29.12.09

plus-plusnya jadi cowok geodesi. (mupeng mode: ON)

Waktu jaman masih awal-awal kuliah banyak banget senior dan alumni yang mengiming-imingi kami dengan kata-kata 'anak geodesi udah bisa punya duit sendiri sebelum lulus, banyak proyekannya'.

Setelah masuk ke tahun-tahun perkuliahan di jurusan, saya emang jadi semakin sadar YES, IT'S RIGHT.

Banyak dari temen saya yang udah bisa beli segala macem dari hasil proyekannya. Dari hasil jerih payahnya sendiri. Uang kuliah dibayarin dengan beasiswa, uang jajannya dari hasil proyekan sana sini. Mantab... Belum lagi, proyek yang dikerjain sudah tentu menambah experience si oknum. Dan kalo hasil yang dikerjakan ternyata memuaskan, berbasiskan sistem kepercayaan maka si oknum-pelaku-survey sudah pasti akan mendapatkan tawaran pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Trus juga, biasanya tawaran proyeknya itu di seluruh bagian Indonesia, jadi bisa sekalian jalan-jalan. Ada temen saya yang pertama kalinya seumur idup dia naek pesawat ya karena sempet dapet kerjaan survey di Sulawesi, dan waktu itu pulang dari sana dia cerita dengan sangat excitednya tentang pengalaman pertamanya naik pesawat. See..Udah mah dibayar..dapet pengalaman..dapet link..Jalan-jalan gratis.. Wew, kan?

Tapi, statement yang selalu diiming-imingi ke kami-kami itu gak berlaku secara menyeluruh, sayangnya..
Karena sebagian besar kualifikasi dari proyek Geodesi yang ada selama ini selalu menyisipkan syarat gender: HARUS LAKI-LAKI.

Dan saya, sebagai salah satu dari segelintir yang tidak pernah lolos kualifikasi perihal gender ini jadi selalu merasa dikecilkan perannya.
That's why, again, setelah percakapan semalam dengan teman-teman yg sekarang hampir semuanya udah punya experience di lapangan, saya selalu merasa bukan apa-apa.
Yang A cerita pengalaman survei di muara enim, di utan dan nyebrangin sungai setinggi dada dengan ngebawa alat, si B cerita pengalaman kerjanya survei ngejaga GPS di Sulawesi dan banyak unsur mistis di sana, yang C nyeritain pengalamannya jadi supervisor yang harus ribet ini itu ngatur jalannya pengukuran. Saya cuma diem aja...Mengamati dan berandai-andai. Saya gak punya cerita yang menarik seperti mereka. Masa' mau cerita ngerjain proyek citra yang saya kerjain di lab dan sesekali kalau jenuh saya bawa pulang untuk dikerjain...di depan TV? Apa serunya pengalaman saya cobaaaaa...

"Arghh, pengen jadi cowooooook...!" >,<

28.12.09

"maafin aku ya, lucu..."

Si lucu kemarin saya titipkan ke orang lain karena kondisinya sementara waktu tidak memungkinkan untuk dia tinggal di rumah.
Maka saya titipkanlah ia di rumah salah seorang teman saya.
Hari keempat, saya berniat menjemput si lucu. Bertanya ke si teman mengenai keberadaannya dan memberitahukan maksud saya untuk menjemput si lucu.
"gue lagi di luar. Lagi cuci mobil lo. ntar abis dari cuci mobil lo gue langsung anter ke rumah lo. oke shey?"

Beberapa jam kemudian, datanglah si teman saya bersama si lucu. Baru dimandiin dia...Cantik, keren, lucu!

Lalu si teman berkata dengan serius..
"shey, ini sayang banget yang di sebelah kirinya penyok gini.. sama yang ini juga" dia menunjuk sebuah baretan panjang di sisi kiri si lucu.
"iya, yg ini ketabrak motor, motornya masuk ke kolong mobil.. Kalo yg ini kebaret kuda. Yah mo gimana lagi kalo kuda kan.. Hehe"
"Gue kemaren pas nyuci mobil lo sendiri itu ngeliat baretan-baretan, sedih gue shey. Sama ini shey.. Ban depan lo mendingan lo tuker sama yg belakang, biar rata gundulnya. Lagian ini ada robeknya sedikit yg depan" kemudian dia menunjuk sebuah robekan keciiiil banget di ban yg luput oleh mata.
"Lo nyuci mobil gue sendiri?"
"Iya yang hari pertama. Kan ujan tuh malem-malem, gak enak gue ngeliatnya, kotor banget.."
Ternyata, hari kedua si lucu saya titip sama dia, dia mandiin si lucu sendiri.. Dan karena hari ini dia mau mulangin si lucu makanya dia mandiin si lucu special di tempat cucian mobil.
"Tadi juga pas dinaekin buat dibersihin kolongnya kan gue liat, itu knalpotnya udah karatan gitu shey.. Bahaya itu kalo blablablablah.."
Dia menunjukkan knalpot si lucu. Bagian yang gak pernah saya liat. Lalu dia bergegas ke bagian depan mobil, di dekat wiper ada lapisan plastik yang sudah renggang dari kaca depan. "Ini gak bahaya sih, tapi kalo lepas kan jadi jelek.."
Lalu ia mengomentari tenaga si lucu yang suka tiba-tiba ilang. "Mungkin butuh di servis, kan abis ke Pangandaran kemaren?"
Hmm.. Iya, mungkin..

Teman saya ini, he is a stranger. Dia pegang mobil saya kurang dari 4 x 24 jam. Tapi dia dengan rajinnya mandiin si lucu. Ngeliatin trouble apa aja yang si lucu punya.
"Nyuci mobil sendiri itu banyak nilai lebihnya. Selain lebih hemat juga lo bisa sekalian ngeliatin mobil lo..Jadi bisa tau kalo ada masalah sedikit aja sama mobil lo, iya kan?"
Saya mengangguk lesu. Kapan ya terakhir saya mandiin si lucu sendiri.. Hmm.

Saya bareng-bareng sama dia udah 3 tahun lebih. Dia dengan setianya nganterin saya kemana saya mau pergi.
Ngelindungin saya dari panas dan hujan.
Jadi semacam kendaraan pribadi teman-teman saya juga karena begitu seringnya ia berpindah tangan.
Menempuh medan dari yang lurus ringan-ringan aja dan yang berbelok-belok dan berbatuan.
Bersabar untuk dianggurin kalo saya lagi kere-kerenya dan gak punya cukup uang untuk beli bensin.
Bersabar untuk berkucel-kucel ria selama berminggu-minggu kalo saya males mandiin dia karena hari-hari hujan.
Bersabar untuk dicaci maki kalo mulai bermasalah dan gak bisa jadi solusi ketika saya lagi butuh-butuhnya sama dia.
Iya, selama ini saya gak pernah kasi dia perhatian ekstra kecuali di hari-hari dimana dia justru bermasalah yang bikin saya jadi ikutan susah.
That’s why problem-problem eksterior yang gak ganggu aktivitas si lucu selalu luput dari perhatian saya...
Dan saya jadi takjub dengan si teman saya itu. Karena selama ini, hampir semua yang minjem dan make mobil saya gak pernah seperti dia yang dengan tulus dan penuh atensinya menyorot detail-detail kerusakan di mobil saya yang notabene bukan mobil pribadinya. Bahkan si teman ini menjalankan etika peminjaman mobil dengan mencuci dan mengisi bensin mobil yang dipinjam tersebut, padahal sebenernya kan saya yang nitipin mobil ke dia. And that is so cool, you know...
Dan entah kenapa, setelah apa yang dia lakukan ke si lucu, saya jadinya gak merasa tersinggung ketika dia berkata
“Ya, itu..makanya..sayangilah mobil lo, shey.. ”

Huaa. I’m so flattered. Hiks hiks,.
Maafin aku ya, lucu...

22.12.09

I (suddenly) remember #2

This post is related to I suddenly remember #1...posted in January 2008.

Dua ribu lima, Agustus tanggal 17 saya berada di lapangan sepakbola Sarana Olah Raga ITB, mengikuti upacara bendera bersama ribuan mahasiswa baru ITB lainnya yang entah berdatangan dari semua penjuru Indonesia.
Ada spanduk besar terpampang di pintu masuk ITB kala itu,
"Selamat Datang Putra Putri Terbaik Bangsa" bunyinya.
Awal tahun 2006, nilai kuliah semester pertama keluar. Serpihan-serpihan semangat rontok menerima hasil perkuliahan semester pertama yang mengerikan.
Pertengahan 2006, semakin gamang dan tak bergairah melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa Teknik. Mencari-cari peluang di luar bidang teknik yang memang diminati, ada yang meminta menunggu untuk menjalani tesnya terlebih dahulu dan ada yang sudah tinggal tahap registrasi.
Lalu di tengah-tengah proses itu, datanglah berita besar bagi mahasiswa Geodesi ITB angkatan 2005 kala itu... Panggilan OS!
Gairah untuk menyatukan angkatan itu timbul, tak terkecuali beberapa kepala yang kemudian akhirnya menjadi teman terdekat saya sampai dengan hari ini.
Di hari terakhir saya sebelum berangkat ke Lampung untuk ikut seleksi SPMB tahun 2006, beberapa kepala yang akhirnya menjadi teman terdekat saya itu datang ke kosan saya. Bicara dari hati ke hati, bahwa mereka masih sangat menginginkan kehadiran saya di antara mereka. It means a lot for me.
Dan saya pun berikrar, "jikalau SPMB kali ini lagi-lagi kedokteran gigi tidak menerima saya maka saya akan mencoba bertahan menjalani kehidupan di ITB"
Dan lagi-lagi, jodoh saya dengan kedokteran gigi memang sangat jauh dari dekat. Untuk yang keenam kalinya saya tes baik itu kedokteran gigi UI, Unpad, maupun UGM, semuanya saya gagal. Hmm.. Sniff sniff.. I smell conspiracy...
Lalu saya pun menjalankan proses OS IMG itu. Gak berat.. Ringan malah. Iya. Yang kami jalanin, itu lari-larian..Sedikit push up dan sit up..Interaksi-interaksi malam hingga pagi.. Semuanya dijalanin dengan sangat ringan. Mau tau kenapa? Karena ada 66 orang teman lainnya yang juga menjalaninya bersama-sama saya.
Dan di 24 Desember Tiga Tahun yang lalu itu, secara resmi angkatan prematur dan sedang krisis identitas itu menjadi bagian dari Ikatan Mahasiswa Geodesi. We were soooooo happy.

Malam itu, malam setelah pelantikan, saya ingat saya pulang ke kosan bersama beberapa teman yang kebetulan satu kosan, menuju kamar masing-masing dan dengan energi yang telah habis sama sekali langsung jatuh tertidur. Tertidur dengan senyum merekah, perasaan yang hangat, dan jaket kebanggan masih melekat...

Sudah tiga tahun berlalu, kawan.. Terimakasih, Kamerad-kamerad kebanggaanku.

21.12.09

pu tus ya ng hap py en ding ?

Sebenernya ini adalah topik yang saya hindari untuk dibahas..

Tapi gara-gara kejadian di depan kartikasari tadi siang saya jadi mengingat-ingat momen-momen putus yang saya punya...Ada yg se-drama itu kah? Hmm..

