30.5.10

kotak yang dibuang sayang.

Pas kemaren itu kelar tahap satu (baca: seminar tugas akhir), ayah SMS ngasi ucapan selamat dengan peretelan basa-basi mengenai subjek yg saya angkat jadi judul tugas akhir. Ngerasa aneh sedikit tapi, soalnya Beliau menyapa dengan nama 'shey' disela-sela ucapan selamatnya. "dengan tema yang diambil shey dsb dsb dsb", begitu cuplikannya. Curious. Karena ayah selalu mendoktrin sejak kecil dengan panggilan ayu. Enggak pernah sheilla, enggak pernah batin (padahal saya selalu suka dipanggil batin), apalagi teteh atau mbak. Enggak.. Makanya aneh pas tiba-tiba muncul panggilan shey dari ayah yg entah sejak kapan juga itu munculnya.

Eh, sejak kapan sih?

Lalu, jadi muncul juga memory seseorang yang dulu selalu panggil saya bunda. Sampe sekarang dia kekeuh panggil saya bunda. Padahal dia lebih tua dari saya, dan sadar diri sepertinya gak ada juga dari diri saya yang mengindikasikan saya punya sifat keibuan, seriously. Mudah-mudahan sih jadi doa, saya emang kepengen cepet-cepet jadi ibu meski belum kepengen cepet-cepet jadi istri. Haha. Eh apa kabarnya dia ya sekarang? Mau married katanya.

Terus tiba-tiba, kelang beberapa hari dari pertanyaan dan sekilas ingatan itu muncul, tau-tau saya bangun tidur udah ada di tempat tidur yang bau ruangannya saya hapal betul. Ruangan yang ada satu lemari penuh komik di salah satu sudutnya, isi komiknya salad days-the pitcher-detektif conan-doraemon, dan sedikit awut-awutan penuh barang. Sama. Bedanya hanya saat ini kebanyakan barang di dalamnya bukanlah barang-barang saya. Dan satu hal yang sama pula, di salah satu sudut lain dalam ruangan ini masi juga teronggok sebuah kotak. Udah enam tahun, ternyata? Dan ternyata oh ternyata, sepasang tangan nakal yang iseng banget ini lagi dan lagi ngegerayangin isi kotak tsb dan malah jadi menemukan jawabannya di dalam sana. Iya, jawaban dari pertanyaan kenapa saya punya panggilan shey.

Ada sebuah kertas. Isinya kata-kata,

Semalam aku mencoba membuat puisi untukmu. Tetapi setelah 2 jam tanpa hasil, yang tertulis hanyalah namamu, SHEYLA

Gombal, kronis gombalnya. Astrojim. Dan di bawah tulisannya ada nama yang ngasih kata-kata itu. Geli sendiri. Mungkin pas nerima kertas itu pertama kali dulu saya jejingkrakan kali ya, padahal saya yang di masa kini geleuh sendiri ngebacanya. Lebih geleuh lagi pas inget orang yang nulisnya, amit –amit, dia pasti pengen muntah dan akan sumpah serapah kalo saya nunjukkin kertas itu, hahahaha, pasti dia ngerasa aib banget pernah nulis yang kayak begitu untuk orang kayak saya. Iya, sejak itu dia panggil saya shey dan yang lainnya jadi kebawa-bawa ikutan manggil dengan sebutan itu. It’s okay though.

Terus masih banyak banget juga hal lainnya di dalam kotak itu. Termasuk karcis-karcis nonton bioskop, kertas ini dan itu, curhatan dalam buku harian yang isinya kebanyakan keluh kesah tentang pelajaran di sekolah yang gak asik, tentang kebosanan dengan rutinitas belajar demi masuk PTN idaman, atau latian softball yang bikin capek, dan rapat-rapat OSIS yang gak seru, plus kejadian mabal sekolah yang selalu menyenangkan ahahaha. Di dalam kotak itu ada juga tas punggung warna coklat dari seseorang, foto-foto yang buanyaaaaaaaakkk sekale, dan CD-CD yang setelah di-cek taunya juga isinya foto-foto dan lagu-lagu sama video yang aduh duh duh bikin nyeri hateeee. Sesaat setelah selesai ngoprek semuanya tiba-tiba tersadar mata sudah sembab dan ingus meler ga keruan. Shit. Kotak pandora...

Anyway, ada kejutan lainnya juga di dalamnya. Ternyata meskipun ngerasa norak banget karena menemukan dan menyadari betapa dulu saya begitu naif, begitu kekanakan, begitu polos, begitu banyak berharap, begitu berpikir positif, taunya saya bisa juga menemukan bahwa dulu itu saya lumayan keren loh. Ahahaha. Keren? Iya, soalnya ada masa pas saya lagi sedih banget gara-gara seseorang gitu, trus jadi berharap dan mencoba sabar untuk menunggu tapi taunya dia seolah gak peduli dan terus-terusan asik dengan dunianya sampai akhirnya saya memutuskan untuk enggak ngarep lagi dan kemudian jadi mencurahkan suasana hati saya kala itu di sebuah kertas. Kertas robekan, mungkin dari buku harian, entahlah saya lupa. Isinya gini,

Untuk kita yang masih bertahan mencintai yang sudah pergi, hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kita bertemu seseorang lalu jatuh cinta, dan kemudian kita menyadari bahwa dia bukanlah jodoh kita. Dan kita telah menyia-nyiakan bertahun-tahun untuk seseorang yang tak layak. Kalau sekarangpun ia tak layak, lima atau sepuluh tahun lagi dari sekarangpun, IA TAK AKAN LAYAK... Maka biarkan ia pergi dan lupakan

See? Entah itu copy paste atau apa, tapi menggunakan istilah layak dan tak layak pada masa dimana emosi masih begitu labil seperti masa itu adalah sesuatu yang luar biasa buat saya. Luar biasa gila dan jujur. Begitu labil dan berani dengan tidak adanya intervensi maupun ekspektasi pertimbangan apapun untuk melibatkan dia di kehidupan saya selanjutnya. Hanya sebuah harapan mudah-mudahan dia bahagia, saya bahagia, sendiri-sendiri, amien, dan jangan dipertemukan lagi Ya Allah. Iya, yang taunya dikabulin sama Allah, trus taunya malah sempet tiba-tiba jadi pengen diketemuin, minta sama Allah lagi untuk diketemuin kalo emang jodoh, dan ternyata pas diketemuin justru jadi keringet dingin dan ngarep-ngarep bisa punya jurus menghilang. Ckckck.. Dasar manusia. Hey manusiawi banget sih kamu sheilla?

Ah sudahlah. Lima tahun toh sudah berlalu, kamu sudah bahagia, lalu apa?

2 comments:

hanni harbimaharani said...

aku suka tulisan di kertas robekan itu sheiy..

kadang g semua yang kita inginkan bisa jadi kenyataan..

huhuhuhu..

佩怡 said...

It is easier to get than to keep it.......................................................