29.12.10

k-fever.

Baru-baru ini karena kurang berolahraga (baca: kurang banyak aktivitas), dan malas melihat berita-berita di TV seputar ricuh ngantri beli tiket final AFF ataupun politisasi dan komersialisasi PSSI oleh nurdin halid yang kalo ngomong saking ga pentingnya berasa pengen saya tiupin terompet-naga-nagaan-tahun-baru-harga-sembilan-ribu, saya kemudian jadi terkena sebuah virus yang akut... Virus yang namanya drama Korea (K-fever). BHAHA.

Jika dirunut lagi, sebenernya udah lama banget sejak saya meringis-meringis ketika pertama kali melihat Joo Ji Hoon dan membuat saya mengerti mengapa banyak orang jatuh cinta dengan dunia K-drama. Iya, mulai dari ceritanya, cara flirting yang malu-malu tapi mau, gaya
bercandanya dan terutama tokoh-tokohnya yang SWT semua sukses bikin saya jadi pengen joget-joget sendiri tiap ada scene yang ngegemesinnya, apalagi si Ji Hoon ini. Bahkan saking gelonya, pernah ada scene di film naked kitchen yang Ji Hoon ngomong sesuatu mengungkapkan isi hatinya, nama orang yang dia tujukan kata-katanya di subtitle saya ganti jadi nama saya, jadi ketika filmnya diputar lg seolah-olah dia lagi ngomong gitu sama saya. HAHAHAHA.

Ji Hoon: "There can't be a three, sheilla..."

Terus yang kedua kalinya saya kemudian kena efek yang selalu meremas-remas tangan dan sesekali berteriak “ohhh” itu adalah ketika melihat si Kim Kim Bum di Boys Before Flowers. Saya pernah jadiin fotonya wallpaper laptop saya dan bikin Dosen Pembimbing saya yang waktu itu tiba-tiba muncul di belakang saya ketika sedang inspeksi mendadak bertanya, “foto siapa itu shey? Pacarnya ya?”, dan saya pun hanya menjawab dengan tersipu-sipu ngarep. Oh iya, si Kim Bum ini pernah dateng ke Indonesia, dan para fans yang dateng meskipun udah bayar mahal ternyata hanya bisa melihat lebih dekat plus minta tandatangan tanpa boleh bersentuhan tubuh sama sekali, karena gosipnya kalo disentuh ntar bagian-bagian tubuhnya bisa rusak dan lepas-lepas gitu gara-gara kebanyakan operasi plastik. Haha. Gosipnya bedong banget dah. Wkwkwk.

kim kim beom and his perfect nose...

Setelah itu, virus Korea saya jadi membeku selama beberapa waktu karena Joo Ji Hoon harus vakum dan ikut wajib militer selama 2 tahun. Membeku sampai dengan momen mata saya menangkap sosok Park Yoochun a.k.a Micky Yoochun mantan personil DBSK.

"yoochun oppa, saranghae..."

Sebelumnya, saya gak pernah menyadari eksistensi sebuah boyband Korea bernama DBSK. But then I saw him playing a role di salah satu film. Love at the first sight yang bikin saya mulai meragukan kewarasan saya sendiri. I googled every-single-thing about him. I looked for every dvds, videos on youtube, and songs he sang. I felt like some kiddos or teenage girls or some groupies. I can be realy happy just to see he is smiling, just to hear he is singing, and even feels sad then worry too much thinking about him going to war, "Korea jangan jadi perang please..". Huhu.

But anyway, kalo dulu saya pernah berimajinasi dinyanyiin sama joo ji hoon gara-gara scene dia di ‘naked-kitchen’ yang nyanyi ‘I dont know anything but love’, sama si yoochun saya berimajinasi dinyanyiin sambil dia main piano atau kita baca buku berdampingan sambil pegangan tangan kayak salah satu scene dia di film sungkyunkwan scandal, kya kya kyaa. Iya, meskipun setelah saya banyak tau tentang si yoochun oppa ini saya jadi menemukan fakta-fakta seperti: di antara temen-temennya dia ini paling butuh pertolongan lebih lanjut dalam hal model rambut karena saking seringnya ganti gaya rambut yang hasilnya sungguh owh-owh-astaga, lalu juga seperti halnya artis-artis cowok korea lainnya yang kalo pake baju chic banget dan kadang cara jalan-duduk-sampe cara makannya are so gay, entah kenapa rasanya toleransi bisa diberikan mengingat semua kelucuan-kelucuan lain yang dia punya yang bikin...gemesh-gemesh-guemeessshhh! Ahhh..indah dipandang mata banget mereka-mereka ini memang. Bahkan ada satu DVD yang saya beli yang isinya cerita tour Micky dan kawan-kawannya yang bahasanya adalah full-Jepang mixed Korea tanpa subtitle, dan saya dengan tabahnya nonton dari awal sampe akhir, berkali-kali nempelin kedua tangan di pipi sambil teriak-teriak kegirangan kalo kamera meng-close-up si Micky, ikut ketawa kalo mereka nge-jokes, ikut pengen nangis kalo mereka sedih-sedihan, ikut pengen makan ramen kalo mereka pada makan ramen, hahaha.

Astaga. I need to go back to reality, oh someone please bring me back to reality...

22.12.10

jingga.

Ini sumringah, yang aku bawa dan aku tabung untuk kubawa pulang dari pertemuan kemarin.
Ini lega, yang aku jemput dan kusimpan-simpan dalam hati setelah menatap hangat senyummu dan memberimu pelukan selamat.
Ini rasa-hangat-yang-entah-namanya-apa, yang telah aku titipkan untukmu beberapa tahun yang lalu meski sebagian masih kusimpan, yang kini kuberikan sepenuhnya untuk kau bagi ke yang lain.

Ini dunia yang hanya kita yang tau, yang langitnya menjadi jingga pantulan dari dunia kita.
..

7.12.10

dear beasiswa sekolah gratis..

"Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku"
-lagunya nikita willy, judul cari di google aja gatau tah-

27.11.10

OH,

ternyata sesulit itu ya.

26.10.10

HELP!

Ceritanya kemaren abis nonton film serial yang ada adegan perempuan tiduran di sofa depan TV. Tiduran melintang menghadap ke atas, dengan salah satu kakinya ditekuk sementara kaki yang satu lagi dibiarkan menjuntai menyentuh lantai. Dia menatap langit-langit sambil bersenandung. Ceritanya dia lagi sedih gara-gara ditinggal temennya pergi. WTF. Berlebihan banget sih nih adegan.

Then somehow, kemaren tiba-tiba situasinya di rumah lagi ujan badai just like usual (Bandung emang lagi ujan melulu), lalu karena geledek nyamber-nyamber di luar sana, akhirnya si televisi (yang selalu saya biarkan menyala selama saya ada di rumah karena saking sepinya kondisi rumah) saya matikan sementara. Terus kondisi rumah jadi krik krik banget. Terus saya jadi berbaring di sofa depan TV, menekuk salah satu kaki dan membiarkan kaki yang satunya lagi menjuntai ke lantai. Ditemani lagu di handphone, saya bersenandung kecil dan pelan-pelan takut petir-petirnya nyamber lebih gahar. Dan saya baru ngeh, terlepas dari rambut saya yang enggak blonde, kondisi saya mirip banget sama potongan adegan di film yang baru aja saya tonton. Sampah. I think I need help. I'm gonna get crazier if I stay in this house any longer. HELP!

25.10.10

cerita bawah sadar.

Sekarang jarak menuju cita-cita saya jadi semakin pendek dan dekat. Udah kebaca jalurnya, garisnya di sektor itu. Pokoknya yang peluangnya bisa kasih saya napas tapi titian tangganya gak curam. Meski kemiringan tangganya nyaris datar dan panjaaaaaaaaaaaang banget, setidaknya jelas. Persinggahan-persinggahannya juga jelas, meski penghasilannya kata banyak orang jelas-jelas nggak bisa menghidupi dengan layak seorang manusia yang banyak mau seperti saya kecuali jika saya coba-coba untuk mengambil kesempatan dan peluang-peluang enggak jelas. Enggak Ya Allah, saya gak mau sepuluh tahun lagi saya masuk TV karena kasus korupsi...

Soal pasangan hidup, cita-cita saya juga semakin jelas. Setelah kemaren ada seorang temen yang entah kesambet apa dia curhat ga jelas dengan bahasa yang muter-muter, yang saya tangkep adalah:
"Kata-kata jodoh gak akan kemana itu menurut kalian gimana sih? Bisa gak ya kalo kita jodoh sama orang yang kita pengen jadi jodoh kita, tapi kitanya gak berusaha? Karena kan kalo jodoh kan gak akan kemana kan ya? Tapi jodoh itu kalo kitanya gak berikhtiar bisa jadi gak sih?"

Trus saya mikir, iya Ya Allah, selama ini saya suka berangan-angan saya jodoh sama Pangeran Harry biar bisa jadi princess atau jodoh sama Joo Ji Hoon lalu bisa hidup bersama di Korea, tapi saya gak pernah tau ikhtiar macam apa yang bisa saya lakukan untuk bisa merealisasikan angan-angan saya itu. Jadi saya sempat berasumsi, jangan-jangan, jangan-jangan selama ini situasi yang menjebak saya ini karena saya kurang berikhtiar? Mesti itu yang terjadi. Hh.. Pasti saya kurang berikhtiar. Ternyata, ternyata ikhtiar dengan memasang foto Jo Ji Hoon jadi wallpaper laptop saja belumlah ikhtiar yang maksimal. Tapi saya bisa apa? Saya hanya perempuan yang secara budaya tidak punya hak dan kewajiban melangsungkan 'first move'... (Malah curhat).

Maka berhubung pasangan hidup saya masih belum jelas setidaknya sampai dengan beberapa tahun ke depan, rasanya punya cita-cita pacaran sama cowo bule enggak terlalu muluk. Iya, semoga, saya dikasih kesempatan untuk pacaran sama cowok bule. Am-ien. Teman-teman, tolong dibantu ya... (Ikhtiar pertama saya adalah menyerukan tagline Pak Tarno yang mudah-mudahan punya kekuatan magis untuk bisa menjodohkan saya dengan bule). HAHAHaH.

...

Terakhir dan gak ada hubungannya sama paragraf sebelumnya, setelah sekian lama akhirnya saya menyerah dan jadi bagian dari keluarga besar (mudah-mudahan bahagia) pengguna device berlabel smartphone. Dan saya menemukan yes it's way easier eversince. The handheld has been realy helpful. Yeah helpful sekali untuk keep me updated about everything, termasuk aktivitas sosial teman-teman lama dan yang paling terbaru adalah helpful memberikan berita gembira kalo temen SMP saya yang selalu dibilang sebagai cowok-setengah-jadi sekarang sudah normal dan akan menikah dalam waktu dekat. Meski kelakuannya masih membuat saya ragu akan pengakuan "I am straight, now...Totally".

And, about the updating thing, totally, I'd still prefer to have the 'live' one... :)

24.10.10

we aren't tired (yet)

Satu per satu, the process of letting go of someone in my life, berlangsung untuk benar-benar mengakhiri.

Lucunya, dulu sempat berpikir, "gue mesti menyelesaikan ini ama dia"

Tapi enggak pernah kepikiran detail caranya. Detail metodenya. Detail proses penyelesaiannya akan sepeti apa. Hanya sempet kepikiran kalo penyelesaiannya itu, "Gue mungkin akan ketemu dia, kita ngomongin persoalan kita ini dari hati ke hati, terus mengakui khilaf masing-masing minta maaf, dan menjalani hidup masing-masing tanpa perlu interaksi lagi"

Tapi ternyata emang pertemuan itu misteri Tuhan. Karena ternyata mau ikhtiar segimana rupanya, kalo saya dan orang-orang itu enggak bisa ketemu, enggak diizinkan untuk berbaikan oleh semesta, ya udah. Sesimpel itu. Dan taunya justru sama orang-orang yang dulu saya pikir permasalahan yang menjauhkan kita adalah permasalahan sederhana dan noraklah saya lebih dulu diizinkan untuk mengalami proses penyelesaian ini.

Caranya beragam dan lucu, ada yang dramatis malah. Tapi semuanya melegakan. Semua proses itu berlangsung untuk mengakhiri perasaan mengganjal, dan memulai tema silaturahmi yang baru.


"Dulu gue sempet takut banget tiap ngeliat lo. Gue berusaha biasa aja kalo dulu kita ketemu, tapi gue selalu ngeraba-raba tentang reaksi lo. Spekulasi sama apa yang lagi lo pikirin tentang gue. Gue takut banget shey, gue takut lo masih marah sama gue tentang itu..."
Seorang teman lama akhirnya jujur tentang yang dia rasa. Emosi saya, terakumulasi secuil apapun emang bisa dengan mudah dibaca lewa
t raut wajah. That's my weakness. I've been trying to have treatment at this point, sulit tapi..

"Dulu itu gue sempet marah, kesel, benci
sama lo.. Karena gue sempet ngerasa kehilangan temen. Dan gue gak mau kehilangan temen. Gue sebel ngeliat lo punya temen baru. Ngeliat lo lebih sering sama mereka, lo milih untuk lebih sering jadi orang yang populer... Gue kenal lo lebih duluan, lebih lama, gue gak terima. Gue tau tiap lo gabung sama kita lo gak berubah, tapi tetep aja gue benci sama lo waktu itu"
Mata saya berkaca-kaca when I heard these words came out of one old friend of mine, one of the best I'd say..


Ada yang lain-lain juga yang temanya masih sama, dampak dari aktivitas sosial saya yang baru dan mungkin berlebih kala itu, yang saya tidak sadari. Iya, faktanya waktu itu saya gak nyadar saya khilaf, dan teman-teman yang mengklaim saya 'bersalah' bahkan enggan bicara jujur karena terlanjur merasa menjadi outsider dalam hidup saya. Well then..

Dan ada juga kejadian yang sudah lewat beberapa bulan yang lalu bersama si Abang abu-abu (nama disamarkan). Setelah sebelumnya dia memancing percakapan, dan saya tanggapi, akhirnya Abang satu itu bercerita dan berbagi kehidupannya yang sekarang. Tanpa diniatkan, tanpa direncanakan, tanpa diangan-angankan sebelumnya. Tiba-tiba kita jadi saling memaafkan. Beautiful.

Forgive and forget. Memaafkan selalu mudah, tapi sepertinya tak perlulah dilupakan... Iya kan?

Anyway, dan ada yang saya pengen sampaikan juga di sini. Kalau-kalau ‘kamu-yang-merasa’ baca ini, kamu mungkin akan langsung PING-PING-PING saya, but that would be okay. Hey, I understand the words "Kamu terlalu baik buat aku". That aint sweet, you know.. That’s just another silly way saying “i am just not into you” And It’s so...oldschool. HAHA.

Voila, yang kecil-kecil udah selesai. Kayak jerawat yang udah pecah, kering, bikin lega. Now I'm waiting to see and face those other bigger deals... Susah buat 'letting go' yang ini sepertinya. Kepalanya meski sama-sama hitam tapi kerasnya melebihi milik manusia-manusia biasa. We aren't yet ready or maybe we aren't yet tired, are we? :)

12.10.10

"lupa..."

Ternyata alasan paling simple biar enggak ditanya-tanya lebih lanjut itu adalah dengan bilang 'lupa'.
So easy.
"Eh sheiy, blablablabla..."
"Hah? yang mana? Lupa gueeeee.." #nyengir#
"Yah, masa lupa sih?"
"Yah, gimana dong?"

Lupa enggak dosa, berbohongnya emang dosa. Tapi kalo dipaksa inget dan dipaksa ngebahas hal yang menyebalkan dan bikin ngedumel di belakang atau parahnya malah bikin ngegrusuk pengen nangis guling-guling, jadi lebih baik pura-pura lupa.

Cobain...

3.10.10

numero uno rivale.

Dia membakar sendok di atas lilin yang menyala-nyala. Saya berdiri di sebelah kirinya, menatapnya heran.
"Panas enggak ya?" dia tanya. Saya menggeleng lemah sambil menjawab tidak tau. Tiba-tiba ditempelkannya sendok panas itu ke pipi saya. Saya menangis meraung-raung. Kejadian itu sudah belasan tahun yang lalu, tapi tidak terlupa seperti kenangan-kenangan lain. Membekas dengan jelas meski lukanya fisiknya sudah tak tampak lagi di wajah saya.



Ah, that silly boy now turns into someone greater. My number one rival is now sailing away to conquer the world. Do your best, brother... Do your best!
Mari melipat jarak dan menabung rindu, I will always pray for your goodness.
Saying good bye is the hardest part, how about "see you again?"

27.9.10

karena yang ideal pun akhirnya tidak idealis lagi.

Waktu jaman kuliah, enggak takut saya sama orang pinter. Enggak takut saya sama orang yang pinteeerrrrr banget (aja).
Yang mengerikan itu kalo orangnya pinter tapi bisa multitask(s)ing dan peka sama lingkungan sekitarnya. Ideal. Ideal untuk jadi mahasiswa.
Tapi kalo udah 'lepas' status mahasiswanya sangat besar kemungkinan yang ideal ini jadi enggak idealis lagi.
Ternyata segalanya belum pasti seperti halnya matahari yang terbit di Timur dan terbenam di Barat. Karena kita masih sama-sama meraba-raba untuk mencari pegangan tiang yang paling kokoh.

25.9.10

misunderstanding.

Well, I'm a girl, female, and I'm not supposed to be predictable.
I'm sure this has been a misunderstanding.

"jangan jauh-jauh, ntar susah ngejernya..."
Layangan kali, dikejer...

20.9.10

lebaran, 2010.

Sebagai keluarga besar di Lampung, agenda rutin kumpul keluarga biasanya selalu riweuh dengan ngomongin orang, ngomongin orang, dan ngomongin orang.
Sebenernya agendanya bervariasi, tapi intinya balik-balik jadinya ngomongin orang juga.
Inti dari kegiatan reuni itu kan mengungkit-ungit kejadian di masa lalu baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.
Part mengenang ini pasti ada unsur ngomongin orangnya, susah dihindari.
"Inget gak waktu kita ke lebaran tahun lalu.. Ih rame ya, seru gitu. Tapi si itu kenapa ya gak dateng.. Sombong ya si dia sekarang. Blablabla"
"Si itu yah kemaren katanya baru ganti mobil. Yang lama gak dijual gitu. Duitnya ngegunung ya.." -bahasanya dong, ngegunung...-
Panjang. Gak abis-abis. Penuh dengan canda namun sinis dan miris.

Inti dari kegiatan kumpul keluarga yang kedua, adalah jadi ajang memberikan petuah dan mengasah ingatan para tetua pemberi petuahnya.
Saya sebagai calon generasi penerus, sudah pasti masuk daftar yang diberikan kuliah dan ceramah tentang kehidupan.
Jadilah, biasanya, sementara adik-adik sepupu yang lain bisa berlari-larian ketawa ketiwi numpahin makanan atau ngepabalatakin (berantakin) barang, saya sama beberapa sepupu yang seumuran biasanya justru harus duduk manis dan pura-pura sumringah mendengarkan ceramah.

Dan percakapan, mulai dari awal yang dibahas dan dibuka tentang agama politik keamanan negara dan ngebandingin kondisi jaman sekarang dengan jaman mereka dulu sambil curhat colongan, biasanya akan berujung sampai pada pembahasan tentang calon suami dan calon istri.
Menurut uwak saya yang memulai hidupnya di awal tahun 70an, istilah memulai hidup ini muncul untuk mendeskripsikan kehidupan yang baru dimulai setelah menuntaskan pendidikan formal (kuliah) dan baru akan memulai membangun kehidupan sendiri dengan modal gelar pendidikan serta bekal pengalaman selama menjalani pendidikan formal tersebut. Singkatnya mah, hirarki memulai hidup itu dimulai ketika beres kuliah dan mulai mau kerja, karena setelah itu tahapannya adalah menikah, berkembang biak, dan usaha untuk ngebesarin anak.

"cari pacar yang polisi. akpol-akpol gitu.. Sekarang lg 'in' banget kan"
"kalo jaman dulu yang lulusan ITB atau yang kedokteran yang paling dicari, kalo sekarang yang top itu yang abis lulus udah pasti dapet kerja seperti lulusan AKPOL, STAN, STPDN itu.."

Cihuy. Para tetua ini sepertinya hidup di goa setahun belakangan ini atau keasyikan beribadah sampe-sampe gak nonton berita di televisi. Rasanya berita setahun ini yang terus-terusan hangat dengan temperatur terjaga ya berita tentang pekerja pajak dan para penegak hukum yang tersangkut kasus sampai-sampai membuat cacat instansi mereka seumur-umur. Saya melirik sepupu-sepupu yang lain dan mereka membalas dengan senyum-senyum yang ntah apa maknanya...

Alhamdulillah Ya Allah, masih diberi rezeki sehat untuk menikmati hari kemenangan.

9.9.10

rides off and a smile.

Weeping willow tree down at the lakes edge, Vada and Thomas J are sitting under resting quietly.
Vada : Why do you think people want to get married?
Thomas J : Well when you get older, you just have to.
Vada : I'm gonna marry Mr. Bixler.
Thomas J : You can't marry a teacher, it's against the law.
Vada : It is not.
Thomas J : Yes it is, cause then he'll give you all A's and it won't be fair.
Vada : Not true. (nervously, uncertain) Have you ever kissed anyone?
Thomas J: Like they do on TV?
Vada : Uh huh.
Thomas J : No.
Vada : Maybe we should, just to see what's the big deal.
Thomas J : But, I don't know how.
Vada : Here, practice on your arm like this.
Vada brings her forearm up to her mouth and starts to kiss it, Thomas J follows.
Thomas J : Like this?
Vada : Uh huh.
They kiss their arms for a while...
Vada : Okay, enough practice. Close your eyes.
Thomas J : But then I won't be able to see anything.
Vada raises her fist
Vada : Just do it.
Thomas J : Okay, okay.
Vada : Okay on the count of three. One... Two... Two and a half... Three!



Vada leans forward and kisses Thomas J on the lips, they both look surprised, Vada then sits back against the tree, long pause.
Vada : Say something it's too quiet!
Thomas J : Umm, Ummmmm
Vada : (agitated) Just, hurry.
Thomas J stands up and begins to say something along the lines of...
Thomas J : On political agents to the flag of the United States of America,
Vada stands up and joins in...
Thomas J and Vada : And to the republic for which it stands, one nation, under God, individual, with liberty and justice for all.

When they finish, they both still look a uncomfortable. Road day, Vada and Thomas J are wheeling their bikse back down it...
Vada : You better not tell anyone.
Thomas J : You better not either.

Vada : Well, let's spit on it.
Thomas J : Okay.
Both of them raise their hands to their mouths and spit on them, they then shake hands and when finished wipe them off on their trousers...
Vada : Seeya tomorrow.
Thomas J : Okay, seeya.
Vada starts off down the road.

Thomas J : Vada?
Vada : What?
Thomas J : Would you think of me?
Vada : For what?
Thomas J : Well if you don't get to marry Mr. Bixler.
Vada smiles, and gets on her bike
Vada : I guess.
As Vada rides off, Thomas J smiles

my thousand times re-posting this script.
My Girl The Movie.

8.9.10

in fact, it aint working.

Sudah bertahun, berkarat, berdebu. Debu buat saya adalah pemicu asma, pemicu petaka. Makanya yang berdebu baiknya dijauhi, dihindari. Lalu yang masih nyata dijaga-jaga biar tak berdebu, tak memicu petaka.

But again, time goes by.

Mau dihindari gimana juga, berjalannya waktu tentu tak terabaikan. Mau sembunyi kemana juga, berlangsungnya hari tak bisa dihindari. Mau menutup mata, menutup telinga, imajinasi dan pikiran, naluri ini terus memanggil-manggil dan berbisik-bisik dalam hati. Berbisik-bisik bertanya atau justru menyatakan? Entahlah.

“Delapan? Delapan September...”
Kadang-kadang, saat sedang menyelonjorkan kaki di kursi depan TV, menangkap gerakan dan bahasa tubuh yang mirip-mirip, serupa tapi tak sama, sebelas dua belas, rasanya tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar di dalam hati dan jadi mengulum senyum, “Apa kabarnya dia..?”.

Seseorang pernah bercerita panjang lebar tentang kawan baiknya yang merasa sedih luar biasa ketika suatu kali harus ditinggalkan oleh orang yang disayanginya. Lebih parah rasa sedihnya dari ketika dulu ia harus berucap pisah dan meninggalkan orang-orang yang ia juga sayang. Membuat saya mengetuk-ketukkan jari tangan di atas meja, menjumlah-jumlah bilangan di depan mata, sibuk-sibuk mencari aktivitas lain agar tidak justru jadi mengingat-ingat memory sedih yang inginnya sudah terhapus jauh-jauh hari, atau berharap sudah terkena virus parah sampai tidak bisa dibuka lagi, atau apalah. Yang nyatanya masih menempel juga dan berkerak di lapisan paling tersembunyi dan seringnya muncul seperti jurus wing chun, bertubi-tubi, sampai sakit dan memar-memar hati ini jadinya. Sialan memang. Tapi coba, coba, coba kamu bayangkan bagaimana sedihnya terpaksa mengalami perpisahan yang harus dilakukan sendirian?

Saya, biasanya nggak terlalu suka dengan film yang ceritanya nggak happy ending. Nggak entertaining jadinya. Tapi lebih kesel lagi sama film yang endingnya enggak jelas. Mati aja yang buat filmnya. Di dunia nyata udah terlalu banyak kejadian nggak happy ending dan ending nggak jelas, ngapain di-film-in. Bikin kesel dan jadi keinget-inget sama realita yang ada, bukan justru menghibur.

“8-9-10” See, hanya gara-gara ada yang nyebut tanggal hari ini tiba-tiba terputar lagi waktu-waktu lampau di masa itu, ketika tidak pernahnya saya mencoba mengungkit masa lalu seseorang, ketika hanya bergelayutnya saya pada rasa percaya hingga kemudian menjalani masa ketika sedang bersama, yang nyatanya tak juga bisa membuat saling bersanding dan saling memeluk masa depan.

Beberapa menit yang lalu, tiba-tiba jadi seperti diserbu perasaan untuk bertemu, bertukar sapa, bicara normal tentang waktu-waktu yang telah dilewati sendiri-sendiri, seperti teman yang telah lama tidak bertemu, yangmana juga kebetulan sangat tidak mungkin terjadi cause we dont have any history as a friend! Ah pake tanda seru ya tadi? Keliatan jadi kayak orang yang pshyco banget ya tadi? Hihi, enggak apa-apa, sesekali. Iya menit yang lalu tiba-tiba muncul perasaan aneh itu yang sanggup menggerakkan saya untuk menjemput ponsel yang berdiam diri di pojok kursi, namun baru mengetik 17 karakter menyisakan 143 karakter di fitur pesan baru, jari-jari langsung terasa kelu dan gemetaran. Nyali saya ciut kayak kerupuk kena aer. Nggak mampu menghadapai kenyataan jika nantinya pesan dibalas dengan nada dingin, atau lebih parah jika pesan tak berbalas. Enggak sanggup. Aduh, after the whole years, still... Akhirnya niat mengirim pesan itu pun diurungkan. Biarlah ending-nya tetap seperti sekarang ini.

Anyway, have you heard? Delapan katanya angka keberuntungan... Katanya.


as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends
Green Day - Wake Me Up When September Ends

5.9.10

setelah (hampir) 2 bulan..

I dont remember how many lies I've said to her in all my life.
Tapi yang terakhir itu seolah balas dendam rupanya.
Sepanjang usia-usia dewasa saya ini, banyak sekali fakta bahwa Beliau pernah tidak mengungkapkan yang sejujurnya yang ditimbang dari sisi manapun memang selalu untuk kebaikan di satu sisi, sisi saya, sebagai anak. Dianggapnya biar saya tenang, selalu optimis, dan tidak berfikir jelek. Maksudnya melindungi, dipandang dari sisinya, berbohong untuk melindungi itu tidak apa.
Padahal dulu itu ketika saya sadar saya pernah dibohongi rasanya sedikit tipis-tipis muncul kecewa.

"Kok jadi sering main rahasia-rahasiaan sih sama Ibu sekarang?"
Nyengir, padahal Ibu di ujung telepon sana tentu tidak bisa melihat ekspresi saya.
"Nggak kok Bu.. Kan aku masih bisa handle sendiri.."
"Ibu ini kalo dikasih taunya setengah-setengah malah khawatirnya bisa berkali-kali lipet loh nak..."
Inginnya dianggap sudah dewasa, yang bisa meng-handle suasana hati dan masalah sendiri, dan berusaha menata mood agar tidak mempengaruhi orang-orang di sekitar, orang-orang yang disayang, terutama. Taunya, ah sialan, taunya khilaf, lupa kalau Ibu juga orang yang dewasa yang bisa diajak berpikir dewasa. Yang kalau diberi tau baik-baiknya saja bukan hanya akan berpikir optimis seperti anak kecil tapi justru akan berpikir lebih jauh dan preventif dengan dampak negatif dan intrik-intrik yang ada di dalamnya.

Seperti kata seorang senior-alumni-yang-jauh-banget-angkatannya-di-atas-saya, biasanya ketika jadi anak kos, bertahan hidup prihatin dengan hanya makan mie instan karena jatah bulanan menipis demi memenuhi kebutuhan yang lain, tanpa disadari hal kecil seperti itu adalah bentuk dari 'menzhalimi diri sendiri' yang kalo orang tua di rumah tau mungkin akan merasa bersedih hati dan akan merasa tidak berguna seolah tidak bisa menafkahi dengan baik keluarganya. Karena kalau sakit juga nanti kan yang akan disusahkan orangtua?

Tapi, gimana ya, susah mengungkapkan kepada 'mereka yang ada di rumah' jika saat ini ada bagian kecil dari diri saya yang hanya ingin berbagi berita baik saja kepada mereka, ingin segera bisa bertanggung jawab atas diri sendiri secepatnya lalu segera bisa multitasking menjadi anak sekaligus orang yang bisa diandalkan, bukan lagi beban. That's it. Sempet kepikiran untuk mengurangi komunikasi biar enggak ditanya banyak-banyak jadinya enggak banyak bohong, but I can not to.

Ah, banyak mau kamu sheilla...

19.8.10

posisi nol derajat.

"Harus seperti itukah kepada adik? Mengerti sekali, dua kali, berkali-kali. Tidak bisa mengungkapkan beban-beban dalam hati jiwa dan raga, hanya harus mengerti, berusaha mengerti, dan wajib mengerti. Memberikan pengertian, penjelasan, menyabarkan, mengarahkan. Biar mereka lebih baik, biar mereka lebih benar, biar mereka tidak jadi keledai. Biar mereka jadi 'lebih besar'. Namun secuil sejarah yang aku punya, yang dia bilang panjang-panjang seolah-olah bukan apa-apa, untukku selalu memiliki makna sebesar Jupiter, seluas benua Asia, dan sedalam lubang hitam di angkasa yang berujung pada entah-siapa-yang-tau. Tahukah dia tentang itu? Tahukah kau, adikku?"


bravery99 on deviantART

"Rambutmu basah, aku balur dengan air bersih. Biar segar kepalamu. Kau balas siram kepalaku dengan air sabun. Biar jernih pikiranku, katamu, sambil tertawa-tawa kesenangan. Mungkin memang beginilah sepertinya seharusnya, dimana aku hanya bisa berucap sebuah judul lagu yang dinyanyikan seorang artis yang juga kebetulan adalah mantannya seorang sahabat, 'semoga kau mengerti', hihi, yang ntah kapan."

18.8.10

Live your life.. With or without. Ciao!

“Orang sombong itu, ada saatnya nanti dia jatuh dan gak ada orang yang mau ngebantunya untuk bangkit”

Ayah bilang ini ketika Beliau marah. Marah dan kesal sambil berusaha menyembunyikan emosinya di balik kata-katanya yang berusaha terkesan datar, padahal tidak. Kata Ayah, Ayah sayang sama mereka seperti anak Ayah meski tidak sepenuhnya sama. Mereka bukan saudara kandung, tak ada hubungan darah kata Ayah. Tapi Ayah tau Ibu mereka baik. Saya pun tau sekali Ibu mereka begitu baik. Ibu mereka orang baik. Untuk itu Ayah beri kasih dan sayang biar mereka bersyukur atas apa yang mereka miliki, dan memberikan kasih dan sayang yang sama untuk orang lain, entah siapa. Lalu mereka menyakiti hati Ayah. Dengan lirih Ayah berkata, “Sama seperti diludahinnya muka Ayah kalo kayak gitu”. Ada pepatah, “the ones who can hurt you the most are the ones you love the most”. Ternyata tidak perlu yang ‘paling’, yang ‘cukup’ dicintai pun bisa menyakiti. At first I ignored this thing. Ga ada ‘impact’ langsung ke saya setelah berlalunya hal ini. But now I know, Ayah hanya tidak ingin terjadi lagi hal yang sama, enggak mau anaknya nanti jadi sombong luar biasa dan seolah tidak butuh dan mau bantuan siapa-siapa lagi. Karena ada yang pernah bilang juga, ‘Hutang materi, malu hati. Hutang budi, beban hati’. Abaikan kata-kata itu. Orang yang tau diri dan tau balas budi pasti tak akan bermalu hati dan membebankan hati.

"Yang penting kalian sehat selalu dan sukses dunia akhirat" Doa Ayah yang manis.

6.8.10

agar tidak lupa.

Ada yang bilang, "cobalah ditulis"
Banyak yang berpesan untuk "ditulis biar ingat"

Satu kali, dua kali, berkali-kali. Tapi saya masih enggan. Masih ingin menata, menyusun, dan mengingatnya dalam kepala, memutarnya kembali sebagai ingatan indah, agar dapat me-recall tanpa perlu dikoneksikan dengan outernal body. Masih berusaha. Lalu menyerah. Bukan karena terlalu bangga, hanya berusaha agar tidak lupa.

Oktober 2006, detik-detik pengambilan keputusan, seorang kawan mengirimkan pesan singkat,
"gue masih pengen wisuda bareng lo dan diarak sebagai kamerad".
Ternyata indah sekali jalan yang diberi-Nya. Dipertemukannya saya dengan banyak kerikil-kerikil, batu besar, dan bahkan bola api. Tapi lalu diberi-Nya saya kawan-kawan hebat para pengendali angin, air, bumi dan api. HAHA. Kawan-kawan hebat dari seluruh penjuru Jalan Ganeca 10. Kawan-kawan hebat, terutama kawan-kawan yang berporos pada sebuah bangunan di sebelah tenggara kampus berdinding jingga yang reyot berbau tidak sedap suram dan angker namun hangat seperti pantat ayam, atau pantat sapi, entahlah.



Lalu setelah beberapa kali pesimis, pesmis, pesimis dan berkali-kali juga optimis, sangat optimis, dan kelewat optimis... Berlangsunglah hari -hari dimana saya terus berlari tergopoh-gopoh menjinjing Tugas Akhir dalam kepala, membawanya kemana-mana dan mencernanya dimana-mana ketika makan minum duduk melamun dan bahkan dalam kamar mandi serta dalam mimpi sekalipun, tiba-tiba datanglah si seminar yang tiba-tiba mencegat, sidang yang tau-tau menabrak, sampai kemudian hadir si jeda panjang yang memberi saya waktu menyelonjorkan kaki dan meniup-niup asap mengepul. Jeda panjang si pembodohan. Karena setelah si pembodohan itu, menyusullah si masalah bola api yang datang sembunyi-sembunyi di sebuah pagi hari yang mendung dan berawan hitam sepanjang siang.
Awan hitam pada hari dimana harusnya sidang yudisum berlangsung adalah sebuah pertanda buruk, trust me it is. Namun bola api ini nyatanya bisa dilindas begitu saja oleh beberapa kawan hebat nan sakti si pengendali api dan pengendali air hingga mampuslah si bola api. Hus hus, petaka pergilah kau. Tapi selanjutnya muncul bola api yang lebih dewa. Dan bola api dewa ini tidak bisa dikendalikan oleh kawan-kawan saya yang sakti. Mereka hanya kawan-kawan. Meski sakti, mereka bukan dewa. Bola api dewa buatan dewa hanya bisa dikendalikan oleh dewa. Dan dewa dalam kampus ini susah diterka wujudnya, berubah-ubah warna dan pandai menyamar seperti si mystique dalam x-men.

Namun, yah, sudahlah. Meski pada realitanya selebrasinya tak sesuai dengan ekspektasi, sepanjang hari itu harus dinikmati dan disyukuri. Terutama ketika melihat senyum bahagia ayah dan Ibu. Senyuman tabungan kebahagiaan dan menjadikan yang lain tak penting lagi. Akhirnya... Tanpa di-yudisium-kan sebelumnya, pada suatu hari Jumat yang anomali dan pendek, jadi juga si neng di-ST-kan. Aheeey. Alhamdulillah.


Special moment, 16 Juli 2010, gerbang utama kampus Jalan Ganeca No 10, Bandung.

Terimakasih Salam Kameradnya, Kamerad. So long, brothers!


"Iringi jalanku menggenggam dunia...
"

5.8.10

I am not Bella Swan, jadi please jangan paksa dan tanya-tanya aku mau pilih yang mana..

Dulu, buat saya, salah satu hal kecil yang menurut saya bisa menjadi celah besar adalah ketika seseorang menggunakan sepatu tanpa kaos kaki.
Kecil, tapi sangat mengganggu. Namun yang kecil ini lama-lama jadi mengecil, dan lama-lama seiring dengan waktu malah menghilang tak kasat mata.
Karena toleransi, karena kebiasaan, karena terlalu sering menikmati pemandangan dimana banyak kaki bersepatu tanpa kaos kaki, jadinya baal dan terbius dengan tampak kaki bersepatu tanpa kaos kaki. Lama-lama pemandangan itu jadi bukan hal yang mengganggu lagi.

...

"Waktu gue inget pas jaman dulu gue nangisin dia, gue bisa ketawa dan ngakak betapa bodohnya gue nangisin orang kayak dia. Tapi pas nginget-nginget gue ketawa-ketawa sama dia, ketawa-ketawa karena tingkah lakunya, ketawa-ketawa mengingat betapa dia mengisi hidup gue dengan banyak warna, maka gue bisa nangis gak bersuara, sakit banget, nyeri gitu, duh..."

dan jawabannya pun menyayat dan mengiris-iris,
"kayaknya lo betah jadi keledai"
"Lo tau gak, dulu gue pernah ribut besar gara-gara dia pake sepatu gak pake kaos kaki. Dulu gue jijik banget gitu. Hahaha. Tapi trus gue pernah dibuat ngakak juga gara-gara dia memaksakan pake kaos kakinya yang bolong dan karetnya udah melar gara-gara gue ngerasa keganggu banget sama orang yang bersepatu tanpa kaos kaki.. Gileee.. HAHAHA. Huhu.. Uhuhhuhuhuuu.. uhuk uhuk"
"Lo masih manusia, lo masih ngerasa, dan itu bagus. Tapi jangan lama-lama dan jangan diterus-terusin, nanti meledak dan meletup-letup sampai akhirnya lo jadi harus memilih. Mampus lo"
"Hahaha. Boleh gak doainnya mampus krn harus milih tawaran-tawaran pekerjaan aja? Jangan yang itu.."



Kecup hangat
, ST.

18.6.10

matrealistis, who?

Dan pada hari itu dalam sebuah percakapan tentang tempat makan tiba-tiba orang itu bertanya, "Lo bawa mobil apa di Bandung?", hari selanjutnya dia bertanya "cowok lo bawa mobil apa?", dan kali tersebut tidak juga saya coba kaitkan pertanyaan itu dengan apapun. Tapi kemudian percakapan dengan seorang yang lain, yang itu tuh, yang pang mangtabsnyalah gayanya, yang emang isi pembicaraan sama dia sepertinya selalu mengarah ke materi. Apa-apa ngebahas sesuatu yang di luar kapasitas saya sih sebenernya, jadi kadang suka bikin saya mikir 'nih orang pengen bercerita, berbagi pengalaman, atau sekedar show off?'. Padahal kan jarang ketemu ya pengennya ngebahas kabar, situasi, kondisi, eh loh kok ya yang dibahas 'gw kemaren baru beli ini..itu..harganya segini..dsb dsb' atau gak 'ntar gw mau kerja disana soalnya gajinya segini dan segitu blablabla' Nyerah deh... Tapi gak tau kalo emang itu yang bikin dia happy. Yah terserah... I wont fall for your 'everything you've got' anyway.

Lalu di sebuah siang bolong setelah malamnya terjadi tragedi tidak mengenakkan itu, seorang sahabat berkata "dia mikirnya lo mau deketin cowoknya karena duitnya". Terus saya cuma ketawa aja. Cuma bisa ketawa. Enggak pernah deh kepikiran buat ngedeketin orang itu, apalagi untuk ngerasa secure dengan limpahan materi dari dia. Secure yang gimana sih yang saya perlu cari lagi? Jadi ketawa ajalah ya.

I wont judge if I were you, for real. EP di belakang Pertamina yang mana adalah tempat orang yang-si-Ibu-tanyain-terus-kabarnya-kalo-saya-pulang-itu kerja adalah singkatan dari Eksplorasi Produksi, katanya. Tapi ada temen yang bilang kalo buat saya, EP adalah Ekploitasi dan Produksi, dan saya senyum-senyum kalo dia bilang ini. Cause he's a friend, he judged because he knew, and by the way, I dont think it's a judge either. It's a joke. Joke yang kalo diterus-terusin biasanya mengarah ke gimana-kalo-ardi-bakrie-ngelamar-lo dsb dsb, oh yeah, sangat-sangat-mungkin-banget kan?

Makanya waktu orang ini nih -yang entah cuma pengen nyari bahan omongan atau apa- bilang kalo saya belum mau menuju tahap selanjutnya dan masih maen kesana kesini cuma karena pengen yang 'lebih' lagi, saya bengong. Enggak senyum-senyum, soalnya dia ngomongnya asa yang yakin banget gitu. Terus saya cuma bisa ketawa setelah sebelumnya menarik nafas panjang. Kalo saya naga udah pengen nyemburin api ke mukanya kali. Ckck.. Terus flashback, orang ini nih kan yang dulu juga sempet ngerusak pikiran saya dengan statement-nya 'kalo cewek mutusin cowoknya buat jadian sama cowok laen itu pasti cewek gak bener', dan bikin saya nyari contoh real-nya di sekitar, dan rusaklah pandangan saya tentang orang tsb. Gak fair banget. Padahal kalo yang ngejalaninnya happy kenapa enggak sih? Terus dia kemaren banget nyeletuk, 'jadi kayak trophy bergilir, hihihi hihihi', yang jelas langsung saya cerna dulu maksud dan arahan ngomongnya apa. Ckck.. Astagaaaaaa. Ah, udahlah.. Emang kayaknya hobby aja deh dia komentarin gak enak tentang orang... Jadi gapapa kalo dia bilang saya matrealistis juga. Ketawa ajalah yaaaaa... Semoga damai selalu idup mbak deh. Piss love and gahul!


I'll never talk again

oh boy you've left me speechless
you've left me speechless
so speechless

(Lady Gaga, Speechless)

17.6.10

keep questioning.

(Peter and Vandy, 2009)
Vandy: Here we are.
Peter: Here we are. Are there any other things you have to do to get ready for your trip? We could just take it slow try to work through things. I'm sorry. You told me to stop apologizing. I don't know why I keep doing it. I'm not acting like myself.
Vandy: Peter.
Peter: Yeah?
Vandy: Everything that happened with us happened for a reason. This is who we are together. We're just going to stay the same way it's not going to be any different.
Peter: Yeah I know. I understand what you're saying. I understand you. This is what I want. You are the person that I have to be with. Do you feel the same way?


Well, do you feel the same way, dear?

15.6.10

if you can't see it, does it mean it doesn't exist?

Kamis dini hari, Ganesha 10 menuju Bojongwetan 2a.

Saya: Lucu, si boni sakit loh.

Si lucu: .....
Saya: Bukan, bukan karena front lamp-nya yang kemaren cuma redup satu jadi redup dua-duanya atau malah jadi mati dua-duanya, bukan juga karena klaksonnya yang suaranya kayak ayam sakit panas itu, bukan.. Lebih parah, katanya mesinnya lagi rusak gitu. Ada yang retak apaaaa gitu. Hiks,
Si lucu: .....
Saya: Walaupun saingan kelucuan kamu jadi berkurang satu, tapi kamu jadi ga ada temen main ihhh. Cep cep cepp..Jangan sedih, lucu.. Anyway, kamu jangan jadi sakit juga ya? Kamu harus tangguh. Harus kuat. Harus mandiri. Harus bisa percaya sama diri sendiri kalo kamu bisa melewati banyak hal di luar sana. Kamu memang akan selalu punya aku yang akan ngejaga kamu, ngerawat kamu. But it wont stay long. Ada saatnya nanti kamu atau aku harus sama-sama beranjak dari kebersamaan kita ini. Dan kemudian kamu dan aku harus kembali menjadi pemimpin bagi diri kita masing-masing... Jangan lupa takaran simpati dan empatimu tidak boleh berlebih. Satu atau dua sendok bukan masalah, namun takaran ketiganya harus kamu timbang lagi dan lagi biar tepat sasaran. Make me proud, lucu.. Make me proud!
Si lucu: .....
Saya: Ahh.. Si Boni sakit parah.. Semoga cepat sembuh, Boni..

12.6.10

RAWR!

Jadi inget, kemarin temen-temen deket saya lagi banyak yang putus cinta gitu, ckck. Kirain yah, dulu itu pas banyak yang bersemi cintanya dan jadi pada punya pacar itu bakalan nularin ke yang masih madesu. Taunya malah yang udah ke arah yang lebih baik ini jadi ketularan madesu juga, wkwk. Piss ah.. Seorang teman berkata, “Masih banyak ikan di laut.. Yeah..kalo nyarinya ikan..” Ckck..see, komentar madesu dari orang madesu... :D Nah, jauh sebelum itu di TV lagi ada yang ngebahas-bahas tentang patah hati dan enggak tau kenapa pas ada pembahasan tentang patah hati di TV itu trus nyeletuk aja, “Udah lama banget kayaknya sejak terakhir kali ngerasa patah hati...”

Sungguh, culas. Dan pongah. Ah, gak akan lagi-lagi ah pongah.
Kenapa?
Karena taunya beberapa hari setelah itu, ibarat kena batunya, tiba-tiba di luar ekspektasi diketemuin sama mahkluk yang secara fisik bikin mata seger, dengerin suaranya bikin pengen bobo, dsb dsb. Tapi tiba-tiba aja lagi sendu-sendunya nikmatin kehadirannya, tau-tau kayak ada petir nyamber-nyamber gitu. Tiba-tiba muncul suara-suara menggoda yang mengatakan dia baru nikah, pengantin baru, masi anget-angetnya. Dan kemudian keberadaan cincin manis di jari manis tangan kanannya ibarat berteriak lantang, “STAY AWAY, udah ada anjingnya!” Cih, patah dan berserakanlah kemudian hati ini, setelah sekian lama.. Huhu.

Lalu kemudian muncul juga si orang itu, yang keintiman dengan keluarganya bikin ngerasa ademmmm, yang fakta bahwa dia terfasilitasi tapi gak justru jadi bikin dia kayak kaum pada umumnya dan bikin saya jadi kepengen nepuk-nepuk pundaknya dan bilang how great he is now, yang kemudian dengan sangat on time sesaat ketika azan maghrib berkumandang dia langsung bilang, “kita cari masjid dulu?” ckckck.. Bener-bener berubah dia. Tapi taunya eh taunya sama parahnya, sebelas dua belas, bukan ready stock juga doi, jiahhahahaha. Sedikit patah-patahlah kemudian hati ini lagi...

Tapi terus setelah itu muncul si Declan ini. Udah sejak lama banget sebenernya saya jatuh cinta sama nama DECLAN. Kepengen kepengen banget punya anak laki-laki buat dinamain Declan. Atau hewan peliharaan, anjing, kura-kura atau apalah yang bisa dinamain Declan. Tiba-tiba muncullah dia, the man of my dreams. Namanya Declan. Gantengnya standar. Tapi uuuhhhhh... Gitu deh, bikin goyah keyakinan untuk enggak curi-curi pandang ngeliatnya kalo dia terus-terusan memandang dengan tatapan ‘sini-neng-abang-kelonin’. Bhahahaha. Jadi pengen keramas ngebayanginnya. :P


Anyway, enjoy...

Matthew Goode. Role palying as Declan at Leap Year (2010), a man with mustache and beard, just exactly alike the one in my dreams... RAWR!

11.6.10

zoom-in and zoom-out.

Pagi itu berada di salah satu tempat paling tidak nyaman yang saya pernah singgahi.
Tidak nyaman bukan karena atapnya yang beberapa sudah bocor dan jadi ditambal sulam, bukan juga karena temboknya yang tampak visualnya udah enggak karuan, bukan juga karena tidak amannya, dan yang pasti bukan juga karena joroknya orang-orang yang dikatakan sebagai pemiliknya. Pemilik, gitu? Tapi kenapa mereka tidak memperlakukan tempat itu seperti selayaknya mereka memperlakukan sesuatu yang mereka miliki? Terus masuk ke dalamnya. Penuh, sesak, semuanya terlelap. Tidak perlu menatap mata-mata mereka satu persatu untuk tau siapa mereka. Lekuk-lekuk tubuh yang saya familiar betul. Bukan orang baru. Bukan orang asing. Merasa lega, hanya sedikit, karena lalu tergelitik, apa kabarnya kalau mereka-mereka ini sudah tidak lagi ada di sini.


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..


PLAK! Bukan, itu bukan suara orang ditampar. Tapi sebuah suara paling tidak asing yang belakangan selalu saya dengar tiap kali berkunjung ke salah satu tempat paling tidak nyaman itu. Kerumunan yang ber-centroid pada balak-balak goplak. Lalu ada yang hanya duduk. Lalu ada yang asik dengan gadget masing-masing. Lalu ada yang tampak baru datang, melihat situasi dari kejauhan, terlihat ragu, kemudian menarik kakinya dan bermanuver menuju arah yang lain. Terus iseng aja ngeliat poster, poster sosialisasi pemilu.
"Eh, pemilu? Pemilu kapan jadinya?" Nanya ke orang yang lagi duduk paling dekat dengan posisi saya berdiri. "Eh, nggak tau, itu tanggal berapa di situ?" Dia menjawab tanpa bergeming. Saya pura-pura tidak mendengar jawabannya. Menyadari bahwa dia orang yang harusnya orang paling tau bahkan seolah-seolah tidak pernah tau tentang keberadaan poster itu membuat saya sedikit kecewa. Kemudian mata ini mencari-cari si pembuat poster, atau temennya si pembuat poster, atau orang yang berperan sebagai model dalam poster, berasumsi informasi yang mereka punya mungkin lebih banyak lagi. Ah, kecewa lagi. Kayaknya mereka pelit informasi, karena setelah nyari-nyari kemana-mana, mata ini tidak juga menemukan anak-anak muda si sumber informasi itu. Ah, pelit kali pun informasinya disimpan sendiri.


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..


Kamu tau proses rektifikasi? Rektifikasi merupakan salah satu proses pemberian koreksi geometris pada sebuah image atau citra satelit. Dalam prosesnya, salah satunya bisa dilakukan dengan model matematis polinomial menggunakan beberapa titik. Titik-titik yang dimaksud disini adalah koordinat yang dianggap benar sebagai referensi, dan titik-titik tampak pada image atau citra yang akan dikoreksi. Root Mean Square Error (RMSE) value dari model matematis tersebut kemudian dijadikan acuan untuk menilai apakah hasilnya sudah baik atau belum. Dalam beberapa literatur tugas akhir yang saya baca, seringkali hasil yang buruk pada RMSE ini dianalisis sebagai akibat dari pemilihan titik yang kurang (tidak) tepat.
Hmm..Pemilihan titik yang tidak tepat.. Kenapa bisa terjadi? Alasannya bisa beragam, tapi yang pasti, mengidentifikasi secara visual sebuah piksel-piksel gambar memang tidak lebih mudah dibandingkan mengidentifikasi deretan angka. I mean it. Dan ada sebuah kunci juga disitu. Dalam memilih sebuah titik untuk proses rektifikasi, yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi visual terhadap satu image/citra secara keseluruhan. Dengan melihat image secara keseluruhan kita bisa mengidentifikasi banyak objek dan kemudian memilih satu titik yang akan dijadikan sebagai referensi. Namun ketika hasil hitungannya menunjukkan titik itu ternyata bergeser dan salah, kita harus melakukan zoom-in untuk melihat lebih dekat lagi dan melihat dimana letak kesalahannya baru kemudian bisa membenarkan posisinya. Setelah proses itu dilakukan, proses zoom-out kemudian harus dilakukan untuk melihat lagi titik itu secara keseluruhan, apakah titik tersebut sudah tepat? apakah titik tersebut tidak berbeda jauh dari referensinya?, then if the answer is YES, we can continue to the next points.

You know, maybe we need to do this 'zoom-in' and 'zoom-out' thing to rectify us. And having the best points, best things in common, best corners, to get our best RMSE value? Well, it's just a maybe. I am outside the box, I can see better but I will judge only if you-the one inside the box-are not letting me know the troubles and mistakes you are having right now. That what it is. I miss you all anyway...


kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti,
semuanya mendapatkannyaaaaa
..
semua senang bersama-sama..

9.6.10

excuse, pada awal Juni 2010...

Tanggal Lima.
Me: My first time, jadinya aku daftar p*tronas
A friend: Ih, pengkhianat bangsa.
Me: Kok gitu?
A friend: Iya, daftarnya pasti karena tergiur gajinya kan?
Me: Enggak, iseng, kebetulan juga kualifikasinya pas, hehe.

Tanggal Sembilan.
Me: Dan bahkan gak kepanggil untuk tes awal. fcuk.
A friend: Wah, kenapa?
Me: I dont know.
(dalam hati: "mungkin karena dari awal memang merekanya gak mencantumkan kualifikasi bidang geodesi, mungkin juga karena akunya belum resmi lulus dan pegang ijazah, atau gak ya bisa juga karena orang-orang kayak kamu nih yang sejak awal berpraduga aku pengkhianat bangsa jadi doanya udah jelek duluan..Ckck..")

I know, you know, that's just an excuse.. :P

30.5.10

kotak yang dibuang sayang.

Pas kemaren itu kelar tahap satu (baca: seminar tugas akhir), ayah SMS ngasi ucapan selamat dengan peretelan basa-basi mengenai subjek yg saya angkat jadi judul tugas akhir. Ngerasa aneh sedikit tapi, soalnya Beliau menyapa dengan nama 'shey' disela-sela ucapan selamatnya. "dengan tema yang diambil shey dsb dsb dsb", begitu cuplikannya. Curious. Karena ayah selalu mendoktrin sejak kecil dengan panggilan ayu. Enggak pernah sheilla, enggak pernah batin (padahal saya selalu suka dipanggil batin), apalagi teteh atau mbak. Enggak.. Makanya aneh pas tiba-tiba muncul panggilan shey dari ayah yg entah sejak kapan juga itu munculnya.

Eh, sejak kapan sih?

Lalu, jadi muncul juga memory seseorang yang dulu selalu panggil saya bunda. Sampe sekarang dia kekeuh panggil saya bunda. Padahal dia lebih tua dari saya, dan sadar diri sepertinya gak ada juga dari diri saya yang mengindikasikan saya punya sifat keibuan, seriously. Mudah-mudahan sih jadi doa, saya emang kepengen cepet-cepet jadi ibu meski belum kepengen cepet-cepet jadi istri. Haha. Eh apa kabarnya dia ya sekarang? Mau married katanya.

Terus tiba-tiba, kelang beberapa hari dari pertanyaan dan sekilas ingatan itu muncul, tau-tau saya bangun tidur udah ada di tempat tidur yang bau ruangannya saya hapal betul. Ruangan yang ada satu lemari penuh komik di salah satu sudutnya, isi komiknya salad days-the pitcher-detektif conan-doraemon, dan sedikit awut-awutan penuh barang. Sama. Bedanya hanya saat ini kebanyakan barang di dalamnya bukanlah barang-barang saya. Dan satu hal yang sama pula, di salah satu sudut lain dalam ruangan ini masi juga teronggok sebuah kotak. Udah enam tahun, ternyata? Dan ternyata oh ternyata, sepasang tangan nakal yang iseng banget ini lagi dan lagi ngegerayangin isi kotak tsb dan malah jadi menemukan jawabannya di dalam sana. Iya, jawaban dari pertanyaan kenapa saya punya panggilan shey.

Ada sebuah kertas. Isinya kata-kata,

Semalam aku mencoba membuat puisi untukmu. Tetapi setelah 2 jam tanpa hasil, yang tertulis hanyalah namamu, SHEYLA

Gombal, kronis gombalnya. Astrojim. Dan di bawah tulisannya ada nama yang ngasih kata-kata itu. Geli sendiri. Mungkin pas nerima kertas itu pertama kali dulu saya jejingkrakan kali ya, padahal saya yang di masa kini geleuh sendiri ngebacanya. Lebih geleuh lagi pas inget orang yang nulisnya, amit –amit, dia pasti pengen muntah dan akan sumpah serapah kalo saya nunjukkin kertas itu, hahahaha, pasti dia ngerasa aib banget pernah nulis yang kayak begitu untuk orang kayak saya. Iya, sejak itu dia panggil saya shey dan yang lainnya jadi kebawa-bawa ikutan manggil dengan sebutan itu. It’s okay though.

Terus masih banyak banget juga hal lainnya di dalam kotak itu. Termasuk karcis-karcis nonton bioskop, kertas ini dan itu, curhatan dalam buku harian yang isinya kebanyakan keluh kesah tentang pelajaran di sekolah yang gak asik, tentang kebosanan dengan rutinitas belajar demi masuk PTN idaman, atau latian softball yang bikin capek, dan rapat-rapat OSIS yang gak seru, plus kejadian mabal sekolah yang selalu menyenangkan ahahaha. Di dalam kotak itu ada juga tas punggung warna coklat dari seseorang, foto-foto yang buanyaaaaaaaakkk sekale, dan CD-CD yang setelah di-cek taunya juga isinya foto-foto dan lagu-lagu sama video yang aduh duh duh bikin nyeri hateeee. Sesaat setelah selesai ngoprek semuanya tiba-tiba tersadar mata sudah sembab dan ingus meler ga keruan. Shit. Kotak pandora...

Anyway, ada kejutan lainnya juga di dalamnya. Ternyata meskipun ngerasa norak banget karena menemukan dan menyadari betapa dulu saya begitu naif, begitu kekanakan, begitu polos, begitu banyak berharap, begitu berpikir positif, taunya saya bisa juga menemukan bahwa dulu itu saya lumayan keren loh. Ahahaha. Keren? Iya, soalnya ada masa pas saya lagi sedih banget gara-gara seseorang gitu, trus jadi berharap dan mencoba sabar untuk menunggu tapi taunya dia seolah gak peduli dan terus-terusan asik dengan dunianya sampai akhirnya saya memutuskan untuk enggak ngarep lagi dan kemudian jadi mencurahkan suasana hati saya kala itu di sebuah kertas. Kertas robekan, mungkin dari buku harian, entahlah saya lupa. Isinya gini,

Untuk kita yang masih bertahan mencintai yang sudah pergi, hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kita bertemu seseorang lalu jatuh cinta, dan kemudian kita menyadari bahwa dia bukanlah jodoh kita. Dan kita telah menyia-nyiakan bertahun-tahun untuk seseorang yang tak layak. Kalau sekarangpun ia tak layak, lima atau sepuluh tahun lagi dari sekarangpun, IA TAK AKAN LAYAK... Maka biarkan ia pergi dan lupakan

See? Entah itu copy paste atau apa, tapi menggunakan istilah layak dan tak layak pada masa dimana emosi masih begitu labil seperti masa itu adalah sesuatu yang luar biasa buat saya. Luar biasa gila dan jujur. Begitu labil dan berani dengan tidak adanya intervensi maupun ekspektasi pertimbangan apapun untuk melibatkan dia di kehidupan saya selanjutnya. Hanya sebuah harapan mudah-mudahan dia bahagia, saya bahagia, sendiri-sendiri, amien, dan jangan dipertemukan lagi Ya Allah. Iya, yang taunya dikabulin sama Allah, trus taunya malah sempet tiba-tiba jadi pengen diketemuin, minta sama Allah lagi untuk diketemuin kalo emang jodoh, dan ternyata pas diketemuin justru jadi keringet dingin dan ngarep-ngarep bisa punya jurus menghilang. Ckckck.. Dasar manusia. Hey manusiawi banget sih kamu sheilla?

Ah sudahlah. Lima tahun toh sudah berlalu, kamu sudah bahagia, lalu apa?

16.5.10

seorang kawan: "minggu yang berat?"

"jangan menyerah"
"tabah sampai akhir"
"dimana ada kemauan, di situ ada jalan"
"bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"
"orang yang gagal adalah orang yang tidak pernah mencoba sama sekali"
"it happens, it sucks, but you survive"
"sikat gigi sebelum tidur"
"mengan pai"
"abis ini kita ke dufan"
"abis ini ke karimun jawa"
"abis ini bisa pulang"
"kita pernah ngelewatin yang lebih berat!"


DATANG - DIBANTAI - PULANG.

"selamat (di)makan..."

20.4.10

ayam ayam ayam, bebek...


Different. by ~AnGiE91 @DeviantArt

Telah salah menilai beberapa hal krusial yang telah dibawa-bawa selama beberapa tahun ini.
Kirain, kalo orang yang kayak gitu tuh emang gak punya sense of belonging dg orang lain. Atau emoh untuk punya. Makanya dia tega. Makanya dia gak mau gabung sama temen-temennya. Makanya dia lari dari masalah yang dia hadapi. Eh enggak deng, yang terakhir mah kirain karena pengecutnya ketang.

Taunya, sepertinya, saya perlu berempati lebih dalam lagi untuk melihat dan menilai orang lain sebelum mulai menjustifikasi. Padahal kan gak tau juga yang sebenernya realitanya dan kondisinya kayak apa.
Siapa tau, dulu itu dia sakit parah jadinya sempet gak bisa ikutan. Gak bisa ikutan sekali, biasanya jadi kebawa-bawa males ikutan kali lain-lainnya.

Siapa tau dia emang enggak suka kumpul-kumpul sama orang banyak. Makanya males aja ngeliat orang-orang buat cari temen banyak kok harus repot-repot ikutan proses yang panjang, ribet, gak nyaman. Jadi takut. Jadi pengecut.
Siapa yang tau juga, kalo (mungkin) emang dia ngerasa gak ada kepentingannya untuk bergabung di sebuah komunitas yang seperti itu. Gak mengasah skill, gak menyumbangkan nama besar, gak juga menguntungkan secara finansial.
Nah loh nah loh, akhirnya malah jadi berprasangka 'pasti ada kalkulasi di dalam probabilitas penjelasan untuk seorang dia sampai bisa melewatkan bergabung dalam komunitas ini..' Yang sekedar komunitas bagi sebagian orang, tapi keluarga buat saya. Ah, tuh tuh kannn mulai lagi. Jahatnya. "Please deh sheiy, siapa kamu yang ngerasa punya hak menjustifikasi diaaaaaaaa..."

Udah ah. Mau minta maaf aja kalo dikasi kesempatan untuk minta maaf. Ternyata emang semua manusia itu bisa saling bantu dengan caranya masing-masing. Ternyata dia yang gak pernah saya kenal, gak kepengen saya kenal, dan dulu banyak suara mewanti-wanti untuk gak usah dikenal... Nyatanya sekarang malah kayak lagi ngebimbing saya, dengan caranya sendiri.
"Lewat jalan yang ini, dek.."
"Coba kamu muter dulu sedikit, terus coba metode yang itu.."
"Nah..Nulisnya kalo dipisah-pisah jadi lebih enak kan?"
Yah sejenis itu. Dalam imajinasi, ngebaca tulisannya kayak lagi dibimbing dengan bisikan-bisikan seperti itu. Dibimbing dengan caranya sendiri.

Anw, makasi ya mas penulis Tugas Akhir berjudul 'Analisisi Nilai Backscattering Citra RADARSAT untuk Identifikasi Padi'. Gak kebayang kalo saya harus ngelewatin masa kuliah saya seperti jalan yang mas pilih...Jalan untuk berbeda. ckckck...

"Ayam ayam ayam.. Bebek bebek bebek.. Ayam ayam ayam, bebek..
Ayam dipatok bebek, bebek dipatok ayam..
Ayam bebek patok-patokan!"

17.4.10

nasi menjadi bubur.

temen a: pake BB* dong makanya..Sekarang kita kumpulnya di group BBM**..
saya: ehehhee.. sabar yah, ntar kalo gue udah bisa beli sendiri..

temen b: shey pake BB dong, pada kangen nih kita. ngilang deh kamyuuu.
saya: iya sama, kangen juga, kangen banget malah. aku kan gak ngilang, aku emang kecil tapi aku masi keliatan kooook :)
temen b: jual aja HPnya yang sekarang beliin BB.
saya: waaaah susah ya kita mau berkomunikasi, harus nyamain sistem dulu.. hehe. kamu kalo kangen tinggal sms, aku pasti bales. kalo telpon, pasti aku angkat. kalo dateng ke rumah nanti aku kasih sumbangan. hehe.
temen b: yah, padahal rame loh di grup kita..
saya: :)

temen c: Semoga sehat, enteng jodoh, murah rezeki dan blablablabla, amienn.
saya: Iyaaa..Dan semoga gw dikasi rejeki buat beli BB dan bisa gabung di BBM 9crew..amien.
temen c: HAHAHA.

temen d: sumpaaahhhhh???? demi apaaaaaa???? ih kok bisa? kok baru cerita lo sama gue?
saya: gw kira lo gak mau temenan sama gue lagi gara-gara gw gak punya BB.

temen e: Sheiyaaa..Happy birthdaaayyyy.. Blablablabla. Eh iya, bagi PIN dong..
saya: iya..makasi..PIN apa? ATM? Heheh.
temen e: PIN BB doong.
saya: dooooongg? Kamanaa ateuuhh. Aku gak pake BB, sayang.. Belum tau urgent-nya pake BB teh apa..

Keinget. Pernah, lagi jalan berempat sama temen-temen yang cewek semua, dan pas saya yang nyupir, tiga pasang mata lainnya terus terpaku pada layar BB masing-masing. Sebentar-sebentar cekakak-cekikik, senyum-senyum sendiri. Entah karena apa..
Keinget juga, pernah, masuk ke dalam lift, udah ada 2 org di dlm lift itu sebelumnya. Dua-duanya sama-sama terpaku menatap ponsel masing-masing, BB. Dan pas saya sampai di lantai yang saya tuju, keduanya baru sadar kalo mereka melewati lantai yang mereka tuju. Cool..
Keinget lagi juga, sering banget satu ruangan dengan seseorang. Dan dia hampir selalu asik sendiri dengan BB-nya yang kayaknya selalu dia bawa kemana-mana itu. Gak menghiraukan kehadiran saya. Mendongak hanya sesekali. Ketawa-ketiwi sendiri bikin ngerasa risih. Apa siiiiiiihhhhh... Segitu happening-nya ya?

Kata seorang temen, "Itu dampak karena lo ada di luar sistem.."
"Tapi untuk masuk ke dalam sistemnya kan bukan hal yang mudah. Dari segi ekonomi gak ekonomis sama sekali gitu..."
"Kata siapa? Coba lo pikir.. BB itu justru mempermudah komunikasi, tau. Kayak lo ketemu dan berinteraksi sama orang yang berkilometer-kilometer jauhnya, bisa dipaket dengan biaya yang yah berapa sih, 180rb perbulan? Ekonomis banget kannn.. Kalo buat yang pacaran kan hemat banget.. Apalagi yang LDR***"
"Yeah.. mempermudah komunikasi buat yang jauh-jauh. Tapi kok asa malah ngerusak komunikasi sama yang deket-deket.. Plus, mendingan interaksi langsung kemana-mana deh..."
"Lo gak ada di dalem sistem sih shey.."

