24.7.09

Dear Pemerintah...Bisakah Vaksin HPV diberikan secara gratis?

Kanker leher rahim membunuh sekitar 274.000 setiap tahunnya dan setiap tahunnya pula diestimasikan sekitar 493.000 kasus baru didapat yang mana 83% kasus tersebut berada di negara miskin maupun negara yang sedang berkembang.

Faktor penyebab masih terdapatnya banyak kasus tersebut adalah karena kurangnya/terbatasnya akses pelayanan dan informasi kesehatan bagi masyarakatnya. Misal, bagi perempuan yang sudah aktif melakukan hubungan seksual harus skrining dengan melakukan pemeriksaan pasmear. Dengan melakukan tindakan tersebut saja, diperkirakan sekitar 0.6667 atau sekitar 2/3 dari kasus yang ada bisa terselamatkan karena sel kanker yang ada bisa terdeteksi lebih awal sebelum mencapai tahap 'akhir' yang fatal karena memberi harapan hidup semakin rendah.

Sudah ada 2 vaksin yang beredar di pasaran. Vaksin pertama dengan label merck's Gardasilr dan yang kedua GlaxoSmith-Kline's. Keduanya adalah vaksin-vaksin yang sama-sama memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 karena sekitar 70% kanker serviks berkaitan dengan kedua tipe HPV tersebut. Virus HPV (Human Papilloma Virus) adalah virus yang DNA-nya ditemukan di 95% penderita kanker serviks, sehingga dikatakan bahwa virus ini adalah penyebab penyakit menular seksual yang kemudian menyebabkan kanker serviks tersebut. Sistem pemberian kedua vaksin ini pun nyaris serupa, yaitu 3x suntikan dalam jangka waktu 6 bulan.

Isu mengenai vaksin ini sudah diributkan oleh ibu saya sekitar tahun 2005 tapi vaksin pertama baru secara legal tersosialisasikan pada tahun 2006 yaitu vaksin dengan label Merck's Gardislr. Setelah pada 2008 lalu saya resmi berusia 20 thn dan ibu saya selalu bersemangat memprovokasi untuk cepat-cepat melakukan vaksinasi ini, prosesnya baru bisa terealisasi tahun ini.

Kenapa? Karena kurangnya sosialisasi, mungkin.. Saya dapet 'titah' melakukan vaksin ini cuma dari ibu saya dengan keterbatasan informasi yang cuma taunya kalo vaksin ini untuk mencegah kanker serviks. Setau saya, kanker serviks kan kanker di rahim. Saya jadi merasa belum perlu di-vaksin karena toh saya belum menikah dan melahirkan. Ngapain saya harus repot-repot merasakan sakitnya disuntik dan (terutama) mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk vaksin yang belum jelas keuntungannya buat saya?

Tapi setelah kemarin mendapatkan tawaran untuk vaksin dengan biaya yang sedikit lebih murah dari tarif vaksin HPV pada umumnya, saya kemudian baru mulai mencari tahu lebih banyak tentang vaksin ini seblum akhirnya meng-iya-kan untuk divaksin.

Prosesnya? Yah, bikin janji dulu dengan dokternya.. Nanti beliau akan menyiapkan impul-nya, kalo saya kemarin pakai vaksin yang dari Glaxo Smith's Kline. Setelah sepakat mengenai tanggal injeksi pertama, saya datang dan tanpa perlu melakukan tes-tes atau cek apapun, injeksi langsung dilakukan dengan waktu yang sangat singkat. Suntikan vaksin yang dilakukan adalah di otot lengan kiri sebalah atas dan bukan pembuluh darah. Setelah itu dokternya memberitahu beberapa efek samping yang akan terjadi seperti nyeri-nyeri di daerah sekitar suntikan, mungkin mual-mual, dan pusing-pusing. Kemudian sebelum pulang, diskusi dan menyepakati perihal tanggal suntikan kedua yaitu sebulan setelah injeksi pertama yaitu tgl 23 bulan 8.

Prosesnya memang tidak semengerikan yang awalnya saya bayangkan. Hanya berupa injeksi biasa seperti vaksin hepatitis atau vaksin yang waktu SD dulu pernah saya (dan mungkin kamu?) lakukan.. Tapi yang berat adalah menyiapkan budgetnya.

Dengan biaya yang cukup mahal, vaksin ini menjadi vaksin eksklusif karena hanya bisa didapatkan oleh mereka yang 'mampu' (atau yang dipaksakan mampu seperti saya, hehe). Kondisi yang sangat miris mengingat statistik yang ada dimana 83% penderita adalah mereka yang berasal dari negara berkembang dan negara miskin. Di Amerika saat ini dilakukan strategi vaksinasi dengan pemberian vaksin secara rutin yang dibarengi dengan sebaran informasi yang gencar kepada setiap orang dewasa yang belum aktif secara seksual. Harusnya di Indonesia juga dilakukan hal yang sama, karena mengingat kemampuan SDM yang sangat terbatas, saat ini pemberian vaksin tersebut hanya mungkin dilakukan bila ada subsidi.. Misal, pemberian vaksin ini dijadikan program kesehatan yang diberikan pada remaja putri tingkat SMA yang belum aktif secara seksual (seperti halnya vaksin polio pada balita). Ironisnya justru di negara berkembang ini sosialisasi-pun tidak seperti yang saya bayangkan harusnya ada reverse to the statistic.. *sigh*

Sehat itu mahal..mau sehat lebih mahal lagi...

3 comments:

adiya056 said...

lo inject dimana sheiy???

si vaksin ini idealnya diinject ke usia awal 20an atau pas udah nikah?? secara ya.. kan normalnya cewe yang sudah sexually active tuh pas udah nikah, jadi kalo diinject sebelum dia nikah fungsinya apa??

s h e i y said...

Justru baiknya diinjeksikan di mereka yang sudah menstruasi dan belum melakukan hubungan sex, mit..kan namanya mencegah. kalo yang udah melakukan hubungan sex, mau injeksi vaksin HPV harus tes papsmear dulu, utk deteksi kondisi apa masih 'bersih' dari sel-sel bakal kanker. Nah, yang useless kalo diinjeksikan ke orang yang udah sexually active tapi dia belum cek papsmear dan ternyata sudah ada virus HPV-nya di dalam tubuh dia.. ayoo kamu injeksi jugaaa yaaaa!!!

adiya056 said...

huahahaha.. bukan sheyy..

jadi tuh kebeneran keluarga dari pihak nyokap termasuk kategori "beresiko tinggi kena kanker". yap2.. menurun gitu dehh..

its so good to hear the news. ternyata ada vaksin nya. bagus buat proteksi! :)