Kartikasari Dago itu letaknya sangat mencolok di Pusat Kota dan selalu macet dengan kendaraan plat B kalo weekend apalagi long-weekend. And I hate it. Dan saya bukan mau cerita tentang Kartikasari Dago disini. Tapi cheese stick-nya sama cheese roll-nya emang favorit saya dan adik saya, hehe. Yah, dan dengan hasrat makan cheese roll plus kue ungu favorit saya akhirnya tadi siang saya meluncur ke Kartikasari Dago ini. Hoooop, parkir. Hop, keluar mobil. Di dalam tokonya gak terlalu rame, cuma ada ibu-ibu pengajian yg lg borong oleh-oleh. Pilih-pilih kuenya tp ujung-ujungnya cuma beli kue-kue basah. Hop, bayar. Hop, masuk mobil. Hop, meluncurlah si lucu D1 88 4YU ini menuju pintu pembayaran parkir.

Sesampainya di X-1 mobil yang mau bayar dimana X adalah variabel gerbang pembayaran parkir, mobil saya stuck.

Saat itu kondisinya di belakang saya lagi gak ada mobil lg, jd saya gak gitu panik.Lagipula ada kue-kue basah yang menggoda saya untuk saya icip-icip sebelum sampai rumah, padahal niatnya td mau dimakan di rumah.

Menunggu sekitar 2 menit, mobil di depan saya masih tidak ada pergerakan.. Hmm.. Mungkin mas-mas parkirnya lg nuker duit buat kembalian..

Menit bertambah.. Bertambah dan bertambah.. Tiba-tiba pintu penumpang barisan depan mobil yang ada di depan saya terbuka dengan sangat tiba-tiba, jggggeerrr! Keluarlah mbak-mbak berwajah manis tapi sangat jutek dan galak yang disusul dengan keluarnya mas-mas dari pintu pengemudi yang mukanya biasa aja tapi rada mirip sama Giring Nidji kalo rambutnya dkriboin . Mukanya yang biasa aja jadi gak enak diliat karena lagi jutek juga. Oh. Lagi berantem. Saya gak nyadar tadi, soalnya kaca film mobil depan persis seperti kaca-kaca di bank yang gelep banget sehingga aktivitas manusia di dalamnya gak keliatan dari luar. Yak, di belakang saya sudah ada mobil mengantri. Dan mas-mas penjaga parkir mulai membuat pergerakan mengantisipasi terjadinya kericuhan karena akumulasi mobil yang mau keluar meningkat dan tersumbat karena pertengkaran si mas-mirip-nidji dan mbak-manis-tapi-jutek di depan mobil saya.

Keduanya masih terlihat adu argumen. Mukanya sama-sama gak enak, alisnya naik, si mas-mirip-giring ngedorong-dorong si mbak buat masuk mobil sementara si mbaknya tampak ogah dan tetap mengomel dan mulai menangis.

Saya mengecilkan volume musik di mobil saya, mencoba menguping.

Keduanya tampak sangat emosi dan tiba-tiba...Tiba-tiba si Mbak-manis-tapi-jutek menampar si mas-mirip-giring dan pergi berlari ke arah jalanan sambil berkata sesuatu yg terdengar sangat samar di telinga saya, "anjing...brengsek....Putus...tai.." >>gatau kenapa yg saya denger hanya kata-kata makiannya, hahaha. Yang segera dibalas pula dengan makian si mas-mirip-giring, “Terserah..putus..tai..anjing lo!” Dan si mas-mirip-giring segera masuk mobilnya, membayar parkir, dan menghilang dengan cepat.

Kejadian itu berlangsung amat sangat cepat. Saya yang masih sedikit shock dengan kejadian itu merasa seperti sedang menonton sebuah adegan sinetron atau potongan scene FTV yang sering ada si SCTV atau juga acara drama reality show yang saat ini masih menjamur.

Wew. Ending yang gak enak banget ya. Dan mungkin keduanya tidak akan mengunjungi Kartikasari Dago untuk waktu yang lama.. Hehehe.

