20.9.10

lebaran, 2010.

Sebagai keluarga besar di Lampung, agenda rutin kumpul keluarga biasanya selalu riweuh dengan ngomongin orang, ngomongin orang, dan ngomongin orang.
Sebenernya agendanya bervariasi, tapi intinya balik-balik jadinya ngomongin orang juga.
Inti dari kegiatan reuni itu kan mengungkit-ungit kejadian di masa lalu baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.
Part mengenang ini pasti ada unsur ngomongin orangnya, susah dihindari.
"Inget gak waktu kita ke lebaran tahun lalu.. Ih rame ya, seru gitu. Tapi si itu kenapa ya gak dateng.. Sombong ya si dia sekarang. Blablabla"
"Si itu yah kemaren katanya baru ganti mobil. Yang lama gak dijual gitu. Duitnya ngegunung ya.." -bahasanya dong, ngegunung...-
Panjang. Gak abis-abis. Penuh dengan canda namun sinis dan miris.

Inti dari kegiatan kumpul keluarga yang kedua, adalah jadi ajang memberikan petuah dan mengasah ingatan para tetua pemberi petuahnya.
Saya sebagai calon generasi penerus, sudah pasti masuk daftar yang diberikan kuliah dan ceramah tentang kehidupan.
Jadilah, biasanya, sementara adik-adik sepupu yang lain bisa berlari-larian ketawa ketiwi numpahin makanan atau ngepabalatakin (berantakin) barang, saya sama beberapa sepupu yang seumuran biasanya justru harus duduk manis dan pura-pura sumringah mendengarkan ceramah.

Dan percakapan, mulai dari awal yang dibahas dan dibuka tentang agama politik keamanan negara dan ngebandingin kondisi jaman sekarang dengan jaman mereka dulu sambil curhat colongan, biasanya akan berujung sampai pada pembahasan tentang calon suami dan calon istri.
Menurut uwak saya yang memulai hidupnya di awal tahun 70an, istilah memulai hidup ini muncul untuk mendeskripsikan kehidupan yang baru dimulai setelah menuntaskan pendidikan formal (kuliah) dan baru akan memulai membangun kehidupan sendiri dengan modal gelar pendidikan serta bekal pengalaman selama menjalani pendidikan formal tersebut. Singkatnya mah, hirarki memulai hidup itu dimulai ketika beres kuliah dan mulai mau kerja, karena setelah itu tahapannya adalah menikah, berkembang biak, dan usaha untuk ngebesarin anak.

"cari pacar yang polisi. akpol-akpol gitu.. Sekarang lg 'in' banget kan"
"kalo jaman dulu yang lulusan ITB atau yang kedokteran yang paling dicari, kalo sekarang yang top itu yang abis lulus udah pasti dapet kerja seperti lulusan AKPOL, STAN, STPDN itu.."

Cihuy. Para tetua ini sepertinya hidup di goa setahun belakangan ini atau keasyikan beribadah sampe-sampe gak nonton berita di televisi. Rasanya berita setahun ini yang terus-terusan hangat dengan temperatur terjaga ya berita tentang pekerja pajak dan para penegak hukum yang tersangkut kasus sampai-sampai membuat cacat instansi mereka seumur-umur. Saya melirik sepupu-sepupu yang lain dan mereka membalas dengan senyum-senyum yang ntah apa maknanya...

Alhamdulillah Ya Allah, masih diberi rezeki sehat untuk menikmati hari kemenangan.

0 comments: