13.3.09

KRISIS.

Atas apa?
Kepercayaan, mungkin. Pada diri sendiri, mungkin.

This morning I woke up, memikirkan semalam. Bertanya kenapa bisa begitu. Kenapa bisa sampai begitu. Kenapa. Ah, itu hanya mimpi, rupanya. Atau bukan? Tapi rasanya seperti mimpi.

Lalu jadi merembet-rembet.
Mungkin sampai begitu karena saya seperti ini. Saya seperti ini karena imbas dari saya yang terlalu seperti itu. Saya terlalu seperti itu karena saya tidak bisa begini. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya kemudian melamunkan kenyataan yang saya temukan di sela-sela lamunan tidak penting saya pagi tadi.
Ternyata selama ini saya belum pernah benar-benar berjuang untuk sesuatu yang benar-benar saya inginkan. Belum pernah. Ntah itu subjek, ntah itu objek, ntah itu sebuah kondisi, ntah itu sebuah situasi. Segala sesuatunya selalu saya biarkan mengalir..Menghilang..dan berlari kecil-kecil berarak menjauhi saya. Selama ini saya tidak pernah sungguh-sungguh untuk berusaha mempertahankan apa yang saya sebenarnya inginkan.

Is it wrong?
Secara pribadi saya menilai ini sangat aneh. Polah yang tidak normal.
Dan saya tidak menemukan jawabannya kenapa.
Selama ini saya menilai sesuatu baik hanya ketika saya menganggap dan membaca situasi dari sekeliling saya mengatakan itu baik.
Sekarang saya jadi mempermasalahkan masa kanak-kanak saya dulu. Mungkin itu pemicunya.

Yang saya ingat, kelas 1 SD dulu saya pernah punya boneka bayi oleh-oleh dari tante saya dari Australia, yang bisa nangis kalo DOT di mulutnya dicabut, dan bisa tertawa lucu ketika dikelitik di perutnya. Di depan rumah saya adalah sebuah stadion Basket. Kuncen stadion itu adalah seorang supir angkot, punya anak perempuan yang umurnya setahun lebih muda dari saya, namanya Mia. Suatu kali kita main boneka bersama-sama. Boneka bayi milik saya memang paling mencolok di antara boneka-boneka 'bluwek' milik saya lainnya juga boneka-boneka Mia. Dengan kondisi ekonomi keluarga saya dulu, mendapatkan boneka seperti itu sangat tidak mungkin buat saya, apalagi Mia. Boneka itu pun menjadi kesayangan saya. Sampai beberapa hari kemudian, di suatu sore ketika saya dan Mia bermain boneka seperti biasa, sempat beberapa saat saya meninggalkan boneka saya itu bersama Mia, namun saat kembali lagi ke teras stadion tempat kami biasa bermain bersama, saya menemukan boneka-bayi-kesayangan-saya itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, termasuk Mia dan boneka-bonekanya. Yang tersisa hanya boneka-boneka bluwek lainnya milik saya yang berserakan. Saya hanya mempertanyakan kemanakah boneka-kesayangan-saya itu perginya. Azan Maghrib berkumandang, Ibu meneriakkan nama saya memerintahkan untuk pulang. Saya pun pulang. Sampai di rumah, saya mengadu pada kakak. Besoknya, pulang sekolah kakak menemani saya ke rumah Mia untuk menanyakan perihal boneka saya itu. Pintu diketuk, ibu Mia membuka pintu.Terlihat ruangan petak tanpa sekat-sekat yang menyuguhkan pandangan langsung ke sebuah kasur lipat di salah satu pojok ruangan, sebuah sofa robek-robek dan sudah mencuat papan pegangannya, sebuah tivi super mini di meja depan sofa, dan sebuah rak besi-besi bekas jualan warung yang dijadikan rak pakaian. Lalu ada pintu kamar mandi yang setengah terbuka dan saya mendengar suara cipratan air di dalamnya. "Mia sedang mandi" kata Ibu Mia. Kakak saya menjelaskan perkara boneka saya yang hilang. Ibu Mia marah, merasa Mia dicurigai sebagai pencuri, marah-marah, mencak-mencak, kemudian mengusir kami berdua dan membanting pintu di depan muka kami. Saya dan kakak kemudian pulang. Mengadu pada ibu. Seperti yang sudah saya duga, ibu memang marah karena saya ceroboh, tapi begitulah ibu saya...Ia hanya menasehati saya untuk belajar ikhlas. Bahwa mungkin benda itu akan jadi lebih berguna untuk orang lain. Dan menjanjikan akan membelikan gantinya jika punya rezeki lebih-Janji yang baru ditepati ketika saya sudah duduk di kelas 5 SD, 4 tahun sesudahnya.Sekitar seminggu saya tidak main ke rumah Mia. Mia juga tidak pernah memanggil-manggil saya sore-sore mengajak main boneka atau main sepeda keliling komplek seperti biasanya. Karena nasehat ibu mengenai ikhlas-mengikhlaskan yang bagai doktrinasi selalu diucapkan berulang kali setiap sore ketika memandikan saya atau ketika saya mau tidur, saya perlahan kemudian mulai melupakan boneka-saya-yang-hilang itu. Iseng-iseng, sore-sore saya mendatangi rumah Mia, berniat mengajaknya main sepeda. Belum saya ketuk pintu rumahnya dan memanggil namanya, saya mendengar suara tawa boneka bayi saya yang hilang. Suara itu datangnya dari balik pintu yang akan saya ketuk. Dan saya pun menangis. Saya merasa dikhianati. Saya merasa benar-benar kehilangan. Kehilangan boneka saya yang sayangi. Juga merasa kehilangan seseorang yang saya percayai. Seorang anak SD kelas 1 itu tersedu-sedu untuk pelajaran hari itu, sebuah realita mengenai kehilangan.