Nah, kalo bicara soal putus.. Saya gak pernah mengalami drama kumbara. Pertama kalinya saya putus, waktu masih kelas 3 SMP, saya bahkan gak sadar kalo saya baru saja memutuskan hubungan dengan pacar pertama saya waktu itu sampai salah satu teman saya mendengarkan cerita saya dan berkomentar di akhirnya, “udah jadi gitu aja? Kok lu gak nangis sih?”. Saya gamang, mencari-cari alasan kenapa saya harus menangis. Tapi dari pengalaman pertama saya putus itu saya menemukan fenomena baru, biasanya orang yang putus itu tidak saling bertegur sapa. Dan setelah yang kedua dan seterusnya, saya menemukan fenomena yang lebih mengejutkan. Ternyata yang lebih sakit itu kondisi dimana si mantan justru udah bener-bener move on, bukan kondisi dimana hubungan itu berakhir.

Pengalaman putus yang paling drama yang saya punya justru ketika kuliah ini. Err..Bukan putus, akan lebih baik kalau saya sebut sebagai kejadian tragis romantis. Hehe. Waktu itu saya lagi galau dan gak jelas. Pokoknya sebenernya kesalahannya penuh ada di saya deh. Dan partner saya kala itu memang lagi dalam kondisi yang tidak bisa selalu ada buat saya. Maka drama pun dimulai. Tiba-tiba saya menutup jalur komunikasi secara sepihak. Gak bales SMS dan gak ngangkat telpon. Ketemu di kampus acuh tak acuh (padahal biasanya juga emang gitu, hehe). Hingga di hari kedua kemudian datanglah dia kekosan saya untuk meminta penjelasan. Adu argumen dsb, sampai kemudian dia bertanya, “Kamu mau apa, Putus?” saya bingung. Gak yakin, ragu-ragu saya cuma mengangguk. Lalu nangis. Lalu selebihnya saya lupa, tiba-tiba saya sudah di dalam kamar, sendirian, duduk, dan menangis. Pertama kalinya saya merasa patah hati ketika mengakhiri sebuah hubungan. Waktu itu saya bingung banget gak tau harus ngapain dan puncak drama pun dimulai setelah berkomunikasi dengan seorang teman baik yang begitu antusiasnya mengintruksikan ke saya untuk mengejar si partner.

“Lo kejer dia, minta maaf, tarik lagi kata-kata lo... Atau gak lo bakalan nyesel seumur idup lo”

“tapi nyet, ini udah malem, mau ngejer pake apa? Mobil gue ketutupan mobil orang, kaga bisa keluar..besok aja ya?”

“JANGAN!!! Harus malem ini! Sana, kejer, ntar lo kabarin gue lagi!”

Gak berpikir lagi, saya langsung ambil jaket, masih dengan celana pendek, mata sembab, saya keluar kamar. Melihat sepeda saya si hitam-manis yang terlihat sangat gagah dan siap menempuh rintangan apapun bersama saya. Lalu bergegas mengayuhnya dengan tekad bulat, meminta maaf. It was almost midnight, you know... Dan dengan jeda teteleponannya saya sama si teman tadi, kira-kira si partner itu masih berada di Jalan menuju kosannya. Tiba-tiba muncul kilasan-kilasan kebersamaan kita berdua, satu per satu...air mata saya semakin deras. Baru mutusin untuk jalanin hidup tanpa dia aja udah kayak gitu rasanya, gak bisa saya ngabayangin gimana kalo harus nerima situasi dimana dia udah move on. OH NO, I cant! Okeh, kecepatan ditambah dengan sisa-sisa tenaga yang ada, berdoa semoga belum terlambat. Lalu, di belokan menuju jalan kosannya, saya yang kebut-kebutan pake sepeda tanpa sengaja menangkap sebuah objek yang sangat saya kenal. It’s him! Si partner! Si mas yg lagi saya kejer-kejer ituuuu. And he didnt see me. Dia gak liat saya, dia lagi megang Hpnya, diam, tenang, duduk, di situ... Di sebuah tempat sate ayam. Tempat sate ayam? Well.. So weird. Hmm... oke. Saya grogi, memarkir si hitam-manis di samping gerobak sate. Dia masih disitu, masih tidak sadar kehadiran saya. Tangan saya meleper menghapus air mata dan ingus yang meler, lalu duduk di sampingnya tanpa ba bi bu. Dan seterusnya beberapa menit kemudian saya sudah berada di jalan pulang ke kosan saya dengan saya duduk di boncengan sementara si mas yang mengayuh si hitam-manis sepeda saya...

