19.2.10

K-time bersama mr K.

Tidak ada hal baru yang terjadi pada hidup saya belakangan ini yang bisa sekaligus membuat perasaan begitu campur aduk selain kejadian hari itu.
Hari itu bukan hari yang lain dari biasanya. Bandung masih seperti beberapa minggu belakangan, secara konsisten cerah di pagi hari dan mulai hujan dari siang hingga malam menjelang.
Hari itu juga saya tidak tiba-tiba mendapat rejeki untuk memperbaiki atap rumah yang sedang bocor, juga bukan karena saya bangun tidur mendadak langsing dan berperut rata. Tidak.. Bukan.

Tapi karena hari itu saya menemukan fakta baru tentang seseorang yang setahun belakangan ini menjadi bagian dari hidup saya. Seseorang yang setahun ke belakang ini sering bikin saya ngerasa kangen, butuh, terkadang kesal, terkadang speechless, terkadang merasa kehilangan, seringnya merasa termotivasi, apalagi deg-degan tiap kali dia ada di sekitar. Seseorang yang begitu saya kagumi dan sempat saya posisikan sebagai manusia-super. Kata-katanya selalu bermakna sesuatu, tindakannya pasti bermaksud sesuatu. Entahlah, mungkin karena setahun belakangan saya hanya mengenalnya sebagai sosok yang misterius dan tidak banyak melihat beragam emosi keluar dari pribadinya.

Selama saya mengenalnya beberapa tahun belakangan sampai dengan setahun yang lebih intim ini, saya kerap mengenal emosi yang terlalu stabil yang membuat saya hanya mengenal satu atau sekedar dua sisi dari Beliau. Ya, saya hanya mengenal Ia sebagai sosok yang kerap kali mengayomi dan memberikan sesuatu, bukan seseorang untuk diajak diskusi dan bertukar ragam emosi lainnya.
Bukan sebagai manusia pada umumnya yang biasa saya temui di jalan dan bisa saya sapa tanpa embel-embel anggukan kepala, merasa tidak enak kalau lagi berpakaian berantakan, dan lebih-lebih bisa saya ajak bicara dengan nada bicara yang suka-suka saya. Bukan, kemarin-kemarin dia bukan si manusia-biasa buat saya. Dia manusia-super yang pernah bikin saya gugup dan merasa panas dingin jika tiba waktunya saya harus bertemu dengannya. Dan pertemuan demi pertemuan selama setahun itu tidak juga kunjung meredakan fluktuasi emosi yang timbul tiap kali menjelang momen-momen pertemuan saya dengan Beliau.

Sampai kemudian suatu hari datanglah undangan di hari itu. Karaoke-time.

Bayangkan sebuah ruangan karaoke dengan satu sofa panjang menghadap ke layar televisi dan di atas meja yang terletak di antara keduanya tergeletak dua buah microphone. Di dalamnya terdapat 6 kepala, lima orang laki-laki dan satu orang perempuan, saya. Tiga orang adalah mahasiswa S1, satu orang baru jadi sarjana teknik, satu lagi seorang mahasiswa S2, dan satunya lagi seorang bergelar Doktor.

And I dont enjoy the situation.
Pertama, tentunya karena yes i am a terrible singer. Dan kedua karena saya segan sama Beliau.
Ya, Beliau disini adalah Ia yang punya gelar paling tinggi di ruangan karaoke tersebut. Dan Ya, mungkin begitu mudah diterka, Beliau adalah dosen pembimbing saya. I named him Mr K.

Dan bisakah kamu membayangkan sebuah suasana karaoke dengan sosok yang kamu segani seperti itu?
Weird? Yeah. Dan awalnya saya pikir 2 jam di dalam ruangan itu akan seperti bencana. But, wait, no. I was wrong. Ternyata saya salah. Ternyata, meski atmosfer di dalam ruangan tersebut begitu tercium kesenjangan usianya yang bisa dilihat dengan jelas dari pilihan-pilihan lagu masing-masing individu, but I did have fun. Yes, I did.

Bisa fun loh. Bisa lucu-lucuan. Bisa lihat kekonyolan Beliau. Bisa OH begini dan OHHH ternyata eh ternyataaaa.. Hehe, Ya, di hari itu saya jadi menemukan sisi lain Beliau sebagai manusia, saya menemukan bahwa seorang dosen yang seolah-olah maha-tau itu juga sama seperti saya dan teman-teman mahasiswa yang lain, sama-sama butuh makan-minum-rasa nyaman- dan lebih-lebih lagi ternyata sama-sama punya momen-momen yang bisa terkenang melalui lagu.
"Ini lagu waktu saya masih kuliah dulu..." katanya sebelum menyanyikan lagu dari MLTR.
Menyedihkan ketika playlist selanjutnya terputar lagu saya dan teman-teman yang judulnya 'cari jodoh' dari Wali. Apa kata dunia kalau belasan tahun lagi one of us should be in the same room, karaoke-ing dengan junior kami, menyanyikan lagu tersebut dan bilang bahwa itu lagu di masa kuliah kami dulu. Gak ada keren-kerennya. Bisa dengan jelas ditebak betapa menyedihkannya kondisi percintaan di masa perkuliahan kami.

Ahh..after all, we are just a human being.

PS: saya sempet duet sama mr K lagunya ST12 yang P.U.S.P.A lohhhh.. And NO-NO-for sure, it's not an affair! :D


"Walau kutahu bahwa dirimu
Sudah ada yang punya

Namun kan kutunggu sampai kau mau

Oh.. oh.. oh.."

P.U.S.P.A - ST12

0 comments: