3.10.10

numero uno rivale.

Dia membakar sendok di atas lilin yang menyala-nyala. Saya berdiri di sebelah kirinya, menatapnya heran.
"Panas enggak ya?" dia tanya. Saya menggeleng lemah sambil menjawab tidak tau. Tiba-tiba ditempelkannya sendok panas itu ke pipi saya. Saya menangis meraung-raung. Kejadian itu sudah belasan tahun yang lalu, tapi tidak terlupa seperti kenangan-kenangan lain. Membekas dengan jelas meski lukanya fisiknya sudah tak tampak lagi di wajah saya.



Ah, that silly boy now turns into someone greater. My number one rival is now sailing away to conquer the world. Do your best, brother... Do your best!
Mari melipat jarak dan menabung rindu, I will always pray for your goodness.
Saying good bye is the hardest part, how about "see you again?"

0 comments: