31.3.10

yang penting happy.

Dulu saya sempet pernah mikir kenapa orang dengan kelamin laki-laki hobby banget mengkategorikan perempuan dari fisiknya. Ide yang muncul setelah masa SMA dimana saya sering banget terlibat pada pertimbangan panjang bersama teman-teman satu geng yang judul acaranya adalah curhat. Dan sesi curhat ini biasanya topiknya gak jauh-jauh dari lawan jenis. Dan kalo pasiennya adalah anggota geng yang cowok-cowok, maka biasanya mereka ngebahas cewek, secara fisik. Biasanya mereka mengkategorikan cewek pada 2 kategori, cantik dan jelek. Mungkin udah familiar banget kalo penilaian cantik adalah relatif sedangkan jelek adalah mutlak. Dan entah karena emang nyadar ganteng dan emang maskulin juga, temen-temen cowok saya waktu SMA lebih sering mengkategorikan cewek sebagai kategori kedua (jelek) daripada kategori pertama. Padahal definisinya jelas..Relatif. Bukannya biasanya orang-orang paling suka wilayah abu-abu ya? Wilayah yang relatif terhadap sesuatu. Wilayah aman dan gak perlu blak-blakan. Wilayah yang kalo menurut citra RADAR, berdasarkan warnanya diklasifikasikan sebagai wilayah yang permukaannya kasar (so what?). Tapi ntah kenapa untuk hal yang satu itu, yang mutlak-lah yang menjadi option yang paling banyak dipilih. Iya, waktu SMA itu berasa gampang banget deh saya denger temen-temen cowok saya mengklaim seorang cewek itu jelek. Bangke. Sepertinya ini bisa jadi salah satu alasan juga kenapa pas SMA saya justru kecantolnya sama adek kelas dan bukan sama teman yang sepantaran. Temen-temen yang sepantaran terlalu bisa dibaca jalan pikirannya, mengerikan. Afgan...SADIS! :P

Nah, meningkat ke masa kuliah, saya nemu fenomena yang baru lagi. Saya pernah baca di sebuah literatur, sebuah fiksi biasanya selalu diharapkan mendekati realita sedangkan sebuah realita di kehidupan seringkali terasa seperti fiksi, dan enggak apa-apa kalo realita itu isinya kayak fiksi. Ternyata, kehidupan saya di masa kuliah ini adalah ibarat fenomena realita yang ada yang selalu terasa seperti fiksi. Temen-temen saya di masa kuliah, punya penyakit yang mirip-mirip juga dengan lelaki pada umumnya yaitu hobby mengkategorikan wanita. Tapi kategorinya jadi lebih luas dan bukan hanya cantik dan jelek. Daftar kelasnya terbagi lagi menjadi beberapa kategori. Misal, ada kategori cantik, kategori highmaintenance, kategori berjilbab, kategori yang biasa aja tapi besak-besak (besak=besar, besar apanya hayoooo???), dan beberapa kategori lainnya sebelum kategori paling mutlak yaitu jelek. Sedikit berlawanan dengan kondisi fisik teman-teman saya jaman SMA dulu yang emang ganteng-maskulin-dan-idaman-para-remaja, kondisi temen-temen saya di masa kuliah ini terlalu bervariatif yang seringkali mengingatkan saya tentang tulisan di literatur yang saya baca tentang realita yang terasa seperti fiksi. Seringkali, di luar dugaan dan di luar ekspektasi, terjadilah fiksi dalam realita hidup dimana kategori-kategori yang kalau dicocokkan dengan kelas-kelas tertentu terasa mustahil namun nyatanya bisa terjadi. Atau yang bahasa singkatnya, sang pungguk tak perlu lagi khawatir merindukan bulan karena sang bulan ternyata sudah ada di sisinya. Prikitieew iew ieww.

Fenomena baru ini bikin saya bisa bernafas lega. Kadang-kadang saya suka ngerasa dunia ini gak adil kalo lagi jalan dan ngeliat pasangan PWTS lewat di depan saya. Tau kan PWTS? Pria Wanita Tanpa Sela... Sering gak sih ngalamin yang kalo ngeliat cowok ganteng/cewek cantik lagi jalan sama monyetnya rasanya gatel banget pengen komentarin si monyet tapi ternyata monyetnya tak bercelah, mulus seperti porselen, berkilau seperti intan, argh. Rese abis. Nah, fenomena baru ini meski membuat saya cukup berlapang dada karena ternyata dunia ini masih adil dengan adanya fakta bahwa temen-temen cowok saya yang biasa-biasa aja toh ternyata bisa juga dapet cewek cantik-lucu-dan-imut (dan begitu juga dengan yang perempuan), namun juga justru memunculkan pertanyaan baru yang sering bikin saya ngerasa geli sendiri kadang-kadang.

Kenapa ya cewek-cantik-imut-lucu itu sering banyak maunya. Nuntut ini dan itu. Minta ini dan itu. Dan lebih anehnya lagi, kenapa juga cowoknya mau ngikutin maunya cewek-cewek itu? Ah, kalo boleh saya koreksi, mungkin semua cewek ya. Karena sepertinya (sadar diri), saya yang gak termasuk kategori cantik-lucu-dan-imut juga ternyata punya syndrome yang sama. HAHAHA. Untuk syndrome ini, saya punya jawaban sendiri. Ibu selalu bilang: “seorang istri itu kan nantinya harus mengabdi sama suami”. Jadi, buat saya, ya yang sekarang ini bisa dibilang semacam pendadaranlah. Kayak pas jaman OS aja, teorinya kan manusia itu kalo dikasih tekanan terus menerus pasti akan ngasih effort yang lebih, effort terbaik dari dirinya. Makanya saya pengen liat effort yang terbaik yang calon suami (calon imam yang nantinya akan menjadi nahkoda bahtera rumah tangga saya) bisa berikan di masa-masa penjajakan ini sebelum saya nantinya memutuskan untuk mengabdi kepadanya. Ceileeeeeh..

Duh aduh, makin gak jelas ini ngerembet kemana-mana. Ternyata jadi banyak ya topik sekunder yang muncul dari topik primer tentang mengkategorikan lawan jenis. Hihihi.

Anyway, Ibu dulu pernah menasehati si kakak, katanya suruh cari pacar (calon istri) sebelum lulus kuliah, sebelum kerja. Alasannya sih karena nanti kalo udah masuk dunia kerja perhatian kita bakal teralihkan dengan fokus mengejar karir, selain itu kan pergaulan jadi semakin sempit. Belum lagi banyak aturan yang gak boleh suami-istri dalam satu kantorlah, atau lebih parah kalo yang di lingkungan kerjanya banyakan laki-lakinya. Tapi ada alasan keduanya ternyata. Katanya, kalo udah kerja dan ternyata kamu cukup sukses maka cewek-cewek bakal nempel sama kamu. Ini mitos. Justru kamu harus berhati-hati sama fenomena ini. Kamu jadi butuh skill lebih untuk mendeteksi gelagat-gelagat kepalsuan: they dont fall for you, they (might) just fall for your money.

Nah, pesan ini adalah pesan buat para cowok-cowok. Terutama buat kamu, iya kamu yang lagi baca ini dan tiba-tiba jadi keinget tentang temen-temen kamu yang sekarang lagi sama-sama membujang dengan status single-seems-like-forever, dan sama-sama masih kuliah tingkat akhir juga, dan sama-sama sering ngabisin malam-malam dari satu malam minggu ke malam minggu selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya bersama-sama, sesama single-seems-like-forever, selama beberapa tahun ke belakang ini. Kamu-kamu yang sering berimajinasi tentang “ntar anak gue harus blablabla... ntar istri gue blablabla” tapi masih gitu-gitu aja kehidupan percintaannya... Semoga kalian segera dipertemukan, dan saling menemukan. Amien. (Diaminin ini teh!) :) :) :)

Untuk menutup cerita panjang dan gak penting ini, marilah kita sama-sama berduka melepas kepergian teman-teman yang akan diwisuda Bulan April ini.
calon-calon-Wisudawan-April: "Hey kalian, ada salam.."
angkatan-tua-masih-mahasiswa (termasuk saya): "Dari siapa?"
calon-calon-Wisudawan-April: "Dari kita semua. Semoga kalian cepet nyusul. Pada dateng ya hari Sabtu tanggal 10. Ditunggu loh! Tiada kesan tanpa kehadiranmu. Cup cup mwach mwach."

HOEKS. Kamvret.

jes jes jes // Dan kereta April pun berlalu meninggalkan kita semua... YEAH. Mari kita mengantri untuk Juli.

20.3.10

1-0

Prof. Virus: Who was the first man to step on the moon?
Students: Neil Armstrong, Sir..
Prof. Virus: Obviously It's Neil Armstrong, we all know It. But who was the second man? Dont waste your time, It's not important. Nobody remembers the man who ever came second.
(3idiots)

...

Yeah. The first, we all know it. The second, It's not important. The third? Ignore it. The last? Whatever. The first is still, you-all-know-it... :D :D :D

15.3.10

ƪ(‾ε‾“)ʃ

Saya: Ndim, gimana hasil tesnya kemarin?
--Beberapa hari sebelumnya adalah hari pengumuman tes skolastik regional yang si Adik ikuti. Tes skolastik adalah salah satu ujian untuk masuk Universitas Gajah Mada--
Si Adik: Gak tembus.
Saya: Ih, kok bisa? Skolastik, kan?
--Saya keinget waktu jaman saya dulu, tes skolastik ini diadain juga secara regional, dan beberapa teman saya yang ikut bisa dengan mudahnya tembus..hmm--
Si Adik: Ih, sekarang tesnya itu beda tauuu. Jadi dinaikkin standar tesnya, bukan cuma psikotes aja, ada matematikanya juga, bahasa Inggrisnya juga.. Susah banget.
Saya: Iya gitu? Ah, perasaan dulu mah yang ikutan tes ini dan sanggup bayar sumbangannya pasti keterima da..
Si Adik: Sekarang enggak.. Temen aku aja banyak yang gak keterima. Yang keterima paling yang pilihannya ecek-ecek..
Saya: Ih, kok gitu?
Si Adik: Iya, yang paling tinggi yang keterima aja di Geodesi. Itu juga orangnya pinter banget..
Saya: Hah? Geodesi? Kok bisa milih Geodesi?
--Geodesi adalah istilah yang lumayan asing di kota saya. Dulu, kalo saya pulang kampung dan ditanya kuliah jurusan apa dan saya jawab Geodesi, pasti yang saya hadapi adalah muka heran dan bertanya-tanya 'Ih, apaan tuh Geodesi?'--
Si Adik: Iya. Gara-gara Ibu..
Saya: Lah? Kok bisa? Emang apa hubungannya sama Ibu?
Si Adik: Jadi temen aku itu anaknya temen kantor Ibu. Trus Ibu sering cerita tentang kamu gitu.. Tentang Geodesi. Sama tentang temen-temen kamu yang katanya udah pada bisa punya duit sebelum lulus.. Bisa proyekan.
--krik kriikk kriikkkk--
Si Adik: Tapi katanya dia mau ikutan yang tes masuk ITB juga, Tin. Trus kalo keterima FITB*-nya, ntar yang ini mau dilepas.
Saya: Ohh.. Iyah. Mudah-mudahan masuk deh.

Duh aduh, speachless deh ngedenger polah Si Ibu --.--“
Anyway, Gan Batte Adikkusayang, selamat berjuang untuk kita berdua..

*) FITB adalah Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian dimana di ITB, Jurusan Geodesi termasuk di dalamnya

14.3.10

the almost midnight.

"I got a feeling that tonight’s gonna be a good night
that tonight’s gonna be a good night
that tonight’s gonna be a good good night"
I Got A Feeling - Black Eyed Peas

Ask me about that night. Did I get a feeling that the night's gonna be a good night?
No, I didnt.
To be honest, I wasn't ready still to see you. But I believe that Allah Maha Tau. Seperti halnya urusan Tugas Akhir yang saya ikhtiarkan, soal jodoh dan pertemuan manusia juga saya ikhtiarkan pada-Nya.

At least we could smile to each other.
Good night. And good bye...

ayam cemani.

Ayah di Lampung meminta dibawakan ayam dari Jogja.

Ayam dengan jenis yang tidak umum dan baru saya tau ketika mereka singgah di Bandung terlebih dahulu sebelum diberangkatkan lagi ke Lampung.
Memelihara binatang memang sudah jadi hobby Ayah sejak saya masih kecil. Burung dan Ikan adalah dua jenis yang seingat saya paling jadi favorit Ayah. Tapi sejak semakin sibuk dengan pekerjaannya ditambah Ibu yang selalu cerewet karena jadi harus ikutan repot ngurusin binatang-binatang itu, hobby ini tidak lagi ditekuni Ayah.

Setelah pensiun dini dan kembali ke Lampung, Ayah jadi punya banyak waktu luang di rumah. Terakhir kali saya pulang ke Lampung, saya sangat menikmati rutinitas saya dengan adanya Ayah di Rumah. Selain kesibukannya dengan bisnis di luar kota, kebanyakan waktu Ayah jadi dihabiskan di rumah, dan sepertinya Ayah sudah kembali bisa menekuni hobby memelihara binatangnya itu untuk mengisi waktu luangnya. Makanya waktu saya dengar Ayah meminta dibawakan ayam dari Jogja ini saya hanya berfikir bahwa Ayah ingin menambah jenis peliharaannya.

But then It came to my house and I was shocked of its appearance.
Ayam cemani namanya. Ayam Item, panggilan umumnya. Kenapa ayam item, karena seluruh anggota tubuh ayam ini item. Mulai dari bulu, paruh, mata, kaki, kuku, lidah, daging, darah, dan katanya juga sampai organ-organ bagian dalam juga, and even kotorannya juga warnanya item walaupun makannya sama dengan makanan ayam jenis lainnya.
Dan konon katanya ayam ini seringkali dikaitkan dengan unsur mistis. Bisa nolak bala yang dikirim orang, katanya.. Entahlah.


Ayam cemani Ayah, di rumah bandung. Mereka makanin tanaman-tanaman saya! Grr..

Setelah dikirimkan ke Lampung, Ibu cerita kalo ayam-ayam itu sekarang dikandangin di bekas-rumah-anggrek Ibu. Bekas-rumah-anggrek itu letaknya di sebelah kamar Ayah dan Ibu, dan kata Ibu juga Ayah jadi sering asik sendiri di situ. Hihihi.. Oh, how I miss them..

13.3.10

tiga hal...

There are 3 things currently that I remember can pleasure him but killing me:
1. Saya makan banyak
2. Saya bilang dia ganteng
3. Saya cemburu sama dia

And these things below happened in my last few weeks are things which I hate and (definitely) pleasure him, I can say...

QUIT the diet.
Saya males ngunyah, jadi males makan banyak-banyak. Hihi. Ditambah sebuah fakta bahwa kalo saya menambah porsi makan saya sedikit lebih banyak dari biasanya, perut saya akan lebih dulu membuncit daripada bagian-bagian tubuh yang lain. Few weeks ago saya bahkan nyobain diet. For the first time all my life, saya diet. I eat only once a day, siang. Dan mengurangi porsinya. Malamnya cuma minum susu. Dibanyakin minum air putih. Dan akhirnya gak kuat.. I quit in a week.

I wont say the diet was fail. Saya emang gak ngeliat perubahan yang signifikan di tubuh saya karena seminggu itu. Selain internal tubuh saya yang emang jadi kerasa gak beres. Saya jadi susah tidur sejak hari ketiga menjalani siklus itu. Susah tidur tapi selalu ngantuk. Badan selalu lemes dan rambut saya jadi cepet lepek, entah kenapa. And to be honest, my first reason to finally quit the diet is because I dont want to see my hair starting to fall each day because I'm lack of nutrition.

Setelah tau tentang program diet itu, jadi banyak yang marah-marah. Ibu, Him, and also my friends.
Temen-temen yang sebenernya awalnya justru bikin saya jadi kepengen diet dengan sering banget bilang dan komentarin kalo perut saya buncitlah yang akhirnya justru bilang they didnt mean it, It was just a joke and they didnt think there was anything wrong with me and my body.
Ibu marah-marah dan bilang sekalian aja gak usah makan. "Kalo diet polanya kayak gitu sih bukan diet, nyiksa diri.." Beberapa hari dari percakapan lewat telepon itu, Ibu mengirimkan paket makanan dari Lampung. Isinya: Ikan asap, Pepes ikan, Sate Ikan, dan Udang, dan bisa buat berhari-hari..
Him? Jangan tanya. Saya sekarang jadi dipaksa makan melulu kalo lagi sama dia. "nggak usah diet-diet, kamu udah seksi" katanya. Huhuu.. What a white-lie.. Kemana-mana, makan. Dan makannya banyak.. And I know he is happy to see me chewing all the time. Saya merasa dijebak biar nemenin dia jadi buncit juga. Grr..

the NEW haircut.
Saya pernah berfikir, satu-satunya alasan kenapa gel rambut diciptakan adalah untuk menimbulkan kesan sudah mandi kepada orang-orang yang malas mandi.
For me, It's so iyeuh seeing the hair with a gel, the-wet-look..
Dan seperti kesamber petir when suddenly he came to my house, appeared with the-wet-look-hair. I said to him, I dont like it. Dia kekeuh. "Kata orang-orang kantor aku bagus kok, banyak yang bilang bagus.." Time after time, I'm getting used to of the-wet-look-hair. Kadang-kadang dia lupa pake gel. Kadang-kadang gel-nya kebanyakan. Kadang-kadang normal. Well, apapun, I'm just getting used to. Gak masalah lagi.

But then the hair is growing and getting awful, I asked him to have a haircut. I showed him one I loved to see in him. Then the next week he came with this kind of new hairstyle where he dont need to put any gel in it to make it tidy or even cooler. And I like it.

And suddenly I slipped the words.. "Bagus kok rambutnya... Ganteng.." CRAP!
Raut wajahnya berubah licik dan tertawa penuh kemenangan. Sial.
Dia bilang, itu adalah kali kedua saya bilang dia ganteng selama kita saling kenal.

that CREATURE, not the virtual one.
Dulu, saya pernah mencoba menjalin hubungan baik kembali dengan seorang mantan pacar. Seorang, karena meskipun sama yang lain saya juga sempat tidak bertegur sapa, sama mantan yang satu ini adalah yang paling panjang ceritanya. Panjang cerita suka dukanya, panjang deritanya. Hmm..
Alasan untuk gak bertegur sapa, jelas, we've hurted each other. Mungkin dulu akan merasa paling menang kalo satu dan lainnya berhasil menyakiti. We were immature, yes we were.

Alasan paling jelas untuk kemudian saling mengacuhkan satu sama lain adalah ketika satu persatu muncul orang lain yang merasa pernahnya saya hadir dalam hidup si mantan adalah hal yang mengganggu.
Those people. Those new girls that came to his life, starting to hate me and maybe the other random ex-es of this ex from head to toe.. You know, A-jealous-boy can be physically destructive. A-jealous-girl can do something un-expected indeed. And at first, the fact that those girls are trying to push someone to hate me was YES, annoyed me.
Satu per satu dari mereka saling berganti, satu karakter dan banyak karakter muncul dengan cara yang berbeda-beda menunjukkan rasa cemburu masing-masing. I even had ever been so curious of THE WHY that on earth they can be so jealous like that..

The virus was spreading then, but It just went by. I ignored them.

Sekarang, kejadian-kejadian gak enak tentang this awkward situation dengan si mantan that was caused by the jealous-virus justru jadi inspirasi buat saya, walaupun terkadang saya kurang bijak menyikapinya pada saat benar-benar mengalaminya di depan mata.

I dont want to have a relationship that is fully of worried-things. Why dont we give our partner a trust and a space to look forward their own-happiness? And again, let us just be a homy home..Then let the heart guide them home.
Why can’t it be just like that?

Is it worth to discuss and put anger a lots to those other creatures dimana faktanya di waktu-waktu tersebut kamu justru bisa manfaatin buat ketawa bareng dan ngobrolin topic tertentu.
Is it worth to worry too much dimana faktanya gak ada yang perlu dikhawatirin cause the love is still in between and no one's cheating.
Is it worth to bordering our partner's life dimana faktanya manusia itu kan mahkluk sosial yang gak bisa hidup sendiri. They have to build a life to share with other people who maybe will help them later while they're in troubles.
How can they do it if they were bordered and unable to get in touch to others, right?

It's killing inside, the jealous-thing. Gak sehat.

That's the reason why I don't jealous that much with this man-I'm-sharing-happiness-and-also-sadness-with right now. I've been trying to keep my trust with him, and It's been years already, tanpa perlu banyak bumbu untuk meraciknya.

Sesekalinya saya cemburu ya yang kayak kejadian beberapa waktu yg lalu tentang dia sama mantan kecengannya yang jadi semacam kasih tak sampainya gitu. I kept on silence at first, then asked him about the real situation, he smiles, senyum yang sangat sangat sangat licik. Merasa menang. Merasa ganteng. Merasa don juan. Then He explained it sambil sesekali tertawa bangga. Cih! I felt unsecure right after. Berasa kalah perang. Zzzz.. See? Gak banget kan efeknya..

8.3.10

dear hachi.

Dirty Eight by Cojaro on DevianArt


Ken: Hachi..

Parker Wilson: What?
Ken: It's japanese, for eight. A number of good fortune.
Parker Wilson: Good fortune, very nice. Hachi..Hachi.. It's a good name. I like that..
Ken: He might have been born the eight in the litter. Spiritual signifficant in number eight, reaches up to heaven comes down to earth.
(Hachiko, a dog's story)

...

In Japanese, “8” is written as “八” in Kanji, and It is considered “末広がり(Suehirogari)” from its shape which widens toward the end. Suehirogari is to become more and more prosperous as time goes. It brings luck, it says. Do you believe it?
Well, DO YOU?