8.1.09

About a great man named Mister...

Dari beberapa orang favorit dalam hidup saya di antaranya adalah guru les bahasa Inggris saya. Yang pertama (alm) mister waktu saya les di Victoria English Course tahun 1999-2004, dan yang kedua adalah Nicole dari BLCI tempat saya ngambil course conversation.
Waktu SD dulu, saya benci banget sama pelajaran Bahasa Inggris karena saya ngerasa nggak bisa. Tapi sejak dimasukkan ibu saya di Victoria dan diajar mister (yang saya gak tau nama aslinya selama bertahun-tahun saya les disana), saya jadi berbalik menjadi suka banget sama pelajaran Bahasa Inggris. Metode pengajaran mister yang disiplin dan terstruktur dulu, telah menjadikan Bahasa Inggris kini bukan lagi sebuah momok bagi saya melainkan sebuah gerbang baru menuju banyak hal baru di luar sana.
Sekedar gambaran aja, kelas mister itu tegang dan sunyi. Yang punya hak ngomong dan nyuruh ngomong dalam kelas cuma mister. Jadi kita cuma boleh ngomong kalo mister nyuruh kita ngomong atau bertanya sesuatu ke kita. Jadi selama 1,5 jam (full) dalam kelas, perhatian kita akan tertuju sama mister dan pelajaran yang beliau berikan. Kediktatoran mister bahkan sudah terasa dari awal masuk kelas dulu dimana posisi duduk kita dalam kelas selalu ditentukan sama mister. Mister tau nama-nama kita semua dan selalu memantau perkembangan nilai-nilai kita di dalam kelasnya. Yang nilainya jelek pasti langsung dipindahin duduk deket dia which is sangat mengerikan, hehe. That’s why, kita akan bener-bener berusaha untuk mengerti pelajaran yang mister berikan. Jadi boro-boro absen, meleng pas dalam kelas aja bisa beresiko tinggi. Tapi ternyata metode itu ampuh bikin saya mengerti pelajaran bahasa Inggris dan menjadikan Bahasa Inggris is my favorit subject. Membuka peluang bagi saya untuk begitu banyak hal baru lainnya.
Empat tahun sesudahnya kemudian saya bertemu Nicole. Berbeda dengan mister yang seorang real Indonesian namun sempat lama belajar di luar negeri, Nicole is a real-foreigner yang datang ke Indonesia-menikah dengan penduduk lokal-have a babygirl-dan saat ini berdomisili di Cimahi. Once, she told the class about a story ketika dia sedang dibonceng suaminya naik motor dan dikagetkan ketika penumpang motor di sebelahnya berteriak ekstrim “WOW! BULE..BULE..!!”. Dan dia pun berkata, “NO I’M NOT! I’m Indonesian, only blonde”. Hehehe.
She came from England 2 years ago. Atmosphere di kelas Nicole sangat berbeda dengan kelas mister dulu. Karena kelas Nicole is a conversation class, therfore all the students bebas berbicara kapanpun. Yang bikin saya sangat suka dengan kelas ini karena Nicole sering berbagi cerita mengenai kehidupannya dulu di England. It’s always fun to be in her class.
Pernah, suatu kali Nicole datang ke kelas membawa notebook-nya dan berkata “I’m gonna show you some pictures of maddy’s birthday!”
Maddy is her babygirl’s name. She just had her first anniversary. Maddy is a cutegirl. She’s very beautiful. Although she looks more Indonesian since she doesn’t have her mom’s hair color and her mom’s nose, but still she is a very cute babygirl, especially when she had her ‘straight-face-mode-on’.
Sebenernya, waktu Nicole tiba-tiba datang ke kelas dan bilang akan menunjukkan foto-foto pesta ulang tahun maddy, saya sempat mengira bahwa subject hari itu akan berkaitan dengan birthday party or something. Ternyata enggak loh. Ternyata Nicole hanya ingin menunjukkan foto-fotonya sekedar berbagi cerita dan mengenalkan kepada kami orang-orang dalam kehidupannya yang hadir dalam pesta tersebut.
In this case, kalo yang berperilaku seperti ini adalah saya dan bukan Nicole, pasti akan lain persepsinya. Bayangkan semisal saya tiba-tiba datang ke sebuah kerumunan teman-teman saya sambil membawa-bawa notebook saya dan berkata “I want to show you pictures of my latest vacation!”. Lalu saya mempresentasikan foto-foto tersebut satu persatu kepada para audiens dalam kerumunan itu. Pasti mereka akan berkomentar “Uh, pamerrr…”.
See? It’s still not normal to do such a thing like this in here.
Waktu sedang berlibur beberapa waktu yang lalu saya juga sempat berkenalan dengan seseorang berkebangsaan Inggris lainnya. Saat itu saya sedang hotspot-an di ruang multimedia hotel dan dia yang kemudian mengenalkan dirinya bernama ‘tracy’ juga terlihat sedang mengupload foto ke account facebook-nya. Setelah berbincang-bincang sedikit dan saya bertanya sudah kemana saja ia berkunjung selama berlibur ini dan kemudian dengan semangat ia menunjukkan dokumentasi perjalanannya lengkap dengan narasi dari setiap foto yang ada. Tracy melanjutkan, bahwa karena foto-foto ini baru saja ditransfer dari camera digitalnya jadi belum benar-benar siap untuk ditunjukkan. Ternyata Tracy berencana membuatkan sebuah slideshow lengkap dengan backsound-nya sebelum ia tunjukkan ke teman-temannya di England sana.
Niat banget?
But it’s a common thing outhere. Di luar sana, biasanya mereka menyisihkan penghasilan setiap bulannya untuk travelling di akhir tahun. Lalu, pulang dari liburan, mereka akan mengundang teman-teman mereka khusus untuk datang ke rumah atau apartement mereka sekedar menunjukkan foto-foto dan berbagi cerita liburan mereka sambil minum teh dan menikmati cemilan khas dari tempat yang mereka kunjungi. It’s normal, bukan show off. Karena dengan momen itu, mereka jadi punya chance untuk bersilaturahmi sekaligus mendapatkan informasi baru dari cerita yang diperoleh. Kadang-kadang dari kunjungan tersebut malah sering pulang dengan dibawakan oleh-oleh. Jadi sebenernya gak ada ruginya untuk datang ke undangan yang sepertinya cukup asing buat kita itu.
Berbekal ilmu dari mister bertahun-tahun yang lalu itu saya kemudian menemukan banyak sekali hal baru. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang gak superb namun disertai rasa ingin tahu yang selalu meluap-luap, saya sempat merasakan jadi murid kesayangan guru Bahasa Inggris di sekolah, melewati berbagai perlombaan bahasa Inggris sebagai perwakilan sekolah, ketemu si mr A setelah hasil placement di kelas Bahasa Inggris pada tahun pertama kuliah dulu menempatkan saya di kelas writing-kelas yang sama dengan mr A, hehe, dan sampai akhirnya di BLCI, hasil placement test saya yang gak jelek-jelek banget ternyata cukup untuk langsung menempatkan saya di kelas full-native speaker dimana saya kemudian dipertemukan dengan Nicole. There are so many new things I’ve got by learning English. I wont meet Nicole and wont be able to chat like old friends with Tracy if I couldn’t speak English. Mister did the crucial part: mengubah persepsi tidak suka saya pada Bahasa Inggris menjadi suka. Dengan bekalnya kemudian saya dibimbing menemukan hal-hal baru, informasi baru, dan orang-orang baru pula.
Agak sedikit tertegun saat saya mendengar kabar bahwa beliau telah berpulang ke Rahmatullah.
You're always be a great man!
So, thank you, mister… May you rest in peace.

1 comments:

ria said...

sheilla!!
ini Ria,, inget gaa?
pernah sekelas di GO waktu SMP
gw jg les di Victoria dr SMP-2004
n tetangga ny mister
nama asli mister (alm) == pak Daden... apa gt lupa :d
skrng Victoria diurus ma anak ny mister yg balik dr aussie gt
gw jg sama, jd suka english bgt dulu gara2 Victoria!
cuma destiny nya ga ke arah sana malah nyasar ke jepun he3
parahny hampir lupa english he3
nice to read your blog, remembered me Mr's class was
but my fav is Mrs's class, was more strict but fun
(^c_-;;