11.6.10

zoom-in and zoom-out.

Pagi itu berada di salah satu tempat paling tidak nyaman yang saya pernah singgahi.
Tidak nyaman bukan karena atapnya yang beberapa sudah bocor dan jadi ditambal sulam, bukan juga karena temboknya yang tampak visualnya udah enggak karuan, bukan juga karena tidak amannya, dan yang pasti bukan juga karena joroknya orang-orang yang dikatakan sebagai pemiliknya. Pemilik, gitu? Tapi kenapa mereka tidak memperlakukan tempat itu seperti selayaknya mereka memperlakukan sesuatu yang mereka miliki? Terus masuk ke dalamnya. Penuh, sesak, semuanya terlelap. Tidak perlu menatap mata-mata mereka satu persatu untuk tau siapa mereka. Lekuk-lekuk tubuh yang saya familiar betul. Bukan orang baru. Bukan orang asing. Merasa lega, hanya sedikit, karena lalu tergelitik, apa kabarnya kalau mereka-mereka ini sudah tidak lagi ada di sini.


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..


PLAK! Bukan, itu bukan suara orang ditampar. Tapi sebuah suara paling tidak asing yang belakangan selalu saya dengar tiap kali berkunjung ke salah satu tempat paling tidak nyaman itu. Kerumunan yang ber-centroid pada balak-balak goplak. Lalu ada yang hanya duduk. Lalu ada yang asik dengan gadget masing-masing. Lalu ada yang tampak baru datang, melihat situasi dari kejauhan, terlihat ragu, kemudian menarik kakinya dan bermanuver menuju arah yang lain. Terus iseng aja ngeliat poster, poster sosialisasi pemilu.
"Eh, pemilu? Pemilu kapan jadinya?" Nanya ke orang yang lagi duduk paling dekat dengan posisi saya berdiri. "Eh, nggak tau, itu tanggal berapa di situ?" Dia menjawab tanpa bergeming. Saya pura-pura tidak mendengar jawabannya. Menyadari bahwa dia orang yang harusnya orang paling tau bahkan seolah-seolah tidak pernah tau tentang keberadaan poster itu membuat saya sedikit kecewa. Kemudian mata ini mencari-cari si pembuat poster, atau temennya si pembuat poster, atau orang yang berperan sebagai model dalam poster, berasumsi informasi yang mereka punya mungkin lebih banyak lagi. Ah, kecewa lagi. Kayaknya mereka pelit informasi, karena setelah nyari-nyari kemana-mana, mata ini tidak juga menemukan anak-anak muda si sumber informasi itu. Ah, pelit kali pun informasinya disimpan sendiri.


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..


Kamu tau proses rektifikasi? Rektifikasi merupakan salah satu proses pemberian koreksi geometris pada sebuah image atau citra satelit. Dalam prosesnya, salah satunya bisa dilakukan dengan model matematis polinomial menggunakan beberapa titik. Titik-titik yang dimaksud disini adalah koordinat yang dianggap benar sebagai referensi, dan titik-titik tampak pada image atau citra yang akan dikoreksi. Root Mean Square Error (RMSE) value dari model matematis tersebut kemudian dijadikan acuan untuk menilai apakah hasilnya sudah baik atau belum. Dalam beberapa literatur tugas akhir yang saya baca, seringkali hasil yang buruk pada RMSE ini dianalisis sebagai akibat dari pemilihan titik yang kurang (tidak) tepat.
Hmm..Pemilihan titik yang tidak tepat.. Kenapa bisa terjadi? Alasannya bisa beragam, tapi yang pasti, mengidentifikasi secara visual sebuah piksel-piksel gambar memang tidak lebih mudah dibandingkan mengidentifikasi deretan angka. I mean it. Dan ada sebuah kunci juga disitu. Dalam memilih sebuah titik untuk proses rektifikasi, yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi visual terhadap satu image/citra secara keseluruhan. Dengan melihat image secara keseluruhan kita bisa mengidentifikasi banyak objek dan kemudian memilih satu titik yang akan dijadikan sebagai referensi. Namun ketika hasil hitungannya menunjukkan titik itu ternyata bergeser dan salah, kita harus melakukan zoom-in untuk melihat lebih dekat lagi dan melihat dimana letak kesalahannya baru kemudian bisa membenarkan posisinya. Setelah proses itu dilakukan, proses zoom-out kemudian harus dilakukan untuk melihat lagi titik itu secara keseluruhan, apakah titik tersebut sudah tepat? apakah titik tersebut tidak berbeda jauh dari referensinya?, then if the answer is YES, we can continue to the next points.

You know, maybe we need to do this 'zoom-in' and 'zoom-out' thing to rectify us. And having the best points, best things in common, best corners, to get our best RMSE value? Well, it's just a maybe. I am outside the box, I can see better but I will judge only if you-the one inside the box-are not letting me know the troubles and mistakes you are having right now. That what it is. I miss you all anyway...


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..

0 comments: