25.2.10

jagung-serut-manis.

Ada balong kayu di ujung sebelum belokan ke rumahnya.
Meraba-raba, OH bukan.. Balong kayunya sudah hilang tergantikan deretan ruko tiga pintu, catnya warna kuning menyala, warna yang menarik perhatian dan mengingatkan saya pada jagung. Lah, kenapa jadi kepengen makan jagung.
Jagung diserut diberi mentega yang dibiarkan lumer sendiri, lalu dituangkan susu kental manis, diaduk. Enak.

Ah iya, seingat saya, jagung-serut-manis ini juga salah satu dari sedikit makanan favoritnya.

Dulu, di kota itu hanya ada satu tempat jualan jagung-serut-manis langganannya. Entah kenapa tidak pernah terpikir olehnya untuk berganti tempat langganan. Padahal tempatnya jauh dari rumah. Dan kalau mau menuju kesana harus melewati kilometer-kilometer yang ditempuh dengan dua kali berganti angkutan kota. Satu kali naik angkutan kota, dua ribu rupiah. Dua kali maka empat ribu rupiah. Pulang pergi jadi Delapan ribu rupiah. Jagung-serut-manis harganya delapan ribu lima ratus rupiah. Total untuk segelas jagung-serut-manis maka enam belas ribu rupiah.
Demi segelas jagung-serut-manis di tempat langganannya, enam belas ribu rupiah ditabungnya dari uang jajannya sehari..seminggu..sebulan..

Tahun-tahun selanjutnya kemudian ia pergi meninggalkan rumah. Rumah yang dulu sebelum belokannya terdapat sebuah Balong Kayu. Balong kayu yang sekarang sudah tergantikan ruko tiga pintu bercat kuning. Cat kuning yang mengingatkan saya akan jagung-serut-manis kesukaannya. Ya, ia meninggalkan rumah yang berada di kota tempat langganannya membeli jagung-serut-manis kesukaannya. Dan kemudian tiba-tiba kalkulasi nominal yang selama ini hanya dari batasan ribu-belasan ribu-dan puluhan ribu berubah menjadi ratusan hingga jutaan rupiah.

Dunia barunya tidak lagi seperti dunianya yang dulu. Dunia baru ini penuh dengan raut wajah yang bisa mengeras namun tiba-tiba ceria, tiba-tiba meringis lalu tak berekpresi tandanya mati, dan sebagainya dan sebagainya. Dan sebagainya dan sebagainya yang ia tidak ingin terus menempel di kepalanya. Biar lupa. Biar yang ia ingat hanya dunia dimana rumahnya yang dulunya ada balong kayu sebelum belokannya.

Banyak tempat berjualan jagung-serut-manis di dunia yang barunya. Tinggal pilih. Ada yang harganya tiga ribu lima ratus sampai yang sembilan ribu lima ratus. Lebih dari sembilan ribu lima ratus tidak boleh masuk hitungan. Lebih dari sembilan ribu lima ratus bisa dibilang di luar batas kemampuannya. Lebih dari sembilan ribu lima ratus bisa membuatnya lupa akan toleransinya untuk hari-hari besok yang juga butuh perhitungan. Ia tidak boleh sampai lupa toleransi.
Kalkulasinya dari jatah bulanannya membuat ia harus selalu mampu merapatkan hitung-hitungannya. Kalkulasinya harus cukup untuk membuat tiga kepala dalam rumah di dunianya yang baru bisa bertahan hidup hingga akhir bulan.
Maka ia tidak boleh melupakan toleransi. Maka kalau rindu dengan jagung-serut-manis ia beli jagung mentahnya di swalayan/pasar terdekat yang harganya paling murah, pernah harga dua ribu delapan ratus rupiah untuk tiga jagung.

Diambilnya satu dari tiga jagung itu, dikupasnya sendiri, dicuci, direbus, dan diserutnya. Diambilnya susu kental manis dan mentega dari dalam lemari dapur. Campur-campur, aduk-aduk, then VOILA! Terhidangkan satu mangkuk jagung-serut-manis kesukaannya. Dan sisa jagung lainnya bisa ia bikin jadi perkedel jagung untuk menu makanan keesokan paginya. Atau bisa juga lagi-lagi diserut dan dibuat menjadi sup krim jagung. Terserahlah, selera masing-masing...
...
Ketika bersiap untuk menyantap sendok jagung-serut-manis pertamanya saya bisikkin sama dia kalo makan jagung-serut-manis yang nikmat banget bikinin sendiri itu akan bertambah nikmatnya kalo ada temennya, rame-rame apalagi. Hihi. Dia celingak celinguk, kanan dan kiri. Meringis dan eh, eh, eh, malah nangis.. HAHAHA. Cengeng.

22.2.10

third base.

Pernah ada sebuah kala dimana sebuah momen bisa jadi begitu sakral untuk diingat dan diperingati juga dirayakan. Momen dimana saya pernah tiba-tiba bisa jadi begitu antusias. Begitu semangat. Begitu berapi-api. Begitu selalu tak sabar menunggu kehadirannya dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Momen yang pernah jadi begitu spesial serasa diciptakan Tuhan hanya untuk dua manusia di muka bumi ini, maka hanya dua orang itulah yang sepertinya kegirangan menyambut hari itu dan secara konsisten memenuhi kepala mereka dengan agenda ini dan itu untuk dilakukan di kedatangan momen itu. Ntah apa. Dan ketika satu kesalahan, terlewatkanlah tradisi sehingga tidak ada ceremony dimana harusnya begini dan begitu, satu pihak kecewa, pihak lainnya ikut merasa kecewa setelah mengkalkulasikan pengorbanan yang telah diberikan serta memuntahkan sederet penjelasan atas khilafnya kala itu. Pamrih. They argued then ended it. Both, the relationship they had and the rituals also.

That was the beginning where I started to hate all of those rituals of either monthsary or anniversary. I’ve never taken it as something fun-something nice-or something to be celebrated eversince. Ngerayain hari jadian itu kekanakan dan SMA banget, i thought. Iya, cuma anak SMA dengan aktivitasnya yang berjubel tapi karena energinya yang berlebih sampai-sampai masih bisa menyempatkan untuk tiba-tiba jadi kreatif bikin sesuatu yang spesial ngerayain hari jadian sama pacar, again-I thought. Well, again-I thought, akan lebih baik jika gak punya kenangan-kenangan dan tradisi-tradisi apapun so it will hurt less when suddenly it’s gone.

But now I think, sepertinya bencinya saya sama ritual-ritual itu dulu hanya karena saya berusaha menghapus kenangan yang buruk di masa lalu. Berusaha menghapus ingatan jelek sehingga bisa menjalani hubungan yang benar-benar baru. And sorry to say, yes I realize, I’ve been unfair...


“Tanggal itu gak penting” Saya pernah bilang. “Iya kan?” saya mencari jawaban iya di mata yang saya ajak bicara kala itu. “Yang penting kan ketika setiap harinya terlalui, I’m still beside you and the love does still exist” I said again.

Then the first-12-months went by. The 24-months sailed on. And suddenly it turns into 36. Thirty six months which is equal to three years.

I’ve been hiding the desire to celebrate those monthsaries just because I dont want to be reminded of the sadness and pain i had years ago. Years ago. Stupid me.

Ahh...Three years. A lot of shit happens. I’ve been creating mistakes. I’ve always been. Now I just dont want to hide anymore. Not from the past, not from the fear, not from the predictable-gesture they’ve been giving when I answer the question about the label of my relationship :)

"There is nothing special about me
I am just a lil star
If it seems like I'm shining brightly
It's probably a reflection of something you already are

- 'Lil Star by Kellis-


Dalam olahraga softball, untuk mencetak poin kamu harus melewati base pertama, base kedua, dan base ketiga, sampai akhirnya kembali ke home. Back to the home... You see. As if I am now at the third base, I am about heading to the home-base? HAHAHA. Ngarep.

Anw, yes, sometimes guessing is amusing. Right, orange? :D :D :D

19.2.10

K-time bersama mr K.

Tidak ada hal baru yang terjadi pada hidup saya belakangan ini yang bisa sekaligus membuat perasaan begitu campur aduk selain kejadian hari itu.
Hari itu bukan hari yang lain dari biasanya. Bandung masih seperti beberapa minggu belakangan, secara konsisten cerah di pagi hari dan mulai hujan dari siang hingga malam menjelang.
Hari itu juga saya tidak tiba-tiba mendapat rejeki untuk memperbaiki atap rumah yang sedang bocor, juga bukan karena saya bangun tidur mendadak langsing dan berperut rata. Tidak.. Bukan.

Tapi karena hari itu saya menemukan fakta baru tentang seseorang yang setahun belakangan ini menjadi bagian dari hidup saya. Seseorang yang setahun ke belakang ini sering bikin saya ngerasa kangen, butuh, terkadang kesal, terkadang speechless, terkadang merasa kehilangan, seringnya merasa termotivasi, apalagi deg-degan tiap kali dia ada di sekitar. Seseorang yang begitu saya kagumi dan sempat saya posisikan sebagai manusia-super. Kata-katanya selalu bermakna sesuatu, tindakannya pasti bermaksud sesuatu. Entahlah, mungkin karena setahun belakangan saya hanya mengenalnya sebagai sosok yang misterius dan tidak banyak melihat beragam emosi keluar dari pribadinya.

Selama saya mengenalnya beberapa tahun belakangan sampai dengan setahun yang lebih intim ini, saya kerap mengenal emosi yang terlalu stabil yang membuat saya hanya mengenal satu atau sekedar dua sisi dari Beliau. Ya, saya hanya mengenal Ia sebagai sosok yang kerap kali mengayomi dan memberikan sesuatu, bukan seseorang untuk diajak diskusi dan bertukar ragam emosi lainnya.
Bukan sebagai manusia pada umumnya yang biasa saya temui di jalan dan bisa saya sapa tanpa embel-embel anggukan kepala, merasa tidak enak kalau lagi berpakaian berantakan, dan lebih-lebih bisa saya ajak bicara dengan nada bicara yang suka-suka saya. Bukan, kemarin-kemarin dia bukan si manusia-biasa buat saya. Dia manusia-super yang pernah bikin saya gugup dan merasa panas dingin jika tiba waktunya saya harus bertemu dengannya. Dan pertemuan demi pertemuan selama setahun itu tidak juga kunjung meredakan fluktuasi emosi yang timbul tiap kali menjelang momen-momen pertemuan saya dengan Beliau.

Sampai kemudian suatu hari datanglah undangan di hari itu. Karaoke-time.

Bayangkan sebuah ruangan karaoke dengan satu sofa panjang menghadap ke layar televisi dan di atas meja yang terletak di antara keduanya tergeletak dua buah microphone. Di dalamnya terdapat 6 kepala, lima orang laki-laki dan satu orang perempuan, saya. Tiga orang adalah mahasiswa S1, satu orang baru jadi sarjana teknik, satu lagi seorang mahasiswa S2, dan satunya lagi seorang bergelar Doktor.

And I dont enjoy the situation.
Pertama, tentunya karena yes i am a terrible singer. Dan kedua karena saya segan sama Beliau.
Ya, Beliau disini adalah Ia yang punya gelar paling tinggi di ruangan karaoke tersebut. Dan Ya, mungkin begitu mudah diterka, Beliau adalah dosen pembimbing saya. I named him Mr K.

Dan bisakah kamu membayangkan sebuah suasana karaoke dengan sosok yang kamu segani seperti itu?
Weird? Yeah. Dan awalnya saya pikir 2 jam di dalam ruangan itu akan seperti bencana. But, wait, no. I was wrong. Ternyata saya salah. Ternyata, meski atmosfer di dalam ruangan tersebut begitu tercium kesenjangan usianya yang bisa dilihat dengan jelas dari pilihan-pilihan lagu masing-masing individu, but I did have fun. Yes, I did.

Bisa fun loh. Bisa lucu-lucuan. Bisa lihat kekonyolan Beliau. Bisa OH begini dan OHHH ternyata eh ternyataaaa.. Hehe, Ya, di hari itu saya jadi menemukan sisi lain Beliau sebagai manusia, saya menemukan bahwa seorang dosen yang seolah-olah maha-tau itu juga sama seperti saya dan teman-teman mahasiswa yang lain, sama-sama butuh makan-minum-rasa nyaman- dan lebih-lebih lagi ternyata sama-sama punya momen-momen yang bisa terkenang melalui lagu.
"Ini lagu waktu saya masih kuliah dulu..." katanya sebelum menyanyikan lagu dari MLTR.
Menyedihkan ketika playlist selanjutnya terputar lagu saya dan teman-teman yang judulnya 'cari jodoh' dari Wali. Apa kata dunia kalau belasan tahun lagi one of us should be in the same room, karaoke-ing dengan junior kami, menyanyikan lagu tersebut dan bilang bahwa itu lagu di masa kuliah kami dulu. Gak ada keren-kerennya. Bisa dengan jelas ditebak betapa menyedihkannya kondisi percintaan di masa perkuliahan kami.

Ahh..after all, we are just a human being.

PS: saya sempet duet sama mr K lagunya ST12 yang P.U.S.P.A lohhhh.. And NO-NO-for sure, it's not an affair! :D


"Walau kutahu bahwa dirimu
Sudah ada yang punya

Namun kan kutunggu sampai kau mau

Oh.. oh.. oh.."

P.U.S.P.A - ST12

17.2.10

good bye april.

Tadinya sempet mikir kenapa enggak diterima aja ajakan makan siangnya. Mikir sekali dua kali.
Yah kalo kamu terima ntar dia mikirnya kamu udah welcome dong sama dia.
Tapi yah kalo kamu gak terima kamu gak akan tau maksud dia ngajak makan siang apa.

Nah, berantem kan suara hati satu dan suara hati dua. Ya udah akhirnya apatis aja gitu. Limit waktu dimana harusnya sms dibalas jadi kelewat gitu aja. See, kadang-kadang suka mikir begini nih.. Segala sesuatunya itu pasti berlalu. Jadinya sering melewatkan usaha yang ekstra itu untuk dapet yang terbaik. Dan iya, tau kok kalo itu bodoh. Lolo. Benga. Tau.. Tapi susah kalo gak ngerasain 'batu'nya dulu.

Keinget lagi kan. Dulu itu ngelewatin untuk ngangkat telpon si orang itu karena waktu itu lagi siang terik panas banget, trus baru pulang kuliah dan capek banget, trus juga keinget dua hari sebelumnya jalan sama orang itu dan merasa kurang nyaman menemukan fakta tentang salah satu sifatnya.
Akhirnya malam itu dia jadinya jalan sama orang gak dikenal. Trus malah jadian setelah baru jalan sekian kali. "kejebak" dia bilang. Trus masih apatis aja dan bilang, "ya belom jodoh kali ya kita.."
Terus aja dipertahanin ini sikap yang kayak gini. Ntar satu persatu kebahagiaan yang udah dikasih Tuhan merayap menjauh. Trus yang bisa dilakuin cuma duduk melongo, solat ini dan itu biar ngerasa deket sama Tuhan...Biar ngerasa masih ada yang sayang..Biar ngerasa masih ada tempat untuk berpulang.. Menyedihkan, ya? Terserah deh...

Terserah, eh? Ah jadi inget. Bbrp hari yang lalu juga baru melewatkan sesuatu dengan kata kunci itu, ck. Rasanya kayak pas jaman-jaman masi dapet tugas per kelompok dan temen-temen yang biasanya sekelompok enggak menjadikan kita partner sekelompoknya, tapi kita gak cukup pede juga buat maksain untuk dimasukkin ke daftar karena sadar dengan kapasitas, dan akhirnya cuma bisa bilang 'terserah' ketika detik-detik terakhir mereka-mereka baru menyadari kehadiran kita, and VOILA! suddenly we are out. Hiks,. Sebelas dua belas rasanya.


