30.1.09

coretan-coretan tembok.

Ketika saya sedang membeli material untuk keperluan rumah di toko bahan bangunan langganan, sempat saya berbasa-basi dengan seorang bapak muda yang juga terlihat sedang menunggu barang pesanannya diambilkan. Ia membeli material papan tipis (yang biasa dipakai pula untuk whiteboard) dalam jumlah cukup banyak. Bapak muda itu curhat colongan mengenai anaknya yang baru berumur 2,5 tahun. Sejak dibelikan pensil warna, si anak jadi hobby mencoret-coret. Mulanya si anak tertib menulis di kertas-kertas yang diberikan, tapi kemudian kehabisan kertas kosong ia merembet jadi mencoret di semua media yang bisa ditulisi. Belakangan malah jadi menemukan media paling asik dan paling simpel untuk ditulisi : tembok. Berkali-kali tembok dicat ulang dan berkali-kali pula dicoret-coret kembali.

Karena tidak tega melihat si anak menangis jika diambil pensil ataupun spidol warnanya, akhirnya si bapak muda menemukan solusi baru untuk tidak menghambat si anak berkreasi: melapisi tembok kamar si anak dengan lapisan untuk white board. Jadi si anak bisa menggambar dan mencoret-coret sesuka hati dan bisa dihapus dengan mudah nantinya jika sudah kehabisan tempat. Hmm... Nice.


Anak kecil dengan energi berlebih biasanya menyalurkan energinya dengan banyak beraktifitas. Sebuah polah yang natural dimana mereka selalu ingin mencoba hal baru dan selalu bersemangat mencontoh apa yang orang lain lakukan yang ia tangkap melalui indera penglihatannya.
Warna adalah sesuatu yang mampu menarik perhatian anak-anak pada umumnya. Metode pengajaran pada anak kecil melalui identifikasi warna yang berbeda-beda pada benda-benda merupakan metode yang paling simple. Maka dari itu, biasanya alat-alat bantu untuk mengajar anak-anak kecil dibuat berwarna-warni agar menarik perhatian dan mudah diidentifikasi.

Waktu jaman TK dulu juga seinget saya, saya lebih tertarik dengan sesi menggambar daripada belajar baca dan tulis. Belajar baca tulis mah di rumah juga bisa. Kalo menggambar menggunakan pensil warna tidak bisa saya lakukan di rumah, karena dulu orang tua saya masih belum mampu memberikan pensil warna sebagus yang disediakan sekolah.
Kalau saya happy saya akan menggambar gunung dengan matahari dan awan-awan di atasnya lalu burung-burung yang bergerombol di ufuk barat kemudian sawah-sawah terhampar di kaki gunung dengan gubuk pak tani di tengah-tengah sawah dan pohon-pohon kelapa di pinggir-pinggir jalan. Atau bisa sebaliknya saya buat kondisinya jadi malam dengan bulan sabit yang tengah tersenyum menggantikan gambar matahari orennya.
Sebaliknya, kalau saya gak happy saya tidak menggambar. Cuma coretan-coretan gak jelas macam benang kusut. Sampai sekarang, seringkali di sela-sela kuliah yang membosankan atau rapat-rapat yang mengesalkan dimana harus mendengarkan orang-orang gak berkapasitas membicarakan hal-hal yang bukan kapasitasnya atau juga ketika di rumah makan kesal menunggu pesanan makanan datang, saya sering coret-coret gak jelas di atas kertas.

Menggambar dan mencoret-coret itu bisa jadi bentuk lain dari curahan hati dan pikiran.

Pada kondisi lain dengan miris saya menemukan bahwa seperti halnya saya, beberapa keluarga di himpunan saya pun suka mencurahkan isi hati dan pikirannya dalam bentuk tulisan dan gambar. Mirisnya, hobby ini nyaris persis dengan kondisi anak kecil si bapak muda tadi: mereka mencoret-coret tembok rumah kami. Tembok bersih-dicoret-di cat-di coret lagi-di cat lagi, dst.

Saya sempat merasa sangat amat tidak nyaman berada di dalam rumah tersebut melihat tulisan-tulisan yang seolah ditulis oleh orang-orang yang tidak lagi menghargai wanita.

Kalo si anak kecil tidak berfikir banyak tentang betapa sulitnya membuat tembok yang telah dicoret menjadi indah lagi,
ataupun berempati pada orang-orang yang peduli dan berusaha menjaga tembok agar tetap terlihat indah sehingga semua yang berada di dalamnya merasa nyaman,
apakah mungkin mereka yang usianya rata-rata berjarak 20 tahunan dari si anak kecil tadi juga sama tidak berpikir panjangnya dan tidak berempatinya dengan si anak kecil itu? Begitukah?
Sempat terfikir ide untuk menyadur ide si bapak muda tadi untuk melapisi si tembok dengan material whiteboard...
Lucu juga kalo treatment untuk anak 2,5 tahun dan untuk yang umurnya hampir setengah abad disamakan.

Lucu atau justru menyedihkan?

0 comments: