18.6.10

matrealistis, who?

Dan pada hari itu dalam sebuah percakapan tentang tempat makan tiba-tiba orang itu bertanya, "Lo bawa mobil apa di Bandung?", hari selanjutnya dia bertanya "cowok lo bawa mobil apa?", dan kali tersebut tidak juga saya coba kaitkan pertanyaan itu dengan apapun. Tapi kemudian percakapan dengan seorang yang lain, yang itu tuh, yang pang mangtabsnyalah gayanya, yang emang isi pembicaraan sama dia sepertinya selalu mengarah ke materi. Apa-apa ngebahas sesuatu yang di luar kapasitas saya sih sebenernya, jadi kadang suka bikin saya mikir 'nih orang pengen bercerita, berbagi pengalaman, atau sekedar show off?'. Padahal kan jarang ketemu ya pengennya ngebahas kabar, situasi, kondisi, eh loh kok ya yang dibahas 'gw kemaren baru beli ini..itu..harganya segini..dsb dsb' atau gak 'ntar gw mau kerja disana soalnya gajinya segini dan segitu blablabla' Nyerah deh... Tapi gak tau kalo emang itu yang bikin dia happy. Yah terserah... I wont fall for your 'everything you've got' anyway.

Lalu di sebuah siang bolong setelah malamnya terjadi tragedi tidak mengenakkan itu, seorang sahabat berkata "dia mikirnya lo mau deketin cowoknya karena duitnya". Terus saya cuma ketawa aja. Cuma bisa ketawa. Enggak pernah deh kepikiran buat ngedeketin orang itu, apalagi untuk ngerasa secure dengan limpahan materi dari dia. Secure yang gimana sih yang saya perlu cari lagi? Jadi ketawa ajalah ya.

I wont judge if I were you, for real. EP di belakang Pertamina yang mana adalah tempat orang yang-si-Ibu-tanyain-terus-kabarnya-kalo-saya-pulang-itu kerja adalah singkatan dari Eksplorasi Produksi, katanya. Tapi ada temen yang bilang kalo buat saya, EP adalah Ekploitasi dan Produksi, dan saya senyum-senyum kalo dia bilang ini. Cause he's a friend, he judged because he knew, and by the way, I dont think it's a judge either. It's a joke. Joke yang kalo diterus-terusin biasanya mengarah ke gimana-kalo-ardi-bakrie-ngelamar-lo dsb dsb, oh yeah, sangat-sangat-mungkin-banget kan?

Makanya waktu orang ini nih -yang entah cuma pengen nyari bahan omongan atau apa- bilang kalo saya belum mau menuju tahap selanjutnya dan masih maen kesana kesini cuma karena pengen yang 'lebih' lagi, saya bengong. Enggak senyum-senyum, soalnya dia ngomongnya asa yang yakin banget gitu. Terus saya cuma bisa ketawa setelah sebelumnya menarik nafas panjang. Kalo saya naga udah pengen nyemburin api ke mukanya kali. Ckck.. Terus flashback, orang ini nih kan yang dulu juga sempet ngerusak pikiran saya dengan statement-nya 'kalo cewek mutusin cowoknya buat jadian sama cowok laen itu pasti cewek gak bener', dan bikin saya nyari contoh real-nya di sekitar, dan rusaklah pandangan saya tentang orang tsb. Gak fair banget. Padahal kalo yang ngejalaninnya happy kenapa enggak sih? Terus dia kemaren banget nyeletuk, 'jadi kayak trophy bergilir, hihihi hihihi', yang jelas langsung saya cerna dulu maksud dan arahan ngomongnya apa. Ckck.. Astagaaaaaa. Ah, udahlah.. Emang kayaknya hobby aja deh dia komentarin gak enak tentang orang... Jadi gapapa kalo dia bilang saya matrealistis juga. Ketawa ajalah yaaaaa... Semoga damai selalu idup mbak deh. Piss love and gahul!


I'll never talk again

oh boy you've left me speechless
you've left me speechless
so speechless

(Lady Gaga, Speechless)

17.6.10

keep questioning.

(Peter and Vandy, 2009)
Vandy: Here we are.
Peter: Here we are. Are there any other things you have to do to get ready for your trip? We could just take it slow try to work through things. I'm sorry. You told me to stop apologizing. I don't know why I keep doing it. I'm not acting like myself.
Vandy: Peter.
Peter: Yeah?
Vandy: Everything that happened with us happened for a reason. This is who we are together. We're just going to stay the same way it's not going to be any different.
Peter: Yeah I know. I understand what you're saying. I understand you. This is what I want. You are the person that I have to be with. Do you feel the same way?


Well, do you feel the same way, dear?

15.6.10

if you can't see it, does it mean it doesn't exist?

Kamis dini hari, Ganesha 10 menuju Bojongwetan 2a.

Saya: Lucu, si boni sakit loh.

Si lucu: .....
Saya: Bukan, bukan karena front lamp-nya yang kemaren cuma redup satu jadi redup dua-duanya atau malah jadi mati dua-duanya, bukan juga karena klaksonnya yang suaranya kayak ayam sakit panas itu, bukan.. Lebih parah, katanya mesinnya lagi rusak gitu. Ada yang retak apaaaa gitu. Hiks,
Si lucu: .....
Saya: Walaupun saingan kelucuan kamu jadi berkurang satu, tapi kamu jadi ga ada temen main ihhh. Cep cep cepp..Jangan sedih, lucu.. Anyway, kamu jangan jadi sakit juga ya? Kamu harus tangguh. Harus kuat. Harus mandiri. Harus bisa percaya sama diri sendiri kalo kamu bisa melewati banyak hal di luar sana. Kamu memang akan selalu punya aku yang akan ngejaga kamu, ngerawat kamu. But it wont stay long. Ada saatnya nanti kamu atau aku harus sama-sama beranjak dari kebersamaan kita ini. Dan kemudian kamu dan aku harus kembali menjadi pemimpin bagi diri kita masing-masing... Jangan lupa takaran simpati dan empatimu tidak boleh berlebih. Satu atau dua sendok bukan masalah, namun takaran ketiganya harus kamu timbang lagi dan lagi biar tepat sasaran. Make me proud, lucu.. Make me proud!
Si lucu: .....
Saya: Ahh.. Si Boni sakit parah.. Semoga cepat sembuh, Boni..

12.6.10

RAWR!

Jadi inget, kemarin temen-temen deket saya lagi banyak yang putus cinta gitu, ckck. Kirain yah, dulu itu pas banyak yang bersemi cintanya dan jadi pada punya pacar itu bakalan nularin ke yang masih madesu. Taunya malah yang udah ke arah yang lebih baik ini jadi ketularan madesu juga, wkwk. Piss ah.. Seorang teman berkata, “Masih banyak ikan di laut.. Yeah..kalo nyarinya ikan..” Ckck..see, komentar madesu dari orang madesu... :D Nah, jauh sebelum itu di TV lagi ada yang ngebahas-bahas tentang patah hati dan enggak tau kenapa pas ada pembahasan tentang patah hati di TV itu trus nyeletuk aja, “Udah lama banget kayaknya sejak terakhir kali ngerasa patah hati...”

Sungguh, culas. Dan pongah. Ah, gak akan lagi-lagi ah pongah.
Kenapa?
Karena taunya beberapa hari setelah itu, ibarat kena batunya, tiba-tiba di luar ekspektasi diketemuin sama mahkluk yang secara fisik bikin mata seger, dengerin suaranya bikin pengen bobo, dsb dsb. Tapi tiba-tiba aja lagi sendu-sendunya nikmatin kehadirannya, tau-tau kayak ada petir nyamber-nyamber gitu. Tiba-tiba muncul suara-suara menggoda yang mengatakan dia baru nikah, pengantin baru, masi anget-angetnya. Dan kemudian keberadaan cincin manis di jari manis tangan kanannya ibarat berteriak lantang, “STAY AWAY, udah ada anjingnya!” Cih, patah dan berserakanlah kemudian hati ini, setelah sekian lama.. Huhu.

Lalu kemudian muncul juga si orang itu, yang keintiman dengan keluarganya bikin ngerasa ademmmm, yang fakta bahwa dia terfasilitasi tapi gak justru jadi bikin dia kayak kaum pada umumnya dan bikin saya jadi kepengen nepuk-nepuk pundaknya dan bilang how great he is now, yang kemudian dengan sangat on time sesaat ketika azan maghrib berkumandang dia langsung bilang, “kita cari masjid dulu?” ckckck.. Bener-bener berubah dia. Tapi taunya eh taunya sama parahnya, sebelas dua belas, bukan ready stock juga doi, jiahhahahaha. Sedikit patah-patahlah kemudian hati ini lagi...

Tapi terus setelah itu muncul si Declan ini. Udah sejak lama banget sebenernya saya jatuh cinta sama nama DECLAN. Kepengen kepengen banget punya anak laki-laki buat dinamain Declan. Atau hewan peliharaan, anjing, kura-kura atau apalah yang bisa dinamain Declan. Tiba-tiba muncullah dia, the man of my dreams. Namanya Declan. Gantengnya standar. Tapi uuuhhhhh... Gitu deh, bikin goyah keyakinan untuk enggak curi-curi pandang ngeliatnya kalo dia terus-terusan memandang dengan tatapan ‘sini-neng-abang-kelonin’. Bhahahaha. Jadi pengen keramas ngebayanginnya. :P


Anyway, enjoy...

Matthew Goode. Role palying as Declan at Leap Year (2010), a man with mustache and beard, just exactly alike the one in my dreams... RAWR!

11.6.10

zoom-in and zoom-out.

Pagi itu berada di salah satu tempat paling tidak nyaman yang saya pernah singgahi.
Tidak nyaman bukan karena atapnya yang beberapa sudah bocor dan jadi ditambal sulam, bukan juga karena temboknya yang tampak visualnya udah enggak karuan, bukan juga karena tidak amannya, dan yang pasti bukan juga karena joroknya orang-orang yang dikatakan sebagai pemiliknya. Pemilik, gitu? Tapi kenapa mereka tidak memperlakukan tempat itu seperti selayaknya mereka memperlakukan sesuatu yang mereka miliki? Terus masuk ke dalamnya. Penuh, sesak, semuanya terlelap. Tidak perlu menatap mata-mata mereka satu persatu untuk tau siapa mereka. Lekuk-lekuk tubuh yang saya familiar betul. Bukan orang baru. Bukan orang asing. Merasa lega, hanya sedikit, karena lalu tergelitik, apa kabarnya kalau mereka-mereka ini sudah tidak lagi ada di sini.


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..


PLAK! Bukan, itu bukan suara orang ditampar. Tapi sebuah suara paling tidak asing yang belakangan selalu saya dengar tiap kali berkunjung ke salah satu tempat paling tidak nyaman itu. Kerumunan yang ber-centroid pada balak-balak goplak. Lalu ada yang hanya duduk. Lalu ada yang asik dengan gadget masing-masing. Lalu ada yang tampak baru datang, melihat situasi dari kejauhan, terlihat ragu, kemudian menarik kakinya dan bermanuver menuju arah yang lain. Terus iseng aja ngeliat poster, poster sosialisasi pemilu.
"Eh, pemilu? Pemilu kapan jadinya?" Nanya ke orang yang lagi duduk paling dekat dengan posisi saya berdiri. "Eh, nggak tau, itu tanggal berapa di situ?" Dia menjawab tanpa bergeming. Saya pura-pura tidak mendengar jawabannya. Menyadari bahwa dia orang yang harusnya orang paling tau bahkan seolah-seolah tidak pernah tau tentang keberadaan poster itu membuat saya sedikit kecewa. Kemudian mata ini mencari-cari si pembuat poster, atau temennya si pembuat poster, atau orang yang berperan sebagai model dalam poster, berasumsi informasi yang mereka punya mungkin lebih banyak lagi. Ah, kecewa lagi. Kayaknya mereka pelit informasi, karena setelah nyari-nyari kemana-mana, mata ini tidak juga menemukan anak-anak muda si sumber informasi itu. Ah, pelit kali pun informasinya disimpan sendiri.


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..


Kamu tau proses rektifikasi? Rektifikasi merupakan salah satu proses pemberian koreksi geometris pada sebuah image atau citra satelit. Dalam prosesnya, salah satunya bisa dilakukan dengan model matematis polinomial menggunakan beberapa titik. Titik-titik yang dimaksud disini adalah koordinat yang dianggap benar sebagai referensi, dan titik-titik tampak pada image atau citra yang akan dikoreksi. Root Mean Square Error (RMSE) value dari model matematis tersebut kemudian dijadikan acuan untuk menilai apakah hasilnya sudah baik atau belum. Dalam beberapa literatur tugas akhir yang saya baca, seringkali hasil yang buruk pada RMSE ini dianalisis sebagai akibat dari pemilihan titik yang kurang (tidak) tepat.
Hmm..Pemilihan titik yang tidak tepat.. Kenapa bisa terjadi? Alasannya bisa beragam, tapi yang pasti, mengidentifikasi secara visual sebuah piksel-piksel gambar memang tidak lebih mudah dibandingkan mengidentifikasi deretan angka. I mean it. Dan ada sebuah kunci juga disitu. Dalam memilih sebuah titik untuk proses rektifikasi, yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi visual terhadap satu image/citra secara keseluruhan. Dengan melihat image secara keseluruhan kita bisa mengidentifikasi banyak objek dan kemudian memilih satu titik yang akan dijadikan sebagai referensi. Namun ketika hasil hitungannya menunjukkan titik itu ternyata bergeser dan salah, kita harus melakukan zoom-in untuk melihat lebih dekat lagi dan melihat dimana letak kesalahannya baru kemudian bisa membenarkan posisinya. Setelah proses itu dilakukan, proses zoom-out kemudian harus dilakukan untuk melihat lagi titik itu secara keseluruhan, apakah titik tersebut sudah tepat? apakah titik tersebut tidak berbeda jauh dari referensinya?, then if the answer is YES, we can continue to the next points.

You know, maybe we need to do this 'zoom-in' and 'zoom-out' thing to rectify us. And having the best points, best things in common, best corners, to get our best RMSE value? Well, it's just a maybe. I am outside the box, I can see better but I will judge only if you-the one inside the box-are not letting me know the troubles and mistakes you are having right now. That what it is. I miss you all anyway...


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..

9.6.10

excuse, pada awal Juni 2010...

Tanggal Lima.
Me: My first time, jadinya aku daftar p*tronas
A friend: Ih, pengkhianat bangsa.
Me: Kok gitu?
A friend: Iya, daftarnya pasti karena tergiur gajinya kan?
Me: Enggak, iseng, kebetulan juga kualifikasinya pas, hehe.

Tanggal Sembilan.
Me: Dan bahkan gak kepanggil untuk tes awal. fcuk.
A friend: Wah, kenapa?
Me: I dont know.
(dalam hati: "mungkin karena dari awal memang merekanya gak mencantumkan kualifikasi bidang geodesi, mungkin juga karena akunya belum resmi lulus dan pegang ijazah, atau gak ya bisa juga karena orang-orang kayak kamu nih yang sejak awal berpraduga aku pengkhianat bangsa jadi doanya udah jelek duluan..Ckck..")

I know, you know, that's just an excuse.. :P