Momen itu, momen yang gak akan saya pernah lupain. Dramatis dan berlebihan, yes...Dan bikin saya selalu ngakak kalo inget tentang itu. Sampe sekarang saya masih di jalur yang sama. Mungkin wahana yang saya gunakan sudah berbeda, tapi saya masih berjalan dengan kecepatan konstan. Menunggu seseorang yang sedang berjalan di depan dengan akselerasi yang jauh lebih tinggi, yang sedang asik sendiri dengan dunianya...

Karena kalo kata mas-mas Sheila On Seven, “Kau takkan pernah tau apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan”

Wews. Jarang posting kok ya sekali-kalinya posting panjang bener dan gak penting... :D :D :D

14.12.09

Ibu, setengah abad.

"Ibu tuh gak suka liat Luna Maya.. Aneh"
"why, mom?"
"Ya aneh aja, selera berpakaiannya.. Udah gitu ya kakinya itu kan jelek banget ya, kayak letter-O gitu, tapi pake bajunya gak nyesuain gitu"
"Yah bu.. Kaki aku jg jelek gini, gak lurus-lurus banget"
"Ya tapi kamu kan kecil, jd gak gitu keliatan.."
"Tapi LunMay kan cantik banget bu, sementara aku.. (sigh)"
"Ih mendingan kamu kemana-mana dong. Mau kamu jadi Luna Maya, cantik-cantik terus dapetnya duda kayak ariel?"
"ariel is hot, you know mom.."
"yahh..duda loh nak, trus kan dia ninggalin istrinya.. Inget ya dis, kamu gak usah cari calon suami yg ganteng.. Gak perlu itu. Yang penting dia sayang sama kamu dan dia punya kemauan untuk maju. Kalo fisik, gak terlalu penting. Yah yang penting gak malu-maluin kalo diajak ke pasar"


Yesterday, again, in a short-conversation by phone we had, she told me one thing she's been telling me about a man these whole years since i was a girl.. Calon suami itu gak perlu ganteng. Yang penting sayang dan punya kemauan untuk maju. Kalo fisik, ya asal gak bikin malu buat diajak ke pasar.. It means, standar aja, asal gak di bawah standar.

Itu salah satu dari sekian banyak ceracau Ibu untuk saya.
Ibu. Saya panggil dia Ibu.
Namanya di Handphone saya, IBUKUSAYANG.
She is number #2 in my speed dial, since the number #1 is the voice mailbox.
My number one lady. The most beautiful woman on earth I've ever seen.
And today, December 14th 2009, Ibu saya mencapai usia emasnya. Alhamdulillah, Lima Puluh Tahun.
Biasanya, kalau saya ulangtahun Ibu puasa untuk saya. Biasanya kalo saya ulangtahun Ibu masak yg special or at least buy me a special food. Biasanya, kalo saya ulangtahun, Ibu cium pipi saya kanan dan kiri, memeluk saya sambil mengusap-usap punggung saya dan meniup-niup ubun-ubun saya sambil mulutnya komat-kamit mengucapkan doa untuk saya.
And right now, I just feel like wanting to do the same thing for you mother..

"Happy Birthday, Nyonya Besar..."

2.12.09

me, await, a-gorgeous-humorous-kind-and sweet-dead fish.


yes there are plenty of other fish outhere, in the sea..
but it seems like, what's rest in the sea is not what i've been expecting this whole time.. cause most of them are carnivores, or those that are ready to be caught-killed-and then served on the table..
well, so I'd rather to have them (later) serve on my table. mati tanpa perlawanan dan siap dimakan.

"ITADAKIMAAAAAASu!"