Pulang-menangis-mengadu pada ibu. Sambil dipeluk dan diusap-usap kepalanya oleh ibu, saya dinasehati perihal ikhlas-mengikhlaskan. Saya harus mengikhlaskan dua hal yang sangat berharga yang pertama kalinya saya miliki. Sebuah subjek dan sebuah objek sekaligus.

Sejak saat itu, lagi-lagi karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas, saya tidak pernah banyak bermimpi ingin ini dan ingin itu. What I had was what my parents gave me. Saya ikhlas tidak bermain mainan-mainan mahal seperti teman-teman saya yang lain. Tidak memiliki video game. Tidak menonton TV yang acaranya macam-macam karena tidak punya parabola. Harus gantian bersepeda bersama kakak karena hanya ada 1 sepeda untuk kami berdua. Serta harus ikhlas menikmati liburan sekolah di rumah eyang dan bukan di dufan-atau di luar kota-seperti teman-teman lainnya. Saya juga tidak banyak berharap dari teman-teman saya yang lain. Syukur kalau mereka senang berteman dengan saya, apalagi sampai menganggap saya sahabat. Kalaupun tidak, toh saya punya kakak saya yang selalu ada buat saya. Saya tidak pernah punya mimpi yang tinggi. Saya tidak pernah berani bermimpi tinggi-tinggi. Saya hanya mengekor si kakak kemana ia pergi dan mencoba apa yang ia coba serta melakukan apa yang ia juga lakukan.


Sampai sekarang, saya juga masih bertahan seperti itu. Bahkan ketika saya berfikir saya punya prinsip, nyatanya saya belum pernah benar-benar menginginkan sesuatu dan kemudian memperjuangkannya.

Saya biarkan cita-cita saya menjadi designer waktu kecil dulu menguap begitu saja karena tidak tau harus memulai darimana untuk menggapainya. Saya sempat berusaha menjadi dokter gigi karena kata ibu-tante-uwak-om-dan orang-orang di sekitar saya bahwa cita-cita itu baik dan mulia. Saya bertahan di jurusan Geodesi ITB karena kata semua orang ini yang terbaik buat saya. Saya jalani segala sesuatunya karena saya diarahkan untuk menjalankannya menjadi seperti itu. Dan di saat kegagalannya dan kehilangannya atau justru keberhasilannya serta kedatangannya, saya tidak akan merasa luar biasa dan istimewa. Datar...

Bahkan ketika saya (merasa) menyayangi seseorang, merasakan kenyamanan bersamanya, berkali-kali ia melintas di benak saya, terus-menerus.. Namun ketika ia harus pergi, saya tidak bisa benar-benar mengucapkan kata yang saya ingin benar-benar ucapkan.

Saya gak tau lagi apa yang sebenar-benarnya saya inginkan. Ambisi tumpul. Motivasi pupus, mati. Ego yang diintervensi terlalu banyak pihak.

Yang keluar bukannya kata..
"Jangan pergi.." atau "Tunggu aku.."

Tapi justru kata-kata pasrah yang bikin saya ngerasa jadi manusia paling gak punya kemauan..
"GAK TAU..GAK TAU.."
"TERSERAH.."

2 comments:

agun said...

ku aing siah si mia..
kasih tau gw anaknya yg mana..
but..
it`s a nice story..

s h e i y said...

batak loh gun..berani maneh??? Hahaha..