Kalo nginget-nginget gesture orang-orang yang lagi asik sama dunianya sendiri itu mungkin sebelas dua belas efeknya sama kayak ketika layanan SMS masih berjaya dulu ya. Yang dulu, pas jaman SMS masih beken banget, jaman dimana SMS-SMS ajaib masih mewarnai dunia (dunia saya mungkin ya...) hahaha. SMS ajaib, yang mungkin kamu juga pernah ngalaminnya, SMS yang kalo udah selesai dibaca bisa bikin kepikiran dan jadi kepengen ngebaca lagi, pengen mastiin tadi itu terakhirnya bilang apa ya, 'good bye' apa 'bye' aja ya? Kepikiran. Trus nerka-nerka maksudnya orang itu bilang kayak gitu apa ya. Dibuka lagi inboxnya, baca-baca, senyum-senyum, ngerasa happy lagi.. Yah itu. Norak, tapi..tapi..nyata. Hahaha.
Dan udah lama saya gak nerima SMS-SMS yang kayak gitu lagi. Sampai momentum di hari kemarin itu. Kayak dikasi kado aja rasanya. Dibaca lagi, ah, tapi emang yang paling mengerikan itu kata-kata di awalnya. Ternyata... Taunya... Kok bisa... /sigh/
Mudah-mudahan dia enggak ngebaca yang sebelum-sebelumnya. Aaaaa... Andai saja bisa di-undo dan di ctrl+z. Andai sajaaaaaa...
Yah sudahlah, berharap aja semoga dia mengerti. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang kita butuhkan sekarang hanyalah ayam suir-suir dan kecap asin untuk menikmati hidangan nasi yang sudah menjadi bubur ini... Nyamm.

*) blackberry
**) blackberry messenger
***) long distance relationship

16.4.10

hari ketika Ibu jadi sang juara.

Ibu beberapa hari yang lalu memberi kabar kalo si adik, dimas, akan segera ke Bandung untuk ikutan tes-tes buat masuk kuliah lagi. Sekitar tgl 20an bulan ini katanya. Di sisi lain, senang bukan kepalang. Awww tidur gak sendirian ahsek ahseeekkk. Tapi di sisi lain jadi tambah deg-degan bukan kepalang. Kedatangan si adik mengindikasikan waktu yang semakin mepet ke akhir bulan ini. Dan mengingat hal itu selalu bisa bikin saya deg-degan keringet dingin susah tidur susah makan kayak lagi jatuh cinta gitu. Haha. Iyah, emang segala sesuatunya kalo di-parameter-in waktu itu bawaannya jadinya gak santai. Perasaan weekend minggu lalu masih ikutan nyanyi nyanyi ketawa ketiwi haha hihi di acara wisuda-nite-april, eh kok tau-tau udah mau weekend lagi. Ckck.. Kemana hilangnya satu minggu kemarin oh noooooo.

Wisuda hari Sabtu tgl 10 kemarin bikin saya seneng banget. Banyak ketemu sama temen-temen lama dari lintas jurusan. Refreshing bangetlah. Refresh ingatan tentang kehidupan selama perkuliahan. Tapi selain seneng banget juga iya tinggal dibalik aja kosa katanya, ngenes banget. Miris ngeliat temen-temen sendiri yang dulu asa kalo mau ujian belajarnya bareng, ngerjain tugasnya selalu bareng, dan main juga selalu bareng-bareng banget. Eh taunya mereka lulus duluan dan jadi pemuda-pemudi-harapan-bangsa lebih dulu dengan menjadi calon-wajib-pajak-untuk-pembangunan-bangsa. Nice. Tapi gapapa, seorang senior yang jadi danlap paling ngeselin waktu OS saya dulu (yang ceritanya malah jadi deket banget gitu sama saya) selalu menggaungkan pernyataan penguat hati: “Lulus kuliah duluan itu gak jadi jaminan kalo kamu sukses duluan...”. Walaupun ketika dia pertama kali bilang itu dan yang langsung saya cerna adalah andai-andai tentang suksesnya sementara parameter sukses orang itu kan beda-beda, tapi statement itu bener-bener jadi penguat hati saya. Rasanya cukup sudah lima tahun di sini ya. CUKUP.


Iya, cukup. Udah memasuki usia kritis sekarang. Tengah malam sebelum resmi menyandang usia 22 saya susah tidur dan guling-guling bolak balik badan di tempat tidur, keinget deadline dan akhirnya malah nyalain laptop, ngulik-ngulik, mentok, stress sendiri balik lagi ke tempat tidur. Baca komik sampe ketiduran. Menjelang dini hari sebelum benar-benar terlelap itu saya tiba-tiba teringat 5 tahun yang lalu. Oh menn..mengingat 5 tahun yang lalu selalu bikin sesuatu yang berjuta-rasanya itu kembali menghampiri. Sesuatu yang bikin saya jadi mendayu-dayu. Di sebuah kolom di media Indonesia yang pernah saya baca, penelitian membuktikan kalo manusia itu memang punya kecenderungan lebih bisa mengingat segala sesuatu yang berbentuk emosi. Dan kalo saya adalah salah satu objek percobaan, maka saya bisa menguatkan statement itu. Saya gak inget detail di hari yang sama 5 tahun yang lalu, tapi saya inget banget rasanya kayak apa. Emosi sedih bangetnya dan emosi seneng bangetnya. Saya inget.. 5 tahun yang lalu saya seneng banget karena semua orang terdekat saya kumpul di rumah, keluarga juga termasuk temen-temen dan pacar saat itu. Tapi sedih banget juga karena waktu kumpul itu bisa dibilang saat-saat terakhir saya kumpul seperti itu dengan mereka. Abis itu kita ujian nasional, terus mencar kemana-mana, terus terpisah jarak dan waktu. Yah gitulah... Dan sekarang tau-tau udah 5 tahun kemudian. Di antara wishes 5 tahun yang lalu, ada doa untuk “semoga keterima di kedokteran gigi, lulus pendidikan dokter giginya dan ko-asisten dokternya umur 22, umur 22 nikah, amienn..”. Dan taunya gak ada yang terkabul satupun... Bhahahaaa. Iyah, DULU mikirnya umur dua puluh dua itu asa udah mateng banget dan siap banget. Siap dibuahi... HAHAHA. Taunya pas udah menjelangnya malah ketar-ketir dan berulang kali terbesit pikiran kalo udah sinting kali orang-orang yang memutuskan menikah muda itu. Entahlah...


Eh iya, makasih ya buat semuanya atas kontribusi untuk membuat hari itu begitu luar biasa. Jadi ceritanya gara-gara hari sebelumnya bercakap-cakap dengan sepupu tentang (another) saudara sepupu saya yang lagi hamil, maka rasa ‘oh yeah today is my birthday but it’s just an ordinary day for me’ jadi semakin kuat aja. Waktu lagi ngebahas kehamilan sepupu saya itu, kita ngebahas detil proses kelahiran seorang anak manusia. Si ibunya mempertaruhkan nyawa, berada di antara hidup dan mati. Gila bangetlah perjuangan seorang Ibu. Dan saya jadi kepikiran kalo hari kelahiran saya tuh bukanlah ‘my day’ but supposed to be my mother’s day. If there’s someone who should have to be rewarded a gift on that day, It’s my mother, not me. Karena sebenernya Ibu saya yang juara banget di hari itu.. Maka hari itu saya gak kepikiran sama sekali kalo “OH TODAY IS MY BIRTHDAY, IT SHOULD BE A SPECIAL DAY...”. Tapi taunya pas telponan sama Ibu, niatnya pengen cerita banyak, malah diceramahin tentang ‘persiapkan-dirimu-dengan-matang-untuk-menghadapi-hidup’ dan sebuah cerita gak penting kalo Ibu sekarang sering rajin ngumpulin undangan-undangan pernikahan buat referensi saya. Masya Allah, Ibu.. Pengen gelosor dan guling-guling ngedengernya. Ouoooohhh.

Tapi saya seneng banget aja hari itu. Yang bikin saya paling seneng adalah karena terbukanya jalur komunikasi dengan banyak banget dari mereka yang saya sayang, saya kangen. Komunikasi yang lebih real, lebih intim, dan bukan hanya sekedar barisan kata di dinding atau ucapan yang dibatasi 140 karakter itu. Aaaaa...saya pengen kasih peluk kangen dan kecup manis buat kalian semua. yang terpisah garis batas kecamatan, kota, provinsi, pulau, dan bahkan benua tapi masih pada inget dan rela buang-buang pulsa hanya sekedar mengingatkan kalo kontrak hidup saya semakin kritis. I so much appreciate it. Semua percakapan, gesture, dan ekspresi excited yang saya terima...Baik ada kaitannya maupun gak ada kaitannya dengan hari kelahiran saya itu, I do realy appreciate it. Soalnya ada satu percakapan yang sama sekali gak ada relasinya dengan ulang tahun saya but It made my day soooooo wonderful! Ahahaha. Coba kalo ditambahin dia nyanyi dan akustikan di depan saya sambil sebelumnya dia bilang: “This song is for you, the birthday girl..” Jadi kepengen pingsan ngebayanginnya biar dikasih nafas buatan. Bhahaha.


Anw, makasi ya semuanya...

Waktu mau niup lilin di kue-ulang-tahun-pertama-seumur-hidup-saya dan disuruh make a wish, saya gak mikir lama-lama dan cuma minta satu keinginan ke Gusti Allah... Kemudahan untuk bisa menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Best gift? Pertemuan. Ahhhhh..Kado yang paling indah mungkin memang sebuah pertemuan. Tak tergantikan. Waktu memang semakin mahal harganya. Dan iyaaa..Ada juga kado sebuah janji untuk ini dan itu yang bikin saya termotivasi luar biasa. Banyak yang udah sering bilang, termasuk pengalaman hidup saya, untuk gak percaya dengan manusia apalagi janjinya manusia. Bilang saya gak cukup banyak belajar, tapi saat ini saya mau belajar untuk ambil resiko untuk sekali aja percaya lagi. Gak ada kok manusia yang jahat banget di dunia ini, ya kan?


Dan, terimakasih untuk yang datang terlambat... Susah menguraikan kata-kata untuk mengungkapkan keterlambatan yang nyatanya justru bisa bikin saya merasa lega luar biasa. Saya belum sempat bilang saya kangen ya? :)


I am a honey bee | Shunned off from the colony | And they won’t let me in
So I left the hive | They took away all my stripes | And broke off both my wings
So I’ll find another tree | And make the wind my friend
I’ll just sing with the birds | They’ll tell me secrets off the world
Honey Bee - Zee Avi