8.9.10

in fact, it aint working.

Sudah bertahun, berkarat, berdebu. Debu buat saya adalah pemicu asma, pemicu petaka. Makanya yang berdebu baiknya dijauhi, dihindari. Lalu yang masih nyata dijaga-jaga biar tak berdebu, tak memicu petaka.

But again, time goes by.

Mau dihindari gimana juga, berjalannya waktu tentu tak terabaikan. Mau sembunyi kemana juga, berlangsungnya hari tak bisa dihindari. Mau menutup mata, menutup telinga, imajinasi dan pikiran, naluri ini terus memanggil-manggil dan berbisik-bisik dalam hati. Berbisik-bisik bertanya atau justru menyatakan? Entahlah.

“Delapan? Delapan September...”
Kadang-kadang, saat sedang menyelonjorkan kaki di kursi depan TV, menangkap gerakan dan bahasa tubuh yang mirip-mirip, serupa tapi tak sama, sebelas dua belas, rasanya tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar di dalam hati dan jadi mengulum senyum, “Apa kabarnya dia..?”.

Seseorang pernah bercerita panjang lebar tentang kawan baiknya yang merasa sedih luar biasa ketika suatu kali harus ditinggalkan oleh orang yang disayanginya. Lebih parah rasa sedihnya dari ketika dulu ia harus berucap pisah dan meninggalkan orang-orang yang ia juga sayang. Membuat saya mengetuk-ketukkan jari tangan di atas meja, menjumlah-jumlah bilangan di depan mata, sibuk-sibuk mencari aktivitas lain agar tidak justru jadi mengingat-ingat memory sedih yang inginnya sudah terhapus jauh-jauh hari, atau berharap sudah terkena virus parah sampai tidak bisa dibuka lagi, atau apalah. Yang nyatanya masih menempel juga dan berkerak di lapisan paling tersembunyi dan seringnya muncul seperti jurus wing chun, bertubi-tubi, sampai sakit dan memar-memar hati ini jadinya. Sialan memang. Tapi coba, coba, coba kamu bayangkan bagaimana sedihnya terpaksa mengalami perpisahan yang harus dilakukan sendirian?

Saya, biasanya nggak terlalu suka dengan film yang ceritanya nggak happy ending. Nggak entertaining jadinya. Tapi lebih kesel lagi sama film yang endingnya enggak jelas. Mati aja yang buat filmnya. Di dunia nyata udah terlalu banyak kejadian nggak happy ending dan ending nggak jelas, ngapain di-film-in. Bikin kesel dan jadi keinget-inget sama realita yang ada, bukan justru menghibur.

“8-9-10” See, hanya gara-gara ada yang nyebut tanggal hari ini tiba-tiba terputar lagi waktu-waktu lampau di masa itu, ketika tidak pernahnya saya mencoba mengungkit masa lalu seseorang, ketika hanya bergelayutnya saya pada rasa percaya hingga kemudian menjalani masa ketika sedang bersama, yang nyatanya tak juga bisa membuat saling bersanding dan saling memeluk masa depan.

Beberapa menit yang lalu, tiba-tiba jadi seperti diserbu perasaan untuk bertemu, bertukar sapa, bicara normal tentang waktu-waktu yang telah dilewati sendiri-sendiri, seperti teman yang telah lama tidak bertemu, yangmana juga kebetulan sangat tidak mungkin terjadi cause we dont have any history as a friend! Ah pake tanda seru ya tadi? Keliatan jadi kayak orang yang pshyco banget ya tadi? Hihi, enggak apa-apa, sesekali. Iya menit yang lalu tiba-tiba muncul perasaan aneh itu yang sanggup menggerakkan saya untuk menjemput ponsel yang berdiam diri di pojok kursi, namun baru mengetik 17 karakter menyisakan 143 karakter di fitur pesan baru, jari-jari langsung terasa kelu dan gemetaran. Nyali saya ciut kayak kerupuk kena aer. Nggak mampu menghadapai kenyataan jika nantinya pesan dibalas dengan nada dingin, atau lebih parah jika pesan tak berbalas. Enggak sanggup. Aduh, after the whole years, still... Akhirnya niat mengirim pesan itu pun diurungkan. Biarlah ending-nya tetap seperti sekarang ini.

Anyway, have you heard? Delapan katanya angka keberuntungan... Katanya.


as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends
Green Day - Wake Me Up When September Ends

0 comments: