu nantinya yang membuahkan hasil. Satu saja cukup, karena jika muncul banyak peluang yang dibuka nanti saya pasti bingung, atau lebih parah karena semakin banyak peluang dibuka untuk saya mungkin itu akan menutup peluang buat yang lain, minta ampun minta jauh. Ada sebuah doa mujarab yang seseorang ajarkan untuk menguatkan hati saya tiap kali akan menjalani sebuah proses menemukan jodoh perkerjaan, “Ya Allah, jika yang akan aku jalani ini memang sudah jadi jodohku, mudahkanlah jalannya dan berikan kelancaran dalam prosesnya, jika tidak cukupkan sampai di sini saja Ya Allah”, Biar gak sakit-sakit banget jadinya kalo ternyata nanti hasilnya jelek. Haha. Gak mau susah banget yak...

Yang menarik, setelah sudah resmi diterima di sebuah instansi pemerintah dan saya iseng berkunjung ke sebuah akun sosial jadul di dunia maya yang saya punya, there it is, ada sebuah pertanyaan yang diajukan jauh sebelum saya layak berpikir tentang kelulusan...

Dan saya bahkan sempat lupa kalo dulu saya pernah kepengan banget kerja di situ...

Anyway, doa jelek-jahat-dan kejam itu jadinya gak saya ucapkan kok, jadinya saya ngedoain kamu hey adik tingkat yang menyebalkan, semoga kamu diberikan kesabaran menjalani kehidupan perkuliahan kamu sekarang (termasuk semoga kamu dapet dosen pembimbing yang bisa kasih kamu pengalaman lebih, wkwk, biar lulusnya lama dong? buahahaa), dan semoga keluarga kamu di rumah diberikan ketabahan menunggu kamu lulus dan dipertemukan dengan jodoh kerjaannya... Amien.

19.3.11

-1

18.25
Melangkah ke dalam rumah, taunya disambut muka datar Ibu yang mungkin sedang lelah karena baru pulang dari luar kota, atau mungkin sedang kesal dengan salah satu penghuni rumah, entahlah.
Menciumnya mesra di pipi kanan kiri, di jidat, lalu bertanya gimana tadi perjalan pulang ke rumah. Lalu Beliau meracau panjang kesal. Oh bener, lagi kesel.
Mendengarkan sebentar curahan hatinya sambil mengambil air minum lalu masuk ke kamar.

Sampai kamar kacaan sebentar, enggak pucet, cokelat malah kulitnya. Dih, udah cokelat, kucel, jerawatan.. Menyedihkan banget sih kamu sheilla...
Lalu terkulai lemas keabisan energi, laper. Mengambil gelas air, baru dua teguk mengerenyit menahan sakit.
Berbaring di tempat tidur. Ini itu ini itu ini itu.

19.35
Ibu masuk kamar, minta tolong dianter keluar rumah jam 9 nanti. Malas, tapi mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut.

20.00
Ayah masuk kamar, numpang baca E-mail, tidak lama kemudian Ibu menyusul masuk. Keduanya berbincang-bincang di sisi-sisi tempat tidur. Tiba-tiba kerasa keringet di punggung mengalir deras, padahal enggak abis olah raga.
Meringis. Duh, kacau nih si body. Sepanjang percakapan nggak fokus jadi gak ikutan menyimak. Ah.

20.55
Masih sambil tidur-tiduran, sadar, tau-tau kamar udah kosong, Ayah Ibu ntah kemana.
Tidak lama Ibu masuk kamar lagi, "gadis lagi tidur?"
Mendongak dan menggeleng lemas lalu bertanya, "Sekarang, Bu?"
"Nanti, nunggu telpon" Lalu Ibu keluar lagi.

Sayup-sayup mendengar Ibu memanggil Ayah dan bertanya, "Gadisnya sakit itu?"
Masih lemas, dalam hati menjawab mengiyakan. Tapi sakitnya remeh banget kalo sampe harus ngeluh.
Akhirnya Ibu jadi dianter Ayah.
Ah, peluk sebentar aja boleh gak sih?

17.3.11

something I prefer not to deal with.

Drrrtt..drrrtt... LED ponselnya menyala kedap dan kedip. OH. Ada telpon masuk. Dalam hati, "jangan diangkat, bahaya, nanti kecelakaan, nanti kita gak jadi makan sate padang...". Lalu dia menekan tombol mute di music player mobilnya, sunyi tiba-tiba, menatap layar ponselnya sesaat sebelum kemudian menjawab panggilan telpon masuk tersebut.

“Halo?”

Damn. Kenapa teknologi yang dipilih harus mute? Bukankah biasanya cukup dengan mengecilkan volume suaranya saja? Atau dengan menekan tombol att, saya melirik ke music player-nya mencari-cari tulisan
att di bagian mana saja, oh gak ada. Damn, again. Lalu mencoba berpikir tentang sate padang. Sebentar lagi kita makan sate padang, sheilla...

Percakapannya terdengar jelas, terlalu jelas malah, langsung nyesel dalam hati kenapa gak bawa headset. Tapi kalo bawa headset juga bakalan heboh banget pake acara ngeluarin headset dari tas lalu memasangnya dan tiba-tiba akan terlihat asik sendiri mendengarkan musik lewat si smartphone. Autis dan berlebihan. Lalu akhirnya terpaksa harus ikhlas mati gaya bolak balik liat layar ponsel sendiri, buka-buka aplikasi untuk memecah konsentrasi dari percakapan orang itu yang entah sama siapa itu. Kemudian kembali berpikir tentang sate padang. Hah. Frustasi. Frustasi ngedenger percakapan yang diselingi tawa renyahnya dan bahasa-bahasa hangat khas-nya. Damn, again oh again. Dalam hati, "udah pikiran sate padang aja sheilla!"


Dan percakapan yang enggak berlangsung lama itu pun kayak seabad rasanya...
Dan sweet talks, sweet gestures, sweet laughs itu pun akhirnya berakhir juga... Thank God. Eh, kita jadi mau makan apa tadi?

11.3.11

sebelum april.

Kemarin banget, si kawan sms,
"eh gmn? brangkat kita kamis?"
Berangkat kamis ini adalah sebuah rencana indah untuk datang ke acara wisuda kampus di bulan April 2011.
Rencana indah yang sangking istimewanya sama si kawan ini dirancang dari jauh-jauh hari.
Jadi kayak klimaks dari sebuah penantian. Penantian selama sebulan seorang CPNS yang baru memulai kerja di kampung halaman.
Kentara banget dia ini udah bosen di sini padahal baru berapa minggu, mungkin, mungkin sebenarnya si kawan ini butuh sedikit diingatkan kalau selama sisa hidupnya akan dihabiskan disana. HAHA.
Iya, kentara banget dia bosen. Karena gak lama dari pertanyaan mengenai berangkat kamis itu, dia kembali menulis pesan,
"Gak sabar urang cuy ke bdg"
"buset nis, masih sebulan lagi woy"
"sebulan itu cepet cuy, kita 5 tahun kuliah aja gak kerasa"
DANG!!!

Beberapa hari yang lalu juga ada kawan yang ulang tahun. Ulang tahunnya si kawan ini memang bukan semacam agenda special pula jadinya buat saya ngerasa hari itu luar biasa atau apa.
Tapi hari itu membuat saya berpikir saya telah kehilangan beberapa bulan ke belakang tanpa saya sadari.
Hari itu, satu tahun yang lalu, saya juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada si kawan ini. Ucapannya kurang lebih sama, ada sisipan 'semoga cepat lulus kuliah' karena si kawan ini masih kuliah.
Hari itu, satu tahun yang lalu, ucapan dikirimkan melalui pesan singkat. Dan seperti halnya satu tahun yang lalu, hari itu ucapan selamat kembali saya kirimkan melalui pesan singkat.
Ternyata, hari itu sudah terlewat menjadi satu tahun yang lalu, tapi kenapa rasanya baru terjadi beberapa hari kemarin ya?

Seriously, kemana hilangnya hari-hari selama satu tahun yang lalu itu?

Kok semuanya jadi berlangsung begitu cepat ya?
Tau-tau sekarang udah 2011, tiba-tiba begitu banyak berita bahagia beriringan datang, berita-berita bahwa satu persatu kawan-kawan dekat sudah mantap dan diterima bekerja dimana-mana, kemudian ada beberapa yang tau-tau akan menikah. HAH! Apa-apaan udah pada nikah aja... Beberapa lainnya malah gak tau kapan nikahnya tau-tau kasi kabar udah punya anak.
Berita-berita kayak gini nih yang bikin makin-makin bertanya-tanya kemana ya hilangnya setahun milik saya kemarin?
Oke, ada masa-masa ngerjain Tugas Akhir yang kayak masa inkubasi dan isolasi, ada masa kelulusan yang pernah ditulis pula ‘agar tidak lupa’, lalu ada masa-masa galau mencari jodoh dengan dunia kerja, lalu ada masa-masa super galau disuruh ngabisin liburan sebelum pembagian SK tapi gak tau mau liburan kemana dan gimana, lalu apa? Masa’ setahun cuma berlalu yang gitu-gitu aja...
Men, orang-orang udah pada nikah udah berkembang biak udah mikir visioner ke depan, kemane aje aye…

Semenjak liburan yang kepanjangan ini, hari-hari merasa otak semakin tumpul. Mulai-mulai ngerasa pas bangun pagi bukannya langsung solat subuh tapi sempet-sempetnya duduk di pinggir tempat tidur dan malas bergerak karena nyadar hari itu gak ada aktivitas berarti. Gak ada yang dikejer. Gak ada yang dicari. Paling parah, gak ada yang dikerjain selain nyapu ngepel nyuci-gosok baju makan pagi leha-leha nonton ftv lalu mandi dan makan lagi, begitu terus beriterasi. Yes, kayaknya menyedihkan banget jadi manusia di usia produktif yang secara teratur bangun pagi but knowing that has nothing to look forward to…

Ah. Would you please not going too fast dear universe?

“If I had a million dollars or ten
I’d give It to ya world and then
You’d go away and let me spend my life
In su su su, su su su, su su su su su su su sugar town”
She And Him, Sugar Town

9.3.11

25 tahun ibu dan empunya tulang rusuk ibu.

Enggak kayak kebanyakan anak perempuan yang berpikir nyokapnya adalah sahabat atau blablabla lainnya, saya berpikir simple bahwa Ibu saya adalah seorang wonder woman. Setiap pagi Ibu selalu bangun tidur dini hari, solat Tahajjud, mondar-mandir membereskan rumah, solat subuh, bangunin seisi rumah, senam-senam sendiri tanpa irama, sibuk di dapur, nyiramin kembang, makan pagi, bersiap ke kantor, lalu berangkat. Setiap hari kerja selalu begitu. Di akhir minggu, alih-alih jalan-jalan dan shopping atau arisan di sana sini Ibu justru lebih memilih istirahat di rumah baca segala sesuatu yang bisa dibaca dan ngeberesin rumah. Ibu punya peran nano nano, antagonis dengan kelebihan yang dikaruniakan Tuhan yaitu berkomunikasi satu arah seperti tembakan senjata yang bikin kita yang dengerin pengen kibar-kibar bendera putih, sekaligus peran malaikat karena selalu bisa dibujuk, selalu tau apa yang paling baik buat anak-anaknya, selalu punya jurus mujarab ngobatin anaknya lebih dulu sebelum dokter bertindak hanya dengan mengusap-usap badan kita pake minyak angin atau balsem tiger meskipun tetep sambil ngomel-ngomel. Dan walaupun Ibu adalah PNS dengan gaji yang tak seberapa, Ibu merupakan sosok PNS yang seumur hidup saya kenal dan tau persis selalu berangkat pagi-pagi banget dan pulang sore banget di hari kerja, yang membuat sosok PNS yang bisa berangkat siang dan pulang cepet lalu bisa cabut-cabutan di tengah harinya bahkan bisa meliburkan diri sesuka hati hanya saya dapat dari cerita fiksi kanan dan kiri. Meski sibuk kayak apa, rumah selalu keurus dan gak berantakan. Seisi rumah berikut orang-orangnya selalu keurus dan gak pernah kurang kasih sayang apalagi perhatian. Ibu emang wonder woman. Dan emang banyak juga yang udah sering bilang kalo dulu itu Ayah yang beruntung dapetin Ibu. Tapi walaupun Ibu juga sering banget ngeluhin Ayah yang enggak romantis, Ayah yang cuek, Ayah yang kalo abis mandi gak pernah jemur anduk sendiri, Ayah yang kalo abis tidur gak pernah ngerapihin tempat tidurnya lagi dengan alasan ntar juga tempat tidurnya bakal berantakan kalo ditidurin lagi hahahaha, iya meski sering ngeluh-ngeluh di belakang tapi tetep aja setiap pagi Ibu selalu nyiapin teh tawar anget buat Ayah, nyiapin tempat makan dan kobokannya, nyiapin baju dan kebutuhan Ayah kalo Ayah mau berangkat pergi keluar rumah, dan segala rutinitas-rutinitas lain yang biasa aja tapi kalo diinget-inget males banget buat dilakuin sangking gak pentingnya. Haha. Iya, wonder woman. Makin dipikir makin makes me wonder.

