6.8.10

agar tidak lupa.

Ada yang bilang, "cobalah ditulis"
Banyak yang berpesan untuk "ditulis biar ingat"

Satu kali, dua kali, berkali-kali. Tapi saya masih enggan. Masih ingin menata, menyusun, dan mengingatnya dalam kepala, memutarnya kembali sebagai ingatan indah, agar dapat me-recall tanpa perlu dikoneksikan dengan outernal body. Masih berusaha. Lalu menyerah. Bukan karena terlalu bangga, hanya berusaha agar tidak lupa.

Oktober 2006, detik-detik pengambilan keputusan, seorang kawan mengirimkan pesan singkat,
"gue masih pengen wisuda bareng lo dan diarak sebagai kamerad".
Ternyata indah sekali jalan yang diberi-Nya. Dipertemukannya saya dengan banyak kerikil-kerikil, batu besar, dan bahkan bola api. Tapi lalu diberi-Nya saya kawan-kawan hebat para pengendali angin, air, bumi dan api. HAHA. Kawan-kawan hebat dari seluruh penjuru Jalan Ganeca 10. Kawan-kawan hebat, terutama kawan-kawan yang berporos pada sebuah bangunan di sebelah tenggara kampus berdinding jingga yang reyot berbau tidak sedap suram dan angker namun hangat seperti pantat ayam, atau pantat sapi, entahlah.



Lalu setelah beberapa kali pesimis, pesmis, pesimis dan berkali-kali juga optimis, sangat optimis, dan kelewat optimis... Berlangsunglah hari -hari dimana saya terus berlari tergopoh-gopoh menjinjing Tugas Akhir dalam kepala, membawanya kemana-mana dan mencernanya dimana-mana ketika makan minum duduk melamun dan bahkan dalam kamar mandi serta dalam mimpi sekalipun, tiba-tiba datanglah si seminar yang tiba-tiba mencegat, sidang yang tau-tau menabrak, sampai kemudian hadir si jeda panjang yang memberi saya waktu menyelonjorkan kaki dan meniup-niup asap mengepul. Jeda panjang si pembodohan. Karena setelah si pembodohan itu, menyusullah si masalah bola api yang datang sembunyi-sembunyi di sebuah pagi hari yang mendung dan berawan hitam sepanjang siang.
Awan hitam pada hari dimana harusnya sidang yudisum berlangsung adalah sebuah pertanda buruk, trust me it is. Namun bola api ini nyatanya bisa dilindas begitu saja oleh beberapa kawan hebat nan sakti si pengendali api dan pengendali air hingga mampuslah si bola api. Hus hus, petaka pergilah kau. Tapi selanjutnya muncul bola api yang lebih dewa. Dan bola api dewa ini tidak bisa dikendalikan oleh kawan-kawan saya yang sakti. Mereka hanya kawan-kawan. Meski sakti, mereka bukan dewa. Bola api dewa buatan dewa hanya bisa dikendalikan oleh dewa. Dan dewa dalam kampus ini susah diterka wujudnya, berubah-ubah warna dan pandai menyamar seperti si mystique dalam x-men.

Namun, yah, sudahlah. Meski pada realitanya selebrasinya tak sesuai dengan ekspektasi, sepanjang hari itu harus dinikmati dan disyukuri. Terutama ketika melihat senyum bahagia ayah dan Ibu. Senyuman tabungan kebahagiaan dan menjadikan yang lain tak penting lagi. Akhirnya... Tanpa di-yudisium-kan sebelumnya, pada suatu hari Jumat yang anomali dan pendek, jadi juga si neng di-ST-kan. Aheeey. Alhamdulillah.


Special moment, 16 Juli 2010, gerbang utama kampus Jalan Ganeca No 10, Bandung.

Terimakasih Salam Kameradnya, Kamerad. So long, brothers!


"Iringi jalanku menggenggam dunia...
"

4 comments:

BlogAingKumahaBedoe said...

so sweat...

urang ntar dikasi salam kamerad ga yah
hiks...

HUJAN DAN MALAM said...

tergantung du.
mun nu ngarak maneh lain 07 mungkin dikasih.huahahahhaa.;DD

s h e i y said...

kamu kan kamerad juga buat aku, vidia..
:-*

BlogAingKumahaBedoe said...

bagi urang, maneh, temen2 07 yang lain, maupun 08 pun kamerad..
temen2 yang udah berjuang bersama di img..

*jadi intina mah, nu ku urang anggap kamerad, mere salam kamerad ka urang, urang atoh pisan*