27.9.10

karena yang ideal pun akhirnya tidak idealis lagi.

Waktu jaman kuliah, enggak takut saya sama orang pinter. Enggak takut saya sama orang yang pinteeerrrrr banget (aja).
Yang mengerikan itu kalo orangnya pinter tapi bisa multitask(s)ing dan peka sama lingkungan sekitarnya. Ideal. Ideal untuk jadi mahasiswa.
Tapi kalo udah 'lepas' status mahasiswanya sangat besar kemungkinan yang ideal ini jadi enggak idealis lagi.
Ternyata segalanya belum pasti seperti halnya matahari yang terbit di Timur dan terbenam di Barat. Karena kita masih sama-sama meraba-raba untuk mencari pegangan tiang yang paling kokoh.

25.9.10

misunderstanding.

Well, I'm a girl, female, and I'm not supposed to be predictable.
I'm sure this has been a misunderstanding.

"jangan jauh-jauh, ntar susah ngejernya..."
Layangan kali, dikejer...

20.9.10

lebaran, 2010.

Sebagai keluarga besar di Lampung, agenda rutin kumpul keluarga biasanya selalu riweuh dengan ngomongin orang, ngomongin orang, dan ngomongin orang.
Sebenernya agendanya bervariasi, tapi intinya balik-balik jadinya ngomongin orang juga.
Inti dari kegiatan reuni itu kan mengungkit-ungit kejadian di masa lalu baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.
Part mengenang ini pasti ada unsur ngomongin orangnya, susah dihindari.
"Inget gak waktu kita ke lebaran tahun lalu.. Ih rame ya, seru gitu. Tapi si itu kenapa ya gak dateng.. Sombong ya si dia sekarang. Blablabla"
"Si itu yah kemaren katanya baru ganti mobil. Yang lama gak dijual gitu. Duitnya ngegunung ya.." -bahasanya dong, ngegunung...-
Panjang. Gak abis-abis. Penuh dengan canda namun sinis dan miris.

Inti dari kegiatan kumpul keluarga yang kedua, adalah jadi ajang memberikan petuah dan mengasah ingatan para tetua pemberi petuahnya.
Saya sebagai calon generasi penerus, sudah pasti masuk daftar yang diberikan kuliah dan ceramah tentang kehidupan.
Jadilah, biasanya, sementara adik-adik sepupu yang lain bisa berlari-larian ketawa ketiwi numpahin makanan atau ngepabalatakin (berantakin) barang, saya sama beberapa sepupu yang seumuran biasanya justru harus duduk manis dan pura-pura sumringah mendengarkan ceramah.

Dan percakapan, mulai dari awal yang dibahas dan dibuka tentang agama politik keamanan negara dan ngebandingin kondisi jaman sekarang dengan jaman mereka dulu sambil curhat colongan, biasanya akan berujung sampai pada pembahasan tentang calon suami dan calon istri.
Menurut uwak saya yang memulai hidupnya di awal tahun 70an, istilah memulai hidup ini muncul untuk mendeskripsikan kehidupan yang baru dimulai setelah menuntaskan pendidikan formal (kuliah) dan baru akan memulai membangun kehidupan sendiri dengan modal gelar pendidikan serta bekal pengalaman selama menjalani pendidikan formal tersebut. Singkatnya mah, hirarki memulai hidup itu dimulai ketika beres kuliah dan mulai mau kerja, karena setelah itu tahapannya adalah menikah, berkembang biak, dan usaha untuk ngebesarin anak.

"cari pacar yang polisi. akpol-akpol gitu.. Sekarang lg 'in' banget kan"
"kalo jaman dulu yang lulusan ITB atau yang kedokteran yang paling dicari, kalo sekarang yang top itu yang abis lulus udah pasti dapet kerja seperti lulusan AKPOL, STAN, STPDN itu.."

Cihuy. Para tetua ini sepertinya hidup di goa setahun belakangan ini atau keasyikan beribadah sampe-sampe gak nonton berita di televisi. Rasanya berita setahun ini yang terus-terusan hangat dengan temperatur terjaga ya berita tentang pekerja pajak dan para penegak hukum yang tersangkut kasus sampai-sampai membuat cacat instansi mereka seumur-umur. Saya melirik sepupu-sepupu yang lain dan mereka membalas dengan senyum-senyum yang ntah apa maknanya...

Alhamdulillah Ya Allah, masih diberi rezeki sehat untuk menikmati hari kemenangan.

9.9.10

rides off and a smile.

Weeping willow tree down at the lakes edge, Vada and Thomas J are sitting under resting quietly.
Vada : Why do you think people want to get married?
Thomas J : Well when you get older, you just have to.
Vada : I'm gonna marry Mr. Bixler.
Thomas J : You can't marry a teacher, it's against the law.
Vada : It is not.
Thomas J : Yes it is, cause then he'll give you all A's and it won't be fair.
Vada : Not true. (nervously, uncertain) Have you ever kissed anyone?
Thomas J: Like they do on TV?
Vada : Uh huh.
Thomas J : No.
Vada : Maybe we should, just to see what's the big deal.
Thomas J : But, I don't know how.
Vada : Here, practice on your arm like this.
Vada brings her forearm up to her mouth and starts to kiss it, Thomas J follows.
Thomas J : Like this?
Vada : Uh huh.
They kiss their arms for a while...
Vada : Okay, enough practice. Close your eyes.
Thomas J : But then I won't be able to see anything.
Vada raises her fist
Vada : Just do it.
Thomas J : Okay, okay.
Vada : Okay on the count of three. One... Two... Two and a half... Three!



Vada leans forward and kisses Thomas J on the lips, they both look surprised, Vada then sits back against the tree, long pause.
Vada : Say something it's too quiet!
Thomas J : Umm, Ummmmm
Vada : (agitated) Just, hurry.
Thomas J stands up and begins to say something along the lines of...
Thomas J : On political agents to the flag of the United States of America,
Vada stands up and joins in...
Thomas J and Vada : And to the republic for which it stands, one nation, under God, individual, with liberty and justice for all.

When they finish, they both still look a uncomfortable. Road day, Vada and Thomas J are wheeling their bikse back down it...
Vada : You better not tell anyone.
Thomas J : You better not either.

Vada : Well, let's spit on it.
Thomas J : Okay.
Both of them raise their hands to their mouths and spit on them, they then shake hands and when finished wipe them off on their trousers...
Vada : Seeya tomorrow.
Thomas J : Okay, seeya.
Vada starts off down the road.

Thomas J : Vada?
Vada : What?
Thomas J : Would you think of me?
Vada : For what?
Thomas J : Well if you don't get to marry Mr. Bixler.
Vada smiles, and gets on her bike
Vada : I guess.
As Vada rides off, Thomas J smiles

my thousand times re-posting this script.
My Girl The Movie.

8.9.10

in fact, it aint working.

Sudah bertahun, berkarat, berdebu. Debu buat saya adalah pemicu asma, pemicu petaka. Makanya yang berdebu baiknya dijauhi, dihindari. Lalu yang masih nyata dijaga-jaga biar tak berdebu, tak memicu petaka.

But again, time goes by.

Mau dihindari gimana juga, berjalannya waktu tentu tak terabaikan. Mau sembunyi kemana juga, berlangsungnya hari tak bisa dihindari. Mau menutup mata, menutup telinga, imajinasi dan pikiran, naluri ini terus memanggil-manggil dan berbisik-bisik dalam hati. Berbisik-bisik bertanya atau justru menyatakan? Entahlah.

“Delapan? Delapan September...”
Kadang-kadang, saat sedang menyelonjorkan kaki di kursi depan TV, menangkap gerakan dan bahasa tubuh yang mirip-mirip, serupa tapi tak sama, sebelas dua belas, rasanya tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar di dalam hati dan jadi mengulum senyum, “Apa kabarnya dia..?”.

Seseorang pernah bercerita panjang lebar tentang kawan baiknya yang merasa sedih luar biasa ketika suatu kali harus ditinggalkan oleh orang yang disayanginya. Lebih parah rasa sedihnya dari ketika dulu ia harus berucap pisah dan meninggalkan orang-orang yang ia juga sayang. Membuat saya mengetuk-ketukkan jari tangan di atas meja, menjumlah-jumlah bilangan di depan mata, sibuk-sibuk mencari aktivitas lain agar tidak justru jadi mengingat-ingat memory sedih yang inginnya sudah terhapus jauh-jauh hari, atau berharap sudah terkena virus parah sampai tidak bisa dibuka lagi, atau apalah. Yang nyatanya masih menempel juga dan berkerak di lapisan paling tersembunyi dan seringnya muncul seperti jurus wing chun, bertubi-tubi, sampai sakit dan memar-memar hati ini jadinya. Sialan memang. Tapi coba, coba, coba kamu bayangkan bagaimana sedihnya terpaksa mengalami perpisahan yang harus dilakukan sendirian?

Saya, biasanya nggak terlalu suka dengan film yang ceritanya nggak happy ending. Nggak entertaining jadinya. Tapi lebih kesel lagi sama film yang endingnya enggak jelas. Mati aja yang buat filmnya. Di dunia nyata udah terlalu banyak kejadian nggak happy ending dan ending nggak jelas, ngapain di-film-in. Bikin kesel dan jadi keinget-inget sama realita yang ada, bukan justru menghibur.