06.25 Kebangun gara-gara dering telpon rumah yang SWT berisiknya,
"Baru bangun, nak?"
"emmh..iya mom.."
"anak gadis kok bangun siang-siang.."
"Yah bu, aku kemaren kurang tidur..Ini jg baru tidur bentar.."
"kalo gak tidur jadi harus bangun siang-siang? Nanti kalo udah kerja gimana itu, kalo abis ngelembur trus jadinya besoknya kerjanya mau libur? Anak Ibu dulu gak gini loh...”
--tertegun, ngebenerin posisi duduk, mencerna kata-kata Ibu--
"Ng..Ya enggak sih bu..”

“Yaudah. Jadi sekarang mau tidur lagi? Nanti makan paginya jangan lupa ya Nak..Minum susunya juga..”
Setelah menutup telpon langsung ke kamar mandi dan cuci muka di wastafel, kacaan.
“Heh anak gadisnya Ibu kemana kamu pergi hey hey hey?!”

Hoalah. Kumaha april teh, ckck...

12.2.10

(sigh)

Entah karena sentimentil atau apa, rasa-rasanya beberapa hal di runutan waktu ke belakang jadi banyak mengingatkan saya akan sebuah masa beberapa tahun yang lalu, masa dimana tiga tahun does feel like forever. or at least, i acted like it was forever, while the fact sure it was not. iya, masa SMA.

I compare it a lot. Masa kuliah sama masa SMA.
How is it?
Gak banyak berbeda.
Ada si masa adaptasi tahun pertama, ada masa-masa eksperimen, ada masa-masa sulit, masa-masa jatuh, masa-masa dimana mengenal teman terdekat, mengenal musuh, mengenal juga bahwa musuh bisa jadi teman dan tentu saja sebaliknya teman bisa jadi musuh, mengetahui bahwa teman bisa jadi sahabat dan bisa juga lebih dari sekedar sahabat tapi lebih baik tidak lebih dari sekedar sahabat cause it will ruin the friendship. Dan ya, ada juga masa-masa dimana setelah beradaptasi dan berhasil bertahan maka seiring berjalannya siklus, akan ada yang namanya masa-masa jadi senior. Masa-masa yang lebih banyak gak enaknya daripada enaknya. No, it's not just because as a senior i cant flirt at my juniors though it's not against the law (it's just against the habit), it's because of the responsibilities and the pressures. Yes. Tanggung jawab jadi lebih and pressures are coming all over the world.. hasssshhhhh.
Semua masa itu ada di jaman SMA dan juga kuliah. It happened.

But what makes me jealous more about the highschool time right now is...THE GRADUATION.
SMA? we were in to the school and finally out of it, together, at the same time. The three whole years, together.
Kuliah? well, you'll never know..



Why do you let me stay here?
All by myself
Why don't you come and play here?
I'm just sitting on the shelf
why do you let me stay here | by she & him

8.2.10

a year already, eh?


photo by candycube on DeviantArt



x: it's the day, right? delapan?
y: yeah it is.
x: how is it?
y: have no idea. datar-datar. lo, gimana?
x: bergejolak. ada lo soalnya.
y: man, this life isnt always about that sparkling stuff. monyet. bad timing deh, the jokes.
x: yeah. and it's not always about losing.
y: mengenang, at least.
x: mereka jadi punya banyak hal yang lebih sekarang, nyadar gak?
y: iya, bangga gue. tp gak suka deh ngebahas ini. the minus plus. please.
x: sorry sorry. onigiri?
y: boleh boleh. besok?

phews. see you tomorrow.
"malem ini mau pulang ke rumahnya kalo udah capek banget aja deh biar sampe rumah langsung tidur dan kebangun-bangun udah amnesia tanggal lagi..."


kayak kecoa yah. bisa ada dimana-mana?

3.2.10

--.--"

Ini bukan F4...


Juga bukan BBF...




Hanya sebuah paket mahasiswa berjumlah lima orang penghuni lab center for remote sensing lantai tiga labtek IX c ITB yang sebentar lagi akan tercerai-berai ditinggalkan si adik termudanya.