18.5.09

empat mata?

Selain wahana bermain saya jaman kecil dulu yang luar biasa luas radiusnya, saya punya interest lain yang sampai sekarang masih jadi semacam pelarian kalo saya lagi ngerasa gak punya siapa-siapa dan gak tau harus kemana-mana karena gak ada siapa-siapa yang bisa saya ajak kemana-mana. Hihi. Circling statement yang point-nya adalah ya ‘si kesepian’ itu. Interest ini mulai terasa interesting sejak saya masih kecil dan kehilangan partner bermain saya yang paling klop, kakak saya. Iya, semenjak si kakak punya kecenderungan baru bermain video-game-sega, jadilah selain saya hanya bisa terbengong-bengong melihat dia bermain, saya pun mulai beralih ke interest lain...Membaca.

Saya yang sedang membaca itu autis...Dan galak..Dan pemalas.

Saya bisa lupa apa-apa. Bisa marah tiba-tiba kalo ada yang ngeganggu. Dan jadi malas mau beranjak bahkan sekedar untuk makan dan minum..
Dan interest ini pula-lah yang bikin saya di kelas 1 SMP jadi harus menggunakan kacamata. Awalnya sih saya nyantai-nyantai aja, apalagi memakai kacamata punya kecenderungan memberikan smart-and-mature-look ke penggunanya. Hehe. Kacamata pertama saya merk-nya snoopy, bahan titanium dan berwarna biru dongker.

Tapi sejak masuk kuliah saya jadi malas menggunakan alat bantu penglihatan ini. Kalau saya pakai kacamata bukannya terlihat pintar tapi malah jadi berasa sok-sok pinter dan yeah seiring bertambahnya usia juga, akan lebih menyenangkan dibilang awet muda daripada dibilangin dewasa, ya kan...

Pernah coba beralih ke lensa kontak juga.. Namun setelah mencoba menggunakan dan dalam waktu 15 menit saja mata saya malah jadi merah pedih panas, saya akhirnya nyerah apalagi setelah menerima diagnosa dokter bahwa mata saya sangat sensitif dan tidak bisa menggunakan lensa kontak. Sebagai gantinya, saya mencoba ganti gaya kacamata pake yang frame-nya agak-agak-gaul gitu biar gak keliatan terlalu tua, tapi malah keliatan mencolok dan jadi kayak cewek centil. Akhirnya balik lagi ke model standar yang kalo saya pakai dan saya pergi ke tempat-tempat umum bikin semua orang menyapa saya dengan sebutan ‘ibu’ dan bukannya ‘mbak’ atau ‘teteh’... *sigh*

Kemudian sekarang saya jadi lebih sering membawanya dalam tas saya di tempat yang sangat strategis dan mudah dijangkau, yang hanya akan dikeluarkan dari ‘sarang’nya ketika saya akan membaca, kuliah, dan terutama menyupir. Saya lebih memilih tidak menggunakanny meski jadi harus memicing-micingkan mata sedikit untuk mencari fokus penglihatan daripada lagi jalan-jalan dan badmood gara-gara dipanggil ‘ibu’ sama orang-orang. Kecelakaan-kecelakaan kecil seperti menabrak orang dan melewatkan tempat yang ingin dituju hingga harus memutar lagi sudah jadi resiko yang biasa ditanggung. But it’s ok.

Sama kayak ‘tragedi-salah-orang’ dan ‘tragedi-tidak-mengenali-orang’, itu juga sama-sama resiko.

Seperti misalnya kejadian kemarin siang, di mall lagi jalan-jalan sendirian dengan pikiran kosong. Tiba-tiba ketemu temen lama sama teman-teman kuliahnya.
“Eh, ngapain lo sendirian? Autis”
“ih biarin..”
“tadi gua ketemu si x, ya ampun males abis ya ketemu mantan sama monyetnya pas kitanya lagi sendirian. Mupeng deh lo pasti?”
“Eh? Mantan? Si x?”
“iya..tadi gua ketemu si x, dia bilang tadi ketemu lo tapi lo kyk yg gak kenal gitu sama dia. Sombong bgt katanya. Cieeeeeh..luka lama nih yee?”

Ternyata tadi pas lagi jalan, ada cowok yang senyum ke saya dan seperti terlihat melambai dari jauh itu si x toh.. Parah ini mata lama-lama. Atau malah jago ya? Bisa menyeleksi apa yang sebaiknya dilihat dan sebaiknya jangan dilihat, contohnya ya mantan dan monyetnya itu. Bhahahaha.

0 comments: