26.10.10

HELP!

Ceritanya kemaren abis nonton film serial yang ada adegan perempuan tiduran di sofa depan TV. Tiduran melintang menghadap ke atas, dengan salah satu kakinya ditekuk sementara kaki yang satu lagi dibiarkan menjuntai menyentuh lantai. Dia menatap langit-langit sambil bersenandung. Ceritanya dia lagi sedih gara-gara ditinggal temennya pergi. WTF. Berlebihan banget sih nih adegan.

Then somehow, kemaren tiba-tiba situasinya di rumah lagi ujan badai just like usual (Bandung emang lagi ujan melulu), lalu karena geledek nyamber-nyamber di luar sana, akhirnya si televisi (yang selalu saya biarkan menyala selama saya ada di rumah karena saking sepinya kondisi rumah) saya matikan sementara. Terus kondisi rumah jadi krik krik banget. Terus saya jadi berbaring di sofa depan TV, menekuk salah satu kaki dan membiarkan kaki yang satunya lagi menjuntai ke lantai. Ditemani lagu di handphone, saya bersenandung kecil dan pelan-pelan takut petir-petirnya nyamber lebih gahar. Dan saya baru ngeh, terlepas dari rambut saya yang enggak blonde, kondisi saya mirip banget sama potongan adegan di film yang baru aja saya tonton. Sampah. I think I need help. I'm gonna get crazier if I stay in this house any longer. HELP!

25.10.10

cerita bawah sadar.

Sekarang jarak menuju cita-cita saya jadi semakin pendek dan dekat. Udah kebaca jalurnya, garisnya di sektor itu. Pokoknya yang peluangnya bisa kasih saya napas tapi titian tangganya gak curam. Meski kemiringan tangganya nyaris datar dan panjaaaaaaaaaaaang banget, setidaknya jelas. Persinggahan-persinggahannya juga jelas, meski penghasilannya kata banyak orang jelas-jelas nggak bisa menghidupi dengan layak seorang manusia yang banyak mau seperti saya kecuali jika saya coba-coba untuk mengambil kesempatan dan peluang-peluang enggak jelas. Enggak Ya Allah, saya gak mau sepuluh tahun lagi saya masuk TV karena kasus korupsi...

Soal pasangan hidup, cita-cita saya juga semakin jelas. Setelah kemaren ada seorang temen yang entah kesambet apa dia curhat ga jelas dengan bahasa yang muter-muter, yang saya tangkep adalah:
"Kata-kata jodoh gak akan kemana itu menurut kalian gimana sih? Bisa gak ya kalo kita jodoh sama orang yang kita pengen jadi jodoh kita, tapi kitanya gak berusaha? Karena kan kalo jodoh kan gak akan kemana kan ya? Tapi jodoh itu kalo kitanya gak berikhtiar bisa jadi gak sih?"

Trus saya mikir, iya Ya Allah, selama ini saya suka berangan-angan saya jodoh sama Pangeran Harry biar bisa jadi princess atau jodoh sama Joo Ji Hoon lalu bisa hidup bersama di Korea, tapi saya gak pernah tau ikhtiar macam apa yang bisa saya lakukan untuk bisa merealisasikan angan-angan saya itu. Jadi saya sempat berasumsi, jangan-jangan, jangan-jangan selama ini situasi yang menjebak saya ini karena saya kurang berikhtiar? Mesti itu yang terjadi. Hh.. Pasti saya kurang berikhtiar. Ternyata, ternyata ikhtiar dengan memasang foto Jo Ji Hoon jadi wallpaper laptop saja belumlah ikhtiar yang maksimal. Tapi saya bisa apa? Saya hanya perempuan yang secara budaya tidak punya hak dan kewajiban melangsungkan 'first move'... (Malah curhat).

Maka berhubung pasangan hidup saya masih belum jelas setidaknya sampai dengan beberapa tahun ke depan, rasanya punya cita-cita pacaran sama cowo bule enggak terlalu muluk. Iya, semoga, saya dikasih kesempatan untuk pacaran sama cowok bule. Am-ien. Teman-teman, tolong dibantu ya... (Ikhtiar pertama saya adalah menyerukan tagline Pak Tarno yang mudah-mudahan punya kekuatan magis untuk bisa menjodohkan saya dengan bule). HAHAHaH.

...

Terakhir dan gak ada hubungannya sama paragraf sebelumnya, setelah sekian lama akhirnya saya menyerah dan jadi bagian dari keluarga besar (mudah-mudahan bahagia) pengguna device berlabel smartphone. Dan saya menemukan yes it's way easier eversince. The handheld has been realy helpful. Yeah helpful sekali untuk keep me updated about everything, termasuk aktivitas sosial teman-teman lama dan yang paling terbaru adalah helpful memberikan berita gembira kalo temen SMP saya yang selalu dibilang sebagai cowok-setengah-jadi sekarang sudah normal dan akan menikah dalam waktu dekat. Meski kelakuannya masih membuat saya ragu akan pengakuan "I am straight, now...Totally".

And, about the updating thing, totally, I'd still prefer to have the 'live' one... :)

24.10.10

we aren't tired (yet)

Satu per satu, the process of letting go of someone in my life, berlangsung untuk benar-benar mengakhiri.

Lucunya, dulu sempat berpikir, "gue mesti menyelesaikan ini ama dia"

Tapi enggak pernah kepikiran detail caranya. Detail metodenya. Detail proses penyelesaiannya akan sepeti apa. Hanya sempet kepikiran kalo penyelesaiannya itu, "Gue mungkin akan ketemu dia, kita ngomongin persoalan kita ini dari hati ke hati, terus mengakui khilaf masing-masing minta maaf, dan menjalani hidup masing-masing tanpa perlu interaksi lagi"

Tapi ternyata emang pertemuan itu misteri Tuhan. Karena ternyata mau ikhtiar segimana rupanya, kalo saya dan orang-orang itu enggak bisa ketemu, enggak diizinkan untuk berbaikan oleh semesta, ya udah. Sesimpel itu. Dan taunya justru sama orang-orang yang dulu saya pikir permasalahan yang menjauhkan kita adalah permasalahan sederhana dan noraklah saya lebih dulu diizinkan untuk mengalami proses penyelesaian ini.

Caranya beragam dan lucu, ada yang dramatis malah. Tapi semuanya melegakan. Semua proses itu berlangsung untuk mengakhiri perasaan mengganjal, dan memulai tema silaturahmi yang baru.


"Dulu gue sempet takut banget tiap ngeliat lo. Gue berusaha biasa aja kalo dulu kita ketemu, tapi gue selalu ngeraba-raba tentang reaksi lo. Spekulasi sama apa yang lagi lo pikirin tentang gue. Gue takut banget shey, gue takut lo masih marah sama gue tentang itu..."
Seorang teman lama akhirnya jujur tentang yang dia rasa. Emosi saya, terakumulasi secuil apapun emang bisa dengan mudah dibaca lewa
t raut wajah. That's my weakness. I've been trying to have treatment at this point, sulit tapi..

"Dulu itu gue sempet marah, kesel, benci
sama lo.. Karena gue sempet ngerasa kehilangan temen. Dan gue gak mau kehilangan temen. Gue sebel ngeliat lo punya temen baru. Ngeliat lo lebih sering sama mereka, lo milih untuk lebih sering jadi orang yang populer... Gue kenal lo lebih duluan, lebih lama, gue gak terima. Gue tau tiap lo gabung sama kita lo gak berubah, tapi tetep aja gue benci sama lo waktu itu"
Mata saya berkaca-kaca when I heard these words came out of one old friend of mine, one of the best I'd say..


Ada yang lain-lain juga yang temanya masih sama, dampak dari aktivitas sosial saya yang baru dan mungkin berlebih kala itu, yang saya tidak sadari. Iya, faktanya waktu itu saya gak nyadar saya khilaf, dan teman-teman yang mengklaim saya 'bersalah' bahkan enggan bicara jujur karena terlanjur merasa menjadi outsider dalam hidup saya. Well then..

Dan ada juga kejadian yang sudah lewat beberapa bulan yang lalu bersama si Abang abu-abu (nama disamarkan). Setelah sebelumnya dia memancing percakapan, dan saya tanggapi, akhirnya Abang satu itu bercerita dan berbagi kehidupannya yang sekarang. Tanpa diniatkan, tanpa direncanakan, tanpa diangan-angankan sebelumnya. Tiba-tiba kita jadi saling memaafkan. Beautiful.

Forgive and forget. Memaafkan selalu mudah, tapi sepertinya tak perlulah dilupakan... Iya kan?

Anyway, dan ada yang saya pengen sampaikan juga di sini. Kalau-kalau ‘kamu-yang-merasa’ baca ini, kamu mungkin akan langsung PING-PING-PING saya, but that would be okay. Hey, I understand the words "Kamu terlalu baik buat aku". That aint sweet, you know.. That’s just another silly way saying “i am just not into you” And It’s so...oldschool. HAHA.

Voila, yang kecil-kecil udah selesai. Kayak jerawat yang udah pecah, kering, bikin lega. Now I'm waiting to see and face those other bigger deals... Susah buat 'letting go' yang ini sepertinya. Kepalanya meski sama-sama hitam tapi kerasnya melebihi milik manusia-manusia biasa. We aren't yet ready or maybe we aren't yet tired, are we? :)

12.10.10

"lupa..."

Ternyata alasan paling simple biar enggak ditanya-tanya lebih lanjut itu adalah dengan bilang 'lupa'.
So easy.
"Eh sheiy, blablablabla..."
"Hah? yang mana? Lupa gueeeee.." #nyengir#
"Yah, masa lupa sih?"
"Yah, gimana dong?"

Lupa enggak dosa, berbohongnya emang dosa. Tapi kalo dipaksa inget dan dipaksa ngebahas hal yang menyebalkan dan bikin ngedumel di belakang atau parahnya malah bikin ngegrusuk pengen nangis guling-guling, jadi lebih baik pura-pura lupa.

Cobain...

3.10.10

numero uno rivale.

Dia membakar sendok di atas lilin yang menyala-nyala. Saya berdiri di sebelah kirinya, menatapnya heran.
"Panas enggak ya?" dia tanya. Saya menggeleng lemah sambil menjawab tidak tau. Tiba-tiba ditempelkannya sendok panas itu ke pipi saya. Saya menangis meraung-raung. Kejadian itu sudah belasan tahun yang lalu, tapi tidak terlupa seperti kenangan-kenangan lain. Membekas dengan jelas meski lukanya fisiknya sudah tak tampak lagi di wajah saya.



Ah, that silly boy now turns into someone greater. My number one rival is now sailing away to conquer the world. Do your best, brother... Do your best!
Mari melipat jarak dan menabung rindu, I will always pray for your goodness.
Saying good bye is the hardest part, how about "see you again?"