19.8.10

posisi nol derajat.

"Harus seperti itukah kepada adik? Mengerti sekali, dua kali, berkali-kali. Tidak bisa mengungkapkan beban-beban dalam hati jiwa dan raga, hanya harus mengerti, berusaha mengerti, dan wajib mengerti. Memberikan pengertian, penjelasan, menyabarkan, mengarahkan. Biar mereka lebih baik, biar mereka lebih benar, biar mereka tidak jadi keledai. Biar mereka jadi 'lebih besar'. Namun secuil sejarah yang aku punya, yang dia bilang panjang-panjang seolah-olah bukan apa-apa, untukku selalu memiliki makna sebesar Jupiter, seluas benua Asia, dan sedalam lubang hitam di angkasa yang berujung pada entah-siapa-yang-tau. Tahukah dia tentang itu? Tahukah kau, adikku?"


bravery99 on deviantART

"Rambutmu basah, aku balur dengan air bersih. Biar segar kepalamu. Kau balas siram kepalaku dengan air sabun. Biar jernih pikiranku, katamu, sambil tertawa-tawa kesenangan. Mungkin memang beginilah sepertinya seharusnya, dimana aku hanya bisa berucap sebuah judul lagu yang dinyanyikan seorang artis yang juga kebetulan adalah mantannya seorang sahabat, 'semoga kau mengerti', hihi, yang ntah kapan."

18.8.10

Live your life.. With or without. Ciao!

“Orang sombong itu, ada saatnya nanti dia jatuh dan gak ada orang yang mau ngebantunya untuk bangkit”

Ayah bilang ini ketika Beliau marah. Marah dan kesal sambil berusaha menyembunyikan emosinya di balik kata-katanya yang berusaha terkesan datar, padahal tidak. Kata Ayah, Ayah sayang sama mereka seperti anak Ayah meski tidak sepenuhnya sama. Mereka bukan saudara kandung, tak ada hubungan darah kata Ayah. Tapi Ayah tau Ibu mereka baik. Saya pun tau sekali Ibu mereka begitu baik. Ibu mereka orang baik. Untuk itu Ayah beri kasih dan sayang biar mereka bersyukur atas apa yang mereka miliki, dan memberikan kasih dan sayang yang sama untuk orang lain, entah siapa. Lalu mereka menyakiti hati Ayah. Dengan lirih Ayah berkata, “Sama seperti diludahinnya muka Ayah kalo kayak gitu”. Ada pepatah, “the ones who can hurt you the most are the ones you love the most”. Ternyata tidak perlu yang ‘paling’, yang ‘cukup’ dicintai pun bisa menyakiti. At first I ignored this thing. Ga ada ‘impact’ langsung ke saya setelah berlalunya hal ini. But now I know, Ayah hanya tidak ingin terjadi lagi hal yang sama, enggak mau anaknya nanti jadi sombong luar biasa dan seolah tidak butuh dan mau bantuan siapa-siapa lagi. Karena ada yang pernah bilang juga, ‘Hutang materi, malu hati. Hutang budi, beban hati’. Abaikan kata-kata itu. Orang yang tau diri dan tau balas budi pasti tak akan bermalu hati dan membebankan hati.

"Yang penting kalian sehat selalu dan sukses dunia akhirat" Doa Ayah yang manis.

6.8.10

agar tidak lupa.

Ada yang bilang, "cobalah ditulis"
Banyak yang berpesan untuk "ditulis biar ingat"

Satu kali, dua kali, berkali-kali. Tapi saya masih enggan. Masih ingin menata, menyusun, dan mengingatnya dalam kepala, memutarnya kembali sebagai ingatan indah, agar dapat me-recall tanpa perlu dikoneksikan dengan outernal body. Masih berusaha. Lalu menyerah. Bukan karena terlalu bangga, hanya berusaha agar tidak lupa.

Oktober 2006, detik-detik pengambilan keputusan, seorang kawan mengirimkan pesan singkat,
"gue masih pengen wisuda bareng lo dan diarak sebagai kamerad".
Ternyata indah sekali jalan yang diberi-Nya. Dipertemukannya saya dengan banyak kerikil-kerikil, batu besar, dan bahkan bola api. Tapi lalu diberi-Nya saya kawan-kawan hebat para pengendali angin, air, bumi dan api. HAHA. Kawan-kawan hebat dari seluruh penjuru Jalan Ganeca 10. Kawan-kawan hebat, terutama kawan-kawan yang berporos pada sebuah bangunan di sebelah tenggara kampus berdinding jingga yang reyot berbau tidak sedap suram dan angker namun hangat seperti pantat ayam, atau pantat sapi, entahlah.



Lalu setelah beberapa kali pesimis, pesmis, pesimis dan berkali-kali juga optimis, sangat optimis, dan kelewat optimis... Berlangsunglah hari -hari dimana saya terus berlari tergopoh-gopoh menjinjing Tugas Akhir dalam kepala, membawanya kemana-mana dan mencernanya dimana-mana ketika makan minum duduk melamun dan bahkan dalam kamar mandi serta dalam mimpi sekalipun, tiba-tiba datanglah si seminar yang tiba-tiba mencegat, sidang yang tau-tau menabrak, sampai kemudian hadir si jeda panjang yang memberi saya waktu menyelonjorkan kaki dan meniup-niup asap mengepul. Jeda panjang si pembodohan. Karena setelah si pembodohan itu, menyusullah si masalah bola api yang datang sembunyi-sembunyi di sebuah pagi hari yang mendung dan berawan hitam sepanjang siang.
Awan hitam pada hari dimana harusnya sidang yudisum berlangsung adalah sebuah pertanda buruk, trust me it is. Namun bola api ini nyatanya bisa dilindas begitu saja oleh beberapa kawan hebat nan sakti si pengendali api dan pengendali air hingga mampuslah si bola api. Hus hus, petaka pergilah kau. Tapi selanjutnya muncul bola api yang lebih dewa. Dan bola api dewa ini tidak bisa dikendalikan oleh kawan-kawan saya yang sakti. Mereka hanya kawan-kawan. Meski sakti, mereka bukan dewa. Bola api dewa buatan dewa hanya bisa dikendalikan oleh dewa. Dan dewa dalam kampus ini susah diterka wujudnya, berubah-ubah warna dan pandai menyamar seperti si mystique dalam x-men.

Namun, yah, sudahlah. Meski pada realitanya selebrasinya tak sesuai dengan ekspektasi, sepanjang hari itu harus dinikmati dan disyukuri. Terutama ketika melihat senyum bahagia ayah dan Ibu. Senyuman tabungan kebahagiaan dan menjadikan yang lain tak penting lagi. Akhirnya... Tanpa di-yudisium-kan sebelumnya, pada suatu hari Jumat yang anomali dan pendek, jadi juga si neng di-ST-kan. Aheeey. Alhamdulillah.


Special moment, 16 Juli 2010, gerbang utama kampus Jalan Ganeca No 10, Bandung.

Terimakasih Salam Kameradnya, Kamerad. So long, brothers!


"Iringi jalanku menggenggam dunia...
"

5.8.10

I am not Bella Swan, jadi please jangan paksa dan tanya-tanya aku mau pilih yang mana..

Dulu, buat saya, salah satu hal kecil yang menurut saya bisa menjadi celah besar adalah ketika seseorang menggunakan sepatu tanpa kaos kaki.
Kecil, tapi sangat mengganggu. Namun yang kecil ini lama-lama jadi mengecil, dan lama-lama seiring dengan waktu malah menghilang tak kasat mata.
Karena toleransi, karena kebiasaan, karena terlalu sering menikmati pemandangan dimana banyak kaki bersepatu tanpa kaos kaki, jadinya baal dan terbius dengan tampak kaki bersepatu tanpa kaos kaki. Lama-lama pemandangan itu jadi bukan hal yang mengganggu lagi.

...

"Waktu gue inget pas jaman dulu gue nangisin dia, gue bisa ketawa dan ngakak betapa bodohnya gue nangisin orang kayak dia. Tapi pas nginget-nginget gue ketawa-ketawa sama dia, ketawa-ketawa karena tingkah lakunya, ketawa-ketawa mengingat betapa dia mengisi hidup gue dengan banyak warna, maka gue bisa nangis gak bersuara, sakit banget, nyeri gitu, duh..."

dan jawabannya pun menyayat dan mengiris-iris,
"kayaknya lo betah jadi keledai"
"Lo tau gak, dulu gue pernah ribut besar gara-gara dia pake sepatu gak pake kaos kaki. Dulu gue jijik banget gitu. Hahaha. Tapi trus gue pernah dibuat ngakak juga gara-gara dia memaksakan pake kaos kakinya yang bolong dan karetnya udah melar gara-gara gue ngerasa keganggu banget sama orang yang bersepatu tanpa kaos kaki.. Gileee.. HAHAHA. Huhu.. Uhuhhuhuhuuu.. uhuk uhuk"
"Lo masih manusia, lo masih ngerasa, dan itu bagus. Tapi jangan lama-lama dan jangan diterus-terusin, nanti meledak dan meletup-letup sampai akhirnya lo jadi harus memilih. Mampus lo"
"Hahaha. Boleh gak doainnya mampus krn harus milih tawaran-tawaran pekerjaan aja? Jangan yang itu.."



Kecup hangat
, ST.