24.10.10

we aren't tired (yet)

Satu per satu, the process of letting go of someone in my life, berlangsung untuk benar-benar mengakhiri.

Lucunya, dulu sempat berpikir, "gue mesti menyelesaikan ini ama dia"

Tapi enggak pernah kepikiran detail caranya. Detail metodenya. Detail proses penyelesaiannya akan sepeti apa. Hanya sempet kepikiran kalo penyelesaiannya itu, "Gue mungkin akan ketemu dia, kita ngomongin persoalan kita ini dari hati ke hati, terus mengakui khilaf masing-masing minta maaf, dan menjalani hidup masing-masing tanpa perlu interaksi lagi"

Tapi ternyata emang pertemuan itu misteri Tuhan. Karena ternyata mau ikhtiar segimana rupanya, kalo saya dan orang-orang itu enggak bisa ketemu, enggak diizinkan untuk berbaikan oleh semesta, ya udah. Sesimpel itu. Dan taunya justru sama orang-orang yang dulu saya pikir permasalahan yang menjauhkan kita adalah permasalahan sederhana dan noraklah saya lebih dulu diizinkan untuk mengalami proses penyelesaian ini.

Caranya beragam dan lucu, ada yang dramatis malah. Tapi semuanya melegakan. Semua proses itu berlangsung untuk mengakhiri perasaan mengganjal, dan memulai tema silaturahmi yang baru.


"Dulu gue sempet takut banget tiap ngeliat lo. Gue berusaha biasa aja kalo dulu kita ketemu, tapi gue selalu ngeraba-raba tentang reaksi lo. Spekulasi sama apa yang lagi lo pikirin tentang gue. Gue takut banget shey, gue takut lo masih marah sama gue tentang itu..."
Seorang teman lama akhirnya jujur tentang yang dia rasa. Emosi saya, terakumulasi secuil apapun emang bisa dengan mudah dibaca lewa
t raut wajah. That's my weakness. I've been trying to have treatment at this point, sulit tapi..

"Dulu itu gue sempet marah, kesel, benci
sama lo.. Karena gue sempet ngerasa kehilangan temen. Dan gue gak mau kehilangan temen. Gue sebel ngeliat lo punya temen baru. Ngeliat lo lebih sering sama mereka, lo milih untuk lebih sering jadi orang yang populer... Gue kenal lo lebih duluan, lebih lama, gue gak terima. Gue tau tiap lo gabung sama kita lo gak berubah, tapi tetep aja gue benci sama lo waktu itu"
Mata saya berkaca-kaca when I heard these words came out of one old friend of mine, one of the best I'd say..


Ada yang lain-lain juga yang temanya masih sama, dampak dari aktivitas sosial saya yang baru dan mungkin berlebih kala itu, yang saya tidak sadari. Iya, faktanya waktu itu saya gak nyadar saya khilaf, dan teman-teman yang mengklaim saya 'bersalah' bahkan enggan bicara jujur karena terlanjur merasa menjadi outsider dalam hidup saya. Well then..

Dan ada juga kejadian yang sudah lewat beberapa bulan yang lalu bersama si Abang abu-abu (nama disamarkan). Setelah sebelumnya dia memancing percakapan, dan saya tanggapi, akhirnya Abang satu itu bercerita dan berbagi kehidupannya yang sekarang. Tanpa diniatkan, tanpa direncanakan, tanpa diangan-angankan sebelumnya. Tiba-tiba kita jadi saling memaafkan. Beautiful.

Forgive and forget. Memaafkan selalu mudah, tapi sepertinya tak perlulah dilupakan... Iya kan?

Anyway, dan ada yang saya pengen sampaikan juga di sini. Kalau-kalau ‘kamu-yang-merasa’ baca ini, kamu mungkin akan langsung PING-PING-PING saya, but that would be okay. Hey, I understand the words "Kamu terlalu baik buat aku". That aint sweet, you know.. That’s just another silly way saying “i am just not into you” And It’s so...oldschool. HAHA.

Voila, yang kecil-kecil udah selesai. Kayak jerawat yang udah pecah, kering, bikin lega. Now I'm waiting to see and face those other bigger deals... Susah buat 'letting go' yang ini sepertinya. Kepalanya meski sama-sama hitam tapi kerasnya melebihi milik manusia-manusia biasa. We aren't yet ready or maybe we aren't yet tired, are we? :)

0 comments: