23.4.09

pulang.

Terakhir. Ia harap ini yang terakhir. Semoga.

Tiba-tiba jadi biru dan gelap semuanya kalau ia harus dipaksa mengingat kejadian-kejadian itu.
Ia tidak tau apa yang salah dengan matanya. Bukan, sepertinya bukan minusnya yang bermasalah atau malah nambah? Cuma katanya kayak kecolok aja rasanya. Sakit banget. Dan eh eh, loh kok malah berair?

Mungkin karena kamu terlalu ‘apa-apa’ buatnya. Terlalu ‘apa-apa’ sampai ia tidak tau harus menyebut kamu sebagai apa.
Tapi sementara kamu membuatnya merasa ‘apa-apa’, Ia merasa tidak punya apa-apa untuk bisa diberikan ke kamu yang terlalu ‘apa-apa’. Ia tidak punya apa-apa untuk menjadi siapa-siapa buat kamu.

Ya...Seperti kata kamu, andai saja kalian tidak pernah menjadi apa-apa dan siapa-siapa.
Meski nyatanya kamu pernah & mungkin akan selalu menjadi ‘apa-apa’ buatnya.

Genggaman itu harus dilepas. Benar-benar dilepas.

Yang terakhir, ya? Duh, duh, sepertinya dadanya jadi sesak. Membayangkan seolah-olah kamu berbalik dan membelakanginya untuk selamanya adalah aktivitas yang sulit ia tepis dalam situasi seperti itu. Menyakitkan, katanya. Sepertinya ia butuh ventolin. “Uhuk uhuk”, aduh, Kronis. Kok jadi dramatis banget ya untuk sebuah perpisahan yang tidak kemana-mana. Ia pamitan tapi gak pergi kemana-mana. Ini justru akan jadi jauh lebih menyakitkan, kan?

Sekarang ia hanya ingin menjalani semuanya dengan normal.

Ia juga harus ikhlas biar nggak sakit. Hal yang sama yang sudah lebih dulu kamu sadari namun butuh waktu untuk ia cerna lagi. Ia butuh untuk belajar ikhlas agar kembali kuat, dan bisa berjalan dengan normal lagi.

Biarkan ia memulainya dari awal lagi dengan kembali pulang.


...................................................................BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM.

1 comments:

05046 said...

fyuuh..