29.11.09

dan seterusnya...

Beberapa bulan yang lalu saya pernah bilang ke teman saya yang saat itu meminta saya membuat account twitter, "nggak, gue udah merasa cukup dengan aktivitas sosial gue di dunia maya yang sekarang"
Saat itu, satu-satunya situs jejaring sosial sebagai media bersosialisasi yang masih aktif saya kunjungi adalah faceboook, dan menambah yang lainnya akan membuat saya harus meluangkan waktu lebih lagi di dunia maya, and I sort of not wanting it.
I used to be thankful for facebook karena dengan sangat mudah dia bisa mempertemukan saya dengan banyak sekali teman-teman lama. Senang, rasanya seperti memutar banyak sekali kenangan yang tersimpan setiap kali ada friend request muncul dengan nama-nama yang tidak asing di ingatan.
Awalnya, begitu. Tapi kemudian saya menemukan banyak kejanggalan dengan aktivitas sosial di dunia maya tersebut.
Karena ternyata rasa excited yang saya dapatkan disana justru tidak bisa saya dapatkan sama 'excited'nya di dunia nyata. Karena ternyata facebook dengan keajaibannya memunculkan begitu banyak kenangan lama itu, tidak saja dengan baiknya membuat saya mengingat kenangan-kenangan indah di masa lalu namun juga dengan sadisnya memunculkan ingatan random tentang beberapa hal yang ingin saya kubur dalam-dalam.
Dan ini terjadi bukan hanya sekali dua kali tapi berkali-kali.

Rasa excited itu.. Rasa ketika kita pertama kalinya menemukan sebuah nama, yang kemudian membuat kita tersenyum tersipu-sipu, membuat perasaan kita hangat ketika ingatan tentang nama itu muncul, dan membuat kita begitu bersemangat-bilang kalau kita kangen-sampai akhirnya mengusulkan agar bisa bertemu..
Rasa excited itu berkali-kali saya temukan entah ketika saya menemukan banyak mereka, entah itu kawan dan sahabat lama, sepupu dan sodara-sodara yang lama tidak bertemu, atau bahkan mantan kecengan dan mantan pacar..

Berkali-kali saya merasa excited dengan menemukan banyak fakta baru disana, justru ketika dipertemukan di dunia nyata, rasa excited itu seperti menguap hilang ntah kemana.

Sebuah nama, tidak asing, muncul di daftar friend request.
Dalam hati senang, semangat, berseri-seri.. 'Wah, ini kan si iniiiii...'
Confrim.
Lalu akan muncul di wall, "hei, lama gak ketemu.. kangen deh"
Berlanjut ke janji utk bertemu.
Jadi tidak sabar untuk bertemu secepatnya..
Jadi tambah bersemangat ketika didapatkan hari-tanggal-jam-dan tempat yang disepakati..
Bertemu.
Lalu tiba-tiba jadi hilang semangat..
Merasa salah tingkah dan situasi pertemuan jadi canggung..
Dan merasa aneh dengan diri sendiri karena bersikap tidak normal.

Di tengah-tengah situasi aneh tersebut, tiba-tiba ada yang menghapus saya dari daftar temannya dan membuat saya bertanya-tanya apa salah saya-salah apa saya. Oh, oke, he's an ex. Mungkin dia mau menghapus saya dari kehidupan barunya. But then came up a lot of excuses on my own. What's wrong of becoming ex? Gak boleh temenan gitu? Salah ya temenan sama mantan? Atau memang mungkin saya berbuat sesuatu yang salah? Kesel sendiri dengan pemikiran-pemikiran gak jelas. Menyalahkan tak lain dan tak bukan ya si situs jejaring sosial itu sendiri karena telah membuka luka lama.

Ranking naik, menjadi muak dengan situs jejaring sosial.

Muak, memilih menghilang. Dicukupkan hanya untuk sekedar menjaga silaturrahmi saja.
Kemudian suatu kali ketika saya sedang iseng membuka email lama dan menemukan banyak sekali request twitter, saya mengikuti alur, klik sana, klik disini, bim salabim tiba-tiba saja saya jadi punya account twitter. Hahahaa.
So far, ranking-nya biasa aja. Belum ada gejolak-gejolak yang menurut saya aneh selain saya menemukan bahwa YES lewat twitter emang info yg didapet bisa lebih cepet.
Tapi kemudian ada fakta baru yang muncul, twitter bikin saya males untuk berfikir lambat.
Twitter membuat segala aktivitas yang saya lakukan menjadi biasa-biasa dan segala sesuatunya terasa berlangsung begitu cepat. Saya pribadi merasa ada beberapa momen yang saya pikir cukup banyak waktu yang saya butuhkan untuk mencernanya lagi. Kondisi ini adalah yang saya namakan berpikir lambat. Berfikir lebih lambat dari biasanya, memberi waktu kepada diri sendiri untuk menemukan banyak hal dari segala sesuatu yang telah dilewati. Dan berpikir lambat inilah yang biasanya kemudian saya tuangkan dalam bentuk tulisan, termasuk salah satunya di blog ini. Ini menjelaskan pula mengapa postingan di blog saya yang semakin tidak produktif belakangan ini.
Rasa-rasanya semuanya yang ingin saya ungkapkan sudah saya tulis lewat twitter. Hehe. Silly.
Karena bagimana mungkin sesuatu yang penting itu merasa dihargai jika hanya bisa diungkapkan dengan batasan 140 karakter?

"Dan seterusnya... Sampai hari ini aku masih belum bisa bilang aku ingin kamu pulang..."
Bahkan melalui batasan 160 karakter itu yang bisa diungkapkan hanyalah sekedar pesan untuk hati-hati di jalan.. (sigh)

0 comments: