25.8.09

Tentang kuisioner yang harus saya isi sebagai syarat mengambil KSM di ITB beberapa waktu yang lalu...

Inget Hukum Newton III? Yang isinya kalo saya gak salah adalah tentang aksi reaksi. Yangmana jika sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain, maka benda kedua akan memberikan gaya kepada benda yang pertama. Kedua gaya tersebut memiliki besar yang sama tetapi berlawanan arah. Saya ngulang Fisika, makanya saya inget hukum ini yang jika dinotasikan (F sebagai gaya) menjadi sebuah rumus Fab= -Fab. Ada gunanya juga ya saya ngulang, ternyata?

Saat ini, atau lebih tepatnya hari ini, hanya ada 1 hal mengenai ITB yang terlintas dalam pikiran saya. Yaitu perihal kuisioner anti-nyontek itb yang harus saya isi sebelum ngambil KSM beberapa waktu yang lalu.

Dari saya masuk kuliah sebagai mahasiswa ITB, saya sering banget ngisi kuisioner tentang dosen di setiap berakhirnya masa perkuliahan sebuah semester. Konon katanya kuisioner itu bertujuan sebagai sistem penilaian dosen. Baru kemarin ini saya tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah lembar kuisioner yang tujuannya tidak jelas, sangat aneh, dan memiliki unsur mistis (bagi saya)... Kuisioner anti-nyontek ITB. Dan kamu tau isinya apa? Pertanyaan-pertanyaan sangat lucu, menggelikan, dan...membawa banyak ingatan sedih. Lucu, karena poin-poinnya dibagi menjadi beberapa masa di antaranya masa SD, SMP, SMA, dan terakhir..Masa kuliah. Lucu, karena ketika tiba di masa SD saya jadi mengingat-ingat masa SD saya dan justru jadi teringat kejadian-kejadian lucu di masa SD saya dulu. Menggelikan..karena terdapat beberapa pertanyaan seperti apakah orangtua kita pernah menyarankan atau memberi motivasi untuk melakukan perbuatan curang (mencontek) saat kita SD..SMP..SMA.. Juga pertanyaan yang serupa mengenai para pendidik (guru/ dosen), apakah mereka pernah memberikan kesempatan untuk kita melakukan perbuatan curang.. Well..Pertanyaan itu menggelikan dan menggelitik sampai saya tidak bisa berkata-kata. Gila ya.. Sementara guru ngaji saya Alm Buyah dulu selalu menanamkan bahwa “kepala kamu harus merunduk di depan bapak ibu guru di sekolah, dan lebih merunduk lagi ke bapak ibu kamu di rumah yang mengirimkan kamu ke sekolah!”, bisa-bisanya sebuah institusi besar macam ITB menanamkan kecurigaan seorang anak kepada orangtua dan guru-gurunya. Dan pertanyaan-pertanyaan di kuisioner itu kemudian membawa saya ke banyak ingatan sedih karena kembali mengingatkan saya kepada banyak peristiwa ketika saya kemudian tau bahwa kuisioner itu ada sebagai dampak yang timbul pasca masalah perjokian yang melibatkan mahasiswa ITB di SNMPTN beberapa bulan lalu.

Korban perjokian itu, salah satunya adalah keluarga saya di himpunan, di IMG. Yang saya tau, dia ikutan mendaftar jadi joki karena diiming-imingi uang jumlah besar (sekitar 30 jt). Kenapa dia terima? Karena kondisi keuangan keluarganya tidak baik. Beberapa tahun sebelum ia masuk ITB, orangtuanya mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia kehilangan ibunya sementara ayahnya saat ini sakit dan tidak berpenghasilan. Sumber keuangan keluarganya setelah itu adalah saudara kandungnya yang seorang pekerja serabutan dengan penghasilan tidak tetap. Dia bisa bertahan di tahun-tahun pertama dengan mengandalkan beasiswa dan kiriman sang kakak di kampungnya. Tapi kemudian sebuah musibah di Bulan-Februari-Lalu menyebabkan semua Mahasiswa Geodesi menjadi blacklist di daftar administrasi ITB yang dampak paling besarnya adalah tidak bisa mendapatkan beasiswa. Kondisi ini menjebak mahasiswa-mahasiswa Geodesi ITB yang sebelumnya selama ini selalu bergantung pada beasiswa, tak terkecuali adik saya tersebut. Salahnya, komunikasi dengan si adik ini tidak berjalan baik maka terjadilah khilaf karena iming-iming material instan dengan jumlah besar tersebut. Saya juga tidak setuju dengan sikapnya memilih menjadi joki SNMPTN, tapi saya tidak sepakat dengan hukuman yang diberikan yaitu dikeluarkan dari kampus, terlebih lagi mendengar suara-suara sumbang yang datang dari banyak arah mengenai si adik. Seburuk apapun adik kamu, kalau kamu mendengar celaan datang menerjangnya tanpa mereka yang mencela itu pernah mencoba berempati dan merasakan bagaimana berada di posisinya, kamu tidak akan pernah bisa tinggal diam.

Hampir 7 bulan. Terlalu banyak kehilangan.

Saya pernah diberi tahu bertahun-tahun yang lalu oleh seorang senior saya. Dia bilang, “apa yang terjadi di Himpunan dan dunia kampus yang tengah kamu hadapi itu seperti sebuah simulasi ketika kamu hidup di dunia nyata. Dan setiap tokoh di dalamnya yang ada itu ibarat manusia-manusia di dunia sebenarnya yang akan kamu hadapi, dan kamu harus selalu siap karena akan selalu ada reaksi untuk setiap aksi yang kamu berikan. Hadapilah... Karena jika masih ada yang memberikan reaksi, itu artinya masih ada yang sayang sama kamu...”

Berguru pada hukum Newton III, kalau dalam kehidupan nyata, ketika kita berenang kita memberikan aksi berupa dorongan tangan dan kaki ke arah belakang yang kemudian dibalas dengan reaksi air berupa dorongan ke depan sehingga si pemberi aksi akan bergerak maju ke depan...Ya, reaksi itu membuat pemberi aksi menjadi bergerak ke depan!

Mudah-mudahan, dengan banyak reaksi yang diberikan, justru kita bisa lebih maju lagi! Amien.


NB: Cuma satu hal yang saya masih gak ngerti, kenapa sekarang jadi ada bangunan POS Satpam di deket himpunan saya ya? Biar ada yang bantuin ngejagain kalo lagi pada liburan, gitu? ;P

2 comments:

adiya056 said...

heh? pos satpam?? since when???? ya ampun... berarti udah lama banget ya gw ga ke kampus. hahaha

setapak dedaunan kering .. said...

hmmmmm.:(

terkadang dunia emang susah dmengerti teh shey.

iya ih.mungkin gara2 kemaren interaksi d daerah situ ya ahahaha.nyusahin praktikum dh pastinya.kmrn sy kebagian d daerah sana soalnya.