“8-9-10” See, hanya gara-gara ada yang nyebut tanggal hari ini tiba-tiba terputar lagi waktu-waktu lampau di masa itu, ketika tidak pernahnya saya mencoba mengungkit masa lalu seseorang, ketika hanya bergelayutnya saya pada rasa percaya hingga kemudian menjalani masa ketika sedang bersama, yang nyatanya tak juga bisa membuat saling bersanding dan saling memeluk masa depan.

Beberapa menit yang lalu, tiba-tiba jadi seperti diserbu perasaan untuk bertemu, bertukar sapa, bicara normal tentang waktu-waktu yang telah dilewati sendiri-sendiri, seperti teman yang telah lama tidak bertemu, yangmana juga kebetulan sangat tidak mungkin terjadi cause we dont have any history as a friend! Ah pake tanda seru ya tadi? Keliatan jadi kayak orang yang pshyco banget ya tadi? Hihi, enggak apa-apa, sesekali. Iya menit yang lalu tiba-tiba muncul perasaan aneh itu yang sanggup menggerakkan saya untuk menjemput ponsel yang berdiam diri di pojok kursi, namun baru mengetik 17 karakter menyisakan 143 karakter di fitur pesan baru, jari-jari langsung terasa kelu dan gemetaran. Nyali saya ciut kayak kerupuk kena aer. Nggak mampu menghadapai kenyataan jika nantinya pesan dibalas dengan nada dingin, atau lebih parah jika pesan tak berbalas. Enggak sanggup. Aduh, after the whole years, still... Akhirnya niat mengirim pesan itu pun diurungkan. Biarlah ending-nya tetap seperti sekarang ini.

Anyway, have you heard? Delapan katanya angka keberuntungan... Katanya.


as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends
Green Day - Wake Me Up When September Ends

5.9.10

setelah (hampir) 2 bulan..

I dont remember how many lies I've said to her in all my life.
Tapi yang terakhir itu seolah balas dendam rupanya.
Sepanjang usia-usia dewasa saya ini, banyak sekali fakta bahwa Beliau pernah tidak mengungkapkan yang sejujurnya yang ditimbang dari sisi manapun memang selalu untuk kebaikan di satu sisi, sisi saya, sebagai anak. Dianggapnya biar saya tenang, selalu optimis, dan tidak berfikir jelek. Maksudnya melindungi, dipandang dari sisinya, berbohong untuk melindungi itu tidak apa.
Padahal dulu itu ketika saya sadar saya pernah dibohongi rasanya sedikit tipis-tipis muncul kecewa.

"Kok jadi sering main rahasia-rahasiaan sih sama Ibu sekarang?"
Nyengir, padahal Ibu di ujung telepon sana tentu tidak bisa melihat ekspresi saya.
"Nggak kok Bu.. Kan aku masih bisa handle sendiri.."
"Ibu ini kalo dikasih taunya setengah-setengah malah khawatirnya bisa berkali-kali lipet loh nak..."
Inginnya dianggap sudah dewasa, yang bisa meng-handle suasana hati dan masalah sendiri, dan berusaha menata mood agar tidak mempengaruhi orang-orang di sekitar, orang-orang yang disayang, terutama. Taunya, ah sialan, taunya khilaf, lupa kalau Ibu juga orang yang dewasa yang bisa diajak berpikir dewasa. Yang kalau diberi tau baik-baiknya saja bukan hanya akan berpikir optimis seperti anak kecil tapi justru akan berpikir lebih jauh dan preventif dengan dampak negatif dan intrik-intrik yang ada di dalamnya.

Seperti kata seorang senior-alumni-yang-jauh-banget-angkatannya-di-atas-saya, biasanya ketika jadi anak kos, bertahan hidup prihatin dengan hanya makan mie instan karena jatah bulanan menipis demi memenuhi kebutuhan yang lain, tanpa disadari hal kecil seperti itu adalah bentuk dari 'menzhalimi diri sendiri' yang kalo orang tua di rumah tau mungkin akan merasa bersedih hati dan akan merasa tidak berguna seolah tidak bisa menafkahi dengan baik keluarganya. Karena kalau sakit juga nanti kan yang akan disusahkan orangtua?

Tapi, gimana ya, susah mengungkapkan kepada 'mereka yang ada di rumah' jika saat ini ada bagian kecil dari diri saya yang hanya ingin berbagi berita baik saja kepada mereka, ingin segera bisa bertanggung jawab atas diri sendiri secepatnya lalu segera bisa multitasking menjadi anak sekaligus orang yang bisa diandalkan, bukan lagi beban. That's it. Sempet kepikiran untuk mengurangi komunikasi biar enggak ditanya banyak-banyak jadinya enggak banyak bohong, but I can not to.

Ah, banyak mau kamu sheilla...