4.4.10

santai, kok...

Percakapan di pertemuan terakhir dengan si Ibu ketika Ibu datang berkunjung ke Bandung, I was driving and she was talking to my brother by phone.
Ketika dari naga-naganya Beliau akan mengakhiri percakapan dengan si kakak,

Saya: Mom, aku mau ngomong bentar dong sama kakak
--telpon seluler itu pun berpindah tangan--
Kakak: Kenapa, yu?
Saya: Eh kak, si x mau married lohh.. kakak tau? diundang gak?
Kakak: Hah? x?
Di samping saya, tampak lebih terkejut, ibu: HAH x?!?!
Saya: Iya.. si x..
Kakak: Kapan emang?
Saya: Bulan ini, di lampung. Aku lupa tuh tgl-nya tgl brp..
Di samping saya, tampak senyum-senyum, Ibu: Aduuh kakak patah hati nih yeee..
Kakak: Hah? apa, ibu blg apa td?
Saya: Katanya kakak patah hati.. hihihii.
Ibu ketawa gak kontrol, saya terkikik-kikik. Kakak ketawa gak rela.

X disini adalah eX dari si kakak. One of his EX.
Mantannya yang kalo saya inget adalah yang paling berarti buat dia.
Bukan jadi yang pertama dalam daftar. Tapi yang pertama dalam banyak hal yang lainnya.. Hmm.
I was so proud of him that time.
Gaya pacaran kala SMA yang klasik tapi bikin iri.
Si kakak pacaran sama dia dari SMP sampe SMA. Dan dulu itu kendaraan yang dibawa si kakak adalah vespa tua warna (hijau) tosca.
And they were so cute together.
And they made me so jealous.
And they made me wishing for the look-alike-kind-of-relationship of my own.
But the look-alike seems didnt work what it's alike. The ending was the unhappy one.

And suddenly the news came. The good one, I should say.

Percakapan hari itu antara saya, kakak, dan ibu bikin saya berandai-andai tentang suasana hati saya kalau saya yang ada di posisi kakak. Knowing that my own ex would be married... Sebenernya gak perlu diragukan, I'll be happy... But you know, feel weird aja gitu. Iya gak sih?

Ah, I ever asked to my partner, once...
Saya: Gimana rasanya pas tau mantan pacar kamu nikah?
Dia: Yah gitu-gitu aja. Biasa aja.
Saya: Gimana rasanya pas tau mantan pacar kamu nikah dan kamu gak diundang?
Dia: (laughed) Yah jadinya kan ntar kalo saya nikah saya gak perlu ngundang dia.
Got that kind of answer give me a moment and decided to not asking for more.
Dan, barusan ngeliat sekilas acara gosip dan (YEAH YEAH YEAH) isinya (MASIH) seputar pernikahan Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie. Bersyukur nontonnya gak lagi sama Ibu. Udah bisa ngebayangin komentarnya. Uhuk uhuk. Kadang-kadang saya suka bertanya-tanya apa si Ibu lupa kalo anak gadis satu-satunya ini baru di awal-awal twenty something yang kayaknya belum saatnya juga untuk disuruh cepet-cepet 'menuju-tahap-selanjutnya' itu. Zzzz.

Anyway, semalem abis ntn film itu lagi. Ya ampun, karena di kamar gak ada koneksi internet, escaping-nya kalo lg jenuh ngeliatin layar laptop terus-terusan jadinya ya nonton film. Yang kalo dipikir-pikir bodoh juga, kan ceritanya ‘jenuh-ngeliat-layar-laptop’ tapi nonton film kan ngeliat layar juga ya? Ah, at least yang diliat kan gambar berwarna ya, bukan pixel-pixel berwarna hitam-putih-abuabu dan kayak semut-semut itu. Dan yea, ada lines di film itu yang selalu menggelitik tiap scene-nya tertangkap mata... Yang selalu bikin berbisik dalam hati, “Iya bangeeeettt..”. Ngenes.

Farhan: "We learn something about human behavior that day. If your friend fails, you feel sad. But if your friend comes first, you feel even more sad!"
-3idiots-

It happens, in my life. Oh yes... It happens. (--_--")

2 comments:

Anonymous said...

kmu kpan married? invite ak yah

s h e i y said...

kalo kamu orang yg aku kenal pasti aku invite :) :) :)