Yang lucu, waktu awal-awal pulang ke rumah Lampung dan menemukan sikat gigi di kamar mandi Ibu bentuknya udah rumbai-rumbai gak jelas karena bulu-bulunya udah mencuat kesana kemari, niat saya untuk membelikan sikat gigi pengganti justru dilarang Ibu dengan alasan “biasanya yang rajin ngegantiin sikat gigi Ibu itu Ayah…”. Ibu bilang ini sambil tersenyum simpul manis penuh makna sedikit manja dan langsung bikin pengen saya tinggal pergi. Geli. Yes, somehow, semua hal memang bisa Ibu lakukan sendiri, tapi sebenarnya ada juga hal-hal kecil yang justru akan memberikan kebahagiaan tersendiri buat Ibu bila dilakukan oleh Ayah. Iya, Ayah yang kalo kata Ibu itu kayak anak gak gede-gede sangking susahnya ngerubah kebiasaan-kebiasaan jelek. Ayah yang kata Ibu sekarang udah kayak atlet pimpong manula sangking seringnya ngabisin waktu main pimpong bareng temen-temennya, hahahaha, ada nada cemburu ketika Ibu mengatakan ini. Dan Ayah, yang meski Ibu keluhkan sebagai apa yang mungkin sudah dijatahkan oleh Allah SWT untuk menjadi cobaan hidupnya, tapi tidak jarang juga disyukuri Ibu sebagai si empunya tulang rusuk Ibu.

Subhanallah, hari ini Ibu sama Ayah ulangtahun pernikahan ke-25. Perak. Mudah-mudahan terus harmonis, mudah-mudahan terus barokah, mudah-mudahan anak-anaknya bisa mencontoh baik-baiknya yang mereka bangun selama ini. Amien :)

14.2.11

bed talk, me vs mom, cuplikan.

mulai...
"Ibu mukanya jadi merah-merah gitu ih.."
"Tapi bersih kan ya, flek-fleknya?"
"Iya tapi jadinya merah-merah. Mana mahal banget perawatannya"
"Ini sebentar aja ntar juga gak merah-merah lagi"
"Kata siapa?"
"Kata susternya"
"Suster yg kemaren nganterin ibu ke ruang peeling dan yang mukanya merah-merah itu?"
"Iya kok muka dia masih merah-merah ya?"
"ZzzzZz.."

next..
"Nanti libur panjang yang kejepit itu apa kita jenguk kakak aja ya?"
"Ayo bu. Kangen ya sama anak kesayangan?"
"Semuanya Ibu sayang kok. Tapi kalo kakak udah lama Ibu gak ketemu kan.."
"Lah biasanya juga pas kuliah kan dia mah jarang pulang"
"Iya, tapi ini kan jauh nak. Seneng gak dia disana, ada kawannya gak dia disana, makannya enak gak.."
"Ibu ini kok kepikiran-kepikiran yang kayak gitu, bukannya kakak yang emang ga mau dijengukin waktu itu"
"Iya ya dis.."
"Gak kangen kayaknya dia sama kita bu. Cuma sama pacarnya aja dia kangen. HAHAHA.."

and then...
"Bu, batin pengen balik lagi ke Lampung. Pengen bareng Ibu, bareng Ayah"
"Kok gitu?"
"Ya pengen aja, pengen"
"Katanya Ibunya cerewet"
"Iya sih Bu. Hahaha. Tapi kan batin anak perempuan, yang harusnya ngurusin"
"Nggaklah nak, kamu itu udah kodratnya nanti diambil orang, dan Ayah sama Ibu yang harus siap"
"Kalo batin nikahnya sama orang lampung sini lg berarti batin bisa bareng Ibu lg dong ya. Hehe"
"Gak usah macem-macem kamu ini blablablabla%^*#$)@@$^&*)!!"

Percakapan berubah jadi satu arah tanpa jeda dengan banyak repetisi.
Haissshhh. salah ngomong sayaaa.

1.2.11

and I don't hate you.

Beberapa hari terakhir ini menjalani hari-hari yang berbeda. Berbeda cara menjalani harinya, berbeda manusia-manusia berinteraksinya, dan berbeda rasa yang muncul di akhir setiap harinya.
Liburan, judulnya. Hidup kembali, dalam kamus lain. Oh biarkan saya menikmatinya sedikit lebih lama lagi.

Yang berlari di depan biarlah terus berlari, tak sanggup kaki ini mengiringi, toh kita sudah cukup lama berjalan bersama meski seringnya dipaksakan satu arah.
Biar kita menemukan ritmenya lagi nanti. Biar yang dijemput bukan hanya benda mati. Biar kita bisa sama-sama merasa jadi pemenang.

Dan kamu. Ya, kamu.
Kamu itu apa saya pun tak menemukan istilah yang tepat untuk menyebutnya.
Kamu itu pagi dan malam, dan siang kadang-kadang. Kamu itu 180 derajat, kiri dari kanan, kanan dari kiri.
Kamu itu tabu untuk disebut-sebut. Terkadang memunculkan rasa takut. Dan seringnya seperti teka-teki silang yang tidak ada kunci jawabannya.
Kamu itu tokoh dalam cerita-cerita fiksi. Kamu seperti cuaca Indonesia saat ini yang sedang sulit diprediksi.
Kamu itu dunia lain, dunia yang asing.
kamu juga entah bagaimana bisa tiba-tiba datang, dan kenapa saya jadi tidak ingin kamu menghilang.
Ah, karena kamu membiasakan, teman. Kamu terlalu membiasakan.

Tapi kamu juga seperti gerhana yang hanya sementara. Harusnya kamu gerhana, bukan fullmoon.
Kamu selalu bisa bikin mendadak kayak sakit mata dan sakit jantung kalo diliat lama-lama. Lalu kalau hilang, nanti harus cari kamu kemana? :(

30.1.11

Cuh?!

Dulu waktu masih kecil, sepertinya ludah itu punya peran cukup penting.

Jatuh, luka sedikit, dipoles ludah, sembuh. Sugesti.
Digigit serangga, gatel, dipoles ludah, ilang gatelnya. Sugesti, again.
Mau makan, banyak yang minta, tinggal "cuh". Voila! Makanan aman, bukan sekedar sugesti.

Tapi sekarang kita bukan anak kecil lagi kan ya.
Kita sama-sama tau, ludah itu jorok karena ludah mengandung banyak kuman.
Jadi ye bang, asal abang tau aje ye, abang gak jadi nambah keren dengan memaki dan membuang ludah lewat jendela mobil abang hanya karena ada orang yang memotong jalan abang.
Enggak bang, gak ada keren-kerennya.

Akh, memang sepertinya di dunia ini pria keren tapi baik hati itu hanya kotaro minami dan inuyasha.

25.1.11

Blair & Chuck.

Blair : As long as I'm with you, I'm Hillary of the white house , and I wanna be Hillary secretary of the state. But.. with better hair.
Chuck : Then You'll find another way to show the world you are forced to be reckoned with. We'll build our futures together.
Blair : I followed my heart all last year and It led me nowhere. Now I need to follow my head.
Chuck : You don't need to choose between them, look at Brad and Angelina, they take turn on top.
Blair : Yeah but she won Oscar first! I'm sorry but I have to be Blair Waldorf before I can be Chuck Bass' girlfriend.
Chuck : I love you.
Blair : I love you too.. I don't expect you to wait.
Chuck : If two people are meant to be together, eventually they'll find their way back.
Blair : Do you really believe that?
Chuck : I do.
Blair : So do I.
-Gossip Girl, Season 4, Episode 9-

Hey, you are living a real life, while Blair and Chuck aren't. True?