31.3.09

Aa Leo di 11th Hour

Di HBO ada iklan film 11th hour.
Terus si mbak nyeletuk, "Wah itu pasti pelemnya bagus, kan yang maen leonardo dicaprio"
Saya: "bukan mbak, itu dokumenter...Bukan film. Jadi bener-bener kejadian nyata gitu... Si Leonardo cuma jd 'icon'nya aja"
Mbak: "Itu Leonardo yang bintang pelem kan, batin? yang maen Titanic?"
Saya : "Iya, mbak..."


Saya kemudian tersenyum mengakhiri penjelasan saya. Saya tau yang mbak pikirin. Ngerti sih. Si mbak kan taunya si Leonardo itu aktor. Seseorang yang memerankan peran tertentu yang sudah di setting, ada skenario-nya, dsb. Jadi wajar kalo dia berfikir film 11th hour itu sama seperti film-film lainnya yang mungkin fiksi..(padahal Titanic juga based on true story ya..). Hehe.
Jadi aneh dan blur emang kalo aktor dan aktris dijadiin icon utk campaign-campaign sejenis itu. Lagi akting bukan ya itu?

27.3.09

mengambinghitamkan PMS

Hari ini sudah belasan kali memaki.

Karena melewati pasar pagi di Suci yang macet seperti biasanya.
Karena soal ujian yang tidak tahu jawabannya.
Karena tidur siang yang terganggu oleh bisingnya teman-teman di himpunan, perut yang keroncongan, dan panggilan teman yang mengingatkan untuk masuk ruang kelas ujian.
Saya pura-puranya biasa aja. Iyah, hari lagi panas juga. Wajar kalo saya menjadi-jadi ingin memaki.


Saya ingin memaki. Memaki si ibu pengawas ujian yang gaya banget ngawas ujian pake blazer merah. Ganggu, tau.
Saya ingin memaki. Memaki tukang fotokopi yang lama sekali melayani saya dan malah sibuk dengan mesin fotokopinya yang kelihatannya rusak.
Saya ingin memaki. Memaki kondisi saya yang tanpa kamu. Saya kangen, tau.
Saya bener-bener ingin memaki. Memaki si ini, si itu, si kamu, si dia, si itu tuh, si itu tu tu tuuuuuuh. ARRRGGH%#@%%#%#%#


Panas. Pipi saya jadi panas, dan basah.
Udah lama saya gak bener-bener menghayati saat-saat seperti ini. Gak apa-apa nangis juga.
..........................................Saya cuma lagi PMS aja kok kayaknya=)

17.3.09

DAY#6

Komplit. Kalian terlihat saling melengkapi satu sama lain. Sebuah paket timbel komplit, sudah dengan es teh manis tanpa tambahan harga lagi.

Tapi kompleks. Ya, yang kalian jalani dan punya saat ini adalah sesuatu yang kompleks.

Dan sebuah komplikasi. Sebuah kondisi sekunder yang timbul dalam perjalanan primernya karena adanya keterkaitan langsung dengan banyak hal lainnya dalam hidup kalian yang lain. Hidup kamu tanpanya, jg hidupnya tanpa kamu. Komplikasi. Hingga kamu dan ia sama-sama tidak lagi punya daya untuk mempertanyakan ‘apa ini’ lebih-lebih lagi energi untuk mempertahankan ini- sesuatu yang telah kalian jalani sekian hari tanpa pernah tau dan berani ungkapkan istilah yang menjelaskan ‘apa ini’ tadi.



Rose by Nephila on DeviantArt

Akankah sebuah rangkaian kata tetap terdengar indah bila diucapkan tanpa jeda?

Bisakah rangkaian kata itu dimengerti artinya jika diucapkan tanpa spasi?

Mampukah rangkaian kata itu membius yang mendengarnya jika tidak diucapkan dengan tulus?


Sesuatu yang dipertanyakan berulang kali, berkali-kali, lebih dari satu atau sekedar dua kali tapi tak juga kunjung dimengerti artinya ini mungkin bukan sungguh-sungguh berupa pertanyaan.

Mungkin ini sebuah penegasan, yang butuh kata IYA dan TIDAK sebagai jawaban atau bahkan pergi atau tetap disini sebagai bentuk nyata dari sekedar ucapan. Kamu tidak mengerti karena kamu tidak mau nantinya mengerti kamu akan mengiris-iris hati kamu dan dia. Kamu tidak mau menjawab karena kamu tidak siap berpura-pura ini adalah jawaban yang kamu pikir terbaik untuk mengakhirinya. Kamu tidak pergi namun juga tidak memilih untuk tetap disini karena kamu tidak siap untuk merasa kehilangan. Dan kali ini, untuk pertama kalinya kamu benar-benar tulus merasa tidak siap untuk kehilangan.

Rasio itu jangan dicampur-campur dan dipaksakan untuk mengatasnamakan cinta. Busuk, tau. Selama ini toh kamu dan dia sama-sama menjalankannya memang benar-benar di luar rasio kalian kan. Karena jika dibenturkan dengan logika senaif apapun tak akan bisa ada yang menerima kalau itu logis. Kamu sama dia memang tidak perlu tau apa itu, mengapa begitu, dan bagaimana mengakhiri itu. Tidak perlu. Kali ini biarkanlah ia berjalan digiring waktu...


Biarkanlah ia berjalan digiring oleh waktu...

13.3.09

KRISIS.

Atas apa?
Kepercayaan, mungkin. Pada diri sendiri, mungkin.

This morning I woke up, memikirkan semalam. Bertanya kenapa bisa begitu. Kenapa bisa sampai begitu. Kenapa. Ah, itu hanya mimpi, rupanya. Atau bukan? Tapi rasanya seperti mimpi.

Lalu jadi merembet-rembet.
Mungkin sampai begitu karena saya seperti ini. Saya seperti ini karena imbas dari saya yang terlalu seperti itu. Saya terlalu seperti itu karena saya tidak bisa begini. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya kemudian melamunkan kenyataan yang saya temukan di sela-sela lamunan tidak penting saya pagi tadi.
Ternyata selama ini saya belum pernah benar-benar berjuang untuk sesuatu yang benar-benar saya inginkan. Belum pernah. Ntah itu subjek, ntah itu objek, ntah itu sebuah kondisi, ntah itu sebuah situasi. Segala sesuatunya selalu saya biarkan mengalir..Menghilang..dan berlari kecil-kecil berarak menjauhi saya. Selama ini saya tidak pernah sungguh-sungguh untuk berusaha mempertahankan apa yang saya sebenarnya inginkan.

Is it wrong?
Secara pribadi saya menilai ini sangat aneh. Polah yang tidak normal.
Dan saya tidak menemukan jawabannya kenapa.
Selama ini saya menilai sesuatu baik hanya ketika saya menganggap dan membaca situasi dari sekeliling saya mengatakan itu baik.
Sekarang saya jadi mempermasalahkan masa kanak-kanak saya dulu. Mungkin itu pemicunya.

Yang saya ingat, kelas 1 SD dulu saya pernah punya boneka bayi oleh-oleh dari tante saya dari Australia, yang bisa nangis kalo DOT di mulutnya dicabut, dan bisa tertawa lucu ketika dikelitik di perutnya. Di depan rumah saya adalah sebuah stadion Basket. Kuncen stadion itu adalah seorang supir angkot, punya anak perempuan yang umurnya setahun lebih muda dari saya, namanya Mia. Suatu kali kita main boneka bersama-sama. Boneka bayi milik saya memang paling mencolok di antara boneka-boneka 'bluwek' milik saya lainnya juga boneka-boneka Mia. Dengan kondisi ekonomi keluarga saya dulu, mendapatkan boneka seperti itu sangat tidak mungkin buat saya, apalagi Mia. Boneka itu pun menjadi kesayangan saya. Sampai beberapa hari kemudian, di suatu sore ketika saya dan Mia bermain boneka seperti biasa, sempat beberapa saat saya meninggalkan boneka saya itu bersama Mia, namun saat kembali lagi ke teras stadion tempat kami biasa bermain bersama, saya menemukan boneka-bayi-kesayangan-saya itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, termasuk Mia dan boneka-bonekanya. Yang tersisa hanya boneka-boneka bluwek lainnya milik saya yang berserakan. Saya hanya mempertanyakan kemanakah boneka-kesayangan-saya itu perginya. Azan Maghrib berkumandang, Ibu meneriakkan nama saya memerintahkan untuk pulang. Saya pun pulang. Sampai di rumah, saya mengadu pada kakak. Besoknya, pulang sekolah kakak menemani saya ke rumah Mia untuk menanyakan perihal boneka saya itu. Pintu diketuk, ibu Mia membuka pintu.Terlihat ruangan petak tanpa sekat-sekat yang menyuguhkan pandangan langsung ke sebuah kasur lipat di salah satu pojok ruangan, sebuah sofa robek-robek dan sudah mencuat papan pegangannya, sebuah tivi super mini di meja depan sofa, dan sebuah rak besi-besi bekas jualan warung yang dijadikan rak pakaian. Lalu ada pintu kamar mandi yang setengah terbuka dan saya mendengar suara cipratan air di dalamnya. "Mia sedang mandi" kata Ibu Mia. Kakak saya menjelaskan perkara boneka saya yang hilang. Ibu Mia marah, merasa Mia dicurigai sebagai pencuri, marah-marah, mencak-mencak, kemudian mengusir kami berdua dan membanting pintu di depan muka kami. Saya dan kakak kemudian pulang. Mengadu pada ibu. Seperti yang sudah saya duga, ibu memang marah karena saya ceroboh, tapi begitulah ibu saya...Ia hanya menasehati saya untuk belajar ikhlas. Bahwa mungkin benda itu akan jadi lebih berguna untuk orang lain. Dan menjanjikan akan membelikan gantinya jika punya rezeki lebih-Janji yang baru ditepati ketika saya sudah duduk di kelas 5 SD, 4 tahun sesudahnya.Sekitar seminggu saya tidak main ke rumah Mia. Mia juga tidak pernah memanggil-manggil saya sore-sore mengajak main boneka atau main sepeda keliling komplek seperti biasanya. Karena nasehat ibu mengenai ikhlas-mengikhlaskan yang bagai doktrinasi selalu diucapkan berulang kali setiap sore ketika memandikan saya atau ketika saya mau tidur, saya perlahan kemudian mulai melupakan boneka-saya-yang-hilang itu. Iseng-iseng, sore-sore saya mendatangi rumah Mia, berniat mengajaknya main sepeda. Belum saya ketuk pintu rumahnya dan memanggil namanya, saya mendengar suara tawa boneka bayi saya yang hilang. Suara itu datangnya dari balik pintu yang akan saya ketuk. Dan saya pun menangis. Saya merasa dikhianati. Saya merasa benar-benar kehilangan. Kehilangan boneka saya yang sayangi. Juga merasa kehilangan seseorang yang saya percayai. Seorang anak SD kelas 1 itu tersedu-sedu untuk pelajaran hari itu, sebuah realita mengenai kehilangan.

Pulang-menangis-mengadu pada ibu. Sambil dipeluk dan diusap-usap kepalanya oleh ibu, saya dinasehati perihal ikhlas-mengikhlaskan. Saya harus mengikhlaskan dua hal yang sangat berharga yang pertama kalinya saya miliki. Sebuah subjek dan sebuah objek sekaligus.

Sejak saat itu, lagi-lagi karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas, saya tidak pernah banyak bermimpi ingin ini dan ingin itu. What I had was what my parents gave me. Saya ikhlas tidak bermain mainan-mainan mahal seperti teman-teman saya yang lain. Tidak memiliki video game. Tidak menonton TV yang acaranya macam-macam karena tidak punya parabola. Harus gantian bersepeda bersama kakak karena hanya ada 1 sepeda untuk kami berdua. Serta harus ikhlas menikmati liburan sekolah di rumah eyang dan bukan di dufan-atau di luar kota-seperti teman-teman lainnya. Saya juga tidak banyak berharap dari teman-teman saya yang lain. Syukur kalau mereka senang berteman dengan saya, apalagi sampai menganggap saya sahabat. Kalaupun tidak, toh saya punya kakak saya yang selalu ada buat saya. Saya tidak pernah punya mimpi yang tinggi. Saya tidak pernah berani bermimpi tinggi-tinggi. Saya hanya mengekor si kakak kemana ia pergi dan mencoba apa yang ia coba serta melakukan apa yang ia juga lakukan.


Sampai sekarang, saya juga masih bertahan seperti itu. Bahkan ketika saya berfikir saya punya prinsip, nyatanya saya belum pernah benar-benar menginginkan sesuatu dan kemudian memperjuangkannya.

Saya biarkan cita-cita saya menjadi designer waktu kecil dulu menguap begitu saja karena tidak tau harus memulai darimana untuk menggapainya. Saya sempat berusaha menjadi dokter gigi karena kata ibu-tante-uwak-om-dan orang-orang di sekitar saya bahwa cita-cita itu baik dan mulia. Saya bertahan di jurusan Geodesi ITB karena kata semua orang ini yang terbaik buat saya. Saya jalani segala sesuatunya karena saya diarahkan untuk menjalankannya menjadi seperti itu. Dan di saat kegagalannya dan kehilangannya atau justru keberhasilannya serta kedatangannya, saya tidak akan merasa luar biasa dan istimewa. Datar...

Bahkan ketika saya (merasa) menyayangi seseorang, merasakan kenyamanan bersamanya, berkali-kali ia melintas di benak saya, terus-menerus.. Namun ketika ia harus pergi, saya tidak bisa benar-benar mengucapkan kata yang saya ingin benar-benar ucapkan.

Saya gak tau lagi apa yang sebenar-benarnya saya inginkan. Ambisi tumpul. Motivasi pupus, mati. Ego yang diintervensi terlalu banyak pihak.

Yang keluar bukannya kata..
"Jangan pergi.." atau "Tunggu aku.."

Tapi justru kata-kata pasrah yang bikin saya ngerasa jadi manusia paling gak punya kemauan..
"GAK TAU..GAK TAU.."
"TERSERAH.."

12.3.09

The right one.

If you're not the one then why does my soul feel glad today?
If you're not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings
But I know you're here with me now
We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with

I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

If I don't need you then why am I crying on my bed?
If I don't need you then why does your name resound in my head?
If you're not for me then why does this distance maim my life?
If you're not for me then why do I dream of you as my wife?

I don't know why you're so far away
But I know that this **much** is true
We'll make it through

And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I'm praying you're the one I build my home with
I hope I love you all my life

I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
Cause I love you, whether it's wrong or right
And though I can't be with you tonight
You know my heart is by your side

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?
if you're not the one-Daniel Bedingfield



Rupa-rupa rasa ini mendengar ceritamu, sahabat.
Senang, karena setelah sekian lama kita kembali bisa berbagi cerita lagi.
Sedih. Ya, sedih pula tak bisa kuhindarkan karena kamu yang biasanya ceria kali ini menyimpan durja.
Lalu ada rasa marah dan kecewa menyusup di hatiku untuknya. Untuk sesorang dimana lagu itu kamu tujukan.

Aku mengingat. Saat-saat masih sekolah di SD Teladan. Satu kelas. Sempat satu mobil antar jemput. Satu komplek perumahan. Satu lingkungan sosial karena ayah-ayah kita bekerja di perusahaan yang sama.
Kita seakan bertahan dalam sebuah lingkaran. Tak bersudut. Yang memiliki radius berkilometer-kilometer jauhnya namun selelah-lelahnya ku berlari, selalu ada pertemuan dengan dirimu di salah satu sisinya.


Kali ini aku mengaku kalah. Kalah pada kesabaran hatimu. Satu-satunya langkah yang akan kuambil jika aku berada dalam posisimu adalah berlari meninggalkan sumber masalah. Meninggalkannya. Toh ia pun sudah bahagia?

“Kita masih sama-sama sayang. Dia masih sayang aku. Aku juga”
“Are u sure? For God Sake, He is engaged!”
“Yeah I know... ”


Lalu meluncurlah doa-doa darimu. Bilang semoga semuanya mendapatkan yang terbaik, bagimu juga baginya. Lalu kamu bilang kamu juga ingin dia mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik, walalupun bukan kamu orangnya. I’m so flattered. Kamu yang biasanya selalu mendapatkan yang kamu inginkan kemudian mengikhlaskan sesuatu yang besar yang sangat mungkin akan merubah hidup kamu secara total ke depannya. “Will you be that happier if it’s not him the one you are going to spend the rest of your life with?”

Aku pun pernah dan masih juga mempertanyakan apakah yang terbaik-lah yang benar-benar kita ingin miliki? Aku sempat berada di posisi yang sama dengan kamu. Kala itu dengan tidak dewasanya aku menganggap perpisahan adalah sebuah kompetisi. Sebuah kompetisi yang akan aku menangkan ketika aku mendapatkan pengganti yang jauh jauh jauh lebih baik dari dia. And I won it. But my heart didnt say so.

Saat itu aku sadar, bukan yang terbaik yang aku inginkan. Tapi yang tepat.

"So, please, make sure you’re taking the right path to have the right choice, dear... I’m on yours. As always"

11.3.09

I tell you, It's unreal=)

"Gak asik.
Itu yang aku pikirin waktu aku mau pergi-pergi kalo gak ada kamu dan gak sama kamu.

Ada yang kurang.
Rasanya kayak kalo mau pergi ke Puncak gak bawa baju anget. Pergi ke pantai gak bawa celana pendek. Berangkat ke kampus lupa bawa flashdisk. Mau main futsal ga bawa sepatu futsal. Mau belanja bulanan tapi ga bawa kartu debit. Nge-donat di Jco tp ga bawa laptop.
Selalu ada yang kurang. Selalu ngerasa ada yang salah. Selalu ngerasa pengen balik lagi untuk ngambil yang kurang. Ngelengkapin yang kurang.

IYA. Jadi, kalo kamu tanya ke aku, "gak asik kan, gak ada aku?"
Jawabannya, IYA.
Apalagi waktu kamu sibuk dengan semua dan segala hal yang gak ada kaitannya sama aku dan gak aku ngertiin.
Kamu jadi orang yang gak asik. Dan semua yang aku lakuin juga jadi sama gak asiknya."



Shutup & smile by Michyy on Deviantart


It's been a while But your smile
Always brighten up my day
I guess you know
Because it shows
You can see it on my face
It's like you've put a spell on me
Feels like you've captured me
And baby
This is how i feel

Dont need the sun to shine
To make me smile
Dont care if it's dark outside
Cos I got you
And though the rain may fall
No I wont care at all
Cos baby I know that I got you

Every day there's a change
You bring out the best in me
My inner soul
Is what you know
That is how you speak to me
You seem understand
You know just who I am
And baby
This is how I feel

Dont need a rocket man
To help me touch the sky I
Dont need to fly a plane

To get this high
Dont need to hitch a ride
When I could run a million miles
Yes I would, just to see you smile..
~Dont Need The Sun to Shine by Gabrielle~


Psst.. Makanya kamu jangan jauh-jauh dari aku. Jangan pergi-pergi melulu. Apalagi ngilang-ngilang melulu. I'm telling you, I need you right here=)

"Do you believe it?"

5.3.09

Selamat Datang.

Nyaris sebulan sesudah kejadian tgl 7-8 itu.

Kejadian yg banyak merubah hidup banyak orang secara personal.

Yang pasti merubah hidup keluarga Almarhum, teman-teman seangkatannya yang harusnya tengah menjalani kuliah bersama Beliau, teman-teman panitia pelaksana PPAB-kakak-kakak tingkat Beliau, seluruh dosen dan staf TU prodi Geodesi & Geomatika ITB, ITB secara keseluruhan, mungkin teman-teman sekolah Beliau sebelum di ITB, mungkin tetangga-tetangga Beliau...Mungkin teman-teman kosannya..Mungkin tetangga di kosannya..Mungkin abang tukang nasi goreng langganannya...

Saya percaya, rasa kehilangan itu sangat besar adanya.

Saya pun tidak pernah membayangkan sebelumnya ini semua akan terjadi.

Tidak pernah sedikit pun sebelumnya saya membayangkan bahwa akan kehilangan salah seorang saudara saya dengan cara seperti ini.

Saya tidak pernah membayangkan pula bahwa dampak dari kejadian ini sangat luar biasa. Sorotan media, kecaman keluarga, kecaman banyak pihak, campur-tangan polisi, serta rektorat yang justru menyiram bensin di api yang tengah menyala malu-malu terlebih dahulu.

Lebih dari itu, semua dampak-dampak negatif itu diam-diam juga membudidayakan dampak-dampak postif yang saya syukuri dalam-dalam. Nyatanya persaudaraan dan meningkatnya kedewasaan.

Menemukan lebih arti pertemanan & persaudaraan. Menyadari penuh dan berusaha berempati serta bersimpati atas musibah yang dijalani bersama namun dibebankan hanya pada pemimpin dan penanggungjawab saja ini. Melihat dengan kepala mata sendiri dan mencerna dengan logika, mereka yang mengalami dan menjalani konsekuensi atas kelalaian ini telah menjadi sosok yang kuat dan hebat.


Kejadian ini membuka mata saya bahwa persaudaraan sesungguhnya itu adalah mereka yang datang merangkulmu dan tetap ada di sampingmu ketika kesusahan datang.

Dulu, saya suka risih kalo ada yang mengatakan saya ”Ih, IMG banget lo!”. Dalam bayangan saya, saya diibaratkan seseorang yang terlalu fanatik mengikuti aliran tertentu. Sekarang? Saya tidak peduli. IMG sekarang adalah keluarga saya yang orang-orang di dalamnya adalah teman-teman satu keprofesian yang selama ini sudah menjadi saudara bagi saya yang anak rantau ini. Justru dengan senang hati saya menerima panggilan manis itu. IMG adalah keluarga buat saya.

Kejadian ini telah mendewasakan IMG saya.

Tak peduli dengan rektorat yang membekukan IMG mungkin untuk membuat IMG kaku membatu hingga tidak bisa melakukan sesuatu. IMG-ku akan selalu hangat di rumah kecilnya menyambut anggota keluarga baru di hari yang baru=)


SELAMAT DATANG DUA RIBU